<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124</id><updated>2012-01-17T12:30:44.218+07:00</updated><title type='text'>Q reviews</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>189</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-1596798419686957226</id><published>2010-12-01T15:31:00.002+07:00</published><updated>2010-12-01T15:35:02.634+07:00</updated><title type='text'>The Adventures of Tom Sawyer</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/TPYIKBigwiI/AAAAAAAAAbk/-9GRucnb6rc/s200/tomsawyer.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545628959458247202" /&gt;&lt;strong&gt;Penerbit : Atria&lt;br /&gt;Penerjemah : Yang punya blog :p&lt;br /&gt;Penyunting : Jia Effendi &amp; Zaky Muzakir&lt;br /&gt;Edisi : September 2010, 386 hlm&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-024-450-4&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tom Sawyer, cerita legendaris tentang seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun yang tinggal di tepian sungai Mississippi pada akhir abad ke-19. Seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana yang hidup di masa yang masih serba sederhana. Namun hidupnya ternyata tidaklah sesederhana itu karena dia adalah anak yang kaya dengan imajinasi, banyak akal, dan gemar bertualang, sehingga banyak kejadian seru yang mewarnai kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari kehidupan Tom adalah rentetan kisah dan petualangan yang menarik untuk diikuti. Mulai dari petualangan kecil saat Tom berhasil mengelabui teman-temannya untuk mengecat pagar rumahnya, namun di saat yang lain dia gagal membohongi Bibinya agar boleh tidak bersekolah. Lalu petualangan cintanya saat dia berhasil memikat Becky Thatcher, anak baru yang manis, dan juga kala hatinya hancur patah hilang harapan karena diabaikan. Dan petualangan sesungguhnya ketika dia memergoki sebuah peristiwa pembunuhan, kabur ke pulau dan dianggap sudah mati, hingga terlibat dalam perburuan harta karun. Kocak, mengharukan, sekaligus seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Si Anak Nakal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah cerita yang mungkin di mata banyak orang adalah tentang seorang anak dengan label: 'nakal'. 'Nakal' pada anak-anak sebenarnya hanyalah sebuah penyaluran energi berlebih, dan juga penyaluran imajinasi dan rasa ingin tahu anak-anak yang belum banyak merasakan pengalaman kehidupan. Begitulah si Tom Sawyer ini, kebandelannya adalah karena dia memiliki energi dan rasa ingin tahu yang berlebih, ditambah dengan keinginan untuk tampil lebih menonjol di antara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin beberapa pembaca dewasa akan merasa khawatir jika anak-anak seusia Tom membaca novel ini dan kemudian menjadikannya panutan. Masalahnya si Tom di buku ini diceritakan suka berbohong, menipu teman untuk kepentingan sendiri, minggat dari rumah, belajar merokok, hingga berusaha mencium teman perempuannya. Hehehe... Yah, tapi bukankah kehidupan yang sesungguhnya memang ada anak-anak yang seperti itu. Kalau dikhawatirkan akan jadi panutan, ya pintar-pintarlah para orang tua memberi pendampingan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Petualangan Menerjemahkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penerjemah buku ini untuk penerbit Atria adalah sebuah petualangan tersendiri. Awalnya nggak pede. Hah? buku klasik? susah nggak bahasanya? Trus dikirimkanlah naskah aslinya. Makin nggak pede. Hah? ini bahasa inggris dari planet mana? Tapi kok ya sok kepedean tetap nerima tantangan itu :p Dan hasilnya: satu bulan pertama mentok nggak bergerak di bab satu ... hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah, baca versi aslinya bikin pusing kayak gasing. Mark Twain menuliskannya pakai bahasa inggris bercampur dengan bahasa slang Amerika abad pertengahan. Begitulah, udah bahasa slang, dari abad pertengahan pula yang sekarang udah nyaris nggak dipakai. Jadilah harus kelabakan cari referensi ke sana ke mari buat nerjemahinnya. Dan hampir di setiap paragraf, ada saja kata atau frasa tidak lazim yang harus dicari arti sebenarnya ke berbagai sumber. Bahkan kata-kata yang sekilas sepertinya dapat diterjemahkan harfiah, ternyata bisa jadi adalah sebuah idiom abad pertengahan yang beda artinya. Pusing gilak! :D Belum lagi harus nerjemahin puisi, prosa gak jelas, jampi-jampi, hingga bahasa bajak laut *tepok jidat*. Harusnya sih ini tugasnya mahasiswa atau lulusan sastra inggris kali ya, tapi entah kenapa aku nekat aja terus kerjain :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas aku sudah berusaha keras untuk menerjemahkan novel ini ke dalam bahasa indonesia yang lebih mengalir dan enak dibaca, tanpa menyimpang dari cerita aslinya. Semoga bisa menjadi bacaan menyenangkan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-1596798419686957226?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/1596798419686957226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=1596798419686957226' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1596798419686957226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1596798419686957226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2010/12/adventures-of-tom-sawyer.html' title='The Adventures of Tom Sawyer'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/TPYIKBigwiI/AAAAAAAAAbk/-9GRucnb6rc/s72-c/tomsawyer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-997033145934835813</id><published>2009-11-30T01:00:00.004+07:00</published><updated>2009-11-30T05:43:22.951+07:00</updated><title type='text'>Moribito</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 262px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SxL43bbFeKI/AAAAAAAAAbE/vhChsjc_r4g/s400/moribito.jpg" border="0" alt="Moribito"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409659733563242658" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Moribito&lt;br /&gt;Sub-judul : Guardian of the Spirit&lt;br /&gt;Penulis : Nahoko Uehashi&lt;br /&gt;Penerbit : Matahati&lt;br /&gt;Penerjemah : Harisa Permatasari&lt;br /&gt;Penyunting : seseorangyangtidakmaudisebutkannamanya:p&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan Pertama, November 2009, 349 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah novel silat fantasi ala jepang dengan setting kekaisaran Jepang pada suatu masa. Sebuah kisah para pendekar Jepang yang penuh dengan adegan perkelahian bersenjata yang seru. Masuk dalam genre fantasi karena juga melibatkan dunia lain dan munculnya beberapa makhluk aneh di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel berseri "Moribito" ini aslinya dalam bahasa Jepang telah terbit sejak tahun 1996. Hingga tahun 2007 telah terbit 10 buku serialnya. Novel versi bahasa Inggris dari buku pertamanya baru diterbitkan bulan Juni 2008. Sementara versi komik manga dan kartun anime telah diproduksi di tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikemas dalam sampul berwarna gelap dan pilihan tipografi yang menarik menjadikannya tampak elegan pada kesan pertamanya. Ditambah lagi dengan pemakaian kertas ringan dan adanya ilustrasi apik di awal bab. Mungkin harga yang menjadi penentu pertimbangan orang yang ingin membelinya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menjaga Sebuah Telur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balsa adalah seorang wanita pendekar yang sangat tangguh dengan senjata utamanya sebuah tombak pendek. Dia bekerja sebagai pengawal pribadi bayaran. Suatu saat dipanggil oleh permaisuri kerajaan New Yogo untuk mengawal Pangeran Kedua yang nyawanya telah beberapa kali terancam. Permaisuri menduga ada orang yang ingin menyingkirkan Pangeran Kedua, sehingga dia rela melepaskan anaknya untuk dijaga Balsa dan merekayasa kecelakaan palsu untuk mengabarkan Pangeran Kedua telah tewas. Balsa tidak mempunyai pilihan selain menyanggupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chagum, nama asli Pangeran Kedua, ternyata akan disingkirkan oleh ayahnya sendiri Sang Mikado. Itu semua karena Chagum ternyata terpilih menjadi Moribito, seorang anak yang tubuhnya dihuni oleh telur Roh Air, Nyunga Ro Im. Setiap seratus tahun Nyunga Ro Im meletakkan telurnya pada seorang anak. Dan telur itu harus dijaga hingga saatnya menetas di pertengahan musim panas. Jika gagal dijaga, maka tidak akan ada Nyunga Ro Im yang mengendalikan hujan. New Yogo akan kekeringan dan kelaparan. Namun Sang Mikado berniat membunuhnya, karena dalam legenda New Yogo anak yang membawa telur itu dianggap telah kerasukan iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikejar pasukan dari kerajaan, Balsa juga harus menyelamatkan Chagum dari makhluk dari alam lain berjuluk Rarunga. Rarunga adalah pemakan telur Nyunga Ro Im. Cakar-cakarnya beberapa kali telah menghabisi nyawa anak yang menjadi penjaga telur itu. Balsa dibantu teman masa kecilnya, Tanda, dan seorang juru tenung tua, Torogai, berusaha keras menjaga Chagum hingga pertengahan musim panas tiba. Yang menjadi masalah besar adalah mereka tidak mengetahui bagaimana caranya menghadapi Rarunga untuk menyelamatkan Chagum, dan tak seorangpun yang mengetahui dengan pasti legenda yang telah terkubur ratusan tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Runtut dan Seru&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini cukup menarik untuk dibaca karena jalan ceritanya runtut dan mudah diikuti. Nahoko Uehashi tidak meninggalkan lobang-lobang pada plot cerita yang telah disusunnya dengan rapi. Selipan-selipan flash back ke masa lalu bisa disisipkan dengan pas tanpa ada yang terasa janggal dalam logika cerita.&lt;br /&gt;Kekuatan yang lain adalah detil-detil pertempurannya yang cepat dengan berbagai jurus yang digambarkan dengan cukup seru. Sepertinya mampu membuat pembaca menahan nafas hingga pertempuran itu berakhir. Agak berdarah-darah tapi tidak ditampilkan dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dramatisasinya di beberapa bagian juga cukup menyentuh. Karakter tokohnya cukup terjaga pada alurnya masing-masing. Balsa yang tangguh namun menyimpan kemarahan dan sekaligus kesedihan. Tanda yang sabar dan mengayomi. Chagum yang labil. Dan Torogai yang acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bagian yang menuntut imajinasi yang lebih luas untuk membayangkannya, karena melibatkan dunia lain yang tidak pernah terlihat di dunia nyata. Untungnya tidak mengambil porsi yang terlalu banyak, sehingga pembaca masih dapat kembali menjejakkan tanah di dalam imajinasi dalam dunia nyata. Mungkin akan lebih mudah ditangkap jika melihat versi komik atau menonton animenya berdasarkan imajinasi kartunis dan sutradaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memuji dan Mengritik Diri Sendiri :p&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bermaksud memuji teman sendiri atau bahkan diri sendiri :p tapi saat membaca kembali novel terjemahan ini setelah menjadi sebuah buku, terasa lancar mengalir dan enak dibaca. Kalau masih ada salah ketik atau kalimat yang rancu yang belum dikoreksi, yah mohon maaf deh maklum editor baru :p Atau salahkan editor senior yang ikut terlibat dalam proses editing tapi tidak ikut dicantumkan namanya :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada beberapa hal yang setelah dibuka-buka lagi terasa agak mengganjal. Pertama di cerita novel ini dikatakan bahwa senjata utama Balsa adalah sebuah tombak pendek. Tapi gambar sampul novel yang mengambil dari karakter kartun animenya, digambarkan Balsa memegang tombak yang tidak bisa dibilang pendek. Dan memang dalam versi animenya, Balsa menggunakan tombak panjang untuk bertarung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang lain, karena penerbit Matahati menerjemahkan dari buku versi Inggrisnya, muncullah beberapa hal kecil yang terasa sedikit aneh. Ini novel bersetting Jepang dari pengarang orang Jepang tetapi mengapa sub-judulnya dalam bahasa Inggris? Lalu mengapa nama kerajaannya adalah "New Yogo" dengan menggunakan "New" dalam bahasa Inggris? Aku sendiri tidak bisa merubahnya karena nggak tahu apa bahasa Jepangnya "Baru"... hehe... *peace*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-997033145934835813?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/997033145934835813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=997033145934835813' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/997033145934835813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/997033145934835813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2009/11/moribito.html' title='Moribito'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SxL43bbFeKI/AAAAAAAAAbE/vhChsjc_r4g/s72-c/moribito.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-8745358665059732120</id><published>2009-09-28T16:26:00.003+07:00</published><updated>2009-09-28T16:43:17.179+07:00</updated><title type='text'>Negeri 5 Menara</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0; width: 200px; height: 260px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SsCB1B_gxEI/AAAAAAAAAas/Sq3pz1LX3xg/s400/5+menara.jpg" border="0" alt="Negeri 5 Menara, A Fuadi" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386447902402987074" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : &lt;a href="http://www.negeri5menara.com"&gt;Negeri 5 Menara&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Penulis : A. Fuadi &lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, &lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, Agustus 2009, 432 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judulnya unik dan mengundang rasa ingin tahu. Gambar sampulnya menggambarkan 5 buah menara yang berbeda-beda – monas, bigben di London, monumen Washington, dan 2 buah menara masjid yang aku belum tahu masjid mana - semakin membuat bertanya-tanya, "Cerita tentang negeri apakah ini?". Deskripsi di sampul belakang kemudian menjelaskan lebih jauh tentang isi novel ini. Kisah dari dunia pesantren. Dunia yang dekat dengan masa kecilku tapi belum pernah aku masuki dengan sepenuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun ingin tahu lebih dalam, sejauh mana dunia itu bisa ditampilkan secara menarik dalam sebuah novel. Dengan embel-embel sekian banyak endorsement positif dari tokoh-tokoh terkenal, dari mantan presiden hingga artis, tampaknya novel ini cukup dijagokan oleh penerbitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sahibul Menara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alif Fikri adalah seorang putra Minangkabau asal desa Bayur di pinggir danau Maninjau, Bukittinggi yang baru saja lulus dari madrasah Tsanawiyah. Dengan kecerdasannya ia ingin melanjutkan ke sekolah umum agar bisa mengejar cita-citanya menjadi seperti Habibie. Namun ternyata orang tuanya berkeinginan ia tetap di jalur sekolah agama agar ia menjadi seperti Buya Hamka. Dalam tekanan dan kebimbangan akhirnya Alif memutuskan untuk mengikuti kemauan orang tuanya tetap di sekolah agama, asal tidak di Bukittinggi. Ia memilih untuk menjadi santri di Pondok Madani (PM) di Ponorogo, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di PM yang dikenal sebagai "pondok modern" Alif menemukan kehidupan pesantren yang berbeda dari kesehariannya dan juga sedikit berbeda dari tipikal pesantren pada umumnya. Selain dituntut ketekunan dan kemandirian, PM juga menuntut kedisiplinan tinggi. Peraturan Qanun dengan 13 butir aturan sehari-hari yang harus dihafal luar kepala dengan jadwal harian ketat yang diatur oleh bunyi lonceng mengendalikan kegiatan setiap penghuni PM. Penghuni baru PM juga harus bisa segera menguasai bahasa Arab dan Inggris dalam 3 bulan, karena setelah itu sama sekali tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari pertamanya, Alif sudah harus terkena hukuman karena terlambat ke masjid bersama 5 orang teman seasramanya. Berenam mereka akhirnya menjadi semakin akrab meskipun berbeda latar belakang. Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Berenam menemukan tempat beristirahat bersama di bawah menara masjid dan memutuskan tempat itu menjadi markas bersama. Hingga akhirnya mereka terkenal sebagai pasukan "Sahibul Menara", dengan masing-masing mendapat julukan sebagai menara 1 hingga menara 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya cerita mengalir tentang kehidupan mereka di pesantren. Keharusan hidup mandiri dalam kesederhanaan. Tuntutan tugas dan hafalan yang harus dikejar setiap hari. Kebersamaan dan kesetiakawanan di antara mereka berenam sembari berbagi mimpi dan semangat. Serunya kompetisi sepakbola antar asrama dengan Said sebagai jagoan baru. Keberhasilan Dulmajid membujuk ustad untuk mengadakan nonton bareng semifinal Thomas Cup di Aula padahal televisi sebelumnya adalah hal terlarang. Hadirnya putri seorang ustadz yang membuat heboh seluruh pondok. Kegamangan Alif yang sering tergoda oleh surat-surat dari temannya yang menempuh pendidikan SMA umum. Ketegangan mereka saat menghadapi ujian akhir di kelas 6. Hingga akhirnya saat mereka bertemu kembali belasan tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perspektif Baru Tentang Pesantren&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel ini yang paling berkesan adalah terbukanya sebuah cara pandang baru tentang tempat pendidikan yang berlabel 'pondok pesantren'. Ternyata pesantren tidaklah identik dengan pendidikan bergaya kolot dan konservatif, yang tidak flexible menghadapi perubahan jaman, yang lebih sering menjadi tempat pembuangan bagi anak-anak bermasalah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren Madani di novel ini – yang sebenarnya merupakan gambaran riil dari Pondok Modern Gontor – memang patut berjuluk 'pondok modern'. Bukan hanya fokus pada pendalaman ilmu agama Islam, tetapi juga mempersiapkan setiap santrinya untuk siap berlaga di dunia global dari segi ilmu, bahasa, kemampuan berorasi, disiplin, hingga kepercayaan diri. Tontonan televisi memang dilarang, tapi buku dan majalah-majalah luar negeri yang bermanfaat bebas mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis secara detail menjabarkan bagaimana sistem yang diterapkan di pesantren ini. Bagaimana kedisiplinan bisa dijaga dan mendarah daging pada setiap penghuni pondok. Bagaimana proses pendidikan bahasa dijalankan setiap saat agar dalam 3 bulan sudah mahir berbahasa asing. Bagaimana setiap murid dibentuk menjadi orator dan pembicara yang tangguh. Bagaimana masa ujian dikondisikan seperti sebuah perayaan tahunan yang penuh semangat belajar. Bagaimana bakat dan kreativitas setiap murid diakomodasi dan diarahkan menjadi lebih terasah. Bagaimana para pengajar dan para senior terus menerus memotivasi dan membangkitkan semangat dengan berbagai cara. Benar-benar suatu tempat yang dipersiapkan untuk melahirkan insan-insan unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sistem tersebut tidak diterapkan secara umum di semua pesantren, hanya di pesantren-pesantren tertentu yang mengaplikasikan sistem 'pondok modern'. Tapi paling tidak bisa membuka wawasan masyarakat umum bahwa pesantren bukan berarti tempat pendidikan kelas dua, atau tempatnya orang-orang 'garis keras'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bacaan yang Renyah Bergizi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Fuadi, penulis buku ini, menjadikan kisah hidupnya sendiri selama di Pondok Modern Gontor sebagai inspirasi utama untuk menghidupkan novel ini menjadi sebuah memoar yang memikat. Romantika hidup dalam keterbatasan bisa ditampilkan tetap dengan penuh optimisme tanpa pernah mengasihani diri. Mencoba menularkan nilai-nilai kejujuran, ketekunan, kebersamaan, kegigihan, dan semangat untuk terus maju tanpa berkesan menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemampuan jurnalistiknya Fuadi memberikan detail-detail yang bisa membangun imajinasi pembaca. Dialog dan narasinya mengalir mudah diikuti tanpa perlu mengerutkan kening. Pembaca juga akan dengan mudah meleburkan diri dalam sosok Alif Fikri dengan segala kekuatan dan kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun agak sedikit disayangkan adanya salah ketik di beberapa tempat yang terasa mengganggu konsentrasi membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya buku ini adalah bagian dari sebuah trilogi. Karena di akhir buku ini keenam sahabat itu telah menyelesaikan pendidikannya di PM, dan baru bertemu lagi belasan tahun kemudian, lalu apa yang akan dikisahkan pada buku lanjutannya? ... Ya, kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-8745358665059732120?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/8745358665059732120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=8745358665059732120' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8745358665059732120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8745358665059732120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2009/09/negeri-5-menara.html' title='Negeri 5 Menara'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SsCB1B_gxEI/AAAAAAAAAas/Sq3pz1LX3xg/s72-c/5+menara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-5404953606529331265</id><published>2009-07-27T17:09:00.007+07:00</published><updated>2009-07-27T17:29:38.695+07:00</updated><title type='text'>Gaul Jadul, Di Balik Pustaka</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;Asik, predikat "Penulis" sekarang sudah secara resmi boleh dicantumkan dalam portofolioku (jiyeeeeh..). Itu karena buku hasil tulisanku telah dirilis secara komersial ke pasar buku Indonesia. Dulu-dulu meskipun sering bikin tulisan tapi kayaknya belum pantas dibilang "Penulis", karena masih sebatas tulisan di blog atau beberapa review yang diambil oleh media cetak. Kalo sekarang namaku sudah bisa ditemukan di katalog toko-toko buku... huuu huihuihui..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia detil spesifikasi dari buku hasil tulisanku :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img style="width: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/Sm19nJlv0ZI/AAAAAAAAAak/WUfSLEKG1Lc/s320/pile.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363080842810741138" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Gaul Jadul, Biar Memble Asal Kece&lt;br /&gt;Penulis : Q Baihaqi&lt;br /&gt;Penerbit : Gagas Media, 2009&lt;br /&gt;Editor : Valiant Budi&lt;br /&gt;Dimensi : viii + 280 hlm, 13 x 19 cm&lt;br /&gt;ISBN : 979-780-346-5&lt;br /&gt;Harga : Rp. 36.500,-&lt;/strong&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap.. ini adalah kumpulan tulisan-tulisanku di blog &lt;a href="http://lapanpuluhan.blogspot.com" target="_blank"&gt;Lapanpuluhan&lt;/a&gt; yang tentu saja isinya adalah banyak hal seputar nostalgia jaman-jaman dekade 80-an. Maunya sih semua tulisan yang ada di blog itu dibukukan, tapi atas pertimbangan penerbit yang masuk baru tulisan-tulisanku saja. Padahal kalau semuanya bisa masuk mestinya lebih seru dan lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Proses Penerbitan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi gini, udah lama muncul ide untuk membukukan blog lapanpuluhan itu. Ngeliat banyaknya respon dari pengunjung blog, kayaknya bakal ada pasar yang akan menyambut gembira jika blog tersebut dibukukan. Temanya juga unik, tidak mengekor siapapun. Nanya-nanya ke teman yang di penerbitan terkenal, ada kans gak blog itu untuk diterbitkan jadi buku? Sayangnya pada bilang kalo mereka bingung akan dimasukkan ke lini mana? non fiksi, kisah nyata, dokumentasi, hobby???  ... Sementara penerbit yang sudah sering membukukan blog adalah Gagas Media yang aku gak kenal siapapun disana. Ada tawaran dari penerbit baru yang sama sekali belum pernah terdengar keberadaannya. Hmmm... gak yakin udah punya sistem yang bagus, jangan2 tar malah dikibulin :p. Ada yang ngusulin cetak dan terbitin sendiri. Hah? yakin lu? ribet tau.. ini bukan cuma sekedar masalah mencetak saja, tapi ada masalah distribusi, pemasaran dll dll...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk dicinta ulam tiba.. sekitar pertengahan bulan Juli tahun lalu, nemplok lah sebuah email di inbox ku dari seseorang yang mengaku penggemar blog Lapanpuluhan. Dia bilang kalo bekerja sebagai editor di Gagas Media dan menawarkan kerjasama untuk membukukan blog Lapanpuluhan di bawah penerbit Gagas Media. Horeeee... datang sendiri ternyata.. dan tentunya pantang ditolak dong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketemuan dengan Valiant (editor) dan Resita (editor merangkap proofreader) pertama kali di Skydining Plangi. Masih kagok dan bingung mo gimana dan bahas apa. Diskusi-diskusi akhirnya diputuskan yang dibukukan cuma tulisan-tulisanku doang. Kalau dari penulis lain mau dimasukkan aku sendiri yang harus mengatur perjanjian dengan penulis lain itu... waaaah.. ribet tuh. Selanjutnya aku diminta memilih artikel2 mana yang akan dimasukkan, dicompile jadi sebuah naskah dan dikirim ke mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Editing Yang Lumayan Lama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel-artikel yang layak terbit aku kumpulkan dan diedit ulang. Aku juga menjanjikan akan bikin tambahan artikel baru supaya lebih lengkap yang dibahas. Sempet stuck males ngerjain beberapa bulan :p. Pertama janji sekitar bulan September draft naskah akan aku kirim. Tapi ternyata draft pertama baru aku kirim bulan November.. wekekekeke... maap ya Val, Re :D Dua minggu kemudian draft itu dikirim balik ke aku dengan SEKIAN BANYAK CORETAN DAN WARNA MERAH DISANA SINI! Huaaaa ... huhuhuhu... berasa asistensi sama dosen pembimbing.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati terluka (halah) aku perbaiki lagi naskah itu, dan aku tambah-tambahin lagi seperlunya. Tapi apa daya, harus tersendat-sendat karena aku juga harus persiapan untuk acara 'beritu' :D Edit, kirim, coret, kirim balik, edit, kirim, coret, kirim balik.. huuuhuhuhu... Naskah baru final sekitar akhir bulan Maret. Tanda tangan kontrak deeeeh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata gak langsung bisa dicetak. Masih ada urusan nyari cover yang butuh waktu sampai sebulan lebih. Gonta-ganti berkali-kali. Bukan aku yang rewel milih cover, karena masalah cover adalah sepenuhnya urusan penerbit. Aku cuma disodorin beberapa contoh dan disuruh milih. Setelah cover fixed, ternyata ga bisa langsung cetak juga. Ada masa tenggang beberapa minggu nunggu giliran untuk dicetak, karena ada buku2 lain yang lebih diprioritaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya di penghujung bulan Juni 2009, lahirlah si bayi jadul itu... Alhamdulillah.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beberapa Komentar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada komentar dari beberapa orang yang udah baca bukuku ini. &lt;br /&gt;- Komen pertama dari mertua : "Lucu ya tulisannya, bisa nostalgia".. hihihi makasih Ma. &lt;br /&gt;- Komen dari &lt;a href="http://kotarominami.multiply.com" target="_blank"&gt;Budi Cheung&lt;/a&gt; yang menyumbangkan beberapa foto koleksi jadulnya: "Fotonya kurang banyaaak, man!". Yah.. apa boleh buat. Aku udah mengirimkan banyak foto buat ilustrasi, tapi yang mana yang dipasang di buku itu sepenuhnya keputusan penerbit.&lt;br /&gt;- Komen dari &lt;a href="http://indolawas.blogspot.com" target="_blank"&gt;Aldiwirya&lt;/a&gt; yang foto cover kaset jadulnya aku pinjam: "Ada yang salah tuh, Ratih Purwasih bukan dari artis JK!"... hah? oya? waduh.. salah fatal dong *tepok jidat*&lt;br /&gt;- Komen Ferina di &lt;a href="http://lemari-buku-ku.blogspot.com/2009/07/gaul-jadul.html" target="_blank"&gt;reviewnya&lt;/a&gt;: "Buku ini garink. Mau lucu-lucuan, kurang kena".. huaaaa, hiks hiks.. sebenarnya kan memang ini adalah tulisan dokumentasi yang aku bumbuin celetukan konyol. Di beberapa bagian yang aku lagi gak mood buat ngegaring emang jadi terkesan serius.&lt;br /&gt;- Komen lain: "Banyak yang belum dibahas, seperti fashion, tempat gaul dll".. Memang banyaaaak yang belum dibahas. Karena banyak sekali kalo mau meng-eksplore semua hal di 80-an. Yang dimasukkan di buku ini baru beberapa hal yang sudah sempat aku gali dan bikin tulisannya. Untuk menggalinya perlu ada sumber yang lengkap sebagai referensi, itu yang agak susah nyarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu ya komentar-komentar yang lain :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terima kasih buat semua pihak yang mensupport dan menyemangati hingga akhirnya buku ini bisa terbit dan beredar di pasaran. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-5404953606529331265?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/5404953606529331265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=5404953606529331265' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5404953606529331265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5404953606529331265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2009/07/gaul-jadul-di-balik-pustaka.html' title='Gaul Jadul, Di Balik Pustaka'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/Sm19nJlv0ZI/AAAAAAAAAak/WUfSLEKG1Lc/s72-c/pile.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6671603932609524893</id><published>2009-05-07T17:12:00.004+07:00</published><updated>2009-05-07T17:22:00.744+07:00</updated><title type='text'>Negeri Van Oranje</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;width: 200px; height: 279px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SgK1SG9oo5I/AAAAAAAAAZc/eLn7GvdCsYA/s400/oranje.jpg" border="0" alt="Negeri Van Oranje"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333024231471489938" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : &lt;a href="http://www.negerivanoranje.nl/"&gt;Negeri Van Oranje&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengarang : &lt;a href="http://wahyuningrat.blogspot.com/"&gt;Wahyuningrat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://adeptlenggana.multiply.com/"&gt;Adept Widiarsa&lt;/a&gt;, Nisa Riyadi, &lt;a href="http://www.aaqq.net/"&gt;Rizki Pandu Permana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penyunting : Gunawan BS&lt;br /&gt;Penerbit : Bentang Pustaka&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, April 2009, 477 hlm.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahu novel ini dari promo salah satu penulisnya yang kebetulan kenal di dunia maya. Kenal dari saling mengunjungi blog masing-masing, lalu chatting sekedarnya. Orangnya enak sih, maksudnya enak buat dicela-cela. Lalu waktu dia mudik ke Indonesia sempat ketemuan rame-rame. Dan kemudian beberapa  waktu lalu dia tiba-tiba promo novel hasil karyanya ini, jadi pengen tahu. Itu aja... (Sengaja dibikin datar, soalnya kalo mau komen jujur tentang si penulis yang di urutan keempat itu, bakal isinya penuh cela-celaan.. sumpah .. jujur nih Ki :p)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh 4 orang? Gimana ya pengaturannya? Itu yang pertama kali muncul di benakku waktu tahu ini adalah novel hasil keroyokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cerita Pencari Ilmu di Belanda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkisah tentang 5 orang Mahasiswa Indonesia yang berkesempatan melanjutkan studi akademik mereka di Negeri Van Oranje, alias Belanda. Lintang yang Sarjana Sastra mengambil European Study di Leiden, Banjar insinyur yang jadi manager marketing perusahaan rokok menambah ilmu dengan mencari gelar MBA di  Rotterdam, Wicak sarjana kehutanan yang kerja di LSM diungsikan untuk menjadi Research Master di Wageningen demi menghindari kejaran cukong-cukong kayu, Daus pegawai Departemen Agama mengejar gelar LLM dalam bidang Human Rights Law di Utrecht. Sedangkan Geri yang anak konglomerat sudah bersekolah di Belanda sejak tingkat Bachelor, dan sekarang sedang mengambil Master nya di Den Haag. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, tinggal di Belanda tapi di kota yang berbeda-beda, tak sengaja bersamaan terjebak badai di stasiun kereta Amersfort dan disatukan oleh kesamaan nasib dan pertukaran rokok. Dari pertemuan pertama itu berlanjut dengan komunikasi intens antar kota di dunia maya. Mereka berlima membentuk milis dengan nama AAGABAN : Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahpun bergulir tentang keseharian mereka masing-masing dalam bergelut dengan studi mereka. Begadang setiap malam untuk mengerjakan tugas, mencari referensi seharian di perpustakaan, menghadapi pembimbing, hingga masalah notebook yang crash dan data yang hilang. Selain itu juga tentang usaha mereka untuk bisa bertahan hidup di negeri orang dengan dana yang terbatas, kecuali Geri tentu saja. Diselingi dengan cerita jalan-jalan menelusuri kota-kota di Belanda, juga perjalanan sebagai backpackers mengelilingi sebagian Eropa. Dan tentunya di antara sekumpulan orang dewasa dimana ada lawan jenis, tak bisa dihindari akan muncul kisah roman yang melibatkan banyak segi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ditulis Berempat? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tahu bagaimana cara novel ini ditulis dengan melibatkan empat orang sekaligus. Dari biodata penulis tampaknya latar belakang setiap tokoh masing-masing terhubung dengan salah satu penulis, kecuali tokoh Geri. Mungkin setiap penulis menggarap bagian cerita saat tokohnya memegang peran utama, kemudian dikolaborasikan dengan tokoh dari penulis yang lain. Sepertinya agak ribet ya.. terutama untuk menjaga konsistensi gaya bercerita. Ada yang suka ngegaring dengan footnote gak penting, ada bagian yang serius dan mendetil, ada juga bagian yang puitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku sangka ini adalah memoar bersama dari serombongan teman satu genk yang memang benar-benar terjadi. Terutama karena cerita latar belakang salah seorang tokohnya memang mirip benar dengan salah seorang penulis yang aku kenal (walaupun penggambaran fisiknya jauh panggang dari api :p .. disitu dibilang cungkring, padalah aslinya potongan cukong.. wekekeke ). Tapi ketika mulai memasuki kisah romannya, barulah curiga bahwa ini bercampur dengan cerita fiksi. Sah-sah saja sih demi untuk membangun cerita yang lebih dramatis dan menarik pembaca, jadi bukan sekedar memoar dan kisah perjalanan. Dan memang tidak ada embel-embel "kisah nyata" atau "memoar" yang dicantumkan di sampul bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Detail dan Bertabur Informasi Penting&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendalaman dan penjelasan setting tentu jangan diragukan lagi. Selain karena para penulisnya memang benar-benar pernah bahkan masih tinggal di Belanda, mereka juga adalah mahasiswa S2 yang sudah terbiasa menulis paper ilmiah dengan tuntutan detail yang tinggi. Setiap kota tempat tinggal para tokohnya dikupas habis semua sudutnya. Detail cara hidup mahasiswa Indonesia di rantau juga dijabarkan dengan lengkap. Mereka yang suka bertualang pasti akan merasa dikitik-kitik agar ikut merasakan sendiri semua detail itu. Apalagi hampir di setiap bab selalu ada tambahan kotak Feature berisi Tips-tips menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Belanda dalam bentuk daftar bernomor yang sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan kotak-kotak Feature yang berisi tips-tips itu memang sangat bermanfaat buat pembaca yang akan atau ingin mengikuti jejak para penulis meneruskan studi atau sekedar jalan-jalan di Belanda. Hanya saja jadi agak mengaburkan genre dari buku ini, ini buku fiksi atau non-fiksi? Yah, mungkin sebaiknya tidak usah dikotak-kotakkan, nikmati saja bagian fiksinya sebagai hiburan dan bagian non-fiksinya sebagai tambahan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian fiksinya sendiri lumayan menarik dengan konflik yang cukup mengejutkan. Walaupun konfliknya agak lambat terbangun karena di bagian awal hingga pertengahan lebih banyak menjelaskan latar belakang setiap tokoh dan detail kota-kota di Belanda. Masalahnya bagian fiksi ini bukanlah satu-satunya topik utama dari buku ini, jadinya ya jangan mengharapkan cerita fiksi yang detail dan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Panduan Lengkap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas buku ini memberikan gambaran yang lengkap tentang lika-liku kehidupan menjadi mahasiswa perantau di negeri Belanda. Indahnya Belanda, kemajuan di Belanda, digabung dengan puyengnya jadi mahasiswa yang harus menghadapi setumpuk tugas dan keterbatasan biaya. Sebuah panduan lengkap yang pantas dimiliki mereka yang punya keinginan untuk melanjutkan studi atau sekedar jalan-jalan di Belanda, dengan bonus cerita fiksi yang lumayan seru dan kocak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6671603932609524893?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6671603932609524893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6671603932609524893' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6671603932609524893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6671603932609524893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2009/05/negeri-van-oranje.html' title='Negeri Van Oranje'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SgK1SG9oo5I/AAAAAAAAAZc/eLn7GvdCsYA/s72-c/oranje.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-8748593497333374527</id><published>2009-04-30T23:39:00.003+07:00</published><updated>2009-04-30T23:51:29.229+07:00</updated><title type='text'>The Magician</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;width: 200px; height: 287px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SfnVx1K4oeI/AAAAAAAAAZU/oRlHYPJPwbg/s400/magician.jpg" border="0" alt="The Magician, Michael Scott"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330526686032732642" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : The Magician&lt;br /&gt;Serial : The Secrets of The Immortal Nicholas Flammel (buku ke-2)&lt;br /&gt;Pengarang : Michael Scott&lt;br /&gt;Penerjemah : Novia Stephani&lt;br /&gt;Penyunting : Nadya Andwiani&lt;br /&gt;Penerbit : Matahati&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan Pertama, Maret 2009, 580 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah buku kedua dari serial Nicholas Flammel karya Michael Scott. Buku pertamanya The Alchemyst sudah direview disini. Setelah terpesona dengan The Alchemyst, tentu saja buku kedua ini sangat aku nanti-nantikan. Sempat tergoda untuk beli versi Inggrisnya, tapi akhirnya berhasil menahan diri menunggu yang terjemahannya saja :D ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti buku pertamanya, versi terjemahan terbitan Matahati ini tetap menggunakan sampul versi aslinya. Penuh dengan simbol-simbol aneh dengan peletakan yang simetris memunculkan kesan magis sesuai dengan isi cerita. Keren banget, apalagi dengan ornamen-ornamen berwarna emas yang bikin buku ini semakin seperti kitab-kitab pusaka.. haha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pelarian dan Pencarian Berlanjut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah berlanjut setelah Sophie, Josh, Nicholas, dan Scathach melintasi gerbang ley yang menyeberangkan mereka dalam sesaat dari Ojai di Amerika ke Paris. Mereka berhasil meloloskan diri dari kejaran Dr. Dee di Ojai. Namun bukan berarti pengejaran Dr. Dee terhadap dua lembar halaman terakhir buku Codex Sang Magus telah berakhir. Dee telah mengontak kroninya di Paris untuk menangkap mereka di ujung gerbang ley tempat mereka keluar. Kroni Dee di Paris tersebut bernama Niccolo Machiavelli. Yap.. Machiavelli yang itu, yang menghalalkan segala cara itu, di buku ini dia pun termasuk seorang immortal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sophie yang telah dilatih sihir elemental Udara oleh penyihir Endor berhasil mengecoh Machiavelli. Kemampuan Sophie yang semakin berkembang ditambah dengan memori2 penyihir Endor yang juga ditransfer semuanya ke otak Sophie, sangat bermanfaat dalam pelarian mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Paris Nicholas berusaha mencari Tetua yang mempunyai kemampuan untuk membangkitkan kekuatan Josh. Josh harus dibangkitkan kekuatannya agar apa yang disebutkan dalam ramalan tentang si Kembar bisa benar-benar terjadi. Dalam pencariannya itu Nicholas bertemu dengan teman lamanya Saint Germaine, seorang immortal juga dengan kemampuan sihir elemental Api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dee tentu saja segera mengejar ke Paris. Gabungan kekuatan Dee dan Machiavelli tentu saja akan cukup sulit dipatahkan. Apalagi Nicholas semakin menua dan tidak meminum ramuan immortal lagi. Sedangkan Perenelle masih terperangkap dalam kurungan Dee di Alcatraz. Namun ada Sophie yang telah menguasai sihir Udara dan Api, juga ada Scathach dan Saint Germaine di pihak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seruuuu !!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tetap seru seperti buku pertamanya. Ritme cerita yang mengalir cepat dimana kejadian demi kejadian dahsyat bertubi-tubi menghadang tokoh-tokoh di novel ini bisa membuat pembaca tidak sempat meletakkan buku ini barang sejenak. Pembaca yang menggemari kisah thriller fantasi akan dipuaskan dengan aksi-aksi seru pertarungan antar penguasa ilmu magis, juga kemunculan mahluk-mahluk aneh dari legenda kuno dengan kemampuannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Scott memang pandai merangkai cerita fantasi dan mengerti sekali apa yang diinginkan pembaca. Adegan-adegan spektakuler dan kolosal dimunculkan penuh dengan kejutan. Meskipun kadang di beberapa bagian yang melibatkan dunia nyata agak terlalu dipaksakan menjadi ajaib demi menolong tokoh-tokoh utama. Seperti ketika tiba-tiba banyak manusia berkerumun di menara Eiffel, juga ketika tiba-tiba muncul banyak semut dari dalam tanah. Padahal manusia dan semut yang ada di kejadian itu adalah mahluk biasa bukan jadi-jadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Scott juga berhasil menjaga karakter setiap tokohnya untuk tetap konsisten sepanjang cerita. Pembaca akan dibawa hanyut dalam pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya pada setiap tokoh. Seberapa jauh Sophie akan menguasai ilmu nya, apa yang terjadi jika Josh dibangkitkan kekuatannya, mampukah Nicholas dan Perenelle bertahan hidup hingga mereka berhasil merebut buku Codex kembali, kelicikan apa lagi yang akan dilakukan oleh Dee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu hal, keinginan penulis untuk melibatkan tokoh-tokoh besar yang benar-benar ada dalam sejarah manusia terasa agak terlalu dipaksakan. Biografi kehidupan tokoh legendaris itu disusun ulang oleh Michael Scott demi mengikuti jalan cerita di novel ini. Jika di buku pertama, tokoh legendaris yang dimunculkan adalah Nicholas, Perenelle Flamel dan John Dee, yang tidak terlalu terkenal kecuali di kalangan para pengamat sejarah, di buku kedua ini muncul tokoh yang lebih terkenal : Niccolo Machiavelli dan Joan d'Arc. Buat yang mengetahui kisah hidup mereka sebenarnya mungkin akan agak sedikit terganggu dengan kisah rekaan untuk tokoh tersebut di buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, ini adalah novel yang keren dan seru banget buat para penggemar thriller fantasi. Cuman ya gitu... bersambung lagi.. :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-8748593497333374527?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/8748593497333374527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=8748593497333374527' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8748593497333374527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8748593497333374527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2009/04/magician.html' title='The Magician'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SfnVx1K4oeI/AAAAAAAAAZU/oRlHYPJPwbg/s72-c/magician.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-3759692548564505750</id><published>2009-04-15T06:00:00.000+07:00</published><updated>2009-04-14T23:07:29.003+07:00</updated><title type='text'>9 Matahari</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;width: 200px; height: 233px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SeSzlQb8YzI/AAAAAAAAAZM/mePMJnaKF70/s400/9matahari.jpg" border="0" alt="9 Matahari" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324578112107471666" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : 9 Matahari&lt;br /&gt;Pengarang : Adenita&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Grasindo&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan kedua, Desember 2008, 359 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari judulnya pertama kali aku kira ini sejenis novel silat.. hehe. Sampulnya sama sekali tidak memberikan barang sedikit petunjuk tentang isinya. Kemudian saat sedang membolak-balik buku ini ada penjaga tokonya mempromosikan buku ini dengan kalimat "Ini Laskar Pelangi versi mahasiswa". Oh no.. aku nggak begitu suka dengan pengekor :p Di kesempatan pertama itu pun aku batal mengambil buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhirnya beberapa waktu kemudian setelah mendengar beberapa orang merekomendasikan buku ini, aku mengambilnya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perjuangan Menjadi Sarjana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah tentang seorang gadis bernama Matari Anas. Keluarganya sedang menghadapi keadaan ekonomi yang sulit sejak ayahnya pensiun dini dan gagal membangun bisnis. Namun Tari tidak mau menyurutkan impian dan cita-citanya. Tari bertekad tetap terus sekolah dan menjadi sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halangan utama Tari untuk bisa mencapai impiannya adalah biaya. Kuliah hingga menjadi sarjana memang adalah sebuah kemewahan bagi kondisi mereka saat itu. Walaupun orang tua dan kakaknya memintanya berhenti bermimpi, Tari menutup telinga. Ia mencari berbagai cara yang bisa membukakan jalan untuk bisa kuliah tanpa merepotkan orang tua. Dibantu kakaknya Hera, akhirnya Tari bisa mendapatkan pinjaman untuk membayar uang masuk di Universitas Panaitan. Pinjaman yang entah nanti bagaimana cara mengembalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya itu baru masalah awal. Selanjutnya Tari masih harus mencari jalan lagi untuk menutup biaya uang sks persemester dan biaya hidup setiap bulan. Keluarganya sendiri semakin runyam karena bapaknya yang sering uring-uringan, dan selalu menyuruh Tari bekerja di pabrik saja daripada kuliah menghabiskan biaya. Untuk menutupi sebagian kebutuhannya, Tari kuliah sembari menjadi penyiar radio. Namun itupun belum mencukupi, Tari masih harus terus berhutang kesana kemari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara semua beban itu Tari harus mengatur waktu dan tenaga untuk tetap fokus kuliah dan rutin siaran. Sayangnya kejiwaan Tari ternyata juga bermasalah. Kondisi stress memikirkan kuliah, keluarga, kerja, dan hutang membuat Tari terpuruk. Akhirnya Tari memutuskan istirahat sementara dari kuliah, ia ingin bekerja dulu mengumpulkan uang untuk nantinya digunakan meneruskan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah Tari selalu dikelilingi banyak teman dan kenalan yang bisa memberikan energi positif dan dorongan agar Tari terus maju mengejar mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kekuatan Tekad&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan novel ini adalah kebulatan tekad Matari Anas dalam menggapai apa yang sudah ia canangkan sebagai cita-cita hidupnya. Terseok-seok melalui jalan yang penuh lubang, namun Tari tetap ingin melangkah terus. Sempat jatuh tak mampu melangkah lagi, bahkan juga akhirnya sempat memutuskan berhenti sejenak, tapi cita-citanya tetap terpancang di dada Tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mengharapkan kisah dongeng spektakuler yang "from zero to hero", dimana pada ending cerita Tari akan menjadi tokoh paling sukses dan berjaya menggapai banyak keberhasilan. Bukan, ini bukan yang seperti itu. Ini seperti cerita dari sahabat, atau saudara kita sendiri yang kita dengar dari lingkungan sekitar kita. Menurutku justru yang seperti itu malah membuat pembaca merasa dekat dan terlibat langsung dengan tokoh-tokohnya, dan selanjutnya bisa memberi inspirasi dan membangkitkan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, walaupun mungkin akan ada pihak-pihak yang berujar : jadi sarjana itu bukan jaminan sukses, banyak sarjana yang nganggur dan banyak yang putus sekolah bisa sukses. Apapun lah, yang bisa kita teladani kan kekuatan tekadnya Tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memoar Kehidupan Penulis Sendiri?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca profil penulis di halaman belakang buku ini, tampaknya novel ini adalah memoar pribadi dari kehidupan Adenita sendiri. Meskipun hampir semua nama dan tempat disamarkan, pembaca akan dengan mudah menghubungkan tempat kuliah dan bekerja penulis dengan tempat-tempat yang disebutkan di novel ini. Jika memang benar begitu, bahwa novel ini adalah berdasarkan kisah penulis sendiri.. salut juga dengan perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berdasarkan kisah nyata, jangan mengharapkan cerita penuh keajaiban dan akhir yang dramatis sensasional. Dalam perjalanan hidup Tari memang kadang muncul orang-orang baik hati yang di saat Tari sudah sangat terjepit tiba-tiba bersedia membantu kesulitan Tari. Namun semuanya masih dalam batas yang wajar. Akhir cerita juga tetap manusiawi tidak dilebih-lebihkan. Pembaca akan semakin yakin bahwa ini memang kisah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berdasarkan kisah nyata juga, maka jangan merasa terganggu jika di beberapa bagian kisahnya keluar dari fokus cerita. Membahas secara detil tentang suatu hal yang ternyata tidak memberikan sumbangan terhadap kerangka cerita yang sudah tersusun dari awal. Karena memang begitulah kisah kehidupan yang sebenarnya, ada banyak hal yang terjadi tetapi tidak selalu berhubungan. Adenita hanya ingin menceritakan banyak hal-hal penting dan berkesan yang telah mewarnai hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Filosofinya Menyentuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adenita mempunyai kemampuan bercerita yang bagus. Pembaca akan dengan mudah terhanyut dalam emosi para tokohnya, karena ia bisa menjabarkan pemikiran dan suasana hati tokoh-tokohnya dengan baik. Dialog-dialognya mengalir mudah dipahami. Hanya saja kadang ia memberikan penjabaran yang terlalu panjang untuk menjelaskan hal yang sudah pernah dibahas, atau menjelaskan hal yang tidak terlalu penting. Jadi pada beberapa bagian ada yang terpaksa aku skip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga pandai menyusun dan menyisipkan pandangan-pandangan hidup yang penuh hikmah dalam kalimat-kalimat yang filosofis melalui beberapa tokohnya. Tentang ikhlas, tentang persahabatan, tentang hubungan anak dan orangtua, tentang tekad menggapai cita-cita, dan tentang 9 matahari. Indah dan menyentuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-3759692548564505750?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/3759692548564505750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=3759692548564505750' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3759692548564505750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3759692548564505750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2009/04/9-matahari.html' title='9 Matahari'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SeSzlQb8YzI/AAAAAAAAAZM/mePMJnaKF70/s72-c/9matahari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-7740189354676384880</id><published>2009-04-14T22:19:00.004+07:00</published><updated>2009-04-14T23:00:19.701+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Kaum Falasha</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0; width: 150px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SeSsdFhA6gI/AAAAAAAAAZE/M-QJa540MHw/s400/falasha.jpg" border="0" alt="Rahasia Kaum Falasha" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324570275155601922" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Rahasia Kaum Falasha&lt;br /&gt;Subjudul : Perburuan Filolog Muslim Indonesia Di Bawah Bayang-bayang Zionis&lt;br /&gt;Pengarang : &lt;a href="http://mahardhikazifana.com/rahasia-kaum-falasha"&gt;Mahardhika Zifana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : &lt;a href="http://www.pustakaiman.com"&gt;Edelweiss&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, Januari 2009, 424 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul dan sepotong sinopsis di halaman belakang novel ini menerbitkan rasa ingin tahuku. Sudah terbayang sebuah fiksi petualangan dalam balutan data dan kisah sejarah masa lalu. Beberapa novel lokal sejenis lebih banyak yang mengorek sejarah nusantara sendiri sebagai latar belakang. Karena itulah jadi pengen tahu bagaimana penulis lokal mampu mengangkat sejarah dari bangsa lain dalam sebuah fiksi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya agak ragu untuk membaca buku ini, belum pernah dengar nama penulisnya, penerbitnya juga jarang aku ikutin buku-bukunya, gambar sampulnya juga tidak menjanjikan :p. Yang agak memberikan tambahan keinginan membaca adalah karena ada nama penerbit Mizan sebagai pendamping penerbit Edelweiss. Dan satu hal lagi, di sampul depan ada tulisan "Akan menjadi film kolosal pertama dalam sejarah Indonesia" ! o ya? Jadi selama ini belum ada film kolosal di sejarah Indonesia? Film-film perjuangan dan film-film laga yang banyak beredar beberapa tahun lalu nggak termasuk kolosal ya? ... hmmm berarti cerita dalam novel ini pastilah amat sangat kolosal.. jadi penasaran sekolosal apa ya ceritanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah buku pertama dari trilogi "Battle for Solomon's Treasure". Wow.. cukup berani penulisnya ikut mengangkat topik populer ini menjadi sebuah buku versi sendiri. Pasti diperlukan riset yang cukup mendalam untuk mengolah legenda itu menjadi fiksi dalam versi yang berbeda. Buku kedua rencananya berjudul "Pelangi di Puncak Ararat", dan buku ketiga berjudul "The Seven Sleepers".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pencarian Tabut Perjanjian dan Harta Sulaiman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Falasha adalah nama yang lazim diberikan kepada orang-orang Yahudi di Ethiopia. Falasha dalam bahasa Armharic berarti "terasing" atau "tak punya rumah". Sebagian dari mereka telah dimukimkan di Israel, tapi masih ada sebagian kecil yang masih tinggal di Ethiopia. Mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai Kaum Beta Israel. Orang Beta Israel ini meyakini bahwa mereka adalah keturunan Menelik, putra Raja Sulaiman dan Ratu Saba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini diawali cerita saat Esa, doktor muda bidang sastra lulusan Harvard University, menerima kabar tentang kematian Heri sahabat dekatnya. Heri terbunuh saat sedang melakukan penelitian untuk disertasi doktornya dalam bidang Filologi di Ethiopia. Polisi Ethiopia menduga seorang bernama Indra, asisten penelitian Heri, sebagai pelakunya. Bersamaan dengan kabar itu, Esa juga menerima sebuah paket kecil berisi benda berbentuk segitiga bertumpuk berwarna emas. Yang mengejutkan pengirimnya adalah Indra dengan pesan agar disimpan baik-baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian Esa ditugaskan kampusnya untuk ke Australia. Benda segitiga itu ia titipkan kepada Nisa teman lama Esa dan Heri. Padahal Nisa memiliki niat buruk akan menyerahkan benda tersebut kepada "Knights of Zion". Di Australia Esa akhirnya bertemu Indra. Darinya Esa mengetahui bahwa Heri sedang meneliti manuskrip kuno dari Ethiopia yang mengungkap tentang keberadaan Tabut Perjanjian Israel (Ark of Covenant) yang telah hilang sekian lama. Dan disebutkan pula disana tentang keberadaan harta simpanan Raja Sulaiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabut Perjanjian dan harta Sulaiman adalah sesuatu yang paling dicari oleh "Knights of Zion". Mereka merasa paling berhak atasnya. Maka Esa, Indra dan Nisa diburu oleh gerombolan berdarah dingin tersebut. Dengan bantuan Yitro, yang mengaku sebagai orang Beta Israel asli, mereka bertekad menemukan Tabut perjanjian dan harta Sulaiman lebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Petualangan dengan Unsur Islami&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset yang dilakukan penulis seputar sejarah Yahudi di Ethiopia, keberadaan Tabut Perjanjian, dan seputar aktivitas organisani Zionis di dunia, lumayan lengkap untuk menjadi pondasi dasar cerita ini. Pastilah memerlukan waktu dan sumber daya yang banyak untuk melakukannya. Pembaca akan banyak mendapat tambahan informasi seputar topik tersebut dari buku ini. Walaupun pada kenyataannya Tabut Perjanjian dan Harta Sulaiman belum pernah ditemukan sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi novel ini yang berbeda dari novel bergenre petualangan yang lain adalah adanya sisi religius islami di dalamnya. Bukan hanya dalam penokohan pelaku dan kebiasaan religius setiap pelakunya, tetapi juga dalam mengambil acuan untuk tema cerita. Tema tentang Tabut Perjanjian yang hilang banyak diangkat sebelumnya dengan mengacu pada Alkitab (Torah dan Injil) dari sisi Yahudi atau Kristen. Sementara penulis di novel ini mencoba mengambil acuan dari Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut ini, acungan jempol bisa aku berikan untuk kerja keras penulis membangun kerangka ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kurang Nendang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, dalam eksekusi pembuatan cerita fiksinya banyak yang terasa agak kedodoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan yang dibangun kurang dramatis. Banyak kejar-kejaran dan aksi-aksi penyelamatan diri, hanya saja detail petualangannya kurang seru. Kadang terlalu cepat dan melewatkan momen-momen yang bisa didramatisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog pengisi antar tokohnya seringkali terasa sebagai tempelan yang kurang natural dan tidak menyatu dengan suasana. Saat banyak tokoh berada dalam satu adegan, penulis kadang memaksakan bahwa setiap tokoh harus bicara dan ambil bagian dalam diskusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan menyisipkan unsur roman (yang tetap islami) dalam novel ini terasa kurang smooth. Mungkin terlalu memaksakan diri demi mengikuti formula bahwa setiap cerita sebaiknya mengandung unsur roman dan cinta-cintaan. Bukannya membuat cerita petualangan yang berkecepatan tinggi ini menjadi lebih lembut, tapi malah jadi konyol dengan pilihan dialog yang kurang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu benarkah akan jadi film kolosal? Dari novel ini tidak terlihat adanya adegan kolosal yang akan menjadi sejarah dalam perfilman Indonesia. &lt;br /&gt;Oh.. masih ada lanjutan novel kedua dan ketiga ya? Mungkin disana ada adegan kolosalnya.. &lt;br /&gt;Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg&gt;&lt;img src=http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-7740189354676384880?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/7740189354676384880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=7740189354676384880' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7740189354676384880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7740189354676384880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2009/04/rahasia-kaum-falasha.html' title='Rahasia Kaum Falasha'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SeSsdFhA6gI/AAAAAAAAAZE/M-QJa540MHw/s72-c/falasha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-3847216425324171753</id><published>2008-12-08T05:49:00.002+07:00</published><updated>2008-12-08T05:53:34.272+07:00</updated><title type='text'>Maryamah Karpov</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;width: 200px; height: 273px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/STxTuQnxFII/AAAAAAAAAYI/MqTjqTF2U88/s400/karpov.jpg" border="0" alt="Maryamah Karpov"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277184917572228226" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Maryamah Karpov&lt;br /&gt;Subjudul : Mimpi-mimpi Lintang&lt;br /&gt;Penulis : Andrea Hirata&lt;br /&gt;Penerbit : Bentang Pustaka, November 2008&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, 504 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah buku yang dinanti-nantikan oleh banyak orang para pecinta buku di seluruh Indonesia. Mereka yang sudah dari awal mengikuti tiga buku pertama tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata pastilah amat sangat penasaran dengan buku penutup ini. Apalagi buku ini sempat diundur-undur jadwal peluncurannya. Awalnya akan diluncurkan Maret 2008, lalu mundur Mei 2008. Lalu karena ada momen peluncuran film Laskar Pelangi, maka diundur lagi akan diluncurkan setelah film beredar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pemilihan momen setelah peredaran film ternyata adalah pilihan yang tepat. Begitu film Laskar Pelangi meledak dan memecahkan rekor jumlah penonton film Indonesia sepanjang masa, maka semakin banyaklah orang yang tertarik dengan Laskar Pelangi. "Maryamah Karpov" sebagai buku keempat dari tetralogi ini, setelah "&lt;a href="http://qyu.blogspot.com/2005/12/laskar-pelangi.html"&gt;Laskar Pelangi&lt;/a&gt;", "&lt;a href="http://qyu.blogspot.com/2006/07/sang-pemimpi-sekuel-laskar-pelangi.html"&gt;Sang Pemimpi&lt;/a&gt;", dan "&lt;a href="http://qyu.blogspot.com/2007/06/edensor.html"&gt;Edensor&lt;/a&gt;", langsung diperebutkan banyak orang. Dalam seminggu sekian puluh ribu copy buku ini terjual. Rekor baru lagi... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika "Laskar Pelangi" berkisah tentang masa kecil Ikal bersama Laskar Pelangi semasa SD dan SMP, "Sang Pemimpi" tentang masa remaja Ikal bersama Arai dan Jimbron semasa SMA dan kuliah, "Edensor" tentang masa-masa kuliah Ikal dan Arai di Eropa, maka "Maryamah Karpov" melanjutkannya dengan saat-saat Ikal telah menyandang gelar Master dan kembali ke Belitong sebagai pengangguran terdidik :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kembali ke Belitong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka dengan kisah masa kecil Ikal saat Bapaknya dikabarkan akan mendapatkan kenaikan pangkat di tempatnya bekerja sebagai kuli di Meskapai Timah. Entah kenapa dipilih cerita sedih ini sebagai pembuka, mungkin sebagai pembanding untuk bab-bab setelahnya. Masa lalu yang penuh keterbatasan itu ternyata kemudian berputar naik ke masa-masa saat Ikal akhirnya mampu meraih gelar Master dari universitas terkemuka di Eropa. Sebuah pencapaian mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kemudian berputar lagi, Ikal kembali ke Belitong. Kembali ke tempat masa lalu nya yang belum berubah banyak. Berhadapan kembali dengan kenyataan akan keterbatasan hidup di Belitong. Gelar Masternya tak berarti apa-apa disana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berceritalah Ikal sebagai narator tentang kehidupan orang Belitong yang terdiri dari berbagai suku dengan karakternya masing-masing itu. Tentang kebiasaan memberikan julukan kepada setiap orang berdasarkan peristiwa atau sifat tertentu. Tentang kesukaan orang Belitong bertaruh atas apa saja. Tentang ketakutan mereka terhadap dokter gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini Ikal kembali bertemu Arai yang tidak bisa melanjutkan pendidikan masternya karena penyakit tak tahan dingin. Arai dipertemukan kembali dengan cinta sejatinya Zakiah Nurmala. Sementara Ikal pun tak pernah surut mencari cinta sejatinya sejak dulu, A Ling. Setelah nekat mengelilingi berbagai negara untuk mencari A Ling tanpa hasil, di Belitong Ikal akhirnya menemukan sepotong kecil petunjuk tentang A Ling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk itu mengarah ke seberang lautan. Jika Ikal ingin mengikutinya ia harus menyeberangi lautan dengan perahu ke sebuah pulau kecil tempat para bajak laut bersembunyi. Dan ia juga harus meminta ijin kepada Tuk Bayan Tula, dukun tersohor itu, agar bisa menyeberangi lautan dan sampai dengan selamat di pulau Batuan tempat para lanun itu berkuasa. Tak ada orang yang bersedia menyeberangkannya, bahkan meminjamkan perahu pun tak ada yang berani. Membeli perahu tentu tak mungkin karena harganya jauh tak terjangkau. Satu-satunya jalan adalah... Ikal membuat perahu sendiri!! Kawan-kawan masa kecil Ikal pun muncul siap membantu. Laskar Pelangi bahu membahu berusaha mewujudkan mimpi Ikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siapa Maryamah Karpov???&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai membaca buku ini pasti akan muncul pertanyaan besar, mengapa judulnya "Maryamah Karpov"? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Cik Maryamah yang suka mengajarkan langkah-langkah catur Karpov, hingga mendapat julukan Maryamah Karpov, hanya disebutkan sekilas dua atau tiga kali  dalam buku setebal 500 halaman ini. Bagaimana bisa dipilih sebagai judul, padahal tidak mewakili sebagian besar isi buku ini? Subjudulnya malah yang lebih memiliki banyak peran dalam buku ini. "Mimpi-mimpi Lintang" adalah nama perahu yang dibuat Ikal bersama Laskar Pelangi, yang berperan mungkin lebih dari separuh cerita buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocorannya sih, sebenarnya naskah buku ini jauh lebih tebal. Karena berbagai alasan maka harus dibagi dua. Yang diterbitkan sekarang ini adalah bagian pertama. Pada buku bagian kedualah yang lebih banyak bercerita tentang peran Maryamah Karpov. Sayangnya buku bagian kedua itu belum jelas kapan akan diterbitkan. Dan tidak ada petunjuk di buku pertama ini tentang buku kedua, selain ending terbuka yang masih sangat mungkin dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Melompat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dibagi dalam 73 mozaik potongan-potongan cerita yang masing-masing diberi judul tersendiri. Sebagaimana buku-buku terdahulu, di dalam potongan cerita itu Andrea Hirata dengan bebas melompat-lompat dari satu cerita ke cerita yang lain, dari satu masa ke masa yang lain. Namun kadang juga merupakan cerita panjang yang berurutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tengok daftar isi, 73 mozaik itu terlihat terbagi dua oleh sebuah kalimat "Seminggu Berselang" yang memisahkan mozaik 43 dan 44. Pada bagian dalam buku juga terdapat satu lembar separator bertulis "Seminggu Berselang". Padahal jika kita baca rentetan ceritanya selang waktu seminggu itu bukan sebuah momen penting yang membagi cerita menjadi dua bagian hingga perlu dibuat separator. Ditulis sebagai awal bab baru di mozaik berikutnya tampaknya sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lompatan lain muncul di mozaik 54. Tiba-tiba ada satu halaman berisi sebuah puisi di akhir mozaik. Puisi pendek semacam itu muncul kembali di akhir mozaik 56, 58, 62, 66, &amp; 71. Tidak jelas apakah itu penutup mozaik ataukah pembuka untuk mozaik setelahnya. Isinya pun kadang tidak berkaitan dengan cerita. Jadi terasa janggal karena tiba-tiba muncul di sepertiga akhir buku, dan tidak ada sama sekali di dua pertiga bagian pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masih Sang Pemimpi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema besar novel ini masih tetap melanjutkan benang merah dari buku-buku sebelumnya. Keberanian bermimpi, menggantungkan cita-cita dan mengejarnya. Hanya saja kekuatan cerita di buku keempat ini terasa berkurang. Gregetnya tidak semenarik buku-buku sebelumnya, saat Ikal masih bercita-cita untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Disini Ikal telah meraih mimpinya mendapat gelar tinggi dalam akademik. Lalu? ... Lalu kini Ikal mengejar cintanya... Segenap daya upaya dilakukan Ikal untuk mengejar bayang-bayang keberadaan A Ling. Tapi entah kenapa perburuan cinta itu terasa kurang greget dan agak terlalu dibesar-besarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada buku pertama Laskar Pelangi, berbagai kejadian hebat terjadi saat Ikal mengejar mimpinya mendapatkan A Ling. Berbagai rintangan dan kesulitan akhirnya bisa ditembus oleh Ikal dibantu sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang dekat dengannya. Ikal nyaris menjadi sosok pahlawan yang akhirnya selalu berhasil dalam semua usahanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Rahasia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberi tahu satu rahasia kepadamu, Kawan&lt;br /&gt;Buah paling manis dari berani bermimpi&lt;br /&gt;Adalah kejadian-kejadian menakjubkan&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menggapainya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;[h. 433]&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berlebihan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penulis tentulah punya hak sebebas-bebasnya dalam berimajinasi. Mau membuat dunia yang seaneh apapun adalah hak penuh mutlak milik sang penulis. Lalu saat hasil karya itu dilempar untuk umum, untuk dibaca semua orang, maka selanjutnya hak mutlak berada pada pembaca untuk mengapresiasi karya tersebut sesuai persepsinya masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebagai pembaca sering kali mengapresiasi sebuah cerita berdasarkan logika. Dan di novel ini, kembali aku terganjal oleh beberapa keganjilan logika dari penuturan Andrea Hirata. Antara lain yang sempat menggangguku adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tinggi badan Ikal dan Syahdan pada saat kelas tiga SMP lebih rendah daripada saat kelas dua SMP, sebagaimana tergores di tiang kelas yang masih berbekas.&lt;br /&gt;- A Ngong kalah bertaruh dengan A Tong, dia harus menelan tiga buah bola pingpong! dan kata buku ini itu benar-benar dilakukan. Seminggu kemudian bola pingpong itu baru keluar dari pencernaannya! Tahu kan ukuran bola pingpong? masuk mulut saja sudah penuh, bagaimana menelannya? lalu bagaimana mengeluarkannya dari perut?&lt;br /&gt;- Dituturkan bahwa penyelam dari Sawang mampu menahan nafas di dalam air tanpa alat apapun selama dua puluh menit! ow.. apakah tidak kehabisan oksigen otak mereka? dari hasil googling kemampuan menahan nafas terlama di bawah air adalah sembilan menit.&lt;br /&gt;- Proses pengangkatan bangkai kapal tua berusia ratusan tahun dari sungai dengan dalil Lintang sulit sekali dibayangkan. Bagaimana meletakkan bangkai kapal itu dalam ayunan? Bagaimana proses pengosongan seketika dua puluh empat drum di bawah air secara simultan bersamaan? dengan pompa sebesar dan sebanyak apa? dan bukankah drum-drum itu berisi air lalu dikosongkan, darimana bisa timbul gelembung udara yang dahsyat?&lt;br /&gt;- Lintang pantas menjadi Maha Profesor di dunia perkapalan baru dengan penemuan rumusnya yang bisa memberikan ukuran panjang - lebar - tinggi - power - kecepatan kapal secara tepat dengan akurasi ukuran hingga centimeter hanya dengan mencoret-coret di tanah. &lt;br /&gt;- Suatu keajaiban bahwa kayu bangkai kapal itu tidak lapuk setelah terendam selama ratusan tahun. Tidak ditumbuhi lumut atau ganggang. Lebih hebat lagi walaupun beda ukuran, lengkungan lambung bangkai kapal itu persis pas dengan lengkungan lambung kapal baru Ikal. Seperti kapal copy-paste :p &lt;br /&gt;- Kapal selangsing itu, tanpa cadik, berani mengarungi lautan luas, bahkan selamat menghadapi badai. Dalam perjalanan kembali malahan tiang layarnya patah dan masih bisa berlari kencang.&lt;br /&gt;- Cara belajar biola yang janggal, cara membuat perahu kayu yang terlalu disederhanakan, mengapa Arai tetap tidak pernah dipertemukan dengan anak2 Laskar Pelangi ..  dll dll.. capek..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata tampaknya sibuk menyusun cerita-cerita yang hebat dan dramatis, tapi melupakan banyak hal yang seharusnya dipertimbangkan juga. Di permukaan memang tampaknya sudah terbangun cerita yang utuh, tapi nyatanya masih terdapat banyak lubang yang membuatnya timpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya pendalaman detail setting dan suasana juga mempengaruhi kurangnya pembaca bisa merasa ikut terlibat dan merasakan sendiri semua kejadian. Pembaca jadinya seperti mendengarkan cerita dari tetangga yang sepotong-sepotong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kemampuan Imajinasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena ingin tahu bagaimana semuanya akan diselesaikan, sebenarnya aku nyaris berhenti melanjutkan novel ini setelah membaca beberapa paragraf yang membuka mataku di mozaik 22. Pada halaman 139 - 141 secara tersirat aku menangkap apa sebenarnya yang dituliskan oleh Andrea Hirata. Ini tentang kebiasaan orang Melayu Dalam, penduduk mayoritas pulau Belitong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Salah satu bentuk klasik humor mereka (orang Melayu Dalam) adalah membual" [h. 139]&lt;br /&gt;"Di Tanah Melayu tidaklah mudah menjadi pembual. Mesti kreatif dan imajinatif" [h. 141]&lt;br /&gt;"Anehnya, setiap orang tahu bahwa semua itu hanya bualan... Namun tak seorangpun merasa dibohongi, tak seorangpun merasa risi, merasa dihina intelektualitasnya, dibodohi, direndahkan, atau tersinggung, dan tak seorangpun mencoba memberi gambaran logis pada para pembual dan hadirin" [h. 141]&lt;br /&gt;"Yang dikagumi dan ditertawakan para pengunjung dari para pembual sesungguhnya bukan kisah bualnya, melainkan kemampuan imajinasi pembual"[h.141]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata orang Melayu Dalam kan?&lt;br /&gt;Sayangnya aku bukan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-3847216425324171753?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/3847216425324171753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=3847216425324171753' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3847216425324171753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3847216425324171753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/12/maryamah-karpov.html' title='Maryamah Karpov'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/STxTuQnxFII/AAAAAAAAAYI/MqTjqTF2U88/s72-c/karpov.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2737559742487846526</id><published>2008-10-19T21:11:00.003+07:00</published><updated>2008-12-08T05:55:42.450+07:00</updated><title type='text'>Bilangan Fu</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SPtAPwCjcDI/AAAAAAAAARs/bT2fT022HPA/s400/bilanganfu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258867629223014450" /&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku: Bilangan Fu&lt;br /&gt;Penulis: Ayu Utami&lt;br /&gt;Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan 1, Juni 2008, 537 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama akhirnya Ayu Utami menelurkan karya novel terbarunya. Ayu tampaknya memang tidak terlalu menggebu-gebu dalam menghasilkan karya. Novel debutnya yang lahir dari ajang Sayembara Novel DKJ, yaitu "Saman" yang banyak menuai kontroversi karena kelugasannya dalam penuturan seputar hal seksual, muncul pada tahu 1998. Novel "Larung" yang terdiri dari dua buah cerita terpisah menyusul setelah tiga tahun kemudian. Berselang lagi dua tahun, di 2003 Ayu merilis kumpulan esai "Parasit Lajang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kabarnya novel terbaru "Bilangan Fu" ini membutuhkan waktu penyusunan sampai empat tahun. Sebagian dari waktu itu digunakan oleh Ayu Utami untuk menggeluti secara langsung kehidupan para pemanjat tebing, yang menjadi setting utama dari novel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus terang tidak mengidolakan Ayu Utami maupun karya2nya. Membaca "Saman" karena rasa penasaran seberapa vulgar sih dia bertutur. Dan ternyata tidak sampai jatuh menjadi cerita jorok. Semua kelugasan Ayu tentang hal seksual adalah keterusterangan dan keterbukaan dia tentang cara berpikirnya. Membaca "Larung" karena ingin tahu apalagi yang ingin diceritakan Ayu Utami, dan karena saat itu cukup jarang novel Indonesia yang diterbitkan. Dan membaca "Bilangan Fu" karena merasa sebagai pembaca yang menghargai karya2 negeri sendiri, karya Ayu Utami adalah karya yang perlu diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemanjat Tebing dan Spiritualisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang sering bersikap skeptis dan sinis, bersama kelompoknya membuka jalur pemanjatan baru di daerah Sewugunung, sekitar Yogya, di sebuah pebukitan kapur bernama Watugunung. Parang Jati, mahasiswa Geologi berjari 12 yang tinggal di Sewugunung, yang berencana melakukan penelitian arkeologi di bukit kapur yang sama, Watugunung. Mereka berdua bertemu dan selanjutnya bersahabat kental dalam banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parang Jati sangat menghormati alam. Ia mengkritik semua perilaku manusia yang merusak alam. Karena itulah ia menjadi vegetarian, dan ia juga tidak setuju dengan cara pemanjatan yang dilakukan Yuda yang banyak melukai batu-batuan. Dalam satu kejadian, Yuda yang suka bertaruh terpaksa tunduk kepada Jati untuk hanya melakukan clean climbing yang tidak merusak batuan sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parang Jati juga sangat menghormati kehidupan dan kepercayaan masa lalu saat manusia masih hidup selaras dengan alam. Ia berani bersikap kritis terhadap agama-agama langit yang menentang berlanjutnya pemujaan-pemujaan terhadap alam. Bahkan kemudian berniat membuat agama baru "Kejawan Anyar" yang mengusung sikap spiritualisme kritis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sikap Parang Jati tersebut, ia mendapatkan musuh. Pemuda yang tiga tahun lebih muda bernama Kupukupu dan kemudian berganti nama menjadi Farisi. Konon ia adalah saudara kandung Parang Jati tetapi tidak seberuntung Parang Jati yang diangkat anak oleh Suhubudi yang kayaraya. Farisi mengagungkan agamanya dan menolak pemberhalaan apapun selain Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan muncullah konflik2 di sekitar Sewugunung. Tewasnya seorang dukun klenik oleh anjing gila, dan kemudian mayatnya hilang dari kubur. Adanya perusahaan pertambangan yang ingin mengeksplorasi batu kapur Watugunung. Isu pembunuhan dukun santet oleh ninja. Juga konflik lokal antara kepolisian dan tentara. Dan masih dibumbui dengan hadirnya Marja, kekasih Yuda, yang kemudian juga intim dengan Parang Jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bacaan Melelahkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilangan Fu adalah novel yang berat menurutku. Aku perlu berminggu-minggu untuk menyelesaikannya. Melelahkan kalau membacanya dengan keinginan untuk mengerti dan memahami semua yang diuraikan oleh Ayu Utami. Aku menyerah setiap kali tidak berhasil menemukan inti cerita yang menjadi tujuan penulis. Ini lebih menyerupai kumpulan esai tentang cerita rakyat, tentang Sangkuriang, tentang Nyi Ratu Kidul dan Raja Mataram, tentang kritik terhadap agama langit dan agama bumi, tentang sejarah angka, tentang politik, tentang militerisme, tentang modern dan post-modern. Semuanya diaduk menjadi satu. Memang menambah wawasan dan pengetahuan, tetapi mau kemana sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu diperberat lagi dengan keberanian penulis dalam memakai kata-kata bahasa Indonesia yang jarang dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Tanpa adanya catatan kaki tentang apa artinya, aku harus mereka-reka sendiri apa itu artinya: banal, mendaku, dubuk dan lain lain. Belum lagi penulis kadang malas menjabarkan peristiwa dalam bentuk reka kejadian runtut ala cerita fiksi, tetapi lebih memilih menuliskannya dalam bentuk narasi reportase yang datar tanpa emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang paling membingungkan adalah bagian-bagian dimana Ayu Utami menyelam dalam dunia khayalan yang ia ciptakan sendiri. Saat ia membahas tentang bilangan Fu. Bilangan yang menghasilkan satu jika dibagi maupun dikali satu, namun bilangan itu bukan satu. Lalu ada lagi bilangan Hu, bilangan ke-tigabelas dari deretan bilangan berbasis duabelas dengan lambang bulatan spiral. Penjabaran panjang lebar tentang dua bilangan absurd itu mengambil banyak bagian dari novel ini, seolah menjadi sesuatu yang sakral yang harus dihormati. Dan aku selalu menyerah di bagian ini, melompatinya dan tidak terlalu peduli dengan dunia khayal keramat milik Ayu Utami pribadi itu. Hingga akhir cerita tetap tidak jelas peran dari bilangan Fu dan Hu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siapa Yuda?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan lain yang muncul saat aku membaca novel ini adalah karakter Sandi Yuda yang menjadi narator orang pertama. Awalnya Yuda tergambar sebagai lelaki petualang yang sinis tapi berani menghadapi resiko. Tetapi disini aku sudah merasakan karakter Yuda adalah Ayu Utami sendiri. Kadang aku bingung harus mengimajinasikan Yuda ini sebagai pria atau wanita tomboy? Karena cara bertutur dan berpikir Yuda tidak terkesan sebagai lelaki petualang yang dingin dan keras, tapi lebih mendekati pada wanita tomboy yang sinis dan dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu semakin jelas terasa ketika muncul tokoh Parang Jati. Yuda langsung kalah set. Yuda langsung menjadi pengikut dan pengekor Parang Jati. Kalimat2 yang dituliskan menyiratkan bahwa Yuda sangat mengagumi Parang Jati, bahkan mendambakan. Cerita persetubuhan Yuda dengan Marja tidak membantu untuk memunculkan sosok yang lebih maskulin dan independen. Tetap saja yang muncul adalah Yuda sebagai Ayu Utami yang sedang jatuh cinta kepada seorang pemanjat tebing... *gossip..* ;p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parang Jati lebih berhasil digambarkan sebagai tokoh heroik dan ideal yang maskulin, meskipun sama-sama cerdas dan intelek. Tokoh antagonis Kupukupu alias Farisi juga cerdas meskipun agak kekanak-kanakan dengan kostumnya yang ala Samurai X. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernyataan Sikap Ayu Utami&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini tampaknya memang representasi tentang sikap diri Ayu Utami. Sikap penulis yang memusuhi 3M, Monoteisme, Modernisme dan Militerisme. Bukan sebuah penolakan total. Tetapi bersikap kritis terhadapnya. Ketiga unsur itu berpotensi memegang kekuasaan yang terlalu tinggi sehingga merasa berhak meniadakan hak dari pihak lain yang tidak sejalan. Perlu ada nya penyeimbang terhadap pemegang kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan diri yang sebenarnya cukup keras itu diperlunak dengan membalutnya dalam sebuah kisah fiksi tentang pemanjat tebing dan konflik di sebuah desa kecil di lereng gunung. Dengan sedikit bumbu kisah cinta segitiga yang hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun salut tetap harus diacungkan kepada Ayu Utami untuk semua risetnya yang lumayan mendalam tentang segala hal untuk mewarnai novel ini. Meskipun sayangnya semua itu dijejalkan kadang asal saja tanpa tujuan. Salut juga untuk keberaniannya menyatakan pendapat yang telah diolah dengan matang tentang Spiritualisme Kritis. Menarik dan membuka mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2737559742487846526?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2737559742487846526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2737559742487846526' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2737559742487846526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2737559742487846526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/10/bilangan-fu.html' title='Bilangan Fu'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SPtAPwCjcDI/AAAAAAAAARs/bT2fT022HPA/s72-c/bilanganfu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2346088700313566416</id><published>2008-09-29T23:31:00.001+07:00</published><updated>2008-12-08T05:56:37.059+07:00</updated><title type='text'>Negeri Bahagia</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SOEDCOjNYXI/AAAAAAAAARk/VAtNNB29iyY/s400/cityofjoy.jpg" border="0" alt="Negeri Bahagia, Dominique Lapierre" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251481977291104626" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Negeri Bahagia&lt;br /&gt;Judul Asli : City of Joy&lt;br /&gt;Penulis : Dominique Lapierre (1985)&lt;br /&gt;Penerjemah : Wardah Hafidz&lt;br /&gt;Penerbit : Bentang&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, Juni 2008, 767 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menggetarkan....". Satu kata yang merupakan kutipan review media internasional ini diletakkan di tengah-tengah sampul novel edisi terjemahan bahasa Indonesia terbitan Bentang. Hanya satu kata saja, tapi benar-benar mewakili perasaan yang muncul saat membaca buku ini. Rasa miris, prihatin, ngeri, jijik, haru, marah bercampur aduk yang akan membuat jiwa anda tergetar. Bertanya-tanya, benarkah ada kehidupan yang begitu menyedihkan seperti yang digambarkan dalam buku ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"City of Joy", karya Dominique Lapierre, merupakan hasil dari penelitian penulis yang selama setahun penuh terjun di daerah kumuh di Calcutta, India sekitar tahun 1980-an. Dari dua ratus hasil wawancara panjang dengan para penghuni Anand Naghar, akhirnya penelitian itu disusun dalam bentuk novel ini untuk dipublikasikan kepada umum. Jadi ini sebenarnya adalah memoar kehidupan orang2 di perkampungan Anand Naghar, Calcutta. Sebuah kisah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan pertama kali sudah lebih dari duapuluh tahun yang lalu, tapi tidak menutup kenyataan bahwa pada masa sekarangpun mungkin masih ada orang2 yang hidup dalam kondisi yang tidak jauh berbeda di perkampungan kumuh di salah satu sudut dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi bahasa Indonesianya diterjemahkan oleh Wardah Hafidz, yang juga kita kenal sebagai ketua Konsorsium Rakyat Miskin Kota (Urban Poor Consortium). Sejalan sekali dengan aktifitasnya yang memperjuangkan rakyat miskin. Kualitas terjemahannya cukup baik, meskipun masih ada beberapa gangguan di beberapa bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini telah difilmkan pada tahun 1992 dengan judul yang sama, disutradarai oleh Roland Joffé, dengan Patrick Swayze sebagai Max Loeb dan Om Puri sebagai Hasari Pal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Negeri Bahagia yang Membuat Miris&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anand Nagar, ironis dengan artinya yaitu "Negeri Bahagia", adalah nama sebuah perkampungan kumuh di pinggir kota Calcutta. Luasnya tidak lebih dari dua lapangan sepak bola, tapi penghuninya lebih dari tujuh puluh ribu orang. Mereka tinggal berdesakan dalam rumah2 petak yang luasnya tak lebih dari tiga meter persegi. Dalam kemiskinan yang ekstrem, sembilan dari sepuluh penghuninya tak mampu membeli bahkan seperempat kilo beras seharga satu rupee setiap harinya. Namun dalam keadaan seperti itu mereka bisa hidup saling membantu berdampingan dalam perbedaan suku dan agama. Hanya satu golongan yang mereka kucilkan di sudut terburuk Anand Nagar, para penderita Lepra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga tokoh utama dalam novel ini. Hasari Pal, seorang petani Hindu berusia 32 tahun dari Benggala yang karena gagal panen akhirnya nekat membawa keluarganya mengais sebutir rejeki menjadi penarik angkong di Calcutta. Stephan Kovalski, pastor Katolik dari Polandia berusia 32 tahun yang ingin tinggal bersama kaum miskin untuk memberikan pelayanan. dan Max Loeb, dokter muda Yahudi berusia 25 tahun asal Miami Amerika yang tertarik tawaran Stephan untuk membantu balai pengobatan di daerah kumuh Calcutta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasari Pal demi menghidupi istri dan empat orang anaknya harus rela menjadi kuda beban, menarik angkong (rickshaw) berlarian menerobos lalu lintas kota Calcutta yang sangat semrawut. Menjadi penarik angkong tidak hanya berhadapan dengan beban penumpang, tetapi juga berhadapan dengan polisi, majikan, dan pemerintah kota. Kondisinya yang kurang gizi tetap dipaksa bekerja demikian keras. Hasari punya satu harapan besar, ia ingin segera menikahkan anak perempuannya. Untuk itu ia harus mengumpulkan ribuan rupee untuk menebus pengantin pria. Segala cara rela ia tempuh, bahkan menjual darah hingga tubuh keringnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stephan Kovalski meskipun telah membulatkan tekad untuk hidup bersama kaum miskin, ikut merasakan kesengsaraan mereka, tetap harus terkejut-kejut dengan berbagai kejadian miris yang ditemuinya di Anand Nagar. Begitu juga dengan Max Loeb, anak muda yang terbiasa hidup mewah itu, dituntut bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sangat kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kuatkan Hati Saat Membacanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati bab demi bab dalam buku ini, pembaca akan digiring untuk membayangkan sebuah pemukiman padat yang sebenarnya sangat tidak layak huni. Pemukiman dimana penghuninya setiap pagi membuang kotoran di got-got, tinggal di rumah-rumah petak yang dihuni banyak tikus dan berbagai serangga dan sanitasi yang memprihatinkan, serta ditemani tetangga2 yang penyakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu belum seberapa, pada bab tertentu juga diceritakan saat Stephan dan Max harus berkunjung ke pemukiman para penderita lepra yang dikucilkan. Digambarkan bahwa tempat itu diselimuti oleh bau daging busuk dari luka para penghuninya. Ditambah lagi dengan wujud para penghuninya yang rata-rata sudah tidak utuh lagi, tangan dan kaki buntung, hidung growong, dan luka-luka lain akibat digerogoti lepra. Mual memang membayangkannya... Pembaca yang tidak sanggup membaca detil-detil itu mungkin akan cepat menyerah dan tidak ingin melanjutkan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan keseharian yang sudah sulit itu masih diperparah dengan berbagai bencana yang silih berganti menyerbu kampung Anand Nagar. Dari musim kering yang amat sangat panas hingga 50 derajat celcius yang melumpuhkan segala kegiatan, banjir monsun akibat hujan lebat tiga hari yang menggenangi kampung dengan lumpur hitam kotor, hingga angin topan yang meluluh lantakkan semua rumah semi permanen di Anand Nagar. Sungguh kehidupan yang sangat rapuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kehidupan Yang Amat Berat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih miris lagi, mengikuti penuturan bahwa orang-orang yang sangat tidak beruntung itu ternyata masih menjadi sumber pemerasan oleh orang-orang yang tidak mempunyai hati. Para pemeras itu selalu mencari kesempatan untuk dapat memperoleh lembar2 rupee tambahan dari orang2 miskin yang sudah kesulitan untuk sekedar mendapat sesuap nasi. Dari para mafia dan preman yang sok berkuasa, para polisi yang mencari-cari peluang, hingga para majikan yang menginginkan keuntungan sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum miskin itu juga kian terkuras hartanya yang tidak seberapa itu oleh tuntutan adat mereka sendiri. Untuk mendapatkan doa dari bhiksu, ketika ada yang sakit atau membutuhkan dukungan spiritual, mereka harus membayar sekian puluh rupee. Saat menikahkan anak perempuan, mereka harus menyediakan sekian ribu rupee untuk mas kawin ke pihak laki-laki dan untuk pesta. Saat ada keluarga yang meninggal, perlu sekian ratus rupee lagi untuk melakukan upacara kremasi... Dan mereka selalu memaksakan diri untuk bisa memenuhi semua biaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masih Ada Senyuman di Negeri Bahagia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hebatnya, penulis selalu bisa membuat bab demi bab itu bukan sebagai lagu sedih meratapi takdir. Selalu ada antusiasme, selalu ada setitik nyala semangat hidup dari para penghuni Anand Nagar. Selalu ada senyum atas sedikit kebahagiaan yang mereka dapatkan dalam keterbatasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah Sabia, tetangga muslim Stephan. Anak belasan tahun yang mengidap penyakit pernafasan parah itu setiap malam selalu merintih kesakitan. Namun ketika Stephan menjenguknya, Sabia tersenyum lebar menyambut kedatangan Stephan. Tengoklah Anouar, pria penderita lepra yang tangannya telah buntung. Betapa bahagianya dia pada pesta pernikahannya dengan Metta, sesama penderita Lepra. Tengoklah pula kelegaan Hasari Pal, ketika akhirnya dia mampu menyelenggarakan pesta pernikahan untuk anak perempuan satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika datang hari raya keagamaan, kampung kumuh itu akan tiba-tiba menjelma sebagai Negeri Bahagia yang sesungguhnya. Orang-orang akan berpesta dalam kegembiraan, dalam pakaian2 mereka yang terbagus. Entah itu hari raya umat Hindu, Sikh, Kristen, ataupun Islam, semuanya dirayakan dengan meriah dan penuh toleransi dalam kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sebuah bacaan yang ringan. Karena setiap saat pembaca mungkin akan menghela nafas, mengernyitkan dahi, mengelus dada, ketika menyusuri kepapaan para penghuni Anand Nagar. Apalagi saat menyadari bahwa semua kisah itu dituturkan dari kisah yang benar-benar terjadi. Dari situ, kita akan diajak untuk bercermin dan membuka hati. Sudahkah kita cukup bersyukur atas segala yang kita punya? Dan sudahkah kita cukup berbuat untuk memberi jalan kepada mereka yang tidak beruntung itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2346088700313566416?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2346088700313566416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2346088700313566416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2346088700313566416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2346088700313566416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/09/negeri-bahagia.html' title='Negeri Bahagia'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SOEDCOjNYXI/AAAAAAAAARk/VAtNNB29iyY/s72-c/cityofjoy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6863486495706450610</id><published>2008-09-25T08:31:00.004+07:00</published><updated>2008-12-09T10:56:38.351+07:00</updated><title type='text'>Laskar Pelangi (Film)</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SNrqFpf8OzI/AAAAAAAAARU/cpZgc5Pz3wg/s400/laskar+pelangi+the+movie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249765698413804338" /&gt;&lt;b&gt;Sutradara: Riri Riza&lt;br /&gt;Produser: Mira Lesmana&lt;br /&gt;Penulis Skenario: Salman Aristo&lt;br /&gt;Musik: Titi &amp; Aksan Syuman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sinopsis :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Bu Muslimah dan Pak Harfan, serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab berdasarkan surat pengawas sekolah jika tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Kesepuluh murid, yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah itu, menjalin kisah yang tak terlupakan. (dari website &lt;a href="http://www.laskarpelangithemovie.com" target="_blank"&gt;Laskar Pelangi The Movie&lt;/a&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Adaptasi Cerita : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata tampaknya tidak terlalu kaku mematok bahwa film ini harus sepenuhnya sama dengan novel yang ia tulis. Terbukti ia membebaskan Riri Riza dan Salman Aristo membuat skenario sesuai interpretasi mereka sendiri. Dan menurut wawancara di media, Andrea bisa menerima dan puas dengan perubahan2 dalam skenario filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riri dan Salman cukup berani membuat banyak perubahan. Tampaknya mereka juga merasakan banyak hal yang terlalu berlebihan di Laskar Pelangi versi novel, sebagaimana yang aku rasakan dan pernah aku posting di &lt;a href="http://qyu.blogspot.com/2005/12/laskar-pelangi.html" target="_blank"&gt;reviewku&lt;/a&gt;. Laskar Pelangi versi film ini menjadi lebih logis dan membumi. Hampir semua yang berlebihan dibabat habis dan dijejakkan kembali ke bumi. Pertanyaan2 di lomba cerdas-cermat telah disesuaikan dengan tingkat pendidikan peserta. Tarian di karnaval juga lebih sederhana hanya didramatisir dengan permainan kamera. Mahar juga lebih membumi dengan lagu "Seroja"-nya, bukan "Tennese Waltz". Grup Band Laskar Pelangi dengan electone, standing bas dll sama sekali tidak diceritakan. Petualangan ke pulau Lanun juga disederhanakan. Dan yang tersisa adalah sebuah kisah yang jauh lebih logis dan masuk akal, sesuai dengan setting cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di novel kita akan merasa bahwa yang bercerita adalah Ikal dewasa tentang Ikal kecil, dengan seabreg istilah bahasa latin dan bahasa inggris bertaburan disana sini. Di film ini semuanya kembali ke suasana yang seharusnya, suasana Belitong yang masih agak terpencil dan suasana kehidupan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penambahan2 cerita baru di beberapa tempat, bisa diterima dan menyatu dengan baik dengan cerita asli. Hanya saja tokoh baru Pak Mahmud yang diperankan Tora Sudiro itu apa memang perlu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu satu hal lagi, karena ada banyak adegan di buku yang dimunculkan hanya sekilas tanpa terlalu banyak detail, aku agak bertanya-tanya apakah mereka yang belum membaca bukunya akan bisa menangkap semua cerita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akting :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SNrqcmoJvrI/AAAAAAAAARc/2UUfziCTgV4/s400/9_514x768.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249766092779929266" /&gt;Secara keseluruhan akting pemainnya lumayan bagus. Rata-rata bisa bermain secara natural dan menyatu dengan setting Belitong tahun 70-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menjiwai peran di film ini menurutku adalah Ikranegara sebagai Pak Harfan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah. Dia bisa mewujudkan sosok seorang kepala sekolah sebuah SD sederhana yang idealis dan pantang menyerah, tapi tetap lembut, ramah dan sayang kepada anak-anak didiknya. Sedangkan Cut Mini sebagai Bu Mus, lumayan total aktingnya yang lengkap dengan logat melayunya yang kental itu. Meskipun pada beberapa adegan ada yang kurang lepas emosinya. Pemain dewasa lain seperti Mathias Muchus, Rieke DP, Alex Komang, Robby Tumewu, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Jajang, juga bermain bagus tetapi karena porsinya tidak banyak ya tidak terlalu menonjol. Hanya Tora Sudiro yang terasa agak mengganggu pemunculannya disini karena tetap sebagai Tora Extravaganza yang tampak konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemain anak2 asli Belitong yang memerankan Laskar Pelangi, meskipun mereka baru pertama kali berakting, tetapi ternyata cukup berhasil bermain secara natural. Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) tampil cukup meyakinkan. Yang paling bagus dan menjiwai karakternya adalah Veris Yamarno yang menjadi Mahar. Dia bisa bermain lepas tanpa beban sebagai anak eksentrik pecinta seni. Salut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Setting :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari segi cerita, film ini tampaknya bakalan banyak dipuji dari segi artistik. Pengambilan gambarnya, lokasinya, dan sudut-sudut kamera yang diambil tidak sembarangan. Sisi-sisi indah dari pulau Belitong bisa dimunculkan dengan apik dan dramatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan setting asli di Belitong dan bahasa asli setempat, film ini tampil lebih natural dibandingkan dengan novelnya yang agak sedikit dikacaukan dengan banyaknya perbendaharaan kata2 bahasa inggris daripada bahasa setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alur Cerita :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berdasarkan sebuah novel yang merupakan memoar masa lalu seorang Ikal, dan bukan sebuah cerita dengan fokus pada satu kisah utama, maka wajar saja jika ada yang merasa kalau film ini agak meloncat-loncat dan kemana-mana. Dan di beberapa bagian cerita akan terasa datar tanpa emosi, hanya sebatas bercerita tentang kehidupan tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini memang adalah kisah kehidupan, bukan sebuah cerita dengan rentetan adegan2 yang membangun konflik lalu mencapai klimaks dan selesai. Ada bagian tentang cerianya dunia anak2, ada tentang betapa sederhananya kehidupan mereka, ada tentang perjuangan agar tetap sekolah, ada sedikit bumbu kisah cinta remaja, dan ada perlombaan untuk melambungkan kembali harapan. Semuanya disatukan untuk membangun sebuah gambaran utuh tentang kehidupan tentang anak-anak miskin yang berjuang untuk tetap bisa sekolah dan menggantungkan mimpi mereka setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pesan Moral :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rentetan gambar yang indah film Laskar Pelangi ini menurutku berhasil menyampaikan kisah tentang perjuangan sebuah sekolah sederhana untuk anak-anak miskin agar bisa terus hidup dan mendidik generasi penerus dengan akhlak yang mulia. Segelintir guru yang bekerja keras pantang putus asa dalam keterbatasan. Beberapa orang murid miskin yang tetap bersemangat tinggi dalam belajar. Bisa menginspirasi banyak orang untuk memajukan lebih tinggi lagi dunia pendidikan terutama di daerah-daerah terpencil dan untuk anak-anak miskin. Salut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/star.jpg"&gt;&lt;img src="http://i285.photobucket.com/albums/ll45/qyu2/half.jpg"&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6863486495706450610?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6863486495706450610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6863486495706450610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6863486495706450610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6863486495706450610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/09/laskar-pelangi-film.html' title='Laskar Pelangi (Film)'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SNrqFpf8OzI/AAAAAAAAARU/cpZgc5Pz3wg/s72-c/laskar+pelangi+the+movie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-1337218732909091011</id><published>2008-09-15T01:00:00.003+07:00</published><updated>2008-09-15T01:00:00.795+07:00</updated><title type='text'>Tanril</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SM0_achmWuI/AAAAAAAAARM/oiQ6HnOFdCI/s400/tanril.jpg" border="0" alt="Tanril, Nafta S Meika" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245918864522762978" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Tanril&lt;br /&gt;Subjudul : Novel Silat - Epik Ho Wuan Siang&lt;br /&gt;Penulis : Nafta S. Meika&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Edisi : Cet I, Agustus 2008, 405 hlm.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore sebuah novel baru sampai di tanganku. Bersampul putih dengan ilustrasi sebentuk benda yang berwujud naga yang sedang melingkar. Judul "Tanril" dengan tipografi yang  sederhana tidak memberikan keterangan apapun. Mungkin itu nama seseorang yang bisa siapa saja. Namun gambar naga memunculkan isyarat tentang kisah legenda yang diwarnai fantasi dari dunia khayali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjudul "Novel Silat - Epik Ho wuan Siang" lah yang bercerita lebih banyak. Novel Silat.. Ho Wuan Siang... hmm langsung terbersit karya2 legendaris dari mendiang Kho Ping Hoo yang banyak berkisah tentang petualangan para pendekar silat dari daratan Tiongkok. Mampukah Nafta S. Meika dalam karya debutannya ini menjadi penulis penerus dalam genre tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ringkasan Cerita: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wander Natalez Howard, nama lengkap dari Wander/Wuan, adalah anak kelima dari pasangan petugas pajak dan penenun luan, Likuun dan Chiru'un. Sejak kecil ia adalah anak yang lemah dan sakit2an. Ketika ia sudah bisa bersekolah, ia menjadi bulan2an teman2nya yang licik dan suka menindas, hingga berkali-kali ia dikeluarkan dari sekolahnya. Wander tetap berkeinginan untuk belajar "arts", ia mendesak ayahnya untuk mencarikan lagi guru untuknya. Akhirnya ia diterima sebagai murid tunggal dari Kurt Manjare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurt tidak mengajarkan ilmu bertarung, tetapi mengajarkan teknik mengelola dan menguasai Chi. Kurt tahu bahwa Wander adalah seorang anak yang istimewa. Wander dilahirkan sebagai "Tanril", bayi yang memiliki kolam Chi luar biasa di dalam dirinya. Untuk bisa memanfaatkan kolam Chi dalam dirinya, Wander perlu diarahkan dengan benar. Dalam bimbingan Kurt, Wander mengalami kemajuan pesat. Selanjutnya Kurt mengundang Jie Bi Shinjin untuk melanjutkan mengajar Wander tentang ilmu bertarung. Dan pada usia masih belasan tahun Wander telah memiliki kemampuan yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu saat Raja negri Telentium mangkat. Tahta kerajaan menjadi rebutan antara Pangeran Pertama, Kedua dan Ketiga. Pangeran Kedua menyerah sebelum bertarung. Pasukan Pangeran Ketiga dipukul telak saat berusaha melawan pasukan Pangeran Pertama. Pangeran Pertama yang sedang di atas angin berusaha menguasai seluruh kota di negeri Telentium agar mengakuinya sebagai Raja pengganti. Kota Frugar, tempat tinggal Wander, adalah salah satu kota utama yang menjadi target pendudukan dari pasukan Pangeran Pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika muncul berita pasukan Pangeran Pertama sedang menuju kota Frugar, seluruh penduduk panik dan segera pergi mengungsi ke kota terdekat. Wander atas pesan gurunya bertekad mempertahankan kota Frugar apa pun resikonya. Tentara Frugar yang siap mempertahankan kota hanyalah beberapa ratus orang saja. Sementara tentara pasurkan Pangeran Pertama puluhan ribu orang. Inilah saatnya Wander yang masih belasan tahun itu menguji kemampuannya dengan taruhan nyawa menghadapi para jenderal yang telah berkali-kali memimpin peperangan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bukan Cerita Silat Tiongkok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa asing dan heran dengan nama-nama di atas? sudah seharusnya. Novel silat yang satu ini memang tidak mengambil Tiongkok sebagai setting cerita. Penulisnya dengan berani menyuguhkan sebuah setting yang sama sekali baru. Sebuah kerajaan bernama Telentium yang entah ada dimana. Istilah-istilah yang juga sama sekali baru, baik itu istilah persilatan maupun istilah tradisinya. Dalam daftar istilah di akhir buku ditulis bahwa istilah itu diambil dari bahasa Zirconia dan bahasa Clem. Kedua bahasa itu dari hasil googling ternyata memang tidak pernah ada, berarti merupakan rekaan penulis sendiri. Namun hebatnya penulis bisa menjabarkan setiap istilah dan konsepnya dengan panjang lebar, seakan berasal dari sebuah kamus bahasa yang benar-benar ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terasa aneh awalnya membaca cerita silat tetapi bukan bersetting tiongkok atau nusantara sendiri. Apalagi ada tertulis nama "Ho Wuan Siang" di sampul depan yang sangat dekat dengan bahasa mandarin. Tapi, yah, namanya novel fiksi tentu sah-sah saja jika penulis ingin berimajinasi sebebas mungkin. Bukankah kabarnya Kho Ping Hoo pun dalam menyusun ratusan cerita silatnya sebenarnya tidak bisa berbahasa mandarin. Setting negeri Tiongkok yang menjadi latar ceritanya pun banyak yang hanya merupakan rekaan pribadi Kho Ping Hoo, tidak benar2 ada di dataran Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapannya Amat Matang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca memang harus beradaptasi dulu dengan setting dan istilah2 yang sama sekali baru tersebut. Tapi begitu semuanya sudah dipahami, novel ini akan terbaca lancar mengalir tak bisa dihentikan. Font teks yang cukup kecil (mungkin demi menghemat halaman dan harga) dibanding novel pada umumnya, bukanlah halangan yang berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita silat memang akan menjadi sangat menarik jika menceritakan sang tokoh utamanya dari sejak ia bukan apa-apa, berlanjut dengan proses belajar keras dari guru yang mumpuni, dan kemudian perlahan-lahan berkembang menjadi ksatria tangguh setelah ditempa oleh banyak pengalaman. Itulah yang dikisahkan di novel ini seputar kehidupan Wander. Perkenalan Wander dengan kekuatan Chi, usaha Wander mengendalikan Chi-nya, terbangkitkannya kekuatan Chi dalam diri Wander, hingga proses pematangan saat Wander berusaha membentuk Chi-nya menjadi berbagai jurus dan kekuatan. Proses itu bisa menyatukan pembaca dengan karakter sang tokoh utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana cerita silat umumnya, semua proses itu dilengkapi juga dengan filosofi-filosofi mendalam mengenai bagaimana mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai macam kejadian dalam kehidupan. Dan tentu saja, ketika sang pahlawan telah siap, muncullah berbagai konflik yang rumit untuk menguji kepahlawanan sang tokoh. Nafta S. Meika telah menyiapkan dan mematangkan semua itu dalam karya debutannya ini. Semua konflik telah ia siapkan latar belakang sejarahnya dengan lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertempuran2 Yang Hebat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan lain yang menjadikan novel ini tidak boleh dipandang sebelah mata adalah kemampuan penulis dalam menggambarkan detail pertempuran. Baik itu pertempuran kecil satu lawan satu, hingga pertempuran berskala kolosal. Emosi dan imajinasi pembaca akan terseret masuk mengikuti irama pertempuran yang disusun secara runtun oleh penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pertempuran kecil antar individu, kadang penulis membuatnya seolah bergerak secara slow-motion. Setiap gerakan dan jurus digambarkan dengan detail hingga proses penyaluran tenaga Chi, sehingga seolah berjalan lambat dengan efek yang dramatis. Tapi kadang juga dituliskan dengan sangat cepat dan keras, tapi tidak menjadi sadis karena Wander pantang membunuh orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam pertempuran besar, penulis juga mampu menyusun sebuah strategi perang yang masuk akal. Dituturkan secara runtut setiap pergerakan pasukan, lengkap dengan segala efek suara dan kondisi medan pertempuran. Sehingga semuanya terimajinasi secara lengkap di benak pembaca, menghadirkan sebuah gambaran peperangan kolosal yang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Terlalu Menggebu-gebu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja penulis tampaknya terlalu menggebu-gebu dalam menunjukkan kekuatan dan kepahlawanan tokoh utamanya. Sebagai seorang remaja belasan tahun, yang baru beberapa kali bertanding langsung dengan musuh, Wander tiba-tiba saja menjadi seorang ksatria berkekuatan dewa yang mampu merobohkan lapisan demi lapisan pasukan yang berjumlah ribuan orang tanpa pernah kehabisan nafas untuk terus menyerang seorang diri. Ya, seorang diri. Terlalu hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wander juga tiba-tiba saja memiliki jurus-jurus hebat yang seolah-olah mendadak diilhamkan pada dirinya tanpa pernah ditemukan dan dilatih. Padahal mestinya proses penemuan atau pelatihan jurus2 hebat itu akan menjadi bagian cerita yang lumayan menarik jika diceritakan satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cerita Silat yang Lengkap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, novel ini sudah memenuhi banyak syarat untuk menjadi sebuah cerita silat yang menarik dan membuat pembaca tidak bisa berhenti untuk segera menamatkan kisah ini. Imajinasi dan kreatifitas penulisnya terbukti sangat kuat dan luas untuk menyajikan sebuah setting dan latar belakang hasil rekaan yang sama sekali baru dengan sangat lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang masih banyak hal yang belum terjelaskan mengenai sejarah yang melatarbelakangi berbagai konflik, tapi masih ada volume-volume selanjutnya dari serial ini yang akan bisa melengkapi hal tersebut. Dan volume-volume selanjutnya itu layak untuk ditunggu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-1337218732909091011?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/1337218732909091011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=1337218732909091011' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1337218732909091011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1337218732909091011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/09/tanril.html' title='Tanril'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SM0_achmWuI/AAAAAAAAARM/oiQ6HnOFdCI/s72-c/tanril.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2975052735374867875</id><published>2008-09-14T08:58:00.003+07:00</published><updated>2008-09-14T09:00:12.335+07:00</updated><title type='text'>Death Du Jour</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SMxv9ZFDtiI/AAAAAAAAARE/XruWFyBw6IY/s400/deathdujour.jpg" border="0" alt="Death du Jour, Kathy Reichs" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245690766474589730" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Death Du Jour&lt;br /&gt;Penulis : Kathy Reichs (1999)&lt;br /&gt;Penerjemah : Fahmi Yamani&lt;br /&gt;Editor : Sofia Mansoor&lt;br /&gt;Penerbit : Serambi&lt;br /&gt;Edisi : Cet I, Desember 2007, 640 hlm.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judulnya agak aneh, gabungan bahasa inggris dan bahasa perancis. Penerbit terjemahannya pun tidak memakai kalimat terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagai judul, karena judul "Kematian Hari Ini" memang bakal terasa lebih aneh lagi. Dengan gambar sampul berupa tengkorak manusia yang diselimuti api, tercermin sebuah kisah misteri yang mengerikan. Ditambah lagi dengan endorsement dari berbagai media internasional bahwa novel ini mencekam, menegangkan, dan membuat bulu kuduk berdiri tertulis di sampul depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncullah rasa penasaran ingin membuktikan: "semencekam apa sih?"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Penyelidik Forensik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temperance Brennan, dipanggil Tempe (ya Tempe, aku juga sempat terganggu dengan nama panggilan tokoh utama ini :p ), adalah seorang wanita ahli antropologi forensik di Montreal Kanada. Pekerjaannya adalah mengotopsi mayat terutama pada bagian menentukan ras, jenis kelamin, dan umur mayat. Pekerjaannya ini tentu saja banyak bersinggungan dengan pekerjaan seorang detektif pembunuhan. Dari latar belakang itulah kisah ini terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang mendapat tugas untuk mengidentifikasi tulang jenazah biarawati yang telah berusia ratusan tahun, Tempe mendapat panggilan bahwa ada kebakaran di St Jovite dengan sejumlah mayat yang tewas mengerikan yang harus ia identifikasi. Dari beberapa mayat orang dewasa yang ditemukan, ditemukan bukti bahwa mereka bukan hanya terbakar, tetapi juga telah mengalami penganiayaan sebelumnya. Bukan cuma itu, disana juga ditemukan mayat sepasang bayi kembar. Berdasarkan pemeriksaan cermat Tempe, kedua bayi itu telah dibunuh dengan cara yang amat sadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sedikit sekali petunjuk yang bisa digunakan untuk menyelidiki siapa pelaku pembunuh berdarah dingin ini. Sebisa mungkin Tempe membantu detektif Andrew Ryan yang ditugasi menangani kasus tersebut. Satu petunjuk kecil mengarahkan mereka ke sebuah komunike tempat sekelompok orang mengasingkan diri dari kehidupan sosial manusia modern yang dipimpin oleh Dom Owens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempe mulai mencari hubungan antara pembunuhan di St Jovite dengan sekte aneh pimpinan Dom Owens. Selain itu Tempe juga dipusingkan dengan penemuan dua sosok mayat di pulau Muntry, pusat primata milik temannya. Juga hilangnya Harry adik kandung Tempe yang tidak bisa dihubungi lagi setelah tinggal beberapa hari di kediaman Tempe di Quebec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mendetil Tapi Ringan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan utama novel ini adalah detil forensiknya. Bisa jadi penulisnya memang seorang ahli forensik yang sangat memahami bagaimana cara mengidentifikasi tulang-belulang mayat. Satu persatu prosedur bagaimana Tempe mengidentifikasi tulang dan membuat kesimpulan dari kondisi tulang tersebut dijelaskan dengan detil. Cukup banyak menambah wawasan bagi pembaca seputar dunia forensik, bagaimana seorang ahli forensik bisa menentukan umur, jenis kelamin, ras, penyebab kematian, hingga usia kematian dari petunjuk yang diberikan oleh kondisi tulang. Memang banyak istilah aneh dari dunia tulang belulang yang agak susah diikuti, tapi masih bisa diikuti bagi pembaca yang sabar membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan lain adalah kemampuan Kathy Reichs menuliskan sebuah kisah yang mengalir enak diikuti. Reichs tahu bagaimana melibatkan pembaca mengenal lebih dekat tokoh utama dengan menceritakan detil keseharian si tokoh dalam bahasa yang ringan. Memang, jadinya kisah ini terasa panjang dan agak berputar-putar, tapi tidak membuatnya membosankan karena ditulis dengan ringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Banyak Kebetulan ala Hollywood&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya Reichs terlalu banyak melibatkan unsur kebetulan dalam membangun plot dan petunjuk cerita. Tempe seolah mendapat kutukan bahwa hidupnya dikelilingi oleh banyak kejadian yang semuanya terhubung dengan kasus ini. Terlalu dipaksakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara endingnya dibangun dengan gaya film thriller Hollywood yang sangat mudah ditebak. Tokoh utama yang nekat menyusup di sarang lawan, terjebak, tertawan, nyaris tewas, akhirnya muncul penyelamat, dar-der-dor... selesai. Sangat Hollywood kan. Seru dan menarik sebenarnya, tetapi mudah ditebak karena klise.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2975052735374867875?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2975052735374867875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2975052735374867875' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2975052735374867875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2975052735374867875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/09/death-du-jour.html' title='Death Du Jour'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SMxv9ZFDtiI/AAAAAAAAARE/XruWFyBw6IY/s72-c/deathdujour.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-107431903170107429</id><published>2008-08-25T14:26:00.003+07:00</published><updated>2008-08-25T14:29:17.298+07:00</updated><title type='text'>Novel Pangeran Diponegoro (Menuju Sosok Khalifah)</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SLJe8l7UL5I/AAAAAAAAAQ8/tNBRq4IgpoE/s400/diponegoro2.jpg" border="0" alt="Novel Pangeran Diponegoro, buku ke-2" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238353711651368850" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Novel Pangeran Diponegoro&lt;br /&gt;Episode : Menuju Sosok Khalifah (Buku ke-2)&lt;br /&gt;Penulis : Remy Silado&lt;br /&gt;Penerbit : Tiga Serangkai&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, Maret 2008, 435 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar bahwa Novel Pangeran Diponegoro, episod "Menggagas Ratu Adil", adalah baru satu bagian dari tulisan lengkap Remy Silado yang mengupas kisah dan kehidupan pahlawan legendaris Indonesia Pangeran Diponegoro. Buku kedua telah diterbitkan dengan subjudul "Menuju Sosok Khalifah", masih dari penulis dan penerbit yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jelas akan ditulis dalam berapa buku fiksi sejarah Pangeran Diponegoro ini. Bahkan di akhir buku pertama dan kedua sama sekali tidak dicantumkan akan adanya buku lanjutannya. Apakah karena tidak berani memberikan janji bahwa buku ini akan dilanjutkan? Sebagaimana beberapa buku Remy Silado yang lain yang seharusnya ada lanjutannya tapi sampai sekarang masih dibiarkan menggantung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ringkasan Cerita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tetap dijembatani oleh prolog dari masa sekarang. Wartawan wanita bernama Ratnaningsih sedang mengorek kisah hidup Pangeran Diponegoro dari seorang lelaki tua yang menurut pengakuannya adalah keturunan langsung Pangeran Diponegoro yang tinggal di Tondano. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang Diponegoro sendiri pada episode ini dimulai dengan kisah cintanya dengan seorang gadis yang juga bernama Ratnaningsih. Kisah cinta itu berlanjut hingga ke pelaminan, menjadi pernikahan pertama dari anak Sultan Hamengkubuwono III. Diponegoro awalnya menolak segala prosesi adat kraton untuk pernikahannya, namun pada akhirnya ia tetap harus mengikuti adat jawa walaupun pernikahannya itu diselenggarakan di Tegalrejo bukan di Kraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh utama Diponegoro dalam novel ini ternyata bukanlah Belanda yang menjajah tanah Nusantara, tapi adalah pejabat Kraton sendiri yang menjadi antek Belanda. Danurejo IV yang diangkat sebagai patih dari Sultan Hamengkubuwono III adalah pengkhianat besar yang rela menjual bangsa dan tanah airnya demi harta dan tahtanya sendiri. Danurejo IV bahkan tega menjegal Sultan yang seharusnya ia junjung tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di novel ini Pangeran Diponegoro telah mendekati usia 40 tahun. Usia yang ia janjikan sebagai saat ia akan menjadi pemimpin rakyat dan menegakkan keadilan. Diponegoro telah berani menunjukkan posisi yang ia yakini sebagai posisi terbaik untuknya. Ia menolak jabatan Sultan ketika Ayahnya mangkat, hingga adiknya Jarot yang baru belasan tahun yang dilantik sebagai Sultan Hamengkubuwono IV. Diponegoro juga menolak jabatan apapun di Kraton, karena ia anggap Kraton sudah jauh dari kondisi ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian2 akhir Diponegoro berani menentang dan melawan Danurejo IV secara langsung, dan kemudian menentang Residen Belanda. Penentangan itu tentu memicu kemarahan Belanda. Tegalrejo pun dikepung. Buku ini ditutup dengan larinya Pangeran Diponegoro dan keluarganya dari Tegalrejo menuju Selarong. Awal dari meletusnya Perang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Riset Lengkap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi novel ini patut diacungi jempol untuk sumber data dan riset yang sudah repot-repot dilakukan oleh Remy Silado. Seringkali ia mencantumkan footnote yang menjelaskan dari sumber mana diperoleh data kejadian yang ia tulis dalam sebuah adegan. Bahkan mungkin dengan menghilangkan dialog dan adegan rekaan novel ini bisa juga menjadi acuan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini pembaca akan dapat mengikuti perkembangan konflik politik di Kraton Yogyakarta pada masa sekitar tahun 1815 hingga 1825. Dimana pada rentang sepuluh tahun itu terjadi pergantian hingga tiga orang Sultan. Pada masa itu Kraton ditekan dan didikte tidak hanya oleh Inggris dan kemudian kembali ke penguasa Belanda, tapi juga didikte oleh orang2 Jawa sendiri yang memperjuangkan kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan yang menarik adalah pembahasan tentang peran kaum pendatang asal Cina yang ternyata ikut andil dalam kisah perjuangan Pangeran Diponegoro. Meskipun kebanyakan peran mereka adalah dimanfaatkan sebagai alat oleh orang2 yang culas dan licik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karakternya Kuat, Dari Yang Licik Hingga Yang Berkharisma&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi pembangunan karakter, Remy cukup berhasil mereka-reka masing-masing tokohnya. Pembaca akan dibawa benar-benar membenci karakter Danurejo IV yang oportunis dan menyebalkan. Dan kemudian akan menjadi puas saat Pangeran Diponegoro sempat menghajar Danurejo IV di depan umum. Tokoh-tokoh pejabat Belanda juga dihidupkan dengan karakter yang arogan dan licik. Hanya Marlborough penguasa dari Inggris yang digambarkan bersahabat dan tetap menghormati Kraton (hingga nantinya kawasan pecinan Yogyakarta dikenal dengan namanya dalam ejaan yang berbeda, Malioboro)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak karakter Pangeran Diponegoro sendiri juga berhasil diwujudkan sebagai orang yang berwibawa dan penuh kharisma. Pendiriannya tegas namun tetap menghargai orang yang memang patut dihargai. Meskipun sayangnya di awal novel ini Pangeran Diponegoro digambarkan menjadi lembek saat sedang dimabuk cinta kepada Ratnaningsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penuturannya Kurang Pas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara bertutur Remy Silado di novel ini masih belum berubah dari buku pertamanya. Jadi untuk pembaca yang kurang bisa menikmati cara bertutur Remy Silado di buku pertama, jangan berharap banyak ada perubahan di novel kedua ini :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remy kadang membuat reka adegan yang sangat mengalir mudah dipahami, tapi di bagian lain ia menuliskannya seperti sedang membuat ringkasan sejarah dengan bahasa dokumenter. Belum lagi saat ia menuliskan secara detail perhitungan neptu dalam adat pernikahan jawa, lalu penjabaran detail lagi tentang prosesi pernikahan jawa. Aku bertanya-tanya, lho kok jadi diisi Primbon begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Remy menguasai banyak bahasa memberi warna-warni dalam novel. Di novel ini ada sisipan bahasa Jawa, Belanda, Inggris hingga Arab. Dalam bertutur ia juga banyak memasukkan kosa kata bahasa Jawa tanpa penjelasan makna, yang kadang aku sendiri sebagai orang Jawa tidak begitu paham artinya. Lalu mungkin karena terlalu banyak bahasa yang dikuasai, Remy juga sempat membuat blunder dengan memasukkan bahasa lain yang sama sekali tidak ada kaitan dengan setting cerita ini. Ada kata "keukeuh" dari bahasa Sunda, dan makian "pukimak" dari Sumatera yang terselip di novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah bahasa yang mungkin cukup mengganggu adalah saat Remy memasukkan dialog bahasa Jawa dalam dialek Cina. Pada bagian itu ia hanya memberikan terjemahan dalam bahasa Jawa bukan bahasa Indonesia. Lalu bagaimana pembaca yang tidak mengerti bahasa Jawa bisa memahami teks itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kebiasaan menulis Remy yang tidak begitu aku sukai adalah, ia suka membocorkan sedikit kejadian yang belum terjadi dengan memberikan sebuah anak kalimat tambahan yang diawali dengan "yang nantinya..". Hal yang tidak perlu itu malah merusak alur cerita menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi satu hal kecil lain. Novel ini ditulis dengan penuturan orang ketiga yang tidak terlibat dalam cerita. Tapi Remy pada beberapa bagian lebih sering menggunakan kata penunjuk "ini" daripada "itu" dalam narasinya. Seperti misalnya "rumah ini", "malam ini", "hari ini". Terasa janggal jika penuturnya adalah orang ketiga yang di luar cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, banyak hal kecil yang menyebabkan novel ini kurang nyaman dan mengalir dibacanya. Padahal isi kisahnya sebenarnya menarik dan penting untuk diketahui sebagai referensi kisah perjuangan bangsa Indonesia. Entahlah nanti jika muncul buku kelanjutannya apakah aku akan beli dan membacanya lagi... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-107431903170107429?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/107431903170107429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=107431903170107429' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/107431903170107429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/107431903170107429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/08/novel-pangeran-diponegoro-menuju-sosok.html' title='Novel Pangeran Diponegoro (Menuju Sosok Khalifah)'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SLJe8l7UL5I/AAAAAAAAAQ8/tNBRq4IgpoE/s72-c/diponegoro2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-4757254822708762</id><published>2008-08-13T14:23:00.003+07:00</published><updated>2008-08-13T14:30:37.881+07:00</updated><title type='text'>The Alchemyst</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SKKNWte-OlI/AAAAAAAAAQk/cd1NglPR6uA/s400/alchemyst.jpg" border="0" alt="The Alchemyst, Michael Scott"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233901138264078930" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : The Alchemyst&lt;br /&gt;Subjudul : The Secret of The Immortal Nicholas Flamel&lt;br /&gt;Penulis : Michael Scott (2007)&lt;br /&gt;Penerjemah : Berliani M Nugrahani&lt;br /&gt;Penerbit : Matahati, Juni 2008&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, 503 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hanya membaca judulnya mungkin banyak yang akan menyangka ini adalah novel tulisan Paulo Coelho berjudul sama yang sudah lebih dahulu tersohor beberapa tahun yang lalu. Bukan, ini adalah novel lain yang sama sekali berbeda. Judul sebuah karya ternyata tidak termasuk hak cipta yang tidak boleh dipakai oleh karya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tidak terlalu tertarik karena novel ini bergenre fantasi untuk remaja. Tetapi karena penerjemahnya adalah seseorang yang sangat terkenal di kalangannya :p dan namanya cukup menjadi jaminan untuk sebuah terjemahan yang enak dibaca, ditambah lagi dengan sosok buku ini yang dibalut sampul versi asli yang menarik dan dicetak di atas kertas ringan, membuat rasa penasaran untuk mengetahui apa isi novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ringkasan Cerita : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan musim panas itu Sophie Newman mengisi waktu luangnya untuk bekerja di sebuah Coffe Shop di San Fransisco. Kembarannya Josh Newman, bekerja di sebuah toko buku milik pasangan Nick dan Perry Flemming yang kebetulan letaknya tepat di seberang tempat kerja Sophie. Pasangan kembar belasan tahun itu tidak menyadari bahwa hidup mereka akan berubah sama sekali karena bekerja disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nick dan Perry ternyata bukan orang biasa. Nama asli mereka adalah Nicholas dan Perenelle Flamel yang telah berusia ratusan tahun karena berhasil menemukan mantra dan ramuan untuk hidup abadi. Rahasia mereka berasal dari buku Abraham sang Magus yang juga disebut Codex. Dari buku itu pula Nick mengetahui rahasia seorang Alkemis yang mampu merubah logam menjadi emas, dan batubara menjadi berlian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia dan kemampuan Nicholas terancam punah ketika buku Codex tersebut berhasil direbut oleh John Dee yang juga seorang manusia immortal. Dee merupakan kaki tangan dari Morrigan sang Dewi Gagak. Morrigan berasal dari ras Tetua, ras yang pernah menguasai bumi sebelum manusia. Ras Tetua yang selama ribuan tahun harus bersembunyi di alam lain, ingin kembali menguasai bumi dan manusia dengan mengambil alih buku Codex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya Josh sempat mempertahankan dua lembaran terakhir dari Codex yang merupakan bagian terpenting. Tak pelak lagi Dee kembali mengejar Nick. Josh dan Sophie pun ikut terlibat di dalam kejar mengejar itu. Namun tanpa buku Codex, Nick akan cepat menua. Sementara Perry telah ditawan oleh Dee. Mampukah mereka bertahan dari serbuan Dee dan Morrigan yang diperkuat mahluk2 jadi-jadian yang bengis itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Fantasi dari Masa Modern&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebanyakan kisah2 fantasi lain yang kental dengan lingkungan dan suasana dari jaman kuno, cerita dalam The Alchemyst ini memadukan legenda dengan lingkungan jaman modern saat sekarang. Josh dan Sophie selalu membawa ponsel, laptop dan ipod kemana-mana. Bahkan Hekate, sang Dewi Tiga Wajah, juga memanfaatkan ponsel untuk berkomunikasi dari alam lain dengan Nick. Bagi yang terbiasa dengan kisah fantasi bersetting kuno abad pertengahan mungkin akan merasa aneh dan janggal. Tapi ya sebenarnya sah-sah saja setiap penulis menuangkan imajinasinya secara kreatif. Malah mungkin bisa lebih mendekatkan pembaca dengan suasana cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel fantasi yang satu ini juga tidak terlalu bertaburan istilah-istilah aneh dari dunia lain yang penuh mahluk aneh, mantra sihir dan keajaiban. Sudah pasti ada, tetapi tidak sampai berlebihan hingga pembaca harus berulang2 membuka kembali halaman sebelumnya untuk mencari artinya atau bahkan hingga membuat kamus tersendiri. Juga hanya ada beberapa saja mahluk aneh yang sosoknya harus diimajinasikan sendiri oleh pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal di atas membuat kisah ini terasa ringan mudah diikuti dan mengalir dengan lancar. Di samping bisa juga dari faktor penerjemahan, pemilihan kata dan penyusunan kalimatnya yang enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seru, Sayang Bersambung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan ceritanya lumayan seru sejak dari bab-bab awal hingga akhir cerita. Di beberapa segmen bahkan terkesan kolosal dengan adanya serbuan ribuan burung gagak di Golden Gate, serangan mayat-mayat yang dibangkitkan Dee, dan terutama pada saat pertempuran dahsyat antara pasukan Hekate melawan pasukan Morrigan-Bastet di Alam Bayangan. Semua itu terjadi hanya dalam rentang waktu dua hari saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan masing-masing latar belakang tokoh dan sejarahnya diberikan di antara konflik dan pertempuran sehingga tempo cerita nyaris tidak pernah menurun. Setiap tokoh juga tampaknya telah terkonsep dengan matang karakter dan perannya dalam cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu hal yang agak mengecewakan. Ternyata ini adalah buku serial yang bersambung. Ending buku ini memang menyelesaikan beberapa konflik, tetapi konflik utama belum selesai masih banyak yang akan terjadi dan harus dijalani si kembar Newman. Kelanjutan dari buku ini "The Magician", saat ini kabarnya sedang proses editing terjemahan dan segera akan beredar dari penerbit yang sama :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tokoh Rekaan yang Ternyata Benar Ada&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Scott, penulis novel ini, tidak mau novelnya terlepas sama sekali dari dunia nyata meskipun ini adalah novel fantasi yang bebas-bebas saja membangun alam sendiri. Masa lalu Nicholas dan Perenelle Flamel, serta John Dee yang telah hidup ratusan tahun ia bangun sedemikian rupa sehingga mereka ada dan terlibat dalam beberapa sejarah dunia yang memang benar-benar terjadi. Begitu pula dengan sejarah keberadaan ras Tetua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan besar diungkap pada bagian "Catatan Penulis" setelah bab terakhir ditutup. Michael Scott bercerita tentang proses penciptaan karakter2 utama. Josh dan Sophie Newman memang tokoh utama yang merupakan rekaan. Tapi nama John Dee, Nicholas dan Perenelle Flamel adalah nama dari ilmuwan Alkemis yang nyata pernah hidup pada masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. John Dee adalah seorang penasehat Ratu Elizabeth I, orang terpintar pada zamannya yang menguasai banyak ilmu pengetahuan. Sementara Nicholas dan Perenelle Flamel juga adalah pasangan ilmuwan Alkemis yang hidup pada abad ke-14 dan tinggal di Paris. Buku Abraham juga benar-benar ada dan dimiliki oleh Nicholas Flamel. Michael Scott dengan cerdas menyelipkan tokoh nyata ini dalam karakter rekaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desas-desus menyebutkan bahwa di buku Abaraham tersebut memang terdapat rahasia terbesar tentang hidup abadi. Disusul dengan kabar lain bahwa kuburan pasangan Flamel ternyata kosong, dan mereka berdua tampak muncul di berbagai penjuru Eropa bertahun2 setelah mereka dikabarkan meninggal. Wow...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-4757254822708762?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/4757254822708762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=4757254822708762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4757254822708762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4757254822708762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/08/alchemyst.html' title='The Alchemyst'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/SKKNWte-OlI/AAAAAAAAAQk/cd1NglPR6uA/s72-c/alchemyst.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-56187723936292321</id><published>2008-08-04T01:09:00.001+07:00</published><updated>2008-08-04T01:11:50.880+07:00</updated><title type='text'>Niskala</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SJX0unefWVI/AAAAAAAAAPk/duGVc6wfjN8/s400/niskala.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230355623968725330" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Niskala&lt;br /&gt;Subjudul : Gajah Mada Musuhku&lt;br /&gt;Penulis : Hermawan Aksan&lt;br /&gt;Penerbit : Bentang Pustaka&lt;br /&gt;Edisi : Cet I, Juli 2008, 292 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini adalah kelanjutan dari novel "Dyah Pitaloka" dari penulis yang sama. "Dyah Pitaloka" berkisah tentang putri kerajaan Sunda yang hendak dipersunting oleh Hayam Wuruk sang Raja Majapahit. Namun akhirnya prosesi agung itu malah berubah menjadi ajang pembantaian di Tegal Bubat, gara-gara ambisi pribadi Mahapatih Gajah Mada. Kisah yang mencoba memandang sang tokoh besar pemersatu Nusantara bernama Gajah Mada dari sisi yang lain. Sisi orang-orang yang dijadikan korban demi kemasyhuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika "Dyah Pitaloka" mengambil episode sebelum hingga saat terjadinya banjir darah dalam Perang Bubat, yang garis besar ceritanya telah banyak didengar oleh khalayak ramai, maka novel "Niskala" ini setting waktunya adalah beberapa tahun setelah Perang Bubat. Satu episode yang belum banyak diceritakan. Judul Niskala diambil dari gelar adik kandung Dyah Pitaloka yang memendam dendam terhadap Gajah Mada. Dan novel ini dengan jelas menyatakan posisi karakter utamanya dengan menampilkan subjudul "Gajah Mada Musuhku". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anggalarang Memburu Gajah Mada&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggalarang, nama kecil dari Prabu Anom Niskala Wastukancana, masih menyimpan jelas ingatan saat-saat kakaknya Dyah Pitaloka mengusap kepalanya sembari berpamitan menuju hari bahagia yang indah di tanah Majapahit. Dan meskipun ia tidak pernah mendapatkan penjelasan lengkap apa yang terjadi saat rombongan pengantin perempuan itu sampai di Majapahit, ia tahu pasti bahwa harga diri kerajaan Sunda telah diinjak-injak disana. Raja Sunda dan putrinya serta perwira-perwira terbaiknya dibantai tanpa persiapan perang. Anggalarang menyimpan dendam membara atas kejadian itu. Dendam terutama kepada Gajah Mada yang telah berbuat licik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun setelah peristiwa itu, pada usianya yang ke-enambelas, Anggalarang harus mempersiapkan diri untuk menjadi Raja Kerajaan Sunda. Untuk itu ia harus menjalani ritual pengembaraan ke seluruh tanah Sunda selama paling tidak setahun penuh untuk mengenal rakyatnya dari dekat. Bunisora, paman Anggalarang yang sementara menjabat sebagai pemimpin Kerajaan Sunda, tahu akan dendam yang disimpan Anggalarang. Anggalarang tidak akan berkeliling Sunda, dia akan langsung menuju ke timur ke Majapahit untuk menuntaskan dendamnya. Karena itu Bunisora tidak akan membiarkan Anggalarang, sang penerus tahta Kerajaan Sunda, berjalan sendiri membahayakan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Anggalarang ke Majapahit ternyata berbarengan dengan perjalanan sejumlah pendekar dari berbagai penjuru yang hendak memburu kitab milik Gajah Mada. Kitab rahasia yang katanya memuat semua rahasia kesaktian Gajah Mada. Walaupun sadar bahwa kemampuannya belum menyamai kesaktian Gajah Mada, Anggalarang tidak menginginkan kitab itu. Hanya satu hal yang ia kejar, membayar sakit hatinya dan sakit hati seluruh rakyat Sunda terhadap Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Antara Fiksi dan Sejarah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis fiksi sejarah tampaknya bukan hal yang mudah. Riset mendalam harus dilakukan terlebih dahulu untuk mendapatkan data2 sejarah yang akurat. Plot yang telah tertulis dalam sejarah itu harus tetap diikuti dengan setia. Pengembangan cerita untuk menyinambungkan antar peristiwa harus terjaga alur logikanya. Tidak bisa sembarangan membuat reka-reka sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novel ini, penulis tampak sangat berhati-hati mengembangkan cerita. Karena data sejarah yang sepertinya minim untuk periode setelah perang Bubat, maka penulis mencoba mereka sendiri beberapa peristiwa pada periode tersebut hingga saat kematian Gajah Mada. Peristiwa itu diusahakan tidak terlalu penting agar tidak mengotak-atik sejarah terlalu jauh. Dan yang muncul memang adalah cerita-cerita tambahan yang terasa sebagai tempelan untuk meramaikan perjalanan Anggalarang dari Sunda ke Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cerita Puitis Dihiasi Persilatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini menyajikan bahasa yang indah agak puitis. Penggambaran alam dan suasana hati Anggalarang dituturkan panjang lebar dalam bahasa yang indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara penuturan puitis itu muncul adegan-adegan ala cerita silat di beberapa bagian novel ini. Pertemuan Anggalarang dengan beberapa pendekar yang hendak memburu kitab Gajah Mada sempat menimbulkan konflik yang mengharuskan Anggalarang mengeluarkan kemampuan kanuragannya. Selain itu selama perjalanan Anggalarang harus terus menerus waspada karena ada penguntit yang sewaktu-waktu menyerangnya ketika sedang lengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tampaknya penulis tidak ingin novel ini menjadi semacam cerita-cerita silat yang banyak beredar. Detil detil yang diberikan bukan ala cerita silat, tetapi ala novel yang lebih berbobot sastra. Tidak ada nama2 jurus andalan, tidak ada proses pengembangan jurus yang berangsur-angsur menjadi semakin hebat, juga tidak ada musuh bebuyutan. Kondisi seperti itu menjadikan adegan2 perkelahian ala cerita silat di novel ini tidak meninggalkan kesan yang menyatu dengan jalan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Banyak Pengulangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel ini pembaca akan beberapa kali merasakan 'dejavu'. Peristiwa-peristiwa yang mirip diulang dengan tokoh yang berbeda. Bahkan kadang dituliskan dengan kata-kata yang tidak jauh berbeda. Anggalarang berkali-kali harus menghadapi penguntit. Anggalarang beberapa kali bertemu dengan orang yang ternyata adalah keluarga dari perwira andalan yang ikut tewas dalam pembantaian di Tegal Bubat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggalarang juga beberapa kali dengan mudahnya jatuh hati kepada setiap wanita muda yang ditemuinya, dan setiap wanita itu memberikan tanda mata yang disimpan dengan hati-hati oleh Anggalarang. Terlalu mudah jatuh hati, sehingga tidak jelas kepada siapakah Anggalarang melabuhkan hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lambat tapi Endingnya Menarik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis banyak menjabarkan detil-detil seputar nama orang dan tempat yang tercetak dalam data sejarah. Ada daftar panjang nama perwira kerajaan Sunda yang mendampingi Raja Linggabuana hingga akhir hayat mereka dalam Perang Bubat. Dalam perjalanan Anggalarang dari Sunda ke Majapahit, selalu dituliskan dengan lengkap rute nama2 daerah pada masa itu yang dilewati oleh Anggalarang. Kadang jadi terkesan sebagai kisah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novel ini juga diselipkan kisah tambahan yang dapat menambah wawasan pembaca mengenai sejarah Jawa. Cerita tentang orang-orang pelarian dari sisa-sisa kerajaan Daha yang membangun kampung kecil di wilayah Majapahit. Juga kisah tentang sejarah Borobudur, yang pada masa itu masih terbengkalai tertutup tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah merasa agak terseret dalam plot yang lambat tanpa kejutan berarti, akhirnya sebuah ending yang menarik menutup novel ini dengan baik. Tidak terlalu wah dengan adegan persilatan hebat, tetapi mampu memberikan pelajaran yang bisa diserap hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-56187723936292321?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/56187723936292321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=56187723936292321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/56187723936292321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/56187723936292321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/08/niskala.html' title='Niskala'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SJX0unefWVI/AAAAAAAAAPk/duGVc6wfjN8/s72-c/niskala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-5258987339501688412</id><published>2008-07-28T01:17:00.002+07:00</published><updated>2008-07-28T01:19:42.343+07:00</updated><title type='text'>Lanang</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SIy7_8bfKjI/AAAAAAAAAPc/w1TqsWMvm8Y/s400/lanang.jpg" border="0" alt="Lanang, Yonathan Rahardjo" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227759974697871922" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Lanang&lt;br /&gt;Penulis : Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Alvabet&lt;br /&gt;Edisi : Cet I, Mei 2008, 440 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel "Lanang" karya Yonathan Rahardjo ini adalah pemenang harapan kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Entah mengapa novel pemenang sayembara Novel DKJ 2006 ini terlambat dibukukan. Sementara novel2 pemenang sayembara yang sama di tahun 2007 malah hampir semua telah dibukukan sebelum novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain sampulnya yang gelap buram sama sekali tidak memberikan petunjuk tentang isi cerita. Sekilas tampak sesosok tubuh yang menatap malam. Itu saja. Namun tipografi judulnya lumayan menarik. Label "Pemenang Sayembara Novel DKJ 2006" yang sangat mencolok di sampul depan rupanya masih dianggap kurang sebagai nilai lebih dari novel ini. Penerbit berusaha memperkuat lagi dengan mencantumkan belasan endorsement dari beberapa sastrawan dan media terkemuka yang memuji2 novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku tidak tertarik ketika pertama kali membaca potongan kisahnya di sampul belakang. Terutama karena disebutkan adanya mahluk aneh "Burung Babi Hutan". Ah, pastilah kisah fantasi yang terlalu dipaksakan. Ketertarikan atau lebih tepatnya rasa penasaran mulai timbul saat mengetahui bahwa novel ini dalam beberapa minggu2 terakhir ini sempat menjadi topik di beberapa diskusi perbukuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kehidupan Seorang Dokter Hewan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanang adalah seorang Dokter Hewan yang bertugas di sebuah daerah pegunungan dimana penduduknya banyak beternak sapi perah. Ia baru saja menikahi Putri, teman semasa kuliahnya. Belum sempat berbulan madu, Lanang langsung memboyong Putri ke daerah pegunungan tempat tugasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun malam bulan madu pertama mereka ternyata menjadi awal dari rentetan bencana. Diawali dengan pemunculan sesosok mahluk aneh di saat mereka berdua sedang bergumul mesra. Makhluk serupa babi hutan besar berbulu hitam, dengan sayap di kaki depannya. Burung Babi Hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat pulih dari kekagetan melihat makhluk aneh, paginya Lanang harus menangani wabah penyakit yang mendadak menyerang sejumlah sapi perah. Di depan mata Lanang, sapi sapi sekarat dan meledak. Selanjutnya wabah aneh itu dalam waktu singkat nyaris memusnahkan sapi-sapi perah di banyak tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali tidak ada petunjuk apa jenis penyakit tersebut. Sejenis rabies tapi lebih mengerikan. Dalam sebuah pertemuan, para dokter hewan tidak ada yang memiliki solusi. Hanya satu orang yang berani bicara. Namanya Rajikun, dikenal sebagai dukun hewan karena tidak mengikuti prosedur ilmiah dalam pengobatannya. Rajikun menyatakan bahwa penyakit itu disebabkan oleh makhluk berwujud Burung Babi Hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang mempercayai kesimpulan itu, kecuali Lanang. Lanang yang masih terus dihantui oleh makhluk tersebut bertekad menemukannya dan membunuhnya. Perburuan terhadap Burung Babi Hutan tersebut mendamparkan Lanang bertemu kembali dengan Dewi, seorang ahli terkemukan dalam bidang rekayasa genetika. Dewi juga adalah mantan kekasih Lanang, yang ditinggalkan untuk menikah dengan Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Novel yang Rumit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diungkapkan pada beberapa endorsement untuk buku ini, novel ini rumit. Kata itulah yang aku paling setuju. Rumit sampai aku harus sedikit bersusah payah untuk mencernanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama karena penulis memiliki basis awal sebagai penulis puisi, maka tak pelak jika novel inipun bertaburan kalimat puitis. Sebagai orang yang tidak begitu mampu memahami puisi, aku tersesat dalam bunga-bunga bahasa puitis yang seringkali bias itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, novel ini dengan lumayan mendetil banyak menjelaskan tentang seluk-beluk ilmu kehewanan. Dari mulai jenis hewan, jenis penyakit, jenis obat, ilmu rekayasa genetika hewan, hingga carut marut persaingan bisnis dalam dunia pengobatan hewan. Tentu itu karena penulisnya memang seorang dokter hewan. Sebagian besar pembahasan itu aku hanya bisa memahami permukaannya saja. Penjabaran2 detilnya malah membuatku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, aku agak bingung membangun imajinasi selama membaca cerita ini. Dimanakah genre cerita ini harus diletakkan? cerita fiksi ilmiah, atau cerita fantasi? atau malah cerita mistis? Karena unsur ilmiah, fantasi dan mistis bercampur baur tanpa jarak disini. Padahal ketiga genre itu masing2 meletakkan realitas pada posisi yang berbeda-beda. Walaupun pada ending akhirnya semua hendak diposisikan secara ilmiah dan realistis, tapi tetap banyak hal berbau fantasi dan mistis yang tidak terjelaskan secara ilmiah dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, demi agar buku ini dapat terbaca dengan tuntas, bagian2 yang menurutku rumit itu dengan sengaja aku lompat-lompati. Yang penting masih bisa menangkap inti cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Idenya Segar dan Unik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian untuk buku ini terutama adalah untuk segi ide topik cerita yang memang sangat unik. Tampaknya memang belum ada novel karya penulis Indonesia yang berani mengangkat topik dari dunia dokter hewan yang merembet jauh hingga ke rekayasa genetika hewan. Untuk yang satu ini memang patut diacungi jempol, karena berhasil dijabarkan dengan sangat detil. Dan juga topik2 itu berhasil dimasukkan sebagai bagian utama cerita, bukan sekedar tempelan ajang pamer pengetahuan penulis. Walaupun sayangnya pada beberapa bagian, penjabaran keilmuan dan detil bisnis kehewanan itu terasa berpanjang-panjang membosankan dan kurang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide tentang rekayasa genetika, hingga terciptanya makhluk2 gabungan dua jenis hewan memang lumayan gila. Walaupun ternyata sebenarnya tidak perlu2 amat ada mahluk2 super aneh tersebut di kisah ini. Tapi cukup menambah wawasan bagi pembaca, bahwa hal itu secara teoritis bisa terjadi, meski belum terbukti. Ide lain yang menjadi twist dalam novel ini tentang perilaku Lanang yang sebenarnya, juga cukup mengejutkan dan menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya juri2 pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta lebih menyukai tulisan2 yang memiliki keberanian mengangkat ide yang unik dan berbeda untuk menjadi pemenang dalam ajang tersebut, daripada novel2 yang ditulis dengan latarbelakang klise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berbelit-belit Banyak Kejutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot ceritanya lumayan rumit dan berbelit-belit. Harus kesana kemari terlebih dahulu untuk mendapatkan kesimpulan. Pada saat wabah sudah menyerang dimana-mana, para dokter hewan malah sibuk berdebat tentang peraturan tentang obat, bukannya mencari solusi. Lanang pun tampak tidak memikirkan penjelasan ilmiah tentang wabah tersebut, malah sibuk kesana kemari mencari dan memburu Burung Babi Hutan. Setelah cerita memuncak dengan pertemuan kembali antara Lanang dan Burung Babi Hutan, tiba-tiba kisah yang masih separuh ini menurun drastis menjadi lembek tentang kisah percintaan masa lalu ... Dan selanjutnya ditutup dengan kejutan2 yang memutarbalikkan semua cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter2nya juga penuh kejutan. Lanang yang sejak awal tampak penuh tanggung jawab dan romantis, meskipun agak mudah stress, pada endingnya digambarkan sebagai maniak. Putri yang lemah ternyata menyimpan dendam. Rajikun dari awal memang orang yang licik mampu berubah-ubah peran sebabai siasat dalam mencapai tujuannya. Sementara Dewi wanita cerdas yang penuh gejolak dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai adanya adegan2 pergumulan seksual yang lumayan banyak bertebaran di beberapa bab, menurutku tidak terlalu menjadi masalah. Karena sudah terasa lazim pada novel-novel karya penulis lokal masa sekarang memberikan imbuhan-imbuhan adegan percintaan yang cukup mendetil. Penulis dengan cerdik menjadikan adegan2 tersebut sebagai bagian dari cerita yang tak mungkin dihilangkan. Hanya saja yang terasa agak mengganggu adalah adanya adegan seksual antara manusia dengan hewan. Bagian itu langsung aku lompati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang Tak Terjawab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa penggambaran yang menimbulkan pertanyaan dalam novel ini. &lt;br /&gt;- Mengapa Rajikun disebut sebagai dukun hewan dan penganut klenik? sementara sama sekali tidak digambarkan dalam novel ini Rajikun melakukan kegiatan2 berbau klenik. Rajikun malah bekerja di sebuah laboratorium modern.&lt;br /&gt;- Yang memiliki kemampuan klenik malah Lanang. Dari campuran potongan daging sapi, telor dan susu serta cairan wanita ditambah dengan doa-doa, Lanang menciptakan biji-biji kesempurnaan yang dijadikan senjata melawan Burung Babi Hutan. Dari mana kemampuan ini datang?&lt;br /&gt;- Ketika Rajikun begitu saja menyebutkan penyebab wabah adalah Burung Babi Hutan, tak seorang pun berinisiatif untuk meminta fakta detailnya dan mempelajarinya. Bahkan hingga saat Menteri mengumumkannya sebagai pernyataan resmi pemerintah secara mentah-mentah, tak ada alasan kuat yang mendukungnya. Kemana para petinggi dunia ilmiah?&lt;br /&gt;- Dalam sebuah acara seminar ilmiah, Rajikun dengan sangat bebas menghujat dan menuduh Lanang habis-habisan di depan publik tanpa ada seorang moderator yang berniat menengahi. Acara ilmiah macam apakah itu?&lt;br /&gt;- Burung Babi Hutan disebutkan memiliki wujud seperti Babi hutan dengan lengan depan bersayap. Bisakah membayangkan Babi hutan yang nyaris tak berleher itu mampu menjilati bagian bawah tubuhya?&lt;br /&gt;- Apa tujuannya menjadikan Lanang sebagai yang terjadi pada ending novel ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terbesarku memang adalah: ini novel fiksi ilmiah, fantasi, atau malah mistis?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-5258987339501688412?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/5258987339501688412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=5258987339501688412' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5258987339501688412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5258987339501688412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/07/lanang.html' title='Lanang'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SIy7_8bfKjI/AAAAAAAAAPc/w1TqsWMvm8Y/s72-c/lanang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-1348682480693878059</id><published>2008-06-29T10:50:00.001+07:00</published><updated>2008-06-29T10:53:55.305+07:00</updated><title type='text'>Blakanis</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SGcHF570OaI/AAAAAAAAAO0/gh78NLz1ca0/s400/blakanis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217146491364456866" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Blakanis&lt;br /&gt;Penulis : Arswendo Atmowiloto&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Edisi : Juni 2008, 288 halaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arswendo tampaknya saat ini mulai giat kembali menulis novel dan meramaikan khasanah perbukuan Indonesia. Sekian lama Arswendo nyaris sama sekali tidak hadir menyumbangkan karyanya, setelah sempat merajai di sekitar tahun 80-90 an. Karya besarnya yang sampai sekarang masih terus menggema tentu saja adalah "Senopati Pamungkas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu baru saja diterbitkan novel terbarunya "Horeluya", tanpa jeda yang terlalu lama muncul pula novel yang satu ini. "Blakanis" judulnya. Tentang orang-orang yang mengedepankan kejujuran dan menjadikannya sebagai ideologi dalam menjalani kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kehadiran Ki Blaka, Penganjur Kejujuran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama aslinya Wakiman, usianya menjelang 60 tahun. Pergi meninggalkan anak istrinya dan tinggal di rumah darurat di sebidang tanah tak bertuan seputar daerah Karawang. Orang yang sangat sederhana dan selalu bicara blak-blakan. Satu saat mengajak orang-orang sekitarnya dalam sebuah pembicaraan dimana setiap orang harus bicara jujur apa adanya jika ditanya tentang apa saja. Bicara secara 'blaka'. Perbincangan itu ternyata memberikan suasana baru di antara mereka, suasana keterbukaan tanpa kepura-puraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu lalu diadakan lagi dan lagi dengan peserta yang semakin bertambah jumlahnya. Berita pun tersebar luas, hingga orang-orang dari berbagai kota lain berdatangan ikut bergabung. Wakiman mendapat julukan sebagai 'Ki Blaka', orang yang menganjurkan dan menjunjung tinggi kejujuran. Daerah tempat tinggal Ki Blaka bahkan akhirnya dikenal sebagai kampung Blakan. Dan orang-orang yang sering hadir dalam pertemuan dan mengikuti pandangan hidup Ki Blaka suka menyebut diri mereka sebagai 'Blakanis'. Banyak orang yang terbuka matanya dan segera merubah cara hidupnya setelah mengenal Ki Blaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata kejujuran mutlak bukanlah sesuatu yang bisa diterima dengan mudah dimana-mana. Ketika seorang mantan menteri di hadapan Ki Blaka dan seluruh peserta pertemuan mengakui berbagai kecurangannya yang tidak bisa dibuktikan oleh pengadilan, beberapa pihak mulai gelisah. Keberadaan kampung Blakan dengan gerakan kejujurannya terasa mengancam bagi orang-orang licik yang masih ingin melanggengkan kekuasaannya. Ki Blaka dan simpatisannya pun tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka yang memiliki kekuasaan tinggi ingin melenyapkan kampung Blakan dan segala kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selesai di Bab Pertama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini ditulis dalam 4 bagian. Bab pertama yang menjadi narator adalah Mareto, mantan intel polisi yang sudah dipecat. Yang punya keyakinan bahwa kematian itu bisa menjadi penyelamat hidup. Mareto adalah salah seorang partisipan aktif di kampung Blakan. Dan ketika perkembangan kampung Blakan mulai tidak bisa dikendalikan, Mareto berniat membunuh Ki Blaka demi kebaikan Ki Blaka sendiri. Pada bab pertama ini sebenarnya sudah mencapai puncak cerita, semua plot cerita sudah dikisahkan. Sudah menjadi sebuah kisah yang utuh. Tapi tentu saja terlalu pendek untuk dijadikan novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab kedua diambil alih oleh Suster Emma, atau Emak. Melalui narasi dan buku catatannya, Emak bercerita lebih detil menurut sudut pandangnya, serta penambahan kisah dari sejumlah orang lain yang hidupnya berubah dengan adanya Ki Blaka dan Kampung Blakan. Di dalamnya juga diuraikan lebih banyak tentang filosofi kejujuran menurut Ki Blaka. Bab ketiga entah siapa naratornya, menguraikan lebih lanjut tentang perkembangan Ki Blaka dan pengikutnya. Dan bab keempat adalah endingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa setelah bab pertama, menurutku, cerita novel ini jadi agak kedodoran. Maksudku, karena jalan cerita sudah ketahuan di bab pertama penambahan detil di bab-bab berikutnya jadi tidak terlalu penting. Menarik sih, tapi terasa seperti tempelan biar novelnya lebih panjang. Apalagi ending di bab 4 yang mungkin maunya dramatis dan kolosal, tapi menurutku kok maksa banget kurang realistis. Satu hal lagi yang membuat novel ini terasa tidak runtut, Mareto yang diposisikan sebagai narator di bab pertama, di bab selanjutnya malah hilang nyaris tidak disebutkan keberadaannya sama sekali kecuali satu dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teriakan Arswendo yang Jengah Akan Kepalsuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arswendo masih mempertahankan gaya penulisannya yang ringan mengalir. Bahasa deskripsi yang tidak njelimet dan dialog yang bermakna lugas membuat pembaca tidak perlu mengerutkan kening terlalu dalam. Dibumbui dengan sindiran disana sini, celetukan humor cerdas yang segar, hingga sisipan pemikiran filosofis penuh makna, novel ini menjadi bacaan yang enak dinikmati tapi tetap mencerdaskan dan mencerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novel ini Arswendo meneriakkan kejengahannya atas segala kepalsuan yang terjadi pada bangsa kita. Ke-tidakjujur-an yang diam-diam menggerogoti pondasi kehidupan bermasyarakat yang seharusnya berdasarkan saling percaya, sehingga kita tidak bisa lagi begitu saja percaya kepada orang lain. Dan saat ke-tidakjujur-an berpadu dengan kekuasaan yang terjadi adalah penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap yang lemah demi melanggengkan kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya Ki Blaka dan gerakan Blakanis di novel ini mungkin menjadi mimpi Arswendo tentang sebuah kondisi ideal saat semua orang mau berbicara dan bertindak dengan jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jujur tentang Kejujuran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arswendo tidak menciptakan satu sosok pahlawan kebajikan berkepribadian hebat dalam novel ini. Ki Blaka sang tokoh sentral disini memang menjadi panutan banyak orang dalam hal kejujuran. Dengan kesehariannya yang amat sangat sederhana tanpa tendensi macam-macam, semua orang percaya bahwa Ki Blaka benar-benar jujur kepada diri sendiri maupun kepada semua orang dan patut menjadi teladan. Namun Arswendo menjadikannya sebagai 'anti-hero' melalui masa lalu Ki Blaka yang cukup kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat cerdas Arswendo juga menyentil fenomena ikatan kelompok yang terlalu kuat yang berlanjut pada pembenaran diri sendiri yang banyak terjadi saat ini. Di antara kaum Blakanis ada ritual yang mereka ciptakan sendiri, seperti melakukan 'Adus Ai', mengenakan selimut lorek, hingga tinggal selama 35 hari di kampung Blakan. Tapi Ki Blaka dengan tegas tidak pernah menyuruh orang-orang untuk melakukan itu. Ia takut jika hal-hal itu akan menimbulkan ikatan yang terlalu kuat, sehingga kemudian akan muncul pembenaran-pembenaran terhadap apa pun yang dilakukan kelompok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arswendo cukup jujur dengan menuturkan bahwa kejujuran mutlak dengan menyampaikan segala sesuatu dengan terbuka apa adanya tidak selalu akan membawa kebaikan. Ada orang-orang yang tidak menyukai orang lain menjadi jujur, apalagi jika kejujuran itu juga mengungkap kebohongan orang lain. Arswendo juga tidak mau mengkultuskan kejujuran sebagai puncak kebaikan. Kejujuran bukan berarti menjadi sakti. Kejujuran tidak bisa menghapus dosa, tapi bisa meringankan beban. Kejujuran juga tidak mendatangkan keuntungan besar, tapi mendatangkan kepercayaan yang terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Blaka berkata, "Jujur itu seperti bernapas. Kita tak perlu belajar terlebih dahulu, tak perlu mengatur bagaimana memulainya. Sangat sederhana, semua juga bisa melakukannya." Hmmm... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-1348682480693878059?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/1348682480693878059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=1348682480693878059' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1348682480693878059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1348682480693878059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/06/blakanis.html' title='Blakanis'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SGcHF570OaI/AAAAAAAAAO0/gh78NLz1ca0/s72-c/blakanis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-1613049762816369460</id><published>2008-06-20T17:08:00.004+07:00</published><updated>2008-06-21T06:48:17.868+07:00</updated><title type='text'>Snow</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SFuCS97MeuI/AAAAAAAAAOs/ZnKMjTLZkXY/s400/snow.jpg" border="0" alt="Snow, Orhan Pamuk" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213904255983581922" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Snow, Di Balik Keheningan Salju&lt;br /&gt;Pengarang : Orhan Pamuk (2002)&lt;br /&gt;Penerbit : Serambi&lt;br /&gt;Penerjemah : Berliani M Nugrahani&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, April 2008, 729 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya berhasil juga aku menyelesaikan membaca salah satu karya Orhan Pamuk, sastrawan Turki yang memperoleh Nobel Sastra 2006 ini. Pertama kali mencoba baca "My Name Is Red", cuma bertahan hingga halaman belasan saja, karena keburu mabok mengikuti cerita absurd tentang "Aku" yang merah kuning hitam. Selanjutnya waktu dirilis terjemahan "The White Castle" yang jauh lebih tipis, tertarik lagi untuk sekali lagi mencoba memahami tulisan dari penulis berkelas Nobel. Namun setelah lewat separuh cerita, proses membaca mogok tersendat-sendat karena cerita berubah menjadi kisah yang bercampur-campur dengan fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku terjemahan ketiga karya Orhan Pamuk yang kembali diterbitkan oleh Serambi, adalah "Snow". Kali ini diterjemahkan oleh &lt;a href="http://antie.multiply.com"&gt;Berliani M Nugrahani&lt;/a&gt;, temen menyanyah dari gerombolan &lt;a href="http://kubugil.multiply.com"&gt;Kutubukugila&lt;/a&gt;. Awalnya agak tidak tertarik melihat nama Orhan Pamuk, terbayang cerita absurd yang berat bertele-tele. Apalagi judulnya "Snow"... terbayang dinginnya... :D Tapi membaca sinopsis ceritanya tentang konflik politik di sebuah kota kecil antara kelompok Islamis dan Sekuler yang melibatkan kasus bunuh diri gadis2 berjilbab, kok jadi pengen mencoba lagi untuk membaca karya Pamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya dalam rentang waktu 2 bulan setengah, berhasil juga aku menaklukkan salah satu karya Orhan Pamuk :D Dua minggu pertama sanggup baca sampai separuhnya. Tapi kemudian berhenti untuk mengambil nafas membaca buku2 lain yang agak lebih ringan. Baru minggu lalu datang lagi mood untuk meneruskan membaca dan bisa menyelesaikan sisa separuhnya dalam empat hari :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Balik Keheningan Salju&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ka, seorang penulis puisi yang telah sekian tahun melarikan diri dari Turki dan tinggal di Jerman, melakukan perjalanan kembali ke Turki untuk sebuah tugas jurnalistik. Ia pergi ke Kars, sebuah kota kecil dari masa lalunya, untuk melakukan investigasi jurnalistik mengenai kasus bunuh diri gadis-gadis berjilbab di kota tersebut. Kasus tersebut terkait dengan politik sekuler yang diterapkan Turki yang melarang gadis2 muslim mengenakan jilbab di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melakukan peliputan seputar kasus tersebut, Ka memiliki misi pribadi dalam kunjungannya ke Kars. Ia ingin kembali menjalin hubungan dengan Ipek, wanita dari masa lalunya yang masih menetap di Kars. Ipek baru saja bercerai dengan Muhtar yang telah beralih ideologi menjadi pemimpin partai Islamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Ka bersamaan dengan hadirnya kelompok teater milik Sunay Zaim yang akan mengadakan pertunjukan teater di Kars yang pertama kalinya ditayangkan secara langsung oleh televisi setempat. Dalam pertunjukan itu Ka juga diminta tampil untuk membacakan puisinya. Namun pertunjukan itu menjadi kacau balau, ketika tentara yang oleh sebagian penonton dianggap sebagai pelakon dalam teater mulai menembakkan senapan berisi peluru tajam ke arah penonton. Beberapa orang tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Kars yang sedang dilanda badai salju sehingga terisolasi selama beberapa hari dari dunia luar itu pun semakin kacau karena peristiwa di pertunjukan teater tersebut. Jam malam diberlakukan. Madrasah Aliyah yang dianggap sebagai gudangnya pemuda Islamis diserbu tentara, dan sebagian muridnya ditahan di kantor polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka tidak bisa menghindar ikut terlibat dalam berbagai masalah. Selain diinterogasi oleh pihak polisi, ia juga harus menghadapi tokoh Islamis yang sedang dalam persembunyian. Tokoh tersebut mempertanyakan tujuan Ka melakukan investigasi atas kasus bunuh diri gadis2 berjilbab. Di sisi lain, Ka juga terbelit oleh gejolak asmaranya terhadap Ipek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perlu Kesabaran Tinggi Membacanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca karya Orhan Pamuk memang perlu kesabaran tinggi. Namun untuk "Snow" ini kebetulan lebih mudah dicerna dan dipahami dari pada "My Name is Red". Bisa jadi karena dalam "Snow" Pamuk bercerita secara lebih realistis, bisa jadi juga karena terjemahannya enak dan mengalir gampang dipahami meskipun tetap melingkar-lingkar (kedip2 ke penerjemah Snow, demi kebagian buntelan selanjutnya :D ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, membaca "Snow" tetap perlu kesabaran dan ketekunan. Karena Pamuk lumayan cerewet dalam membuat pemaparan tentang detil cerita. Banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu penting ia jabarkan panjang lebar dalam satu atau beberapa paragraf yang panjangnya lebih dari sepuluh baris. Memang sih dengan cara seperti itu pembaca bisa mendapatkan gambaran yang amat sangat lengkap dari berbagai sisi. Aku kagum juga dengan kemampuan Pamuk mereka-reka suatu latar belakang cerita yang lengkap untuk setiap tokoh dan kejadian. Tapi yah, ketika semuanya diceritakan dengan begitu panjang dan kadang bertele-tele, pembaca yang tidak terlalu bisa menikmati keindahan kalimat akan mudah jatuh bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mencari Posisi Netral&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penokohan, dengan kemampuan Pamuk membuat detail, jelas ia mampu membuat suatu karakter yang kuat. Dari semua tokoh yang ada, ada satu hal yang bisa ditarik sebagai benang merah di antara mereka. Nyaris semua tokoh itu berada dalam posisi bimbang dan labil. Pendirian mereka bisa tiba-tiba saja berubah. Ka yang mengaku atheis, menjadi mulai percaya kembali akan adanya Tuhan. Sementara Necip siswa madrasah yang tekun beribadah tiba-tiba ragu apakah dirinya sebenarnya atheis. Bahkan Lazuardi sang tokoh Islam radikal tiba tiba bisa dengan mudah diajak berkompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang jalan ceritanya sendiri, Pamuk memposisikan dirinya pada kotak yang netral pada konflik ini. Karakter dari tokoh utamanya yang atheis namun tidak menyerang bahkan malah berteman dengan kelompok Islamis menunjukkan posisi yang diambil Pamuk. Di novel ini tampaknya Pamuk hanya ingin menyajikan fakta, bahwa di tengah konflik itu selain ada orang-orang yang memang benar tulus dan berkomitmen terhadap pendiriannya, juga ada orang-orang yang moderat mencari selamat dengan tidak memihak, bahkan ada juga para opportunis yang mencari kesempatan untuk berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mana Puisinya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamuk tampaknya juga lihai dalam berkelit menghindari suatu hal yang ia tidak begitu menguasai :D Satu yang paling jelas adalah tokoh Ka dalam novel ini adalah seorang penulis puisi, namun Pamuk sama sekali tidak pernah menuliskan puisi hasil karya Ka dalam novel ini kecuali satu bait pendek saja. Berkali2 Ka selama di Kars dikisahkan tiba-tiba mendapat ilham untuk menulis puisi yang semuanya tertulis dalam buku catatan berwarna hijau, tapi kemudian Pamuk dengan enaknya bilang bahwa buku itu hilang tanpa jejak sehingga tidak perlu repot2 menunjukkan puisi2 itu dalam novel ini :D &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang lain, tampaknya Pamuk tidak begitu memahami secara mendalam tentang nilai-nilai yang dianut golongan Islamis sehingga argumen2 dari golongan itu seringkali terasa dangkal. Bahkan kadang malah dibelokkan ke arah yang sama sekali tidak penting, seperti saat Lazuardi (Blue) bertanya tentang taplak dan tirai rumah seseorang kepada Ka. Entah lagi kalau hal ini adalah cara Pamuk agar novel ini lebih mudah diterima oleh dunia barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, ini novel dengan tema yang menarik, panjang tapi mudah dicerna. Hanya saja perlu kesabaran tersendiri untuk menyelesaikannya :D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-1613049762816369460?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/1613049762816369460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=1613049762816369460' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1613049762816369460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1613049762816369460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/06/snow.html' title='Snow'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SFuCS97MeuI/AAAAAAAAAOs/ZnKMjTLZkXY/s72-c/snow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-8394462099215527377</id><published>2008-06-05T07:30:00.001+07:00</published><updated>2008-06-05T07:32:17.944+07:00</updated><title type='text'>[K-O-M-A]</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SEcz5oCVuuI/AAAAAAAAAOc/QOBYdS0PPQg/s1600-h/koma.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SEcz5oCVuuI/AAAAAAAAAOc/QOBYdS0PPQg/s400/koma.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208188559170058978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Judul : [K-O-M-A]&lt;br /&gt;Pengarang : FX Rudy Gunawan&lt;br /&gt;Penerbit : Spasi &amp; VHR Book&lt;br /&gt;Edisi : cetakan pertama, Maret 2008, 182 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari desain sampulnya dan cara penulisan judulnya sebenarnya sudah tersirat bahwa ini adalah novel abstrak bin absurd. Dengan gambar sebentuk koma besar yang di dalamnya terdapat ilustrasi surealis yang entah apa maknanya. Sementara di sampul belakangnya tidak ada secuil sinopsis yang menjelaskan isi novel ini. Yang ada adalah tumpukan gambar-gambar yang dirangkai secara abstrak. Pembaca tidak diberi petunjuk sedikitpun tentang cerita di dalam novel ini. Dengan sedikit untung-untungan, siapa tahu isinya bagus, aku ambil dan baca novel ini, toh tidak terlalu tebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh FX Rudy Gunawan, penulis yang karyanya sudah banyak beredar di khasanah perbukuan Indonesia. Mulai dari cerpen2 yang berbobot sastra, biografi tokoh dan selebriti Indonesia, hingga novel adaptasi film yang lebih ngepop. FX Rudy Gunawan yang lulusan UGM ini juga adalah salah satu pendiri penerbitan Gagas Media yang banyak menelurkan buku-buku pop yang laris manis. Namun entah kenapa novel ini malah tidak diterbitkan oleh GagasMedia, mungkin genre nya tidak sesuai dengan lini utama GagasMedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Kodrat dan Kenangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utamanya adalah seorang pemuda bernama Kodrat. Kehidupannya sehari-hari adalah membantu Ibunya yang bernama Kenangan membuat rangkaian bunga pesanan. Kenangan dengan masa lalunya yang suram sangat piawai dalam menyusun rangkaian bunga dukacita. Rangkaian bunganya selalu menebarkan nuansa kesedihan yang mengingatkan akan mendiang yang meninggal pada saat itu. Sebaliknya Kodrat adalah sosok yang ceria, hampir semua orang menyukainya. Dengan karakter tersebut rangkaian bunga yang disusun Kodrat selalu menguarkan suasana bahagia, cinta dan kegembiraan bagi orang yang menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Kodrat bernama Jauhhari, kini entah dimana. Ia menghilang saat Kodrat masih berusia lima tahun. Jauhhari adalah seorang pelukis yang gagal. Karya2 lukisannya tidak berhasil menghidupi keluarganya. Ia malah lebih sibuk dengan gerakan bawah tanah yang berusaha merongrong pemerintah dengan berbagai aksi sembunyi-sembunyi. Aparat tidak pernah berhasil melacak pelaku aksi2 tersebut. Hingga akhirnya Jauhhari lenyap tanpa jejak meninggalkan Kodrat dan Kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu saat, seseorang tak dikenal meneror Kodrat melalui telepon dengan berbagai ancaman.  Yang paling mengejutkan adalah si peneror mengetahui nama ayah Kodrat. Bersamaan dengan itu Kenangan kedatangan seorang pelanggan yang memesan bunga rangkaian duka cita dengan harga sangat mahal. Nama yang meninggal akan disusulkan kemudian, Kenangan hanya diberi perkiraan bahwa yang meninggal adalah anak muda usia pertengahan duapuluhan. Seumur Kodrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ditinggalkan dalam Kondisi Koma&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya membaca novel ini mengalir saja layaknya fiksi pada umumnya, bahkan dialog-dialognya cenderung ngepop. Kisah masa kecil Kodrat dan masa lalu Kenangan dituturkan dalam kalimat-kalimat yang mudah dinikmati meskipun bermunculan bunga-bunga absurd di sudut2nya. Disela-sela alur cerita utama penulis juga menyempatkan diri untuk berkelana menuturkan berbagai topik menurut opininya melalui karakter2 yang ada di novel ini. Dari definisi cinta, kesengsaraan Aceh pasca Tsunami, kematian, neraka, hingga seks. Agak terlalu melebar kemana-mana memang, tapi ya sah sah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak sepertiga akhir novel ini ketika kisahnya sedang menanjak menuju puncak konflik, penulis tiba tiba merubah gaya berceritanya. Sebuah alam surealis dihadirkan dalam bentuknya yang penuh fantasi mengelilingi tokoh Kodrat. Alur cerita yang pada titik ini secara konvensional mestinya terus mendaki ke arah klimaks, dihentikan di tengah jalan oleh penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepenuhnya berhenti sebenarnya, di antara bab-bab dari alam surealis, penulis melakukan flashback ke masa lalu untuk sedikit menjelaskan latar belakang dari konflik yang terjadi. Namun tetap tidak ada pergerakan plot yang maju ke depan. Dan hingga akhir novel ini, posisi cerita masih berhenti di tengah-tengah tanpa ending. Posisi 'Koma'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Untuk Kelas Lanjut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ending seperti itu, membaca novel ini serasa membaca cerpen Kompas tapi dalam versi yang lebih panjang. Awalnya bisa diikuti dan dimengerti tetapi kemudian pada akhir cerita kita ditinggalkan dalam kabut tebal berusaha mencari-cari arah sendiri. Tipe-tipe prosa yang mengutamakan keindahan proses bercerita, dan mengesampingkan tujuan dan makna akhir dari sebuah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, memang, aku lebih menggemari cerita realis konvensional. Bukan penikmat seni absurd surealis. Aku belum bisa menikmati keindahan rangkaian kata bila tujuan dan maknanya tidak jelas. Belum bisa melihat sebuah prosa sebagaimana lukisan yang bisa dinikmati keunikan pada tiap detilnya. Novel ini memang untuk penggemar prosa kelas lanjut :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu endorsement nya, seorang prosais mengatakan "beginilah novel di zaman mendatang akan ditulis". Oh no... jika itu benar2 terjadi, mungkin aku akan berhenti membaca novel :D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-8394462099215527377?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/8394462099215527377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=8394462099215527377' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8394462099215527377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8394462099215527377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/06/k-o-m.html' title='[K-O-M-A]'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SEcz5oCVuuI/AAAAAAAAAOc/QOBYdS0PPQg/s72-c/koma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-4506534333083375684</id><published>2008-05-22T17:05:00.002+07:00</published><updated>2008-05-22T17:08:53.339+07:00</updated><title type='text'>20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SDVFvifCEjI/AAAAAAAAANU/nkRyYiPKL0A/s400/20cerpen.jpg" border="0" alt="20 Cerpen Indonesia "id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203141627509609010" /&gt;Terus terang aku tidak terlalu menggemari cerita pendek. Entah itu yang disaji oleh suratkabar, ataupun yang sudah dibundel menjadi sebuah buku kumpulan cerpen. Masalahnya bukan apa apa, tapi sepertinya terjadi sedikit trauma bahwa cerpen-cerpen yang ada di koran dan dalam sebuah kumpulan cerpen adalan cerpen-cerpen berat yang sangat sastrawi. Untuk bisa memahami dan menikmatinya harus memiliki suatu kepekaan tertentu untuk menangkap keindahan cerita atau situasinya yang dipaparkan dengan berbunga-bunga atau berlambang-lambang. Sering kali setelah membaca cerpen semacam itu bukannya terhibur, tetapi malah sakit kepala :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun waktu melihat sebuah buku bertajuk "20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008" terbitan Gramedia Pustaka Utama, Februari 2008, aku tertarik untuk membacanya. Ingin tahu seperti apa cerita-cerita pendek yang dianggap terbaik oleh para sastrawan terkemukan. Apakah aku akan mampu mencerna dan menikmatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduapuluh cerita pendek yang ada dalam buku ini adalah hasil pilihan dari 7 orang juri yang selama setahun dari 1 Nopember 2006 hingga 31 Oktober 2007 memantau belasan surat kabar terkemuka yang rutin menyajikan karya-karya cerpen dari para penulis Indonesia. Pemilihan ini adalah dalam rangka Anugerah Sastra &lt;a href="http://www.penakencana.com"&gt;PENA KENCANA&lt;/a&gt; untuk sastra koran di Indonesia. Selain cerpen, telah terpilih juga 100 buah puisi Indonesia Terbaik 2008 yang pernah muncul di koran Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keduapuluh Cerita Pendek Itu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi&lt;/strong&gt;, karya Agus Noor – Koran Tempo, 8 April 2007&lt;br /&gt;Cerita tentang seorang laki-laki yang mengetahui waktu kematiannya sehingga sudah mempersiapkan segalanya ketika waktu itu menjelang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Paragraf Terakhir&lt;/strong&gt;, karya Antoni – Suara Merdeka, 26 November 2006&lt;br /&gt;Sepotong kisah perjalanan ke Toraja untuk memburu sebuah paragraf terakhir dari suatu rahasia kemampuan super.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sumur Keseribu Tiga&lt;/strong&gt;, karya AS Laksana – Koran Tempo, 6 Mei 2007&lt;br /&gt;Kisah penggali sumur yang sudah menggali seribu buah sumur, dan berharap siapa tahu pada sumur ke seribu tiga ia akan menemukan harta karun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hikayat Kura-Kura Berjanggut&lt;/strong&gt;, karya Azhari – Koran Tempo, 4 Maret 2007&lt;br /&gt;Ketika lautan di sekitar Bandar Lamuri sedang dikuasai Perompak Lamuri, para pelaut enggan pergi berlayar dan berhenti di pelabuhan Bandar Lamuri. Sambil menunggu mereka mendengarkan berbagai kisah yang dituturkan oleh Tukang Cerita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sinai&lt;/strong&gt;, karya Dewi Ria Utari – Kompas, 17 Juni 2007&lt;br /&gt;Sinai seorang gadis cantik menawan yang gemar menghabiskan waktunya di klub malam. Malam itu seseorang mengamatinya hingga Sinai kembali ke rumah untuk melakukan penyucian terhadap gadis itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;La Cage Aux Folles&lt;/strong&gt;, karya Eka Kurniawan – Koran Tempo, 15 Juli 2007&lt;br /&gt;Sebuah restoran di California bernama La Cage Aux Folles memiliki sebuah pertunjukan andalan bagi pengunjungnya. Penyanyi-penyanyi cantik yang wajahnya sangat mirip dengan para pesohor dunia. Salah satunya berasal dari Indonesia bernama Martha yang wajahnya mirip dengan seorang bintang film porno. Satu hal, penyanyi-penyanyi cantik itu adalah waria yang telah menjalani operasi plastik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Bukan Yem&lt;/strong&gt;, karya Etik Juwita – Jawa Pos, 10 Juni 2007&lt;br /&gt;Kronik kejadian ketika sejumlah TKW dalam perjalanan pulang ke kampung masing-masing. Saling bercerita tentang pengalaman masing-masing dengan majikannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Betaljemur&lt;/strong&gt;, karya Gunawan Maryanto – Suara Merdeka, 26 Agustus 2007&lt;br /&gt;Kisah yang diangkat dari potongan sejarah masa lalu, tentang Betaljemur yang membalas dendam ayahnya yang dibunuh oleh saudara angkatnya Eklaswajir demi setumpuk harta karun. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Kami Lepas Anak Kami&lt;/strong&gt;, karya Gus tf Sakai – Suara Merdeka, 29 Januari 2007&lt;br /&gt;Seperti biasa Gus tf Sakai merangkai kata dalam susunan kisah surealis. Kali ini tentang seorang ayah dan ibu yang setiap pagi harus melepas anaknya yang mulai bersekolah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tiurmaida&lt;/strong&gt;, karya Hasan Al Banna – Kompas, 3 Juni 2007&lt;br /&gt;Anak mereka meninggal pada usia dua tahun, Marsius tak mampu menahan dukanya hingga akhirnya menjadi gila dan mengganggu warga. Tiurmaida istrinya akhirnya harus memasung Marsius di rumah, dan kini ia sendiri yang harus mencari nafkah sebagai kuli batu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Saleha di Tengah Badai Salju&lt;/strong&gt;, karya Ida Ahdiah – Suara Mereka, 20 Agustus 2007&lt;br /&gt;Kontrak kerja Saleha di negeri orang telah habis, tapi ia tak ingin pulang menemui suaminya yang berkhianat. Ia pun bekerja sebagai pekerja gelap dengan bayaran minimum, yang bahkan di tengah badai salju pun ia harus tetap berangkat bekerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Kupu-Kupu Ibu&lt;/strong&gt;, karya Komang Ira Puspitaningsih – Media Indonesia, 26 November 2006&lt;br /&gt;Gadis kecil bernama Ning sering melihat dan memperhatikan seorang wanita tua yang duduk di taman ditemani dua ekor kupu-kupu cantik. Ning kadang ikut bermain dengannya. Hingga satu saat wanita dan kupu-kupu itu tak muncul lagi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Dua Perempuan&lt;/strong&gt;, karya Lan Fang – Suara Merdeka, 12 November 2006&lt;br /&gt;Di sebuah penginapan tinggal dua orang perempuan pada kamar yang bersebelahan. Perempuan di kamar A5 seorang wanita muda yang menjadi istri kedua dari lelaki tua kaya raya. Perempuan di kamar A6 juga mencintai suami orang, hanya saja si lelaki terlalu takut terhadap istri pertamanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Mawar di Kanal Macan&lt;/strong&gt;, karya M. Iksaka Banu – Koran Tempo, 12 Agustus 2007&lt;br /&gt;Letnan Dapper kembali ke Batavia. Nyonya Adelheid Ewald, sang kekasih gelapnya, langsung menemuinya dalam samaran. Letnan Dapper telah membuat keputusan, tapi Adelheid Ewald juga bisa melakukan sesuatu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sebelum ke Takao&lt;/strong&gt;, karya Naomi Srikandi – Suara Merdeka, 6 Mei 2007&lt;br /&gt;Percakapan di sebuah kedai kopi di India [yang terus terang aku belum tahu juga apa maksud dan tujuannya :p]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Seri Perjalanan&lt;/strong&gt;, karya Nukila Amal – Koran Tempo, 24 Juni 2007&lt;br /&gt;Perjalanan Gulliver, perjalanan kupu-kupu, hingga tentang pengharum di dalam taksi [hubungannya? entahlah :p]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Di Sini Dingin Sekali&lt;/strong&gt;, karya Puthut EA – Kompas, 26 November 2006&lt;br /&gt;Kisah tentang sebuah keluarga selepas bencana gempa yang menghancurkan rumah mereka. Sang Ayah harus ikut kerja bakti membangun kampung, Ibu memasak dengan bahan makanan seadanya, kakak laki-laki sibuk melakukan demonstrasi, kakak perempuan menjadi relawan, dan si anak kecil harus mengasuh adik kecilnya diantara segala keterbatasan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sepotong Tangan&lt;/strong&gt;, karya Ratih Kumala – Republika, 5 Agustus 2007&lt;br /&gt;Kisah tragis-romantis saat seorang wanita tua tidak terbangun lagi dari tidurnya. Suaminya yang sangat menyayanginya tak tahu harus berbuat apa terhadap jasad istrinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Cinta di Atas Perahu Cadik&lt;/strong&gt;, karya Seno Gumira Ajidarma – Kompas, 10 Juni 2007&lt;br /&gt;Di suatu kampung nelayan, Hayati dan Sukab menjalin hubungan cinta terlarang, karena mereka masing-masing telah memiliki pasangan resmi. Satu saat mereka berlayar menggunakan cadik berdua saja hingga ke tengah lautan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Cahaya Sunyi Ibu&lt;/strong&gt;, karya Triyanto Triwikromo – Jawa Pos, 21 Oktober 2007&lt;br /&gt;Dua saudara mengkhawatirkan ibu mereka yang tinggal di panti wreda. Sang Ibu sedang sangat terpukul atas kematian teman karib wanitanya. Berbagai isu tak sedap muncul seputar hubungan Ibu mereka dengan wanita itu.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beragam Ide dan Cerita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam ide dan cara penulisan ditawarkan dalam keduapuluh cerita pendek tersebut. Sebuah pengalaman membaca yang akan memperkaya kita dengan beragam kisah hanya dalam satu buku. Beberapa kisah memiliki latar belakang budaya dan sejarah, seperti budaya Toraja (Paragraf Terakhir), sejarah Batavia (Mawar di Kanal Macan), seputar kehidupan pelaut Malaya (Hikayat Kura-kura Berjenggot), atau mengambil dari sejarah tanah Jawa (Betaljemur). Kisah yang lain mencurahkan imajinasi seputar kejadian aktual, antara lain tentang keluarga korban gempa (Disini Dingin Sekali), tentang tenaga kerja wanita (Bukan Yem, dan Saleha di Tengah Badai Salju), dan tentang sistem pendidikan kita (Kami Lepas Anak Kami). Kesengsaraan wanita masih menjadi topik yang menarik untuk tetap diangkat dalam Tiurmaida, Dua Perempuan, Bukan Yem, dan Saleha di Tengah Badai Salju. Dan tak ketinggalan rumitnya kisah cinta di cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik, Dua Perempuan, dan Sepotong Tangan. Hampir semuanya menggunakan plot linier tanpa variasi aneh-aneh, kecuali "Dua Perempuan" karya Lan Fang yang menyajikan kisah dengan dua orang narator secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cerita bisa dengan mudah diikuti dan dipahami jalan ceritanya, sementara beberapa lagi aku bisa mencerna jalan ceritanya tetapi tidak mengerti tujuannya, bahkan beberapa lagi aku sama sekali tidak tahu maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar buku ini, sastrawan terkemuka Budi Darma mengutip:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"...dalam sebuah obrolan tidak resmi di Jakarta pada tanggal 28 Juni 2005, pengarang cerpen Agus Noor, yang cerpennya juga dimuat dalam kumpulan cerpen ini, menyatakan bahwa sastra sekarang, antara lain cerpen, hanya merupakan permainan kata-kata yang indah, namun kalau dikejar lebih jauh ternyata tidak ada apa-apanya. Mayoritas pengarang cerpen dalam kumpulan ini tetap percaya, bahwa cerpen bukan hanya permainan kata, tapi sebuah medium untuk menyampaikan makna."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pak Budi Darma pun menilai bahwa sebagian cerpen dalam kumpulan ini juga suatu cerpen yang hanya berisi permainan kata... dan untuk cerpen semacam itu, aku tidak tahu dimana bagusnya :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pilihan Akhir di Tangan Pembaca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen dalam dunia sastra Indonesia saat ini memang lebih banyak sebagai karya sastra tulis yang dimaksudkan untuk dimuat di suratkabar. Sehingga muncullah istilah "Sastra Koran". Tapi memang suratkabar Indonesia telah menjadi sebuah media publik yang mampu memberikan ruang dan apresiasi bagi karya cerpen dan puisi lebih baik daripada media lain. Itulah mengapa Anugerah Sastra Pena Kencana ini mengkhususkan diri untuk karya sastra yang dimuat di surat kabar. Setelah Khatulistiwa Literary Award yang memberikan penghargaan tahunan untuk buku berupa novel, kumpulan cerpen dan kumpulan puisi, adanya Pena Kencana ini mestinya akan menumbuhkan lagi semangat berkarya para penulis Indonesia karena hadiah utamanya lumayan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemilihan karya terbaik pun terbilang unik. Setelah terpilih 20 cerpen terbaik dan 100 puisi terbaik dalam rentang waktu setahun, karya terpilih itu dibukukan. Lalu yang menjadi juri selanjutnya adalah pembaca. Dengan cara bagaimana?... tentunya dengan sistem yang sedang trend saat ini... dalam rentang waktu antara 15 Februari 2008 hingga 15 Agustus 2008 pembaca dipersilakan untuk mengikuti... VOTING via SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pihak memang mencibir sistem ini. Ada yang bilang sastra kok dibikin kayak Idol-Idolan. Awalnya aku berpikir, sah-sah saja lah sistem seperti ini untuk menentukan karya favorit pilihan masyarakat. Apalagi ternyata di setiap buku dicantumkan nomer seri berbeda yang harus disertakan dalam pengiriman vote. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi... aku jadi agak kecewa ketika membaca tata cara voting lebih detil. Ternyata setiap pemilik buku diperkenankan mengirimkan sms sebanyak-banyaknya! Wah... berarti penulis yang punya modal kuat punya peluang lebih besar dong? Dan lagi, biaya voting sms nya menggunakan harga sms premium... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaaaah, kok gitu...  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-4506534333083375684?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/4506534333083375684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=4506534333083375684' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4506534333083375684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4506534333083375684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/05/20-cerpen-indonesia-terbaik-2008.html' title='20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SDVFvifCEjI/AAAAAAAAANU/nkRyYiPKL0A/s72-c/20cerpen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-3354957517831261189</id><published>2008-05-01T17:38:00.001+07:00</published><updated>2008-05-01T17:43:28.921+07:00</updated><title type='text'>Tahun 69</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SBmenAPYwaI/AAAAAAAAANM/qi15iTNotQk/s400/tahun+69.jpg" border="0" alt="69, Ryu Murakami" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195358038065201570" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Tahun 69&lt;br /&gt;Penulis : Ryu Murakami (1987)&lt;br /&gt;Penerjemah : Widati Utami&lt;br /&gt;Penerbit : TransMedia Pustaka, 2008&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, 268 halaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain sampulnya berkesan lucu, sekaligus retro abis. Angka "69" yang besar dan mendominasi dengan bentuk yang kekanak2an langsung menarik perhatian. Sementara latar belakangnya yang bergambar sosok berkacamata lebar dengan rambut gondrong awut-awutan plus sebuah gitar berhasil memberikan suasana retro dari akhir tahun 60-an. Pilihan font-nya juga lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah membaca isinya. Sampul ini menurutku sangat cocok dengan jalan ceritanya. Tentang hiruk pikuk kehidupan seorang anak muda dari kota kecil di Jepang yang sedang mencari jati diri di tengah serbuan budaya barat. Kisah tentang sekolah, pemberontakan, seni, kebebasan dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RINGKASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana judulnya, setting novel ini adalah tahun 1969 di sebuah kota kecil bernama Sasebo, Jepang. Kensuke Yazaki atau lebih suka dipanggil Ken, adalah remaja berusia 17 tahun yang sedang menjalani tahun terakhirnya di "SMA Kita". Ken awalnya bukanlah remaja yang menonjol di sekolahnya, tidak di akademik, tidak juga di olahraga. Tapi Ken punya banyak energi dan optimisme untuk mewujudkan berbagai macam ide liar yang ada di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ken adalah anak muda yang sangat mengagumi dan menjadi pengikut setia dari budaya barat yang digelontorkan oleh media ke seluruh pelosok dunia. Ia memuja grup-grup musik barat seperti Beatles, Rolling Stones, hingga Simon and Garfunkel. Juga film, buku, filsuf, hingga tokoh2 pergerakan dari dunia barat. Bahkan ia menjadi penentang keras perang Vietnam, dan berusaha meyakinkan banyak orang tentang hal itu, meskipun Jepang sama sekali tidak terlibat dalam perang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu saat Ken bersama teman akrabnya Adama dan Iwase mendapat ide hebat tentang proyek pembuatan film. Dari ide awal membuat film, angan mereka berkembang untuk membuat sebuah festival untuk menampilkan film hasil buatan mereka tersebut. Dalam festival itu akan ada pemutaran film, panggung drama, dan pertunjukan musik. Bertiga merekapun merencanakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bintang dalam film yang akan mereka buat, Ken mengincar gadis tercantik di sekolah bernama Kazuko Matsui. Ken menjulukinya sebagai "Lady Jane", mengambil dari judul lagu milik Rolling Stones. Dalam pendekatannya kepada Lady Jane, Ken menangkap kesan bahwa gadis itu mengagumi tokoh2 luar di berita TV yang berani melakukan demonstrasi dan barikade untuk menyuarakan aspirasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang Ken langsung mengajak teman2nya untuk merencanakan membuat barikade di "SMA Kita". Pada malam yang ditentukan mereka akan memasang spanduk besar, mengecat dinding sekolah dengan slogan-slogan tertentu, membuat kekacauan di seluruh penjuru sekolah, lalu menghubungi media. Dan esok paginya saat murid dan guru SMA Kita datang, mereka akan terbengong-bengong melihat kejutan itu, dan media telah siap meliputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasilkah barikade itu? apa yang akan terjadi pada Ken dan teman2nya akibat tindakan liar tersebut? Lalu bagaimana dengan rencana pembuatan Film dan Festival? Dan mampukah pada akhirnya Ken menaklukkan hati Kazuko Matsui setelah segala usahanya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;REVIEW&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin perlu diingatkan bahwa Ryu Murakami tidak memiliki hubungan apapun dengan Haruki Murakami yang terkenal dengan "Norwegian Wood" dan "Kafka on the Shore", kecuali sama-sama orang Jepang. Karya Ryu Murakami lainnya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia antara lain adalah "In The Miso Soup". Selain menulis novel, ia juga terkenal sebagai pembuat film. Novel "69" ini yang ditulis berdasarkan kehidupan masa remaja Ryu Murakami sendiri juga sudah difilmkan dengan judul yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemberontak yang Penuh Ide dan Kocak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel ini yang memakai narator seorang remaja lelaki pemberontak dengan segala pemikiran liarnya, sedikit banyak mengingatkanku pada novel legendaris "Catcher in The Rye". Hanya saja tokoh Ken dalam novel ini tidak bersikap sinis dan mengalami depresi seperti Holden Caulfield dalam "Catcher in The Rye". Jika Holden membuatku lelah dengan segala makiannya di sepanjang cerita, Ken malah membuatku tersenyum dan tertawa dengan celetukan segar dan pikiran2 konyol nya meskipun sama2 pemberontak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejauh mana porsi fiksi dalam novel ini dibandingkan dengan masa remaja Ryu Murakami yang sebenarnya, yang jelas cerita di dalamnya sangatlah seru. Perayaan ide untuk mendemonstrasikan harapan akan kebebasan ala barat yang dilakukan Ken dan teman-temannya. Dan memang, novel ini amat kental nuansa kebarat2annya. Suasana Jepangnya akan sama sekali hilang jika saja tokoh dan settingnya bukanlah nama2 Jepang. Acuan hidup Ken semuanya adalah dari barat, barat dan barat. Bahkan judul2 bab dalam buku ini nyaris semuanya dinamai berdasarkan ikon-ikon dari barat, entah itu dari nama tokoh atau judul lagu. Mungkin memang itulah yang terjadi pada anak muda di Jepang pada kisaran tahun 1969 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal mungkin perlu menyesuaikan diri dulu dengan pola berpikir Ken yang seringkali melompat-lompat, kadang juga terlalu hiperbolis atau mendramatisasi yang terlalu berlebihan saat menggambarkan suatu kejadian. Namun lama-lama pembaca akan bisa menikmati dan mengikuti gaya sok dewasa Ken yang kadang konyol itu. Hanya saja buat mereka yang tidak begitu memahami tentang tokoh2, artis, dan kejadian di sekitar tahun 1969 harus menelan mentah-mentah semua celotehan Ken tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seru, Segar dan Menghibur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TransMedia penerbit edisi terjemahan ini memberikan label "Fiksi-Novel Komedi" untuk buku ini. Meskipun aku tidak terlalu setuju dengan label "komedi" pada novel ini, karena kesannya adalah cerita konyol2an yang kemana-mana pokoknya asal lucu. Sementara novel ini sebenarnya ceritanya terarah dan cukup cerdas sampai batasan tertentu, hanya saja disajikan dalam bahasa yang ringan yang khas dan pas untuk penuturnya yang masih remaja tapi sok dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit muncul pertanyaan mengenai kalimat-kalimat tertentu yang dicetak tebal dan lebih besar bertebaran di beberapa halaman buku ini. Kadang memang itu adalah kalimat yang perlu penekanan untuk memberikan efek dramatis, tapi di beberapa tempat ada kalimat yang nggak penting2 amat tapi ditebalkan font-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain yang disesalkan adalah mengapa TransMedia harus mengutip salah satu kejadian paling konyol di novel ini untuk ditulis lengkap di sampul belakang? Ketika sampai pada bagian yang sama di dalam novelnya, hilanglah sama sekali kekonyolannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan yang sangat menghibur di waktu luang, anda akan bisa tersenyum, tertawa dan geleng-geleng kepala mengikuti kegilaan Ken dan teman-temannya. Terjemahannya mengalir dengan lancar enak dibaca. Bercerita tentang serunya masa lalu, tapi mungkin tidak membangkitkan kenangan bagi semua orang, karena pengalaman Ken disini terlalu 'maju' untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-3354957517831261189?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/3354957517831261189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=3354957517831261189' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3354957517831261189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3354957517831261189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/05/tahun-69.html' title='Tahun 69'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SBmenAPYwaI/AAAAAAAAANM/qi15iTNotQk/s72-c/tahun+69.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-934718207716603087</id><published>2008-04-13T23:35:00.002+07:00</published><updated>2008-04-13T23:48:20.722+07:00</updated><title type='text'>A Short History of Tractors in Ukrainian</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SAI24mReBwI/AAAAAAAAANE/XBIIg4-0P7k/s400/tractor.jpg" border="0" alt="Tractors, Marina Lewycka" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188770066658625282" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : A Short History of Tractors in Ukrainian&lt;br /&gt;(Sejarah Singkat Traktor Dalam Bahasa Ukraina)&lt;br /&gt;Penulis : Marina Lewycka (2005)&lt;br /&gt;Penerjemah : Gita Yuliani K&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Edisi :  Cetakan I, Februari 2008, 416 hlm&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan saja kalau mau sejenak terheran-heran dengan judulnya. Pertama kali membaca judulnya yang panjang dan melihat desain sampulnya yang bisa dibilang sangat sederhana sempat bikin bertanya-tanya, apakah ini buku non fiksi? tapi mengapa diletakkan di deretan buku fiksi. Kalaupun ini buku non fiksi, tetap juga terasa aneh, mengapa sejarah traktor? mengapa Ukraina? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat kepastian bahwa ini memang adalah buku fiksi yang bahkan sempat banyak mendapat penghargaan internasional, rasa penasaran pun tak tertahan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RINGKASAN CERITA :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikolai Mayevskyj seorang duda tua yang baru dua tahun kehilangan istrinya, jatuh cinta lagi kepada seorang wanita yang jauh lebih muda. Valentina seorang wanita cantik dan seksi asal Ukraina beranak satu, di usianya yang ke-36 berhasil memikat hati Nikolai yang berusia 84 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vera dan Nadezhda, kedua putri Nikolai yang telah berkeluarga dan tinggal di kota lain, mencurigai Valentina hanya memanfaatkan ayah mereka untuk mendapatkan hartanya dan juga sebagai batu loncatan agar bisa tinggal di Inggris yang lebih nyaman daripada kehidupan di Ukraina yang sangat sulit dan terbatas. Vera dan Nadia yang sebelumnya masih bersitegang memperebutkan pembagian warisan harta Ibu mereka, akhirnya bahu membahu mencari cara untuk menyadarkan Ayahnya agar membatalkan pernikahannya dengan Valentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Nikolai ternyata sangat gigih dengan tujuannya, yakni niat baik menolong Valentina dan anaknya Stanislav agar mendapat kehidupan dan pendidikan yang lebih layak di Eropa Barat, di samping memang matanya telah terbutakan oleh pesona fisik Valentina. Mereka berdua akhirnya menikah resmi dan tinggal bersama. Nikolai tampak mendapatkan semangat baru dengan adanya Valentina di rumahnya. Di masa pensiunnya, ia malah aktif menulis buku seputar profesinya dahulu sebagai insinyur. Nikolai menyusun sebuah buku yang berjudul "Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kecurigaan Vera dan Nadezhda terbukti. Valentina memaksa Nikolai untuk membelikan berbagai macam barang, dari kompor hingga mobil. Dan ketika tabungan Nikolai yang tidak seberapa itu habis, sikap Valentina tidak lagi manis kepada Nikolai bahkan cenderung kasar dan kejam. Vera dan Nadezhda pun semakin bulat tekadnya mencari berbagai peluang jalan hukum yang bisa membatalkan pernikahan itu dan mengembalikan Valentina ke Ukraina. Namun Valentina sendiri jelas tidak akan menyerah begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;REVIEW :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Novel Dewasa yang Konyol&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endorsement atas novel ini menyatakan bahwa novel ini 'sangat lucu'. Salah satu penghargaan yang diraih oleh novel ini juga adalah untuk kategori 'comic fiction'. Dan memang, meskipun bukan novel komedi tapi beberapa adegan-adegan di novel ini bisa membangkitkan senyum atau bahkan tawa karena ditampilkan dalam situasi atau dialog yang konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikolai yang lugu dan dengan mudah diperalat oleh Valentina yang memang manipulatif memunculkan adegan-adegan yang ironis tapi konyol. Percakapan serius antara Vera dan Nadezhda yang sebenarnya bermusuhan tetapi demi Ayahnya harus bekerja sama menyusun rencana, juga menjadi lucu ketika suara hati Nadezhda yang sebenarnya ditampilkan di dalam tanda kurung. Pertengkaran sengit antara Nadezhda dan ibu tiri mudanya Valentina juga sempat menyelipkan beberapa dialog dan adegan konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perlu diingatkan, bahwa meskipun merupakan komedi situasi, novel ini adalah novel dewasa yang melibatkan pembicaraan dan adegan yang hanya pantas dinikmati oleh orang2 yang sudah dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sisipan Sejarah Ukraina&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rumit dan konyolnya konflik keluarga Mayevskyj ini Marina Lewycka, penulisnya, menyisipkan potongan-potongan sejarah masa lalu Ukraina. Kesedihan dan kesengsaraan penduduk Ukraina di masa pemerintahan Stalin bisa diikuti lewat kilas balik kehidupan orang tua dan kakek-nenek Vera dan Nadezhda. Cukup membuat trenyuh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja sesuai dengan judulnya, ada beberapa potong cerita tentang sejarah traktor dari buku yang sedang ditulis oleh Nikolai. Tetap tidak terjawab mengapa harus traktor, apa hubungannya dengan konflik utama dalam novel ini. Pada beberapa bagian cerita sejarah traktor itu mungkin bisa dianalogikan dengan kehidupan perkawinan Nikolai – Valentina, tapi ternyata tidak selalu demikian. Jadi sepertinya memang sejarah traktor itu terpisah sama sekali dari konflik utama, dan tetap menjadi teka teki... kenapa traktor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menghibur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini dituturkan dengan ringan sehingga mudah diikuti. Selipan kekonyolannya membuatnya semakin menarik untuk terus membaca. Karakter tokohnya juga sangat kuat, sehingga pembaca akan terbawa untuk membenci Valentina yang licik dan culas, gemas dan jengkel terhadap Nikolai yang terlalu lugu, hingga ikut bersorak sorai menyemangati kerjasama Vera dan Nadezhda. Seru lah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ya itu tadi, sejarah traktor yang menjadi judul utama buku ini malah kadang terasa mengganggu karena disisipkan dan dituturkan layaknya text book yang kaku ... dan tetap menimbulkan pertanyaan: "Buat apa??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-934718207716603087?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/934718207716603087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=934718207716603087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/934718207716603087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/934718207716603087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/04/short-history-of-tractors-in-ukrainian.html' title='A Short History of Tractors in Ukrainian'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/SAI24mReBwI/AAAAAAAAANE/XBIIg4-0P7k/s72-c/tractor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-752926107048494199</id><published>2008-04-10T00:32:00.002+07:00</published><updated>2008-04-10T07:01:10.162+07:00</updated><title type='text'>Java Joe</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R_z-hxP3-iI/AAAAAAAAAM8/VFwEQrtVPaQ/s400/javajoe.jpg" border="0" alt="Java Joe, J.H. Setiawan" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187300726933027362" /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Judul : JAVA JOE&lt;br /&gt;Sub Judul : Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang&lt;br /&gt;Pengarang : J.H Setiawan&lt;br /&gt;Penerbit : C Publishing, Februari 2008, 236 hlm&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-24-3937-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penggemar genre science fiction buku ini langsung memikat perhatian. Gambar sampul futuristik berupa gambaran kota masa depan digabung dengan bentuk bangunan candi Prambanan, dan judul "Java Joe" mengisyaratkan sebuah percampuran antara dunia super modern di masa depan dengan dunia dari kebudayaan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sub judulnya "Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang", sedikit menimbulkan suatu kontradiksi antara apakah ini fiksi ilmiah atau cerita mistis. Rara Jonggrang sejauh ini tidak pernah menjadi tokoh dalam legenda dan cerita mistis di Jawa. Keberanian penulis buku ini membuat sebuah cerita fiksi rekaan dengan mengambil latar belakang legenda Rara Jonggrang cukup membuat penasaran, seberapa jauh legenda itu akan diutak-atik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ringkasan Cerita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Satu dari novel ini mengisahkan kembali legenda Rara Jonggrang dan seribu candi. Prabu Baka ayah Rara Jonggrang dikalahkan Bandung Bandawasa dari kerajaan Pengging. Rara Jonggrang yang keberatan diboyong oleh Bandung Bandawasa mengajukan syarat agar dibangunkan seribu candi dalam semalam. Dalam novel ini diceritakan bahwa Rara Jonggrang enggan menerima Bandung Bandawasa karena ia telah menjalin kisah cinta mendalam dengan Gandrung Wicaksana, saudara sebapak Bandung Bandawasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Dua kisahnya langsung melompat jauh ke sekitar tahun 2029 dimana manusia telah membangun koloni di bulan dan sedang menjajaki pembangunan koloni di planet Mars. Commander Java Joe, ahli aeronautika berkebangsaan Indonesia memimpin misi ketiga pendaratan manusia di Mars yang dimotori oleh United Federation of Spaceforce, badan antariksa dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya dari Mars, Joe menemui Profesor Jones di Inggris. Profesor Jones adalah dosen Arkeologi di tempat Joe menuntut ilmu dahulu, dan saat itu Profesor Jones sedang meneliti beberapa prasasti dan manuskrip kuno dari Jawa. Dari artefak-artefak tersebut Profesor Jones menemukan simbol aneh yang ia ingat sama dengan simbol pada kalung yang selalu dipakai oleh Joe. Ketika Joe menyerahkan kalung itu dan menyatakan bahwa itu adalah kalung turun temurun, Profesor Jones langsung menyimpulkan bahwa Java Joe adalah keturunan dari Gandrung Wicaksana. Dan hanya Joe yang mampu membangkitkan kembali Rara Jonggrang yang hingga saat itu sedang tertidur sebagai patung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu Bandung Bandawasa mengerahkan kesaktiannya untuk membangun seribu candi dan kemudian mengubah Rara Jonggrang menjadi batu dengan memanfaatkan energi yang dipancarkan oleh Purnama Perak. Kini ratusan tahun kemudian, Purnama Perak akan terjadi lagi. Dan itulah saatnya untuk membangunkan Rara Jonggrang dari tidur panjangnya. Sebuah organisasi rahasia international telah menantikan saat-saat bangkitnya Rara Jonggrang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama bumi sedang terancam oleh sebuah fenomena alam yang bisa menghancurleburkan seluruh penghuninya. Gumpalan energi yang sangat besar, yang dinamai Pegasus, sedang dalam jalur yang akan segera menabrak bumi dan menyerap seluruh materi yang dikenainya. Kejadian ini dirahasiakan dari publik, karena diyakini tidak mungkin menyelamatkan bumi dari kehancuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasilkah Joe membangkitkan Rara Jonggrang sekaligus menyelamatkan bumi dari kehancuran total?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;REVIEW:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fiksi Ilmiah yang Meyakinkan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J.H. Setiawan adalah seorang penulis yang juga dosen dan wartawan, tak pelak lagi jika pengetahuannya sangatlah luas untuk bisa menyusun sebuah cerita fiksi ilmiah dengan bumbu sejarah Jawa seperti novel "Java Joe" ini. Satu hal yang paling mengagumkan dari novel ini adalah, uraian tentang teknologi dan ilmu di masa depan yang direka oleh J.H Setiawan sangat bagus dan meyakinkan. Tidak terasa seperti tempelan mengada-ada sebagaimana beberapa fiksi ilmiah lokal yang pernah diterbitkan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang beberapa teori jelas-jelas hanya rekaan pribadi, yang kalau mau ditelusuri sedikit lebih jauh secara ilmiah bakalan ketahuan bolong-bolongnya. Tetapi disini penulis bisa menampilkannya dengan cukup meyakinkan melalui sejumlah analisa dan contoh, yang juga rekaan, sehingga terkesan sebagai teori yang benar2 terjadi. Istilah-istilah teknis yang digunakan terasa pas penggunaannya (kecuali istilah "spaceghost" yang terdengar terlalu mistis untuk istilah ilmiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kehebatan dalam penuturan teknologi canggih itu kemudian menjadi canggung ketika dipertemukan dengan legenda dan mitos masa lalu dengan keberadaan manusia-manusia sakti yang ilmunya melebihi teknologi canggih dari masa depan. Seandainya penulis bisa mereka-reka sebuah teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana kesaktian itu bisa mewujud mungkin akan semakin memperkuat novel ini sebagai fiksi ilmiah tanpa campuran mitos dunia mistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan Cerita Kurang Mendalam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalinan kisah dan konfliknya lumayan seru. Ada banyak pihak dengan kekuatannya masing-masing sedang berebut kepentingan. Kejutan demi kejutan berkali-kali sanggup membelokkan alur cerita. Sayangnya penulis tidak memberi celah kepada pembaca untuk bisa terlibat lebih seru dengan menyajikan teka-teki dan petunjuknya yang bisa ditebak-tebak oleh pembaca. Pembaca hanya bisa diam menonton saja apa yang dihidangkan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis memiliki modal materi cerita yang sangat bagus untuk dibentuk menjadi sebuah kisah seru, namun pengerjaannya terasa terlalu terburu-buru. Tidak diberikan ruang yang cukup untuk pendalaman karakter tokoh-tokoh utamanya. Biografi Java Joe memang sudah dituturkan, tetapi karakternya tidak sempat diperdalam  untuk lebih mendekatkan pembaca kepada sang tokoh. Tiba-tiba Joe sudah terlibat konflik dan berlarian kesana kemari. Pendalaman setting juga sering kali hanya sedikit diberikan sambil lalu. Penulis lebih mementingkan action, action dan action.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kekecewaan-kekecewaan kecil itu ditutup dengan ending yang mementahkan keingintahuan pembaca. Bukan sekedar menggantung, tetapi membuat pembaca bertanya-tanya "Jadi sebenarnya apa yang ingin diceritakan kalau ternyata endingnya begini?". Ataukah mungkin akan ada sekuelnya yang menjelaskan hubungan semua kejadian di novel ini?... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, novel ini adalah salah satu novel lokal yang patut diacungi jempol dari sisi fiksi ilmiahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-752926107048494199?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/752926107048494199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=752926107048494199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/752926107048494199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/752926107048494199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/04/java-joe.html' title='Java Joe'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R_z-hxP3-iI/AAAAAAAAAM8/VFwEQrtVPaQ/s72-c/javajoe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2717260214059735359</id><published>2008-03-23T23:58:00.001+07:00</published><updated>2008-03-24T00:00:46.481+07:00</updated><title type='text'>The Spellman Files</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R-aMi-gp5YI/AAAAAAAAAM0/Ox1DT1FfsxA/s400/spellman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180982953859736962" /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Judul : The Spellman Files (Berkas-berkas Keluarga Spellman)&lt;br /&gt;Pengarang : Lisa Lutz (2007)&lt;br /&gt;Penerjemah : Berliani M Nugrahani&lt;br /&gt;Penerbit : Atria (Serambi)&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, Maret 2008, 550 hlm&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-1411-17-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ringkasan Cerita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isabel Spellman, biasa dipanggil Izzy, adalah seorang gadis berusia 28 tahun yang tinggal dan bekerja dengan orang tuanya. Bersama kedua orang tuanya, pamannya, juga Rae adiknya (yang berbeda usia belasan tahun) dan David kakaknya (yang akhirnya memilih menjadi pengacara) mereka mengelola perusahaan detektif swasta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Spellman menjadi sangat unik karena menerapkan kebiasaan mereka sebagai penyelidik dalam keseharian mereka di kehidupan berkeluarga. Dan tentu saja itu tidak membuat keluarga ini menjadi keluarga yang harmonis, tapi malah saling mencurigai dan bersaing satu sama lain. Mereka terbiasa saling menyelidiki bahkan saling menguntit, menyadap kamar, selalu mengadakan negosiasi layaknya berbisnis dalam urusan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi keadaan yang seperti itu, Izzy akhirnya banyak melakukan pemberontakan dengan melakukan kenakalan-kenakalan di lingkungannya. Sangat bertolak belakang dengan kakaknya yang berperilaku selayaknya seorang manusia sempurna yang tanpa cela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usianya yang sudah semakin dewasa ternyata keluarganya masih tidak memberi kebebasan kepada Izzy. Terutama ketika Izzy berpacaran dengan seorang dokter gigi bernama Daniel. Orang tua Izzy tidak menyukai profesi dokter gigi dan berusaha menggagalkan hubungan tersebut. Dipicu oleh kejadian itu, Izzy akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan keluarganya sebagai penyelidik swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak semudah itu Izzy bisa keluar dari perusahaan milik keluarganya sendiri. Ibunya memberi syarat, Izzy boleh keluar tapi harus menyelesaikan dulu satu kasus terakhir. Kasus hilangnya Andrew Snow yang tidak terpecahkan sejak duabelas tahun yang lalu menjadi kasus yang harus diselesaikan Izzy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Review :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kisah dari sebuah keluarga yang sangat unik, kalau tidak boleh dibilang kacau balau. Bagaimana tidak, ayah-ibu menguntit anaknya sendiri, adik memeras kakaknya, anak membuat negosiasi dengan orang tuanya, benar-benar seperti kehidupan keluarga yang tidak lagi berlandaskan kasih sayang tetapi malah masing-masing memperjuangkan kepentingan sendiri-sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dituturkan dengan bahasa yang ringan, terjemahannya juga enak dibaca, buku ini bisa menjadi bacaan hiburan untuk menengok apa yang terjadi pada sebuah keluarga yang semuanya adalah penyelidik swasta. Disana sini banyak dijelaskan tentang bagaimana detektif swasta melakukan penyelidikan terhadap obyeknya. Cukup menarik, meskipun kasus utamanya baru mulai diceritakan di paruh akhir buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter-karakter anggota keluarganya juga unik-unik. Izzy yang seharusnya sudah dewasa tetapi masih bergaya pemberontak abege belasan tahun. Rae adiknya yang sedang belajar menjadi penyelidik jagoan. David si sempurna yang awalnya sangat lurus dan akhirnya menjadi sangat kaku. Paman Ray yang tidak terlalu peduli lagi dengan hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berceritanya agak sedikit membingungkan. Berlompat-lompatan dari masa sekarang ke masa lalu, berlompat-lompat juga dari satu kasus ke kasus lagin. Interogasi Izzy oleh inspektur Stone atas kasus narkoba yang dipecah-pecah dalam beberapa bagian terpisah agak susah diikutin. Tapi setelah kisahnya mulai mengerucut pada satu kasus, jalan ceritanya menjadi lebih mudah diikuti.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2717260214059735359?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2717260214059735359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2717260214059735359' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2717260214059735359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2717260214059735359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/03/spellman-files.html' title='The Spellman Files'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R-aMi-gp5YI/AAAAAAAAAM0/Ox1DT1FfsxA/s72-c/spellman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2605022081923793252</id><published>2008-03-07T22:44:00.001+07:00</published><updated>2008-03-07T22:47:22.453+07:00</updated><title type='text'>Drunken Monster</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R9FjVlhpjGI/AAAAAAAAAMc/FNRK6fLSEMw/s400/drunkenmonster.jpg" border="0" alt="Drunken Monster, Pidi Baiq" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175026669327060066" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Drunken Monster&lt;br /&gt;Penulis : Pidi Baiq&lt;br /&gt;Penerbit : DAR! Mizan&lt;br /&gt;Edisi : Cetakan I, Januari 2008&lt;br /&gt;Tebal : 208 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-752-832-4&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pidi Baiq Who?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidi Baiq, nama yang asing, sama sekali asing. Belum pernah terdengar oleh telingaku sebelumnya dan tidak membangkitkan data apa pun di memoriku untuk dihubungkan dengan suatu latar belakang daerah, suku atau bangsa. Memang ada sedikit elemen yang mirip dengan namaku sendiri, tapi tetap saja asing buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya Pidi Baiq adalah mantan Dekan FSRD sebuah universitas di Bandung... hmm pastilah seorang yang serius dengan integritas tinggi. Kenyataan lain Pidi Baiq adalah seorang komikus, illustrator, penulis lagu dan cerpen... hmm pasti juga seorang seniman yang handal menguasai berbagai seni sekaligus. Dan juga Pidi Baiq pernah menjadi vokalis band The Panasdalam, grup band aneh yang sempat kondang dengan lagu fenomenal "Rintihan Kuntilanak"... hah? The Panasdalam yang itu? pasti orangnya ancur, gila, kacau, disoriented, konyol, acak adul!!... Jadi mana yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu seperti apa Pidi Baiq yang sebenarnya? Baca saja buku ini. Buku yang merupakan tulisan tentang kejadian sehari-hari yang dijalani oleh Pidi Baiq, diangkat dari jurnal nya di multiply (http://pidibaiq.multiply.com). Dijamin pembaca akan langsung memahami apa dan bagaimana Pidi Baiq, dengan kesimpulan akhir: Pidi Baiq gila. Titik :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Arena Permainan yang Kacau Balau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca satu persatu catatan hariannya, kita akan dibawa ke dalam suatu arena bermain kehidupan. Di mata Pidi Baiq semuanya jadi terkesan seperti sebuah permainan. Permainan yang bisa menggembirakan, bisa mengejutkan, bisa juga mengharukan, tapi semuanya adalah permainan yang selalu ada unsur fun yang menyenangkan untuk dinikmati. Dan namanya juga permainan, kadang tidak ada tujuan sama sekali selain melakukan sesuatu untuk bersenang-senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada arena permainan antara Pidi Baiq dan Rossi istrinya, yang kadang juga lengkap dengan kedua anaknya Timur dan Bebe. Ada arena permainan dimana Pidi berinteraksi dengan teman-temannya, tetangganya atau anak buahnya. Ada juga arena permainan antara Pidi dengan orang-orang yang sama sekali belum dia kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan belas cerita keseharian Pidi Baiq dirangkai dalam buku ini. Cerita yang terpisah satu sama lain. Dengan diselipi kartun-kartun buatan Pidi Baiq sendiri yang memang seorang kartunis. Gambar sampulnya juga merupakan gambar kartun buatannya sendiri. Meskipun terus terang aku tidak begitu suka dengan gaya kartunnya yang penuh dengan coretan-coretan abstrak. Gaya tulisannya sendiri juga rada abstrak, semau sendiri melanggar kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Itu semua benar-benar menggambarkan kegilaan dan kekacauan seorang Pidi Baiq :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking kacaunya, mungkin akan ada yang bertanya-tanya... ini bener-bener terjadi atau cuma khayalan iseng si penulis sih? masalahnya terlalu gila untuk bener-bener terjadi :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gila Tapi Dermawan, Jahil Tapi Serius&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca awalnya akan terheran-heran dengan lagak Pidi yang suka berpura-pura. Ini orang maksudnya apa sih, kacau balau nggak pernah bener, suka ngawur asal ngomong sama orang lain. Namun setelah mulai mengenal gayanya, pembaca akan bisa memahami kegilaan orang yang satu ini. Lalu mulailah tersenyum, terkikik sedikit, lalu tertawa terbahak-bahak membaca kegilaan Pidi Baiq ... Hingga tahap tertentu setelah membaca beberapa bab memang lama-lama keisengan Pidi terasa tipikal dan mudah ditebak, meskipun masih ada kejutan2 kecil yang bisa bikin tertawa kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau kita melihat sisi lain dari kegilaannya, bahwa dia ternyata sangat dermawan dan peduli dengan orang-orang kecil, bahwa dia sempat jadi dekan sebuah fakultas, bahwa dia sudah haji (ngaruh nggak sih?), maka ya... mungkin Pidi Baiq tidak segila itu. Mungkin ini hanyalah kisah2 dari potongan jalan hidupnya saat ada ide-ide usil dan jahil yang berlompatan dari dalam otak Pidi Baiq menuntut pelampiasan. Intinya.. ini kisah-kisah pas Pidi Baiq lagi 'kumat'. :D &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas membaca buku ini adalah sebuah pengalaman yang menyegarkan. Dengan sisipan berupa pelajaran tentang kehidupan yang disampaikan dalam sebuah gurauan kecil. Tapi kalau rasa humor anda rendah, sebaiknya jangan coba-coba membacanya, karena akan merasa kesal sendiri dengan kelakuan gila, jahil dan iseng Pidi yang kadang tidak rasional dan seenak sendiri. Pantaslah kalau buku ini diberi embel-embel "Kumpulan Kisah Tidak Teladan", serta endorsement "Ini buku yang Berbahaya!" :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayanglah waktu teman yang sering bertemu dengannya mengatakan bahwa Pidi Baiq itu lagak dan tampangnya serius banget, tapi omongan dan kelakuannya kacau-balau..... hahahahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2605022081923793252?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2605022081923793252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2605022081923793252' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2605022081923793252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2605022081923793252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/03/drunken-monster.html' title='Drunken Monster'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R9FjVlhpjGI/AAAAAAAAAMc/FNRK6fLSEMw/s72-c/drunkenmonster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-4455122517342149345</id><published>2008-03-01T10:58:00.004+07:00</published><updated>2008-03-01T11:09:23.461+07:00</updated><title type='text'>Susuk</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R8jUrnBlMiI/AAAAAAAAAMM/87HsPPaJm5Q/s400/susukcover.jpg" border="0" alt="Susuk, Amir Hafizi" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172618017710092834" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Susuk&lt;br /&gt;Penulis : Amir Hafizi&lt;br /&gt;Judul Asli : Susuk, The Evil Within (2007)&lt;br /&gt;Penerjemah : Anik Sumarni&lt;br /&gt;Penyunting : Gita Romadona&lt;br /&gt;Penerbit : Ramala Books (Ufuk Press), Februari 2008&lt;br /&gt;Tebal : 233 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 979-1238-65-6&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul yang singkat dan gambar sampulnya yang menarik perhatian menjadi pemikat pertama, meskipun penulisnya sama sekali belum aku kenal. Kutipan di sampul belakang yang hanya terdiri dari 5 kalimat pendek tentang susuk dan pantangannya, juga semakin membuat penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membuka plastik pembungkusnya, sebuah kejutan muncul. Sampul novel ini ternyata berupa lipatan. Sampul paling depan bergambar sepotong wajah cantik wanita muda. Namun bila lipatannya dibuka.... tampaklah sepotong wajah wanita tua dengan kerutan-kerutan yang sumpah mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan selanjutnya saat membuka-buka halaman judul adalah bahwa novel ini adalah terjemahan!. Dari judul dan nama pengarangnya aku pikir ini adalah karya lokal, karena judul "Susuk" adalah judul yang sangat Indonesia dan Amir Hafizi adalah nama yang sangat mungkin sebagai nama orang Indonesia. Namun ternyata novel ini adalah terjemahan dari novel adaptasi sebuah film buatan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RINGKASAN CERITA:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soraya adalah seorang gadis yang bekerja sebagai seorang perawat di sebuah rumah perawatan orang jompo. Ia memiliki bakat menyanyi, tapi sayang tidak memiliki kesempatan untuk menyalurkan bakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soraya sedang menghadapi banyak masalah, di tempat kerja ia sering menjadi sasaran kemarahan bos nya, hubungannya dengan Kamal juga sedang tidak harmonis, sementara ia juga ikut tertekan karena Sofia kakaknya sering mengalami penyiksaan oleh Farish suaminya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu saat Soraya mendapat kesempatan bertemu dengan penyanyi terkenal Rozana di belakang panggung suatu konser musik. Dengan pengalamannya sebagai perawat ia sempat menolong Mona, penyanyi tenar lain yang menjadi teman duet Rozana, yang tiba-tiba pingsan. Sejak itu Soraya berteman dengan Rozana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rozana akhirnya mengaku terus terang kepada Soraya bahwa keberhasilannya bukan murni hasil dari bakat dan kerja keras. Rozana memakai susuk yang secara gaib merubah penampilan dan suaranya sehingga memikat banyak orang. Rozana mengajak Soraya ke Bomoh Effendi, dukun yang membantunya memasang susuk. Soraya yang sedang ingin bisa menyelesaikan semua kekalutan hidupnya pun bimbang, antara tetap bertahan dengan kehidupannya yang penuh kesulitan atau mengikuti jejak Rozana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara paralel novel ini juga berkisah tentang Suzanna, seorang penyanyi wanita yang tengah menguasai khasanah musik Malaysia dalam lima tahun terakhir. Kecantikannya, kemolekannya dan keindahan suaranya membuat semua orang tersihir. Dan, ya, itu semua juga berkat susuk yang tertanam dalam tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang memasang susuk pada tubuhnya memiliki pantangan-pantangan besar yang tidak boleh dilanggar. Antara lain tidak boleh berjalan di bawah jemuran pakaian, dan tidak boleh menyeberangi aliran sungai pada siang hari. Jika ini dilanggar susuk yang terpasang malah akan memberikan efek yang sebaliknya. Penuaan dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suzanna telah terlambat menyadari saat ia melanggar salah satu pantangan. Dan satu-satunya cara untuk menolak efek penuaan cepat yang akan dihadapinya adalah ia harus segera mengambil kecantikan gadis lain...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;REVIEW&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada Dua Novel&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema "Susuk" sepanjang yang aku ketahui adalah sebuah tema yang jarang sekali diangkat, meskipun sebenarnya hal yang satu ini sudah menjadi pengetahuan orang banyak. Jadi ini adalah sebuah tema yang sangat menarik untuk diikuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini ternyata bukan satu-satunya novel yang diterbitkan untuk membarengi peluncuran film "Susuk" produksi Malaysia itu. "The Evil Within" yang ditulis oleh Amir Hafizi ini adalah novel adaptasi yang berisikan cerita sebagaimana yang dilakonkan dalam film. Dan satu buku lagi berjudul "Susuk" ditulis oleh Nizam Zakaria lebih bercerita tentang sejarah dan latar belakang susuk itu sendiri. Sayang, kenapa harus dipisahkan. Padahal jika bisa diramu dalam satu novel pastilah akan menjadi lebih menarik dan lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menarik Tapi Kurang Fokus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di dalam novel ini lumayan menarik seputar bagaimana Soraya terlibat semakin dalam di dunia 'susuk'. Lebih ke genre thriller daripada horror. Nyaris tidak menggunakan sosok hantu-hantuan, hanya ada beberapa kejadian gaib dan orang-orang berkemampuan mistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal pembaca akan sedikit kewalahan dengan banyaknya tokoh yang muncul, dan tidak jelas mana yang menjadi tokoh utamanya. Akan sedikit membingungkan menghubungkan satu tokoh dengan tokoh yang lain di bab berikutnya. Apalagi ternyata dalam cerita ini ada 2 buah plot cerita dengan tokoh berbeda yang dituturkan secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak disayangkan bahwa cerita ini tidak fokus sepenuhnya ke seputar susuk. Ada konflik yang agak 'kemana-mana' keluar dari konteks. Masalah keluarga kakak Soraya yang lumayan mendominasi beberapa bagian cerita ternyata tidak berhubungan sama sekali dengan judul besar novel ini. Ada juga beberapa konflik kecil lain yang ternyata juga tidak memberikan sumbangan apa-apa terhadap jalan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelemahan Novel Adaptasi Film&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kelemahan yang sering muncul di sebuah novel yang merupakan adaptasi dari film adalah kurangnya kedalaman cerita. Mungkin karena faktor bahwa penulis novelnya harus setia mengikuti skenario film yang telah dibuat sebelumnya oleh orang lain, yang tentunya akan membatasi pengembangan ide dari si penulis novel. Hal itu juga yang terjadi di novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan cerita di novel ini sedikit dangkal dan tidak banyak memberikan gambaran yang lebih dalam. Antara lain misalnya, karakter Soraya sang tokoh utama belum tergali secara mendalam. Pendirian dan prinsip hidupnya tidak terjelaskan dengan lengkap. Cerita tentang apa itu susuk, bagaimana dan mengapa juga tidak diberikan di novel ini. Memang katanya ada buku pendamping yang dirilis bersamaan yang banyak bercerita lebih detail tentang itu. Tapi mestinya paling nggak ada sedikit penjelasan lah dalam novel ini agar lebih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu masalah lagi adalah pemakaian nama Suzanna sebagai salah satu tokoh utama agak sedikit membingungkan. Nama "Suzanna" dengan dobel "n" sudah identik dengan Ratu Film Horror Indonesia. Jadi ketika tokoh Suzanna di novel ini digambarkan sebagai wanita muda yang cantik, agak susah membayangkannya. Yang muncul selalu wajah Suzanna yang ada di poster film "Hantu Ambulance" :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kejutan Lagi!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, ending nya sangatlah mengejutkan! Bukan sebuah pelintiran cerita yang di luar dugaan, tapi sesuatu yang sudah disusun dari awal tapi kita tidak menyadarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terakhir dari novel ini akan memutarbalikkan semua persepsi pembaca yang terbangun dari awal cerita. Kepingan-kepingan cerita yang tadinya telah disusun pembaca dengan rapi akhirnya harus dibongkar total dan ditata ulang begitu halaman terakhir ditutup. Anda akan dipaksa bengong sejenak karena kejutan ini, karena semua cerita harus diingat-ingat dan disusun kembali untuk membuat bangunan cerita yang seharusnya. Bahkan mungkin anda akan segera membaca ulang dari depan :D Sebaiknya tidak perlu menebak-nebak bagaimana ending novel ini, agar tidak kehilangan efek kejutannya ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang novel yang penuh kejutan menarik. Dari sampulnya hingga kisahnya lalu endingnya. Seandainya digarap dengan lebih detail dan membuang hal-hal yang tidak perlu pasti akan semakin bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://images.pengumpulbuku.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R8LzeAoKCDUAACk31uU1/susuk.gif?et=RlBNp9q2Li1OQiXZ33U%2CaA&amp;nmid=" border="0" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-4455122517342149345?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/4455122517342149345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=4455122517342149345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4455122517342149345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4455122517342149345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/03/susuk.html' title='Susuk'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R8jUrnBlMiI/AAAAAAAAAMM/87HsPPaJm5Q/s72-c/susukcover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-8571495809474156857</id><published>2008-02-26T08:46:00.002+07:00</published><updated>2008-02-26T08:49:48.328+07:00</updated><title type='text'>Sang Raja Jin</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R8Nv61DcHcI/AAAAAAAAAME/1372rM4Gomk/s400/sangrajajin.jpg" border="0" alt="Sang Raja Jin, Irving Karchmar"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171099853616061890" /&gt;&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;strong&gt;Judul : Sang Raja Jin&lt;br /&gt;Penulis : Irving Karchmar&lt;br /&gt;Judul Asli : Master of the Jinn : A Sufi Novel (2004)&lt;br /&gt;Penerjemah : Tri Wibowo BS&lt;br /&gt;Penerbit : Kayla Pustaka, Februari 2008&lt;br /&gt;Tebal : 292 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-145-005-8&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam promosinya dikatakan kalau novel ini menghadirkan karakter penulisan dari sekaligus 2 penulis internasional yang sudah sangat tersohor dalam genrenya masing-masing. Paulo Coelho dan Dan Brown. Wow!. Aku lumayan menggemari kedua penulis itu, meskipun tidak semua karyanya aku suka. Apalagi novel ini menyebut-nyebut tentang Nabi Sulaiman yang kabarnya juga bakal menjadi topik utama di novel karya Dan Brown yang kelima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RINGKASAN CERITANYA:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishaq awalnya adalah seorang mahasiswa filsafat yang sangat mengandalkan intelektual dan rasio. Namun kemudian rasa penasaran membawanya menjadi seorang darwis dari sebuah tareqat sufi yang dipimpin Syekh Amir Al-Haadi. Memang ia masih banyak bertanya-tanya dan belum sepenuhnya menjadi seorang darwis yang patuh kepada Syekh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam pada saat para darwis berkumpul di rumah Syekh datang 3 orang tamu. Professor Solomon Freeman, anak gadisnya Rebecca, dan Kapten Aaron Simach. Profesor Solomon adalah ahli purbakala pernah menjadi murid Syekh saat masih mengajar di Oxford.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor mendatangi rumah Syekh untuk memperlihatkan artefak yang ditemukan Kapten Aaron di gua gurun dalam genggaman kerangka manusia. Sebuah silinder yang terbuat dari emas, dan gading, serta dihiasi berlian. Di dalamnya terdapat papirus kuno yang masih utuh. Berdasarkan penyelidikannya benda itu diperkirakan sebagai milik Nabi Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan dan memecahkan semua teka-teki, Syekh menyarankan ketiga tamunya kembali ke tempat dimana benda itu ditemukan. Ia juga menyuruh tiga orang darwisnya, Ishaq, Rami dan Ali untuk ikut dalam perjalanan itu. Dan mereka berenam akan dipandu oleh seorang faqir teman Syekh yang bagi Ishaq tindak-tanduknya sangat aneh. Tujuan mereka adalah menemukan Cincin Nabi Sulaiman. Cincin emas kecil yang dihiasi batu berukir. Dengan cincin itu alam semesta, manusia hingga jin dan setan tunduk kepada pemakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan berat ke gurun itu mereka lalui dengan banyak kemudahan, meskipun Ishaq tetap tidak mengerti dengan tindakan-tindakan sang Faqir pemandunya. Namun sampai di gurun tujuan mereka disambut badai pasir yang dahsyat. Ajaibnya mereka semua selamat dan menemukan diri mereka berada di sebuah reruntuhan kota tua. Karena kecerobohan, mereka membuka sebuah pintu ke dunia dari dimensi lain. Dunia para Jin. Dan mereka harus berhadapan langsung dengan Baalzeboul. Sang Raja Jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;REVIEW:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Antara Thriller, Fantasi, atau Religius&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ringkasan ceritanya mungkin terkesan ini adalah sebuah novel thriller fantasi, karena melibatkan Jin dan dunianya. Ada yang membandingkan dengan karya Dan Brown, karena melibatkan artefak kuno dan cerita sejarah masa lalu. Ada juga menyejajarkan dengan karya Paulo Coelho, karena sisipan-sisipan pencerahan religius dan juga adanya interaksi dengan jin. Bagian yang menjabarkan dahsyatnya badai pasir di gurun juga akan mengingatkan pembaca pada The Alchemist-nya Coelho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurutku novel ini sebenarnya adalah sebuah dongeng Sufi dalam kemasan thriller-fantasi. Di dalamnya kental sekali nuansa kesufian dari istilah-istilahnya hingga perilaku para tokohnya. Pembaca yang tidak mengenal dunia sufi mungkin akan sedikit kehilangan jejak karena tidak banyak penjelasan detil seputar dunia tersebut. Apa itu darwis, hubungan darwis dengan Syekh-nya, proses baiat, mengapa tokoh2nya begitu mudah menangis dan apa itu Jalan Cinta yang menjadi dunia para sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dongeng Sufi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah dongeng Sufi, maka sah-sah saja jika memasuki dunia fantasi. Karena kisah2 para Sufi memang seringkali bersinggungan dengan dunia yang tidak kasat mata tersebut. Dunia mistisisme. Hanya saja karena dikemas dalam sebuah kisah layaknya sebuah kisah thriller dengan segala petunjuk dan teka-tekinya, aku kadang agak bingung memposisikan diri. Untuk sebuah kisah thriller aku membutuhkan logika cerita dan deskripsi detail seputar semua petunjuk dan teka-teki, yang ternyata di novel ini tidak diberikan dengan lengkap. Namun kalau aku menganggapnya sebagai novel sufi biasa dimana cukup aku terima saja cerita dan pencerahannya tanpa banyak bertanya, ada banyak teka-teki yang diberikan yang bikin bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kenapa aku menganggapnya sebagai 'dongeng', karena di dalamnya adalah penuturan sebuah kisah yang sedemikian besarnya dengan membawa-bawa Cincin Nabi Sulaiman, sebuah kejadian yang menentukan masa depan dan nasib semua makhluk dari dunia Jin. Sebuah dunia yang tak tersentuh bagi manusia, tapi sang penulis dengan berani mencoba menentukan masa depan dunia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Melompat-lompat dan Kurang Penjelasan Detail&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot ceritanya yang maju mundur ke masa lalu masing-masing tokoh utamanya sedikit membingungkan karena pembagian bab satu dan lainnya yang kurang kontras. Setelah selesai membaca novel ini pembaca mungkin akan ingin membolak-balik lagi halaman awal untuk menemukan penjelasan yang tadinya tidak diketahui hubungannya dengan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan deskripsinya lumayan detail pada beberapa bagian. Terutama pada bagian-bagian yang berhubungan dengan dunia sufi. Namun sayangnya pada beberapa bagian penting lainnya malah tidak ada penjelasan detail. Tiba-tiba saja melompat ke kejadian lain tanpa tahu hubungan sebab akibatnya. Aku juga banyak bertanya-tanya tentang logika dari beberapa kejadian yang dibangun penulis. Seperti misalnya jika Syekh sudah tahu bahwa dialah yang bisa menyelesaikan masalah, kenapa tidak dari awal dia ikut dengan rombongan? Juga begitu sajakah perlawanan Baalzeboul Sang Raja Jin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pesan Pencerahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah novel sufi, novel ini cukup banyak membawa pesan-pesan pencerahan yang menggetarkan hati. Tentunya itu bagi yang bisa menangkap dan menerima isi pesan-pesan tersebut, mereka yang memahami dunia Sufi. Berikut satu kutipan dari novel ini yang sempat membuatku merenung dalam-dalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Manusia-manusia yang menjauh dari-Nya itu terombang-ambing antara kesenangan, harapan, dan putus asa. Tapi mereka yang tetap bertahan, yakni sepersepuluh dari sepersepuluh dari sepersepuluh yang tersisa, adalah manusia-manusia Pilihan. Mereka tidak menginginkan dunia, tidak mengejar surga, dan tidak melarikan diri dari derita. Hanya Allah semata yang mereka inginkan, dan walaupun mereka menerima penderitaan dan cobaan yang bisa membuat gunung-gunung gemetar ketakutan, mereka tidak meninggalkan cinta dan kepasrahan kepada-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang sejati, pencinta Allah yang sesungguhnya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...... &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-8571495809474156857?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/8571495809474156857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=8571495809474156857' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8571495809474156857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/8571495809474156857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/02/sang-raja-jin.html' title='Sang Raja Jin'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R8Nv61DcHcI/AAAAAAAAAME/1372rM4Gomk/s72-c/sangrajajin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6348354621686274014</id><published>2008-02-17T21:25:00.004+07:00</published><updated>2008-02-17T21:56:08.113+07:00</updated><title type='text'>Kafka on The Shore</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R7hEJ1DcHbI/AAAAAAAAAL8/I4oFLHe42UE/s400/kafka.jpg" border="0" alt="Kafka on The Shore" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : Kafka on the Shore&lt;br /&gt;Penulis : Haruki Murakami (2005)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah : Th Dewi Wulansari, Editor : A. Fathoni&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Alvabet, Januari 2008&lt;br /&gt;Halaman : 608 hlm, 12.5 x 20 cm&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-3064-58-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama denger tentang novel yang satu ini, lengkap dengan segala pujian yang katanya novel seru dan asik untuk dibaca meskipun rada absurd. Terpengaruh dengan komen bahwa novel ini rada absurd, lalu ditambah pula dengan kata 'kafka' yang mengingatkan kepada penulis jerman yang karya2nya tidak mudah dicerna, jadilah aku tidak pernah tertarik untuk membaca apalagi membeli versi yang berbahasa inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel karya Haruki Murakami yang pertama diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah "Norwegian Wood". Aku sudah punya tapi baru terbaca beberapa halaman dan tidak dilanjutkan :D Lalu muncullah terjemahan "Kafka on the Shore" ini. Karena aku sedang bosan dengan novel2 bertema penderitaan wanita yang sedang merajai pasaran dengan gambar sampul yang seragam, maka aku ambil novel ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ringkasan Cerita :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang Kafka Tamura&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak laki-laki yang mengaku bernama Kafka Tamura melarikan diri dari rumahnya tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-limabelas. Ia sudah tidak sejalan lagi dengan ayahnya, sementara ibu kandung dan kakak perempuannya telah pergi entah kemana saat ia baru berusia empat tahun. Ditemani seorang bocah bernama Gagak yang menjadi suara hatinya, iapun nekat minggat mencari jalan hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pergi ke kota kecil bernama Takamatsu. Disana ia menemukan sebuah perpustakaan milik keluarga Komura yang ditata dengan apik dimana ia bisa menghabiskan waktu-waktu kosongnya dalam pelarian. Di perpustakaan itu ia menjadi akrab dengan penjaganya yang bernama Oshima yang banyak sekali membantu dalam segala hal. Ia kemudian juga berkenalan dengan pengelola perpustakaan itu yang bernama Nona Saeki. Perkenalannya dengan Nona Saeki inilah yang membawa Kafka mengetahui adanya lagu dan lukisan berjudul "Kafka on the Shore" milik Nona Saeki, dan akhirnya terseret dalam misterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada 2 cerita paralel yang diselipkan di antara bab2 yang bercerita tentang Kafka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang Kejadian di Bukit tahun 1946&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisipan pertama adalah salinan dokumen2 milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang akhirnya diumumkan kepada publik pada tahun 1986 atas nama kebebasan informasi. Dokumen2 itu merupakan transkrip wawancara seputar kejadian pada tahun 1946 di sebuah bukit kecil di Yamanashi. Pada masa setelah perang itu seorang ibu guru mengajak murid2 kelas satu SD setempat untuk berjalan-jalan ke sebuah bukit. Di tengah perjalanan ia melihat sebuah benda aneh di angkasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada saat berada di bukit, peristiwa aneh lain terjadi. Semua anak-anak tiba2 pingsan tanpa pertanda apapun. Dan ketika ibu guru memanggil bantuan, semua anak itu sudah bangun tanpa mengingat sedikitpun tentang apa yang terjadi saat mereka pingsan. Kecuali satu orang anak yang tidak juga siuman. Anak itu dibawa ke rumah sakit di kota dan tak pernah terdengar lagi kabarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang Pria Tua Nakata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita paralel lain berkisah tentang seorang pria tua yang tinggal di daerah Nakano, Tokyo. Pria bernama Nakata itu tidak mampu membaca dan sedikit bodoh. Namun ia memiliki kemampuan aneh, ia bisa bercakap-cakap dengan kucing. Ia hidup sendiri dengan mengandalkan subsidi kota untuk orang-orang terbelakang. Sesekali ia diminta tolong orang untuk mencari kucing yang hilang dan mendapatkan uang tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu saat Nakata diminta mencari Goma seekor kucing torti berumur satu tahun. Berbekal kemampuannya berbicara dengan kucing, Nakata berkeliling di lingkungannya mencari Goma. Nakata berkenalan dengan berbagai jenis kucing, dan setiap kucing ia beri nama. Otsuka, Kawamura, Mimi, adalah nama2 yang ia berikan kepada teman2 kucingnya. Hingga akhirnya suatu kejadian mengharuskan Nakata pergi dari Nakano untuk menyelesaikan sebuah urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga cerita itu akhirnya bertemu pada satu jalur membentuk satu bangunan cerita surealis yang hingga halaman terakhir tetap menyisakan banyak pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Review :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kisah Surealis yang Ditulis Secara Ringan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena belum pernah membaca karya Haruki Murakami yang lain, aku tidak punya perbandingan mengenai gaya bercerita Murakami. Sementara novel "Kafka on The Shore" yang dibilang sebagai salah satu 'masterpiece'nya ini adalah sebuah novel surealis yang memadukan cerita realis dengan fantasi yang tidak terjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun jalan ceritanya berada pada jalur surealis namun cara Murakami bercerita tidaklah 'njelimet'. Ringan seperti sebuah novel realis biasa. Narasi dan dialognya ringan enak diikuti. Menjadi surealis ketika ia memadukannya dengan berbagai kejadian aneh yang tidak realistis. Kejadian yang tanpa penjelasan sebab-akibat dan pembaca diminta mereka-reka sendiri apa yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal belum tertebak bahwa ini adalah sebuah kisah surealis, kecuali bagian kisah tentang Nakata yang bisa dimaklumi karena diambil dari sudut pandang seorang yang agak terbelakang. Keanehan mulai terasa saat mulai hadir tokoh2 aneh seperti Johnnie Walker, hantu gadis berbaju biru, dan puncak keanehan adalah hadirnya Kolonel Sanders icon KFC :D Sebagaimana kisah surealis, semua itu harus ditelan mentah-mentah tanpa bisa dipertanyakan. Nikmati saja .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karakter Kesepian dan Adegan Dewasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh2nya digambarkan dengan karakter masing2 yang cukup kuat. Nakata yang bodoh, Kafka yang berusaha tegar, Nona Saeki yang agak rapuh. Namun pada satu titik ada saat dimana para tokoh itu menjadi karakter yang nyaris sama yang mampu berbicara serius panjang lebar tentang suatu hal. Termasuk Nakata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diteliti lagi ternyata ada satu garis merah tebal yang menjadi tipikal dari tokoh2 utama di novel ini. Kafka, Nakata, Oshima, Nona Saeki, Sakura, mereka semua orang-orang kesepian yang melarikan diri dalam kehidupannya dan sedang berusaha mandiri sembari membangun kehidupan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditekankan dan diperingatkan bahwa novel ini adalah &lt;strong&gt;novel dewasa&lt;/strong&gt;. Selain ceritanya yang njelimet berliku-liku tidak mudah menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya, novel ini juga penuh adegan yang tidak untuk anak di bawah umur. Ada banyak adegan erotis yang dituturkan secara gamblang, bahkan salah satunya adalah adegan yang secara budaya manapun adalah hubungan yang 'tidak patut'. Kemudian ada pula adegan2 sadis berdarah-darah yang bisa membikin mual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seputar Versi Indonesianya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemahannya enak diikuti dan rapi. Beberapa teman ada yang meragukan novel ini akan bisa diterjemahkan dengan baik. Aku tidak tahu bagaimana gaya bahasa dari novel versi aslinya. Yang jelas terjemahan ini bisa diikuti dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat ingin aku protes kepada penerbit terjemahan ini adalah... (lagi dan lagi) masalah &lt;strong&gt;subjudulnya&lt;/strong&gt;. Inisiatif sendiri dari penerbit untuk menambahkan sub judul yang sama sekali tidak ada di versi bahasa inggris (entah kalau di versi jepang) adalah inisiatif yang terlalu kreatif dan mematikan imajinasi pembaca. Subjudul "Labirin Asmara Ibu dan Anak", yang tertulis sangat besar di tengah sampul untuk ukuran subjudul, adalah sebuah spoiler berat yang diputuskan sendiri oleh penerbit. Yang semakin diperkuat lagi dengan sinopsis yang menyebutkan tentang Oedipus di sampul belakang. Dalam kisahnya sendiri pernyataan itu masih berupa teori yang belum dibuktikan, dan peristiwa seputar hal itu baru terbangun setelah lewat separuh cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, lupakan saja tentang sampul novel terjemahan ini yang gambar sampulnya sendiri juga tidak cukup mengesankan. Yang pasti membaca cerita yang ada di novel ini adalah sebuah pengalaman membaca yang mengasyikkan. Tapi tentunya bagi anda yang bisa menikmatinya tanpa perlu bertanya terlalu banyak. Sebuah kisah yang lengkap! Bisa membuat anda hanyut penasaran akan misterinya, membuat anda pusing dengan lika liku imajinasi surealisnya, membuat anda mual dengan adegan sadisnya, hingga membuat anda panas dingin mengikuti bagian2 erotisnya... :D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6348354621686274014?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6348354621686274014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6348354621686274014' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6348354621686274014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6348354621686274014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/02/kafka-on-shore.html' title='Kafka on The Shore'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R7hEJ1DcHbI/AAAAAAAAAL8/I4oFLHe42UE/s72-c/kafka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-1274687050574333773</id><published>2008-02-09T01:15:00.002+07:00</published><updated>2008-02-17T10:00:59.050+07:00</updated><title type='text'>Trust</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R7con1DcHaI/AAAAAAAAAL0/U0cnW9iu760/s400/trust.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167643762152447394" border="0" /&gt;&lt;strong&gt;Judul : TRUST&lt;br /&gt;Penulis : Charles Epping&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penerbit Asli : Greenleaf Bookgroup, Austin, 2006&lt;br /&gt;Penerjemah : Vitri Mayastuti&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta, Januari 2008&lt;br /&gt;Halaman : 526 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-1112-87-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RINGKASAN CERITA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan Prolog yang bersetting perang dunia I tahun 1938, saat pasukan Nazi mulai menyerang dan menguasai Rumania. Aladàr Kohen, seorang keturunan Yahudi, mengambil resiko pergi ke Zurich, Swiss, di antara kecamuk perang dengan tujuan menitipkan hartanya ke Helvetia Bank Zurich. Bank-bank di Swiss terkenal sangat bisa dipercaya untuk menyimpan harta nasabahnya tanpa bisa diutak-atik oleh pihak manapun. Aladàr dengan bantuan bankir bernama Rudolph Tobler akhirnya menyimpan sebagian besar kekayaan keluarganya dalam sebuah &lt;i&gt;rekening perwalian&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita kemudian melompat ke kerangka waktu saat ini. Alex Payton, wanita ahli komputer lulusan Amerika yang bekerja sebagai konsultan IT, menemukan sebuah data berkode aneh di jaringan komputer Helvetia Bank Zurich. Kode perintah atas nama Rudolph Tobler itu membuat Alex dan rekannya Eric Andersen penasaran. Ketika atasannya menerima laporan tentang kode tersebut, atasannya langsung men-delete data tersebut tanpa penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Alex dan Eric tetap penasaran apa maksud kode tersebut. Berbekal nama Rudolph Tobler mereka bertaruh akan bisa menemukan pemilik rekening tersebut, meskipun sebenarnya kantor mereka memiliki aturan bahwa mereka tidak diperkenankan menghubungi nasabah. Permainan itu akhirnya mempertemukan Alex dengan Ruedi Tobler anak dari Rudolph Tobler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruedi adalah orang yang tak pernah menyerah dan selalu ingin mendapatkan apa yang ia mau. Dari data yang dimiliki Alex, Ruedi baru mengetahui bahwa ayahnya memiliki sebuah rekening perwalian yang menyimpan harta dari suatu keluarga Yahudi. Ruedi pun mengklaim rekening tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang terjadi malah rekening tersebut dibekukan oleh pihak bank karena diketahui sebagai rekening perwalian. Pembekuan dilakukan sampai pemilik asli rekening tersebut atau keluarganya ditemukan. Ruedi dibantu oleh Alex memutuskan mencari keluarga pemilik rekening tersebut. Masalah menjadi semakin runyam ketika mereka menemukan bahwa ada sekelompok mafia pencucian uang yang berkepentingan dengan rekening tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex pun harus menyelidiki keberadaan keluarga Kohen, dari Swiss, Budapest, New York, hingga Rio de Janeiro dan Sao Paolo di Brazil yang semuanya ia kitari hanya dalam waktu seminggu. Sembari bertaruh nyawa karena ia juga berhadapan dengan mafia international.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KOMENTAR :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charles Epping adalah seorang bankir profesional yang bertahun-tahun bekerja dalam lingkungan perbankan Swiss. Tentu saja ia mengetahui segala seluk beluk perbankan Swiss dengan aturan-aturan istimewanya yang sangat melindungi nasabah. Sedemikian sangat melindungi nasabah hingga banyak penjahat bermodal besar atau negarawan korup memanfaatkan kerahasiaan itu untuk menyimpan hartanya agar aman dari pelacakan. Berbekal pengetahuan tersebut, Charles Epping menulis novel ini. Hasilnya pastilah sangat detil dan lengkap dalam hal penjelasan urusan perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang awam dalam hal istilah dan prosedur perbankan mungkin akan sedikit bingung dengan penjelasan teknis seputar prosedur dalam bank. Namun masih bisalah ditangkap intinya. Beberapa hal lain seperti pengelolaan dana nasabah hingga pencucian uang juga menjadi isu penting yang menimbulkan konflik dalam kisah ini. Banyak menambah wawasan seputar perbankan bagi mereka yang mau membacanya hingga mendetil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai novel debutan dari Charles Epping, bisa dikatakan novel bergenre thriller ini cukup berhasil dan cukup memikat. Jalinan ceritanya menarik, karakternya cukup kuat, datanya lengkap. Ketegangan yang diciptakannya mampu membuat pembaca tak bisa berhenti membaca dan penasaran untuk terus membuka halaman berikutnya. Meskipun sempat terasa terlalu bertele-tele pada saat pencarian keluarga Kohen dan beberapa konfliknya agak terlalu dibuat-buat demi agar ceritanya seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dengan cukup baik, namun tetap saja orang yang awam dengan perbankan dan dunia keuangan harus meraba-raba saat ada penjelasan detail seputar hal itu. Hanya sedikit ada ganjalan dengan gambar sampulnya. Gambar kepala George Washington di mata uang Dollar Amerika memberi kesan awal bahwa ini adalah cerita tentang Amerika, yang ternyata adalah kesan yang salah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penjelasan detil tentang dunia perbankan yang sangat menarik karena dipaparkan dalam sebuah novel thriller yang mengasyikkan. Hanya saja ketika selesai membaca buku ini entah kenapa tidak ada kesan mendalam yang memorable untuk dibahas lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-1274687050574333773?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/1274687050574333773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=1274687050574333773' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1274687050574333773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1274687050574333773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/02/trust.html' title='Trust'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R7con1DcHaI/AAAAAAAAAL0/U0cnW9iu760/s72-c/trust.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-297320339039128305</id><published>2008-01-07T07:22:00.000+07:00</published><updated>2008-01-07T07:26:15.077+07:00</updated><title type='text'>The Kite Runner (the movie)</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R4FwcrvAcCI/AAAAAAAAAKk/Jke5QBmcVQA/s400/posterkiterunner-s.jpg" border="0" alt="Kite Runner, Movie" /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemeran&lt;/span&gt; : Khalid Abdalla (Amir dewasa), Atossa Leoni (Soraya), Shaun Toub (Rahim Kahn), Zekeria Ebrahimi (Amir anak2), Ahmad Khan Mahmidzada (Hassan anak2)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sutradara&lt;/span&gt; : Marc Forster&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Durasi&lt;/span&gt; : 2 jam 2 min.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Distributor&lt;/span&gt;: Paramount Vantage&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggal Rilis&lt;/span&gt;: 14 Desember 2007 (US), Februari 2008 (Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelnya karya Khaled Hosseini yang sudah terbit sejak tahun 2003 sempat menjadi sebuah fenomena yang dibicarakan oleh banyak pecinta buku di dunia. Dipuji banyak kritikus dan menjadi International best seller. Nyaris semua pembacanya mengaku terhanyut, mengharu biru, bahkan hingga berkali-kali meneteskan air mata mengikuti cerita novel tersebut. Bukan karena kisahnya cengeng merengek-rengek, tapi justru karena ketegaran tokoh2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nggak Berharap Banyak untuk Film Adaptasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton filmnya, seperti biasa menonton film adaptasi dari novel, awalnya nggak berani berharap banyak. Pasti banyak yang akan dikorbankan karena durasi. Nggak mungkin novel sekian ratus halaman akan utuh diterjemahkan dalam film yang maksimal 2 setengah jam sebelum penonton menjadi bosan. Dan juga visualisasi yang sudah terekam di otak waktu membaca novelnya, biasanya akan kacau balau ketika harus dicocokkan dengan visualisasi yang diciptakan sutradara film, karena selalu jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film ini, setting kota Kabul ternyata jauh lebih kering dan gersang daripada visualisasi khayalanku waktu baca novelnya. Juga jauh lebih padat pemukimannya. Rumah Amir juga tidak semewah yang aku bayangkan. Ataukah... aku yang berlebihan bikin imajinasi ya?.. haha.. :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Masa Kanak-kanaknya Mengharukan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelakon Amir anak anak (Zekeria Ebrahimi) dan Hassan (Ahmad Khan Mahmidzada) sangat menjiwai sekali perannya masing-masing. Terutama Hassan. Dia berhasil sekali menampilkan karakter seorang anak pelayan yang patuh dan sepenuhnya mengabdi kapada tuannya tanpa mengeluh. Hassan yang tampak selalu antusias melakukan setiap pekerjaannya justru lebih adorable daripada Amir yang lebih sering murung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang Amir harus menampilkan karakter seperti itu. Meskipun hidup berkecukupan dan jauh lebih beruntung daripada Hassan yang hanya anak pelayan, Amir merasakan beban yang lebih berat. Dan pemerannya mampu memperlihatkan beban itu. Dia tampak menjaga jarak dari semua orang untuk menyembunyikan bebannya, bahkan kepada Hassan yang rela mengabdi total kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi antara Amir dan Hassan menjadi bagian yang sangat menarik di film ini. Saat Hassan mengejar layang-layang yang berhasil dikalahkan oleh Amir, saat Hassan berkata ia rela memakan tanah kalau Amir menyuruhnya, saat Amir mengukir di batang pohon "Amir dan Hassan, Sultan-sultan Kabul", saat Hassan dengan antusias mendengarkan Amir mendongeng "Roustam and Sohrab" untuknya... semuanya sangat menyentuh meskipun diceritakan hanya secara singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bagian yang paling keren dan menyenangkan untuk dilihat adalah visualisasi pertarungan layang-layang. Layang-layang benar2 dimainkan dalam sebuah pertarungan, meluncur berkejar-kejaran, membuat manuver gerakan untuk menjebak lawan, kemudian saling membelit benang, berputar-putar, kemudian... "slinnggg!!" .. benang dari salah satu layang-layang berhasil diputuskan lawannya... Selain ditampilkan dari pandangan darat, yang lebih seru adalah saat kamera seolah berada di belakang atau di atas layang-layang, mengikuti gerakan layang-layang saat meluncur di udara dengan sayapnya yang berkelepak-kelepak menahan dorongan angin. Keren... hidup banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik yang paling menyesakkan dada, saat Hassan mengorbankan dirinya untuk Amir, aku nggak bisa berkata-kata. Tapi aku juga nggak terlalu terharu biru menonton bagian ini. Entah mungkin sudah mengantisipasinya karena udah baca novelnya, atau kah karena memang digarap tanpa terlalu banyak didramatisir. Mungkin juga keharuan itu jadi kacau karena bercampur dengan perasaan kesal terhadap sikap Amir yang pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Datar di Bagian Pertengahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana novelnya, setelah kejadian tersebut cerita berubah arah menjadi agak menjengkelkan karena Amir berubah memusuhi Hassan. Ketika Amir dan Baba berimigrasi ke Amerika, cerita menjadi kering tanpa gejolak berarti. Baguslah penulis skenarionya tidak berpanjang2 pada bagian ini, sekedar agar kisah kehidupan Amir tidak melompat tiba-tiba. Cerita kembali bernyawa saat Amir kembali ke Kabul yang sudah luluh lantak untuk menebus dosanya kepada Hassan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeran Amir dewasa (Khalid Abdalla) tidak jelek mainnya, tapi juga tidak terlalu istimewa. Wajahnya kurang berekspresi menurutku, dengan wajah canggung sebagai ekspresi default :p. Harusnya dia diberi kesempatan untuk lebih emosional waktu dia tahu ayahnya telah membohonginya sepanjang hidup. Tapi di ending film saat bermain layang-layang bersama Sohrab, ia berhasil menghidupkan karakter Amir dan menyentuh hati penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bikin Berkaca kaca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis? ahh... berkaca-kaca cukuplah :p&lt;br /&gt;Beberapa bagian yang paling menyentuh buatku adalah adegan-adegan berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Saat Hassan tidak membalas Amir tapi malah memukul kepalanya sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saat Amir membaca surat Hassan yang dititipkan pada Rahim Khan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saat Amir melakukan sholat di masjid (ini keren banget visual dan soundtrack nya)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saat Amir dengan antusias mengajari Sohrab bermain layang-layang sambil  mengenang cara bermain Hassan (... errr... yang ini sih akhirnya pertahananku jebol.. hihihi :p )&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Award untuk Kite Runner&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku setuju dengan juri Golden Globe yang selain menominasikan film ini sebagai film berbahasa asing terbaik (ya, film ini tidak seperti novel aslinya yang berbahasa Inggris, film ini menggunakan bahasa asli Afghanistan sebagai bahasa penutur utamanya makanya dia masuk katagori film berbahasa asing meskipun bikinan Hollywood), juga memasukan film ini dalam nominasi Best Original Score, alias tata musik terbaik. Malah di Satellite Award, ajang awarding film dari para jurnalis se Amerika, film ini sudah memenangkan katagori tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik pembukanya yang mengiringi pemunculan judul dan credit title keren banget... menggunakan harmoni alat-alat musik gesek dengan ditingkahi perkusi khas asia selatan. Lagu pengiring saat Amir bersujud di masjid juga pas banget, sangat menyentuh ... kalau ada yang tahu lagu apa, dan punya lagunya, bagi-bagi yah :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di ajang anugerah film versi Critics Choice Award, yang diselenggarakan oleh para kritikus film se Amerika dan Canada, film ini dinominasikan sebagai "Best Picture", dan juga mendapat nominasi dalam "Best Young Actor" untuk Ahmad Khan Mahmidzada si pemeran Hassan anak-anak. Ahh... dia memang pantas sekali mendapatkannya, pas banget karakternya. Besok tanggal 7 Januari, award ini baru diumumkan. Kalo untuk Oscar, ya tunggu saja sampai nominasinya diumumkan :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-297320339039128305?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/297320339039128305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=297320339039128305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/297320339039128305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/297320339039128305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/01/kite-runner-movie.html' title='The Kite Runner (the movie)'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R4FwcrvAcCI/AAAAAAAAAKk/Jke5QBmcVQA/s72-c/posterkiterunner-s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-464705889053693529</id><published>2008-01-02T07:25:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T07:29:56.406+07:00</updated><title type='text'>Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R3ravrvAcBI/AAAAAAAAAKc/qyTXartSQ4E/s400/diponegoro.jpg" border="0" alt="Novel Pangeran Diponegoro, Remy Silado" /&gt;&lt;br /&gt;"Novel Pangeran Diponegoro" dengan sub judul "Menggagas Ratu Adil" ini adalah buah tangan penulis kawakan Remy Silado. Dari sekian banyak karya Remy Silado yang telah diterbitkan, terus terang, ini adalah buku pertama yang saya baca sejak saya mulai menyukai kembali membaca fiksi beberapa tahun yang lalu. Diterbitkan oleh penerbit yang berbasis di kota Solo, penerbit Tiga Serangkai. Terbit bulan November 2007, dalam 340 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya novel ini akan ditulis dalam beberapa seri, meskipun sama sekali tidak ada disebutkan demikian dalam buku ini. Tetapi melihat ending kisah di buku ini yang sama sekali belum klimaks, dan masih menggantung di awang-awang, lalu juga melihat adanya subjudul menyertai judul utama buku ini, sudah semestinya akan ada buku berikutnya dengan subjudul lain yang akan melanjutkan kisah dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masa Muda Ontowiryo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini memang tentang kisah hidup Pangeran Diponegoro. Sejak beliau masih kanak-kanak dan masih berjuluk Ontowiryo. Ontowiryo sejak kecil tidak lagi diasuh oleh kedua orang tuanya. Ayahnya adalah Raden Mas Suroyo yang kelak memangku jabatan sebagai Sultan Hamengkubuwono III, sedangkan ibunya adalah RA Mangkarawati garwa selir dari RM Suroyo. Atas permintaan Sultan Hamengkubuwono I, Ontowiryo sejak bayi diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng yang permaisuri Hamengkubuwono I. Itu karena Sultan melihat suatu keistimewaan dari si bayi, dan meminta istrinya untuk mengasuh dan mendidiknya secara langsung agar menjadi pemimpin di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Ageng tidak mengasuh Ontowiryo di Kraton Mataram, tapi ia membangun puri sendiri di Tegalrejo dan membesarkan Ontowiryo disana. Selain diasuh sendiri oleh Ratu Ageng, Ontowiryo juga dididik berbagai macam ilmu terutama ilmu agama Islam di Perdikan Mlangi. Disana Ontowiryo adalah murid paling cemerlang dan juga disegani teman2nya. Untuk urusan kemampuan fisik dan beladiri ada Pangeran Bei dan Pangeran Mangkubumi yang rutin ke Tegalrejo untuk melatih Ontowiryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Ontowiryo telah diberi petuah oleh Ratu Ageng tentang kekejian bangsa Belanda terhadap rakyat Jawa, sehingga Ontowiryo telah memendam kebencian kepada Belanda yang telah menginjak-injak bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangsur dewasa, Ontowiryo ternyata lebih mendalami dunia spiritual. Bukannya melatih kemampuan fisik atau belajar ilmu kepemimpinan, ia malah sering menyepi bertapa di Gunung Kidul. Tetapi ia telah memiliki integritas diri yang kuat. Ketika mengetahui seorang warga Tegalrejo dibunuh Belanda karena tidak mau membayar pajak, dan mayatnya dibiarkan tergeletak di sawah selama tiga hari, ia nekat menguburkan mayat itu meskipun Belanda melarangnya. Dan hal ini yang menjadi pemicu Belanda menganggap Diponegoro sebagai pemberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik cerita kemudian lebih terfokus ke Kraton Mataram. Pengkhianatan Danurejo II, yang juga menantu Sultan Hamengkubuwono II, dengan menjual informasi kepada Belanda yang akhirnya harus dibayar dengan hukuman yang setimpal. Keputusan Sultan mengeksekusi Patih Danurejo yang dianggap sebagai perlawanan terhadap Belanda ternyata ada konsekuensinya. Gubernur Jenderal Belanda yang baru, Daendels, ketika datang ke Yogyakarta membuat keputusan mengejutkan dengan memakzulkan Sultan Hamengkubuwono II dari tahtanya dan mengangkat Raden Mas Suroyo sebagai Sultan Hamengkubuwono III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ontowiryo, meskipun anak dari garwa selir, adalah salah satu anak kandung Sultan yang diharapkan bisa mendukung bahkan mungkin kelak meneruskan kekuasaan ayahnya. Setelah ayahnya menjadi Sultan, Ontowiryo pun berhak menyandang gelar Pangeran. Nama Diponegoro dipilih oleh Ontowiryo. Namun ketika ditawari untuk menjadi Adipati di salah satu wilayah kekuasaan Mataram, Ontowiryo menolak. Ia lebih memilih kelak menjadi 'Khalifatullah Sayyidin Panatagama', pemimpin agama. Itupun nanti pada usianya yang ke-40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan di Kerajaan Mataram semakin penuh intrik ketika akhirnya Daendels ditarik ke Perancis oleh Napoleon. Dan lebih rumit lagi ketika Belanda kalah dari Inggris sehingga tanah Jawa dikuasai oleh Inggris dengan pemimpinnya Thomas Stamford Raffles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Didongengkan dengan Menarik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali melihat judul buku ini, ada yang terasa sedikit aneh, karena judul besarnya adalah "Novel Pangeran Diponegoro". Yup, ada kata "Novel" di judul buku ini. Jadi, kalau boleh ngebahas terlalu jauh nih, kesannya buku ini obyek utamanya adalah sebuah novel, bukan Pangeran Diponegoro-nya sendiri yang jadi obyek utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remy Silado menuliskan novel fiksi sejarah ini dengan gaya nya sendiri. Aku memang belum pernah membaca novel2 karya Remy, jadi sebenarnya belum tahu bagaimana gaya bercerita Remy. Tapi novel ini punya cara bercerita yang berbeda dari novel2 yang lain. Ia bercerita seolah sedang mendongeng. Mengalir lancar dan enak diikuti. Pada bagian tertentu ia bercerita tentang sejarah, pada bagian lain ia merekayasa adegan dari tokoh2 sejarah menjadi sebuah dialog yang penuh hikmah. Kadang juga ia membikin adegan yang semata-mata untuk gurauan sebagai selingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi membaca novel ini serasa seperti sedang didongengin. Mendapat cerita sejarah, sekaligus mendapat hikmah dan hiburan. Alur ceritanya maju mundur, kadang serius kadang ringan, terserah yang mendongeng. Remy di novel ini juga suka membocorkan cerita dari masa depan. Ketika bercerita tentang seorang tokoh baru, tiba-tiba ia menambahkan bahwa tokoh tersebut 'kelak akan begini begini'. Pembaca yang tidak suka diberi spoiler, mungkin akan sedikit jengkel :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Warna warni Karakter dan Bangsa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai novel fiksi sejarah, novel ini cukup lengkap menyajikan data sejarah dari keraton Mataram semasa kehidupan Diponegoro. Dan Remy tampaknya tidak berani sembarangan menyajikan data. Bahkan ketika menggambarkan busana yang dikenakan Ontowiryo saat menghadiri undangan ke kraton, Remy tidak mengarangnya sendiri tetapi mengambil dari lukisan Pangeran Diponegoro muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh dalam novel ini berhasil diciptakan dengan karakter khasnya masing-masing. Danurejo dan Van Rinjst yang penjilat tampil bermuka banyak dan sangat memuakkan. Daendels, Wiese, hingga Raffles sebagai pemimpin kaum kolonial muncul dengan lagaknya yang arogan. Ada juga Ong Kok Tian, pedagang cina yang menjadi langganan Ontowiryo ditampilkan dengan karakter yang khas pedagang berdarah Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan penulis dalam menguasai banyak bahasa memberi warna warni di dalam novel ini sehingga setiap dialog dari bangsa yang berbeda akan terasa kental sekali perbedaan suasananya. Dari bahasa Toulour (Tondano), Jawa ngoko, Jawa halus, hingga bahasa Belanda, Inggris dan Perancis. Konsekuensinya tentu saja ada banyak catatan kaki untuk menterjemahkan setiap kalimat di luar bahasa Indonesia. Sayangnya pada beberapa bagian, terutama pada adegan berbahasa Jawa, penulis sering lupa memberikan terjemahan. Pembaca yang tidak mengerti bahasa Jawa akan menemukan beberapa ganjalan untuk memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi disana sini penulis sering memakai kosakata bahasa Indonesia yang belum lazim dipakai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Terpenggal di Tengah Jalan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain yang sangat mungkin akan mengecewakan pembaca adalah novel ini hingga halaman terakhirnya ternyata belum sampai pada akhir cerita. Perang Diponegoro sama sekali belum tersentuh karena akhir cerita baru berada pada tahun 1811. Rentetan cerita terasa dipenggal begitu saja di tengah jalan. Terlebih lagi adegan penting yang menjadi puncak cerita saat Raffles menemui Sultan HB II ternyata disajikan terlalu datar minim dramatisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itulah makna dari subjudul novel ini, bahwa novel ini mengisahkan hanya pada masa satu periode kehidupan Pangeran Diponegoro yang memicu Diponegoro untuk membulatkan tekad melawan kesewenang-wenangan kaum Imperialis. "Menggagas Ratu Adil"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah semestinya novel ini akan ada kelanjutannya. Remy telah banyak meninggalkan potongan cerita yang ia janjikan akan dilanjutkan. Jika tidak ada kelanjutannya maka novel ini akan menjadi sangat mubazir. Namun sayang penulis dan penerbit sama sekali tidak memberikan tanda-tanda akan ada seri berikutnya dari novel ini... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-464705889053693529?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/464705889053693529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=464705889053693529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/464705889053693529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/464705889053693529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2008/01/pangeran-diponegoro-menggagas-ratu-adil.html' title='Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/R3ravrvAcBI/AAAAAAAAAKc/qyTXartSQ4E/s72-c/diponegoro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-3520913410178036413</id><published>2007-11-15T15:27:00.000+07:00</published><updated>2007-11-15T15:30:43.065+07:00</updated><title type='text'>Mereka Bilang Aku Kafir</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RzwDWVYFL5I/AAAAAAAAAJ0/7RmUTeu0ujg/s400/kafir.jpg" border="0" alt="Mereka Bilang Aku Kafir" /&gt;Sebuah novel yang diluncurkan pada saat yang tepat. Saat media marak memberitakan tentang jamaah-jamaah yang mengajarkan aliran yang dianggap sesat, saat masyarakat resah dan merasa terganggu dengan keberadaan mereka, saat itulah novel ini dilempar ke pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka Bilang Aku Kafir, novel pertobatan seorang anggota aliran sesat" ditulis oleh Muhammad Idris, diterbitkan oleh Hikmah, Oktober 2007, 237 halaman. Sebuah novel yang berdasarkan pengalaman pribadi penulis, yang mengisahkan tentang bagaimana seorang alumni pesantren bisa terjebak dengan fanatisme buta di dalam sebuah organisasi yang mengajarkan agama yang menyimpang dari akarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tersesat dalam Pencarian Diri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris baru saja lulus dari pondok pesantren, ia kembali ke rumahnya di Jakarta dengan harapan selanjutnya akan melanjutkan ke bangku kuliah. Di masjid dekat rumahnya ia berkenalan dengan Pak Hanafi, seseorang yang berpenampilan sangat kharismatik. Pak Hanafi mengajak Idris untuk mengikuti sebuah pengajian di rumahnya yang bisa memahami Al-Qur'an hanya dalam waktu seminggu. Idris yang masih sangat haus akan ilmu agama langsung menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara yang sangat halus, ternyata Pak Hanafi mengajak Idris untuk mengikuti sebuah organisasi yang menganut pemahaman agama Islam yang berbeda dari Islam yang dipahami umum. Perlahan lahan Idris mulai terjerat dalam jaringan jamaah yang bertujuan mendirikan negara RII yang sepenuhnya berdasarkan syariah Islam. Kelompok itu sendiri menyebut dirinya sebagai KR-9 (Kelompok Regional 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris kemudian mengikuti semacam training yang mendalami ajaran-ajaran yang diyakini dan dijalankan oleh jamaah tersebut. Dalam training juga diajarkan trik-trik bagaimana mengajak orang lain untuk bergabung. Dengan cara yang sangat sistematis, anggota-anggota baru dicuci otak dan menjadi semakin fanatik terhadap organisasi ini. Mereka diminta untuk merekrut sebanyak mungkin orang, dan juga menyumbang sebanyak mungkin harta untuk kepentingan KR-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aktivitas Idris sehari2 sepenuhnya untuk KR-9. Hingga kemudian Idris bahkan ditawari untuk menjadi guru di pesantren modern Al-Jannah milik KR-9. Ia pindah dari Jakarta untuk menetap di Al-Jannah dan melupakan cita-citanya untuk melanjutkan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris tampaknya sudah mantap menggantungkan hidupnya demi KR-9. Meskipun di Al Jannah ia hidup sangat sederhana di antara bangunan pondok yang sangat megah. Bahkan akhirnya ia menikah dengan salah seorang guru wanita sesama pengikut KR-9 di Al-Jannah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik balik mulai terjadi ketika Idris memiliki bayi kecil yang harus tinggal dalam lingkungan Al-Jannah. Hati Idris pun mulai terbuka dan memberontak. Sebuah kesempatan akhirnya terbuka bagi Idris dan anak istrinya untuk keluar dari Al-Jannah dan memulai sebuah hidup yang sama sekali baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dituding Kafir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan hidup yang sangat menarik untuk diikuti sebagai sebuah pelajaran bagi semua orang agar tidak mudah terjebak dalam sebuah ajaran yang menyesatkan. Mereka yang mengajarkan hal-hal semacam itu kebanyakan telah memahami psikologi manusia dan sangat lihai dalam mempengaruhi orang membuat mereka percaya akan suatu ajaran baru. Segalanya telah disiapkan dengan rapi untuk membuat setiap orang mudah terjebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris dalam hal ini terjebak dengan tudingan "kafir" yang dialamatkan padanya oleh Pak Hanafi dan teman2nya. Tudingan "kafir" membuatnya memberontak. Tapi jebakan telah disiapkan, semakin ia memberontak semakin erat ia terjerat. Dan ketika Idris akhirnya tak berdaya lagi untuk memberontak, ia menyatakan bersedia ikut menjalani apa yang diyakini Pak Hanafi. Ajaran dan aturan dari organisasi KR-9 telah menjadi sebuah dogma agama yang baru bagi Idris. Dan agama bagi Idris adalah segala-galanya yang harus ia perjuangkan sampai mati. Para perancang ajaran KR-9 sangat memahami hal itu dan memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fanatisme buta juga dijadikan alat dalam menjaga anggota jamaah ini untuk tetap taat terhadap ajaran KR-9. Mereka selalu mengucapkan "Sami'na wa atha'na" setiap kali mendapat perintah. Saya mendengar dan saya taat. Betapapun sebenarnya mereka tidak bisa menerima perintah itu karena tidak wajar. Itu yang diajarkan, dan membangkang berarti kafir... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Serigala Berkedok Agama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa tujuan orang-orang yang membangun organisasi yang mengajarkan tuntunan hidup yang menyimpang dari ajaran agama yang ada. Kebanyakan tampaknya adalah bertujuan untuk kepentingan dirinya sendiri. Memanfaatkan orang lain yang sudah tercocok hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa mungkin memang sangat idealis dan meyakini kebenaran penafsiran barunya terhadap ajaran agama yang ada. Beberapa hanya ingin membuat ajaran agama yang lebih ringan tanpa banyak ritual dan larangan. Beberapa lagi mungkin ingin menunjukkan eksistensi diri agar menjadi pemimpin dengan banyak penganut setia. Tapi beberapa lagi yang lain ternyata ada yang bertujuan memperkaya diri sendiri dari sumbangan para pengikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengemas semua itu dalam kedok ajaran agama adalah sebuah kelicikan yang sangat cerdas. Orang Indonesia yang rata2 masih taat kepada agama, seringkali menjadi mangsa empuk bagi mereka. Bukan hanya mereka yang tidak begitu paham tentang agama, tapi bahkan lulusan pesantren seperti Idris ini bisa dijerat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berani Membuka Aib Masa Lalu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini lumayan enak dibaca. Memberikan banyak pemahaman kepada pembaca, bagaimana seseorang bisa sampai terjerat dalam ajaran yang menyimpang. Mungkin bisa juga menjadi bekal bagi semua orang agar tidak mengulangi kesalahan serupa yang telah dilakukan Idris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini membahas semua aspek kehidupan tokoh Idris. Mungkin juga sebetulnya ini adalah memoar dari kehidupan Idris yang kemudian dikembangkan sedemikian rupa hingga menjadi novel. Tapi buku ini bukanlah investigasi lengkap tentang kehidupan organisasi menyimpang tersebut, karena di dalamnya banyak cerita keseharian Idris selama di Al-Jannah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun semua nama tokoh, organisasi, waktu dan tempatnya telah disamarkan dari kisah aslinya, tetapi keberanian Muhammad Idris untuk mengungkapkannya kepada publik sungguh sebuah keberanian yang patut diacungi jempol. Idris harus mengorek-orek luka lama dan membuka aibnya untuk menulis buku ini, dan itu pasti tidak mudah. Apalagi saat ini Idris harus kembali memulai hidupnya dari nol, karena sekian tahun dari usianya telah terbuang untuk mengabdi kepada organisasi sesat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentunya itu bukanlah sebuah kesia-siaan, karena dengan demikian Idris bisa bercerita kepada banyak orang untuk tidak mengulangi kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-3520913410178036413?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/3520913410178036413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=3520913410178036413' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3520913410178036413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3520913410178036413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/11/mereka-bilang-aku-kafir.html' title='Mereka Bilang Aku Kafir'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RzwDWVYFL5I/AAAAAAAAAJ0/7RmUTeu0ujg/s72-c/kafir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-1674752520643449671</id><published>2007-11-08T12:30:00.000+07:00</published><updated>2007-11-08T16:16:10.705+07:00</updated><title type='text'>Dong Mu</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RzKfOjZO0wI/AAAAAAAAAJs/8dOwpKbsjKA/s400/dongmu.jpg" border="0" alt="Dong Mu, Jamal" /&gt;Ini adalah novel kelima karya Jamal, tapi yang pertama aku baca. Novel-novel sebelumnya adalah Louisiana Lousiana (2003), Rakkaustarina (2004), Fetussaga (2005), dan Epigram (2006). Cukup produktif juga mang Jamal ini berkarya, konsisten setiap tahun melahirkan satu buah novel yang selalu saja diberi judul aneh aneh :D. Novel kelima "Dong Mu" diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, September 2007, 240 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dong Mu" adalah kata dalam bahasa Korea yang berarti teman, atau lebih cocok dipadankan dengan bahasa Rusia "kamerad". Dan memang cerita dalam novel ini mengambil setting utama di semenanjung Korea, dan kisahnya juga bersinggungan dengan tentara dan intelijen. Dengan konflik seputar perselisihan antara Korea Utara dan Selatan dalam hal senjata nuklir, membuat novel ini benar2 sangat berbeda dari semua novel yang pernah ditulis oleh novelis Indonesia. Perlu keberanian dan kelengkapan data untuk mengangkat topik ini menjadi sebuah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari Rudal Nuklir Hingga Agen CIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman awalnya adalah tenaga ahli di Batan, lembaga riset nuklir milik pemerintah Indonesia. Pada sebuah seminar international tentang nuklir, paper dan makalahnya ternyata mampu mengundang banyak perhatian. Berkat kecermatannya membahas keamanan reaktor nuklir ia mendapat tawaran bekerja untuk IAEA (Internatioan Atomic Energy Agency) sebagai Nuclear Safeguards Inspector yang bermarkas di Wina Austria. Tugasnya adalah mengawasi keamanan semua reaktor2 nuklir yang tersebar di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas tengah malam pada tanggal 5 Juli 2006, Herman menerima berita mengejutkan bahwa setengah jam sebelumnya Korea Utara telah meluncurkan tujuh buah rudal percobaan. Dan rudal-rudal itu jatuh di perairan antara Jepang dan semenanjung Korea. Yang dicemaskan adalah jika pada rudal-rudal tersebut ternyata dipasang hulu ledak nuklir, karena selama ini Korea Utara selalu tertutup dalam segala aktifitas pengembangan nuklir nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atasan Herman segera menugaskannya untuk berangkat ke Tokyo, berkoordinasi dengan IAEA Tokyo, kemudian ke Korea untuk melakukan penyelidikan. Tentu saja mereka tidak punya akses untuk langsung menuju Korea Utara, negara yang menutup diri dari dunia luar. Mereka harus ke Korea Selatan dulu dan kemudian menyusun rencana memasuki Korea Utara untuk melakukan inspeksi. Sayangnya personel IAEA telah tercantum dalam black list yang dicegah memasuki Korea Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Herman sedang berkunjung ke rumah sahabatnya Prof. Rukayadi, seorang peneliti bioteknologi di Universitas Sinchon Seoul, ia mendapat kabar yang semakin memperkeruh keadaan. Seorang agent CIA warga negara Amerika Serikat kenalan Herman yang bernama Robert Campbell menyusup ke Korea Utara menyamar sebagai agen IAEA, tapi akhirnya malah diculik oleh kelompok tertentu di Korea Utara. Kim Song Gi, pemimpin kelompok itu meminta tebusan 50 kg uranium sebagai syarat pembebasan Robert Campbell. Tebusan itu harus diserahkan oleh orang sipil. Dan ia secara khusus menunjuk Herman yang harus menyerahkan tebusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Amerika tidak tinggal diam. Mereka mengirim task force untuk membebaskan Robert Campbell. Herman bekerja sama dengan mereka menyusun rencana pembebasan tersebut. Prof. Rukayadi yang tidak ada sangkut paut apapun akhirnya malah ikut juga dalam rencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah mereka membebaskan Robert Campbell tanpa memicu perseteruan antar beberapa negara? Mampukah Herman yang orang sipil menghadapi kelicikan intelijen Korea Utara? Dan apa sebenarnya terjadi di balik ini semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nuklir, Tema yang Jarang Disentuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik tentang nuklir sepertinya nyaris belum pernah disentuh oleh penulis Indonesia. Bisa dimaklumi karena memang bangsa kita masih awam dan asing terhadap sumber energi yang satu itu. Namun Jamal telah mengerjakan tugasnya dengan baik, mengumpulkan segala data seputar konflik nuklir international yang diperlukan untuk dijelaskan kepada pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya semua itu diperoleh Jamal dari narasumber utama yang nama dan karakternya juga dijadikan tokoh utama dalam novel ini. Hermanto Dulliman. Beliau adalah benar-benar seorang praktisi di dunia nuklir, dan juga benar-benar bekerja untuk IAEA sebagai Nuclear Safeguards Inspector. Tidak disangka bahwa ternyata ada anak bangsa kita yang menjabat posisi penting di badan international yang sangat berpengaruh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mengambil informasi dan perspektif dari praktisi yang mendukung pengembangan nuklir, maka sedikit banyak Jamal juga ikut berpromosi tentang perlunya negara berkembang memiliki reaktor nuklir sebagai sumber energi. Tentunya asal syarat-syarat keamanan reaktor selalu dijaga dengan sangat teliti. Paranoia negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, terhadap setiap negara yang mengembangkan nuklir, membuat negara2 berkembang tidak mendapat kesempatan untuk memiliki sumber energi yang murah, hemat, dan efisien yang dihasilkan oleh reaktor nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tentang konflik nuklir, keamanan reaktor, keunggulan energi dari nuklir, memang cukup lengkap disajikan oleh Jamal. Tapi sayangnya kadang ia menyajikan informasi2 itu begitu saja, hingga terasa seperti membaca sebuah reportase di majalah atau surat kabar. Seharusnya informasi itu bisa diolah sedemikian rupa dalam bentuk dialog atau diskusi yang menarik antar para tokoh. Beberapa memang sudah dikemas dalam bentuk dialog, tapi sebagian lainnya disajikan nyaris mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Belum Dimasak Hingga Matang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting konfliknya yang antar negara, juga sebuah terobosan baru bagi novel Indonesia. Masih jarang ada penulis Indonesia yang berani mengangkat konflik politik Internasional dalam sebuah novel. Apalagi sampai melibatkan pasukan militer dan intelijen dari negara2 lain. Ini memang sebuah novel thriller spionase international.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekali lagi sayangnya semua elemen yang tersedia itu tidak dimanfaatkan dan dieksploitasi secara maksimal. Konflik yang terjadi ternyata diselesaikan dalam sekali pukul. Tidak ada alur cerita yang berkelok-kelok bikin penasaran. Sekali serang, kena, kabur, kelar. Simpel saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendalaman karakter juga tidak dilakukan secara intensif. Herman disebut sebagai pemarah dalam suatu dialog, tapi sifat itu ternyata tidak kentara dalam cerita yang dibangun. Herman lebih banyak bercerita tentang nuklir dan konfliknya, tapi kurang diungkapkan emosi dan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya tokoh Profesor Rukayadi, yang tampaknya juga berdasarkan tokoh nyata, terasa hanya tempelan. Keterlibatannya dalam konflik penculikan agen CIA seperti dipaksakan. Jamal tampaknya ingin memasukkan semua kenalannya di Seoul untuk menjadi tokoh dalam novel ini :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ide Jempolan, Tapi Kurang Dieksplorasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, ide yang diangkat dalam novel ini bagus banget. Cukup aktual juga untuk kondisi Indonesia yang sedang kelimpungan mencari dan mempertimbangkan sumber energi alternatif selain minyak. Data dan informasi yang mendukung tema dan konflik dalam novel ini juga sangat lengkap. Banyak pengetahuan baru seputar nuklir yang bisa diperoleh pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisnya cukup berani menghadirkan sosok lembaga international yang cukup berpengaruh seperti IAEA dan CIA. Lalu ada juga pasukan militer dari Amerika Serikat. Konflik antar negara yang dibangunnya tentu juga tidak bisa sembarangan diada-adakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu berhasil dikumpulkan oleh penulis untuk membangun sebuah cerita, yang sayangnya, terlalu simpel untuk ukuran kisah yang melibatkan badan2 intelijen antar negara. Penulisnya terlalu sibuk menyampaikan informasi dan data tentang nuklir, tapi melupakan faktor alur cerita yang kiranya bisa menarik perhatian pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, satu hal yang agak aneh, kenapa GPU melabel novel ini sebagai "Novel Dewasa" ya? padahal sama sekali tidak ada "adegan dewasa", juga tidak ada kekerasan yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-1674752520643449671?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/1674752520643449671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=1674752520643449671' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1674752520643449671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1674752520643449671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/11/dong-mu.html' title='Dong Mu'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RzKfOjZO0wI/AAAAAAAAAJs/8dOwpKbsjKA/s72-c/dongmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6220571049098119347</id><published>2007-10-29T01:27:00.000+07:00</published><updated>2007-10-29T01:47:12.721+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Meede</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RyTVLRGFlSI/AAAAAAAAAJc/Dz_vgmPw1JA/s400/meede.jpg" border="0" alt="Rahasia Meede, E.S. Ito" /&gt;Hampir 3 tahun setelah novel pertamanya "Negara Kelima" terbit, akhirnya E.S Ito kembali merilis novel terbarunya. Masih mengandalkan kekuatannya dalam menggali data sejarah hingga ke pernik-pernik terkecil, E.S Ito mengusung novel keduanya dalam tajuk "Rahasia Meede". Diterbitkan oleh Hikmah, September 2007, 671 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berbeda jauh dari novel pertamanya, "&lt;a href="http://rahasia-meede.blogspot.com" target="_blank"&gt;Rahasia Meede&lt;/a&gt;" kembali mengambil latar belakang dari sejarah Nusantara yang di dalamnya terdapat sebuah celah misteri dan teka-teki, yang kemudian dirangkai dan diuntai dengan potongan data sejarah yang lain hingga terbentuklah sebuah bangunan misteri besar dari sejarah masa lalu Nusantara. Dan sebagaimana "Negara Kelima", kesimpulan dari misteri itu sangatlah mencengangkan sehingga pembaca akan bertanya-tanya, benarkah semua data sejarah yang diungkap ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjudul dari novel ini adalah "Misteri Harta karun VOC". Dibangun bukan cuma berdasarkan isapan jempol atau sekedar fiksi ngarang sendiri, tapi seabreg arsip data sejarah dipaparkan untuk mengorek benarkah VOC masih menyimpan sejumlah besar hartanya di bumi Nusantara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Perburuan Harta Masa Lalu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cerita yang penuh liku liku dan rumit. Akan terlalu panjang jika harus dibuat sinopsisnya. Agar lebih ringkas aku buat saja daftar beberapa peristiwa, organisasi dan karakter utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Konferensi Meja Bundar (1949): Bung Hatta akhirnya menyetujui klausul terakhir yang diajukan Belanda, bahwa Indonesia bersedia menanggung beban hutang Hindia Belanda sebagai syarat pengakuan kedaulatan. Sebelumnya mereka mati2an menolak klausul itu, namun akhirnya sebuah dokumen rahasia meyakinkan mereka untuk menerimanya. Dokumen tentang harta VOC di Indonesia!&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;April 2002, penyerangan oleh orang2 bersenjata terhadap proyek pelelangan ikan terpadu di Jakarta Utara. Kelompok teroris Anarki Nusantara yang dipimpin oleh Attar Malaka dituding sebagai pelakunya. Selanjutnya sejumlah orang bertato yang diduga sebagai anggota kelompok tersebut satu persatu mati dibunuh oleh penembak misterius. Attar Malaka sendiri dinyatakan tewas dalam suatu kecelakaan di Aceh.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Masa sekarang. Terjadi pembunuhan berantai terhadap beberapa tokoh penting. Empat orang tokoh dibunuh dan mayatnya dibuang di tempat2 berinisial "B", Bukittinggi, Brussel, Bangka, dan Boven Digul. Dan pada setiap korban terdapat sebuah pesan yang berisi salah satu dari tujuh dosa sosial yang pernah diutarakan oleh Mahatma Gandhi. Berarti masih akan ada 3 korban lagi...&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Organisasi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;CSA (Center for Strategic Affairs) : Sebuah lembaga kajian swasta di Jakarta yang dipimpin oleh sosiolog Suryo Lelono.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Yayasan Oud Batavie : Lembaga penelitian sejarah Batavia berbasis di Amsterdam, dikepalai oleh Profesor Huygens dari Universitas Leiden&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Anarki Nusantara : Organisasi teroris yang telah melakukan beberapa tindakan anarkis di Indonesia. Pengikutnya adalah para pemuja pemikiran Hatta dan Gandhi. Pemimpinnya adalah Attar Malaka.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Surat kabar Indonesiaraya : dipimpin oleh Parada Gultom. Attar Malaka dahulunya adalah wartawan di koran ini, sebelum akhirnya menjadi buron karen diduga menjadi dalang peristiwa penyergapan tahun 2002. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Karakter Utama:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Batu Noah Gultom : Perantau asal Batak yang kemudian bekerja sebagai wartawan di koran Indonesiaraya. Batu ditugaskan oleh Parada untuk melacak kasus pembunuhan berantai tokoh penting. Secara tak terduga ia malah menemukan jejak Attar Malaka. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pak Guru Uban : Pengajar sejarah di SMA Abdi Bangsa yang diperuntukkan bagi anak2 kurang mampu. Pengetahuan sejarahnya sangat mendetail, hidupnya amat sangat sederhana dan menolak modernisasi kapitalis. Tidak seorangpun tahu masa lalu dan aktivitas rahasia sang Guru Uban.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Cathleen Zwinckel : Wanita Belanda yang lancar berbahasa Indonesia. Demi tesis masternya tentang sejarah ekonomi kolonial ia melakukan riset ke Indonesia. Profesor Huygens yang membimbing tesisnya, menghubungkannya dengan CSA untuk pelaksanaan riset. Di balik risetnya, ternyata ia menyimpan ambisi untuk mengungkap masa lalu keluarganya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Lusi dan Rian : Teman sejawat Cathleen yang bekerja di CSA.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Suhadi : Pria setengah baya, pegawai Arsip Nasional RI, tempat Cathleen mengorek-orek data sejarah VOC di Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Robert, Erick dan Rafael : Tiga peneliti muda dari Belanda. Dikirim oleh Yayasan Oud Batavie untuk mengungkap misteri De Ondergrondse Stad (kota bawah tanah) yang terhampar di bawah hiruk pikuk Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa yang terjadi selanjutnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tiga peneliti muda dari Belanda akhirnya berhasil menemukan terowongan bawah tanah di bawah Museum Sejarah Jakarta. Diduga ujung utaranya berada di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa, dan ujung selatannya bisa jadi berada di sekitar Istana Negara atau bahkan Monumen Nasional. Tapi ternyata bukan cuma mereka yang mencari keberadaan bangunan bawah tanah ini.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Cathleen dan Lusi diculik. Mereka disekap di ruang mesin sebuah kapal. Dan dibawa berlayar beberapa hari. Hingga akhirnya di sebuah tempat di pulau Banda, Cathleen bertemu dengan dalang penculikannya. Kalek, seorang pria muda cerdas yang bisa menjawab banyak pertanyaan Cathleen tentang sejarah kolonial.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Seorang perwira muda pasukan Sandhi Yudha Kopassus dengan nama sandi Lalat Merah, memburu Kalek hingga ke pulau Banda. Kalek diduga kuat adalah Attar Malaka, pimpinan organisasi Anarki Nusantara. Kalek dan Lalat Merah ternyata adalah sahabat lama yang bersimpangan jalan. Mereka berdua adalah teman karib seperjuangan semasa masih menjalani pendidikan di SMA Taruna Nusantara.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Korban pembunuhan berantai kelima dan keenam jatuh... masing2 juga mendapat pesan tentang tujuh dosa sosial selanjutnya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemimpin koran Indonesiaraya, Parada Gultom diculik orang2 tak dikenal.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Lihat kan? Dibikin dalam bentuk daftar saja sudah segitu panjang. Itupun baru kejadian2 awal yang dicantumkan, yang memicu kejadian2 seru selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari Bung Hatta Hingga Meede Erberveld&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil perundingan Konferensi Meja Bundar 1949 di Den Haag memang mengundang kontroversi. Kesediaan delegasi Indonesia untuk menanggung hutang Hindia Belanda sebesar 6.1 miliar gulden, sebagai syarat diakuinya kedaulatan Indonesia oleh Belanda adalah harga yang sangat mahal, baik dilihat secara ekonomi maupun dilihat dari martabat bangsa. Sebuah kabar menyatakan bahwa Bung Hatta akhirnya menerima klausul tersebut karena sebuah informasi tentang adanya dana atau harta tersembunyi peninggalan VOC yang nilainya masih jauh lebih tinggi dari jumlah hutang yang dituntutkan Belanda. Sehingga penerimaan klausul itu tidak akan merugikan Indonesia secara ekonomi, dan yang pasti akhirnya kemerdekaan Indonesia diakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya dokumen2 dari KMB tersebut sebagian hilang dalam pengiriman dari Den Haag ke Jakarta. Dan diantara dokumen yang hilang tersebut diduga terdapat dokumen yang menjelaskan keberadaan harta tersebut. Dokumen yang sering disebut sebagai dokumen "Sabda Revolusi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana awalnya, E.S. Ito yang tentunya melalui penelusuran data sejarah yang sangat intensif berhasil menemukan petunjuk2 yang bisa membangun sebuah skenario sejarah tentang asal muasal dan keberadaan harta peninggalan VOC tersebut. Sebuah skenario yang sangat meyakinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat VOC Cornelis Speelman, bersama dua orang pribumi yang memiliki pengikut setia Kapitan Jonker, dan Arung Palakka pada tahun 1666 membentuk komplotan bernama "Monsterverbond" yang secara de facto menjadi pengendali VOC. Pada masa kekuasaan mereka dilakukan penggalian emas besar-besaran di Salido Sumatera Barat tapi selalu dilaporkan tidak berhasil menemukan banyak emas dan tidak ada emas yang dikirim ke Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Speelman meninggal, para pesaing politiknya berusaha menyingkirkan Kapitan Jonker dan Arung Palakka. Jonker difitnah dan dipancung. Arung Palakka dibiarkan sibuk sebagai raja di Bone, daerah kecil di Sulawesi Selatan. Rahasia harta yang ditimbun Monsterverbond tidak terungkap. Rahasia itu diduga disimpan oleh anggota keempat Monsterverbond, Pieter Erberveld. Pieter Erberveld senior meninggal dengan tenang. Anaknya yang juga bernama Pieter Erberveld lah yang menjadi sasaran. Seorang opsir bernama Clusse ditugaskan memata-matai Pieter. Clusse mengorek informasi dengan pura-pura menjalin cinta dengan anak perempuan Pieter yang bernama Meede. Pieter Erberveld yunior dan para pengikutnya akhirnya difitnah dan ditumpas oleh Gubernur Jenderal Belanda pada saat itu. Pieter Erberveld disiksa secara sadis hingga tewas. Namun Meede, anak perempuannya, menghilang tanpa jejak bersama rahasia harta karun Monsterverbond. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa harta karun itu lebih dikenal sebagai "Het Geheim van Meede", alias "Rahasia Meede".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penggalian Sejarah yang Memikat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acungan jempol setinggi tingginya untuk semua data sejarah yang dipaparkan disini. Super lengkap dan sangat meyakinkan. Dan hebatnya lagi, data itu disampaikan dalam cara penuturan yang sangat menarik. Melalui diskusi dan dialog yang enak diikuti antara beberapa tokoh rekaan. Sejarah tidak lagi sebuah bacaan membosankan di novel ini, mungkin karena disampaikan sebagai pengungkap suatu misteri dan konspirasi besar yang bisa saja benar-benar terjadi. Meskipun kebenaran sejarah yang ia ungkapkan bisa jadi masih merupakan perdebatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan cerita fiktif yang didasari sejarah yang otentik berhasil dirancang dengan rapi oleh E.S Ito. Sangat rumit, karena harus dicocokan dengan semua data sejarah, dan juga karena penulis tidak ingin membuat cerita yang biasa biasa saja. Penulis tampaknya tahu bagaimana mengembangkan sebuah cerita thriller penuh ketegangan dan kejutan yang memacu emosi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma sejarah VOC yang dikupas tuntas disini. E.S. Ito juga mempertontonkan keluasan pengetahuannya dalam banyak hal, dan kemudian memadukannya secara cermat ke dalam jalinan celah cerita. Tentang eksotika dan keindahan tanah Papua, lalu pulau Banda, hingga pedalaman kepulauan Mentawai. Tentang seluk beluk operasi intelijen. Tentang karya dan pemikiran Mohammad Hatta dan Mahatma Gandhi. Semua dipadukan untuk memperkaya dan memperdalam cerita di novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Multi Plot, Karakter Kuat, Cerdas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana novel pertamanya, "Negara Kelima", novel ini memiliki plot majemuk yang dituturkan secara bergantian. Bukan cuma dua, tapi bahkan sampai empat buah plot dengan tokoh dan setting yang berbeda berselang seling diuraikan dalam bab-bab yang tidak terlalu panjang. Membingungkan? Awalnya ya. Karena harus berkenalan dan berkenalan lagi dengan karakter2 baru setiap berganti bab. Apalagi antara satu plot dengan yang lain belum terlihat hubungannya. Namun setelah kemudian konflik demi konflik terbentuk, karakter tokoh sudah semakin dikenali, dan cerita mulai mengerucut ke satu arah, semuanya menjadi sangat menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar karakter tokoh yang ada disini digambarkan memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten. Semuanya cerdas dan mengetahui apa yang mereka cari. Hanya keberpihakan pada kelompok yang mana yang membedakan antara satu dengan lainnya. Justru pada masalah keberpihakan tiap2 karakter inilah, penulis banyak memberikan kejutan hingga akhir cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog2nya menarik, cerdas dan berisi. Pembaca tidak akan dibuat bosan meskipun itu adalah dialog panjang lebar tentang sejarah. Penguraian detil setting dan latar belakang diberikan secara lengkap tapi tidak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endingnya sendiri tidak terlalu mengecewakan, meskipun sedikit bisa ditebak setelah semua clue terbuka. Sebuah ending menghebohkan ala film-film thriller Hollywood, dengan sedikit twist diantara tokoh-tokoh yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Blunder di Ujung Monas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya ada satu hal, yang menghalangi aku untuk memberikan penghargaan lima bintang untuk novel ini. Ketika semua data sudah terungkap, tinggal beberapa langkah lagi menuju puncak cerita, satu kejadian rekaan penulis membuatku kecewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tentang terowongan bawah tanah yang dibangun Belanda dari pelabuhan Sunda Kelapa hingga Monumen Nasional, masih bisa diterima. Entah apakah itu benar2 ada, atau penulis hanya merekayasanya sehingga sangat meyakinkan seolah2 ada. Karena toh itu semua tidak terlihat di dunia yang ada sekarang. Bahkan tentang lokasi terpendamnya harta itu, masih bisa diterima karena memang bisa saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika penulis bercerita bahwa puncak api monas yang dilapisi emas itu tiba-tiba masuk kedalam badan tugunya.... kekagumanku akan novel ini dan penulisnya menjadi terkikis. Kejadian rekaan penulis yang menurutku tidak penting, karena tidak memberikan tambahan apapun terhadap masalah yang ada. Tanpa kejadian ini, cerita tidak akan berubah. Mungkin agar terlihat dramatis, tapi jadinya malah konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa terjadi seperti itu, maka bagian dalam tugu Monas harus berbeda total dari yang ada sekarang. Harus ada sebuah sistem mekanik yang memungkinkan terjadinya hal itu. Dan ketika aku berkesempatan melewati tugu Monas secara langsung, blunder yang lebih besar lagi terpampang di depan mata. Leher tugu monas pada bagian atas ternyata lebih kecil daripada bagian perut dari konstruksi api Monas. Jadi tidak mungkin api Monas turun hingga lenyap ke dalam badan tugunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal lain yang agak disayangkan adalah keinginan penulis untuk memaksakan pengetahuannya tentang beberapa hal ke dalam cerita ini. Terasa dipaksakan karena ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap alur cerita. Seperti detail tentang perjalanan ke mentawai untuk menelusuri tatoo tradisional mentawai, bahkan lengkap dengan gambar2, ternyata hanyalah pelengkap kecil yang tidak terlalu penting. Detil upacara ritual di Banda, juga hanya sebuah tempelan yang tidak bercerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bravo!!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.S. Ito. Eddri Sumitra nama aslinya. Lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan ke-7. Kabar terakhir dia menjadi buronan dosen-dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, karena skripsi nya tidak juga diselesaikan :D Pernah muncul sekali dalam diskusi buku "Negara Kelima" di Istora Senayan. Profil dan tampangnya yang keras, dan cara bicaranya yang menggebu-gebu memang pantas sekali sebagai pengarang buku2 fiksi yang penuh semangat, idealis dan agak revolusioner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui 2 novelnya "Negara Kelima" dan "Rahasia Meede", sangat terlihat semangat dan visi Eddri untuk membenahi bangsa ini. Ada sindiran dan kritikan terhadap penguasa dan mental bangsa kita. Tapi juga ada pompaan idealisme dan nasionalisme untuk tidak menyerah dan tetap percaya bahwa bangsa kita ini satu saat bisa maju dan berjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan novel ini, acungan jempol tinggi-tinggi sangat layak diberikan kepada E.S Ito. Jelas bukan karya kacangan yang asal bikin cerita fiksi. Kajian sejarahnya sangatlah mendalam. Konstruksi dan ketegangan alur ceritanya pun bisa dibilang sudah sekelas penulis2 internasional. Meskipun pada eksekusi akhir ceritanya terasa sekali sebagai cerita rekaan yang dibuat-buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut buat Eddri Sumitra, tetaplah berkarya! Selanjutnya sejarah apalagi yang akan anda korek2? :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6220571049098119347?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6220571049098119347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6220571049098119347' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6220571049098119347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6220571049098119347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/10/rahasia-meede.html' title='Rahasia Meede'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RyTVLRGFlSI/AAAAAAAAAJc/Dz_vgmPw1JA/s72-c/meede.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-7368509974663355171</id><published>2007-10-22T20:38:00.001+07:00</published><updated>2007-10-22T20:43:29.889+07:00</updated><title type='text'>168 Jam dalam Sandera</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rxyocg765LI/AAAAAAAAAJU/lE8WAn7NnhM/s400/168jam.jpg" border="0" alt="168 Jam dalam Sandera" /&gt;Paling tidak masih ada sebersit ingatan di setiap orang Indonesia yang rajin mengikuti berita tentang kejadian di awal tahun 2005 itu. Tentang dua orang wartawan Indonesia yang disandera oleh kelompok mujahidin di Irak. Kru dari Metro TV, Meutya Hafid dan Budiyono, secara mengejutkan muncul di saluran berita international sedang berada di bawah todongan senapan kelompok mujahidin Irak. Peristiwa yang sempat membuat seluruh warga Indonesia tertegun mengingat Indonesia sama sekali tidak terlibat dalam konflik di Irak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu peristiwa tersebut sangat layak bahkan malah harus dituliskan dalam sebuah buku yang menceritakan dengan detail setiap kejadiannya untuk disebarkan kepada khalayak ramai. Mereka yang pada waktu itu ikut terkejut, berdebar-debar, dan juga berdoa dalam mengikuti setiap update berita tentang kejadian ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meutya Hafid telah menyempatkan diri untuk menuliskan pengalaman pahitnya itu dalam sebuah buku berjudul "168 Jam dalam Sandera", yang diterbitkan oleh Hikmah, September 2007, 280 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;168 Jam Tanpa Harapan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kehormatan besar diperoleh oleh Meutya Hafid untuk buku yang ditulisnya ini. Kata pengantar dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Pada peristiwa penyanderaan itu sendiri Presiden SBY memang terlibat secara langsung, karena beliau dengan sigap segera memberi pernyataan melalui televisi yang menghimbau para penyandera untuk melepaskan kedua wartawan tersebut. Sehingga tidak terlalu berlebihan jika Presiden SBY berkenan memberikan kata pengantar untuk buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengawali kisahnya Meutya tanpa basa basi langsung menyeret pembaca pada momen saat tentara Mujahidin mencegat mobil yang ditumpanginya di sebuah pompa bensin di daerah Ramadi, Irak. Meutya sebagai seorang jurnalis tampaknya tahu betul bagaimana menghanyutkan dan memancing emosi pembaca, dengan langsung berada di puncak peristiwa sedari awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Budiyono dan Ibrahim, sopir mereka yang berasal dari Yordania, mereka bertiga dibawa oleh ketiga penculik dalam keadaan mata tertutup ke sebuah gua perlindungan di tengah gurun tak bertepi. Meutya tak pernah membayangkan bahwa setelah beberapa kali menjadi orang yang memberitakan peristiwa penyanderaan, kini akhirnya dia sendiri yang menjadi sandera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pikiran buruk berkelebat dalam benak Meutya. Dalam keadaan tidak bisa menghubungi siapapun di suatu tempat yang asing dan sangat jauh dari orang-orang tercinta, terlebih lagi berada di bawah todongan senjata, siapa yang bisa berpikir tenang? Jarak dari kematian hanyalah sebuah tarikan pada picu senjata yang dibawa oleh orang2 berwajah sangar di sekitarnya. Dan sebagai satu-satunya wanita disekeliling laki-laki penyandera, ketakutan itu diperburuk lagi oleh sebuah kemungkinan lain yang tak kalah mengerikan … &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beruntunglah Meutya, karena para penyandera memperlakukannya dengan baik dan terhormat. Nyaris tidak ada kekerasan fisik. Makanan dan minuman selalu tersedia meskipun sederhana. Satu dua hari dalam penyanderaan, Meutya telah bisa mengobrol tanpa ketegangan dengan para penyanderanya. Hanya satu hal yang direnggut dari mereka, kebebasan dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita selama dalam penyanderaan diselingi dengan flashback ke beberapa masa di kehidupan Meutya. Ke masa kecilnya, ke saat remaja saat Ayahnya menantang Meutya untuk bersekolah di Singapore, ke saat detik2 terakhir Ayahnya, hingga ke saat Meutya menerima tugas dadakan untuk berangkat ke Irak malam ini juga. Dalam situasi dimana harapan disirnakan oleh todongan senjata, pastilah masa lalu yang penuh cita-cita menjadi kenangan yang sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah selanjutnya tentulah sudah pernah kita ikuti garis besarnya di media massa pada saat itu. Satu hal yang paling disyukuri oleh Meutya adalah bahwa Presiden negaranya ternyata sangat peduli akan keadaannya, sampai2 begitu sigap menanggapi permintaan penjelasan dari pihak penyandera. Belum lagi sejumlah tokoh nasional di Indonesia yang juga ikut memberikan himbauan kepada penyanderanya untuk segera membebaskan Meutya dan Budiyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mengesalkan bagi Meutya bukanlah pada saat disandera, tetapi pada saat tinggal selangkah lagi keluar dari Irak. Di perbatasan Irak dan Yordania, Meutya dan Budiyono tertahan seharian karena pihak Irak tidak mengizinkan siapapun melewati perbatasan selama hari Asy-syura. Lobby diplomatik antar negara tak juga mampu meluluhkan birokrasi Irak. Padahal para penjemput dari Indonesia telah berada di seberang perbatasan, termasuk di antaranya Dirut Metro TV Surya Paloh sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Resiko Para Jurnalis di Daerah Konflik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyingkap secara detail bagaimana terjadinya drama penyanderaan itu langsung dari orang pertama, buku memoar ini juga menyadarkan pembaca tentang resiko profesi seorang wartawan di lapangan. Tuntutan untuk mencari dan mendapatkan berita yang paling eksklusif bisa saja harus dibayar dengan nyawa. Ini juga tercermin pada tulisan Don Bosco Selamun Pemimpin Redaksi Metro TV pada saat peristiwa tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don Bosco bercerita bagaimana ia merasa bahwa kejadian itu adalah kesalahannya. Ia yang menugaskan Meutya dan Budiyono pergi meliput pemilu di Irak. Ketika kedua wartawan itu telah selesai meliput pemilu dan sudah berada di Yordania, ia juga yang memerintahkan mereka kembali ke Irak untuk meliput peringatan Asy Syura di Karbala. Dan pada saat kembali ke Irak itulah mereka ditangkap dan disandera oleh tentara Mujahiddin. Don Bosco selama masa penyanderaan itu merasa sebagai seorang pemimpin redaksi yang paling bodoh, karena telah menjerumuskan anak buahnya ke dalam bahaya. Ia pun tak mampu berkata-kata ketika harus menjelaskan dan menceritakan kejadian itu secara langsung kepada keluarga kedua reporternya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meutya sendiri pada bab terakhir buku ini secara khusus menulis tentang keselamatan wartawan saat melakukan liputan di lapangan. Pada bab berjudul "Kapan Harus Berhenti", ia mengingatkan mereka yang bekerja mencari berita di daerah berbahaya agar selalu menjaga keselamatan. Tekanan dari atasan maupun dari diri sendiri untuk mencari berita paling eksklusif, untuk mendapatkan gambar paling dekat dan paling jelas, harusnya tidak perlu dituruti tanpa batas. Meutya sendiri demi mendapatkan gambar eksklusif pernah nekat di depan kamera memegang pecahan bom yang baru saja meledak di suatu daerah di Irak. Padahal pecahan bom tersebut ada kemungkinan masih aktif dan bisa meledak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia, menurut Meutya, termasuk paling ceroboh dalam hal keselamatan. Di tengah kecamuk perang Irak, Meutya dan Budiyono memasuki arena perang tanpa mengenakan jaket dan helm anti peluru. Dalam kasus tenggelamnya kapal Levina, Meutya juga menyayangkan para wartawan yang nekat naik ke kapal yang sudah miring tersebut tanpa mengenakan pelampung dan akhirnya harus tewas saat kapal Levina tenggelem. "Tidak ada berita yang lebih berharga daripada nyawa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tulisan yang Menghanyutkan Emosi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buku ini tentulah suatu tantangan tersendiri bagi Meutya. Sangat berbeda dengan sebuah tulisan reportase berita. Dalam membuat berita haruslah disajikan apa adanya, tanpa penambahan dan pengurangan, tanpa opini dan emosi pribadi. Tapi dalam menulis buku ini, Meutya harus bisa menyalurkan emosi yang ia rasakan pada setiap kejadian dan menularkannya kepada pembaca, agar pembaca dapat ikut merasakan dan terlibat di dalamnya. Dan Meutya cukup berhasil melakukannya. Ketakutan, keputusasaan, kekesalan, kegembiraan dan keharuannya dapat tersampaikan dan ikut dirasakan oleh pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan untuk membuat tulisan yang tidak linear secara kronologi waktu, adalah keputusan yang cukup baik untuk segera memancing perhatian pembaca pada puncak kejadian di awal cerita. Dengan adanya ruang untuk flash back, Meutya jadi lebih bebas bercerita apa saja dari masa lalunya. Meskipun terus terang pada beberapa bagian cerita masa lalu itu malah mengaburkan fokus cerita serta memperlambat tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan juga perlu disampaikan untuk tulisan Don Bosco Selamun pada lampiran buku ini. Menyajikan secara apik kisah penyanderaan itu dari sisi lain di ruang redaksi Metro TV selama dalam penantian akan kepastian para korban penyanderaan. Suatu perjalanan emosi seorang atasan yang peduli kepada anak buahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang kisah tentang sebuah krisis malah lebih terasa pada tulisan Don Bosco ini. Sementara Meutya hanya bisa menanti pasrah di dalam gua, Don Bosco selama hari-hari itu kalang kabut kesana kemari mencari kepastian dengan membawa beban perasaan bersalah yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bukan Fiksi Thriller&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi buat mereka pembaca yang berharap akan mendapatkan kisah penyanderaan penuh teror layaknya film atau fiksi thriller, bersiaplah untuk kecewa. Kisah penyanderaan Meutya dan Budiyono tidak seseram itu. Terutama karena memang mereka tidak berada pada pihak yang menjadi musuh dari para penyandera. Perlakuan para penyandera kepada mereka berdua bisa dibilang sangat baik. Mereka 'hanya' kehilangan kebebasan untuk sementara waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tentu saja tidak bisa dibilang sebagai 'hanya'. Berada dalam penyanderaan bagaimanapun adalah sebuah kengerian. Keselamatan dan harapan hidup sepenuhnya bergantung pada kebaikan hati sang penyandera. Suatu keadaan yang tentunya membuat siapapun bersyukur akan kebebasan yang ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah sebuah catatan peristiwa bersejarah yang layak dibaca sebagai tempat berkaca dan belajar dari pengalaman orang lain. Bagaimana bertahan secara emosional pada keadaan yang sangat sulit. Sembari mengingatkan bahwa hidup kita begitu rapuh dan bahwa ada Penguasa kehidupan yang lebih berkuasa di atas sana yang menentukan garis hidup selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit pertanyaan yang menggelitik selama membaca buku ini sampai selesai. Bukan bermaksud menghakimi, tapi hanya bertanya.. mengapa sama sekali tidak diceritakan baik itu para penyandera maupun mereka yang disandera melaksanakan shalat selama berhari-hari berada di dalam gua itu?...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-7368509974663355171?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/7368509974663355171/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=7368509974663355171' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7368509974663355171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7368509974663355171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/10/168-jam-dalam-sandera.html' title='168 Jam dalam Sandera'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rxyocg765LI/AAAAAAAAAJU/lE8WAn7NnhM/s72-c/168jam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-3608528097617763039</id><published>2007-10-16T22:42:00.000+07:00</published><updated>2007-10-16T22:44:33.075+07:00</updated><title type='text'>Sang Musafir</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RxTcLw765KI/AAAAAAAAAJM/8lmwpR23eyk/s400/musafir.jpg" border="0" alt="Sang Musafir" /&gt;Buku ini adalah buku pertama karya Mohamad Sobary yang aku baca. Sebelumnya sudah pernah diterbitkan sejumlah karya dari Kang Sejo, sapaan akrab Mohamad Sobary, ini antara lain "Kang Sejo Melihat Tuhan", "Kisah Karna dan Dendam Kita", "Singgasana dan Kutubusuk", dan beberapa lagi yang lain, yang semuanya belum pernah aku baca :) Novel "Sang Musafir" ini sendiri diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Agustus 2007, dalam 272 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Sejo awalnya berkarir sebagai seorang peneliti bidang Kebudayaan di LIPI. Dan tampaknya ia sangat menikmati profesinya sebagai peneliti yang banyak memberinya kebebasan. Kemudian seiring dengan semakin terbangunnya sosok Kang Sejo yang bersih dan berdedikasi, dan dengan semakin kuatnya lingkaran pergaulannya, pada tahun 2000 ia diminta untuk mengepalai sebuah institusi yang bukan sembarang institusi, Lembaga Kantor Berita Antara. Dengan harapan sebagai orang luar ia bisa memberi penyegaran dan membersihkan sampah2 di dalam lembaga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah potongan2 kisah dan kegelisahan Kang Sejo selama ia dipercaya untuk memimpin lembaga yang membawa nama negara tersebut. Sudah bisa ditebak, sebagian besar isinya adalah kegalauan Kang Sejo dalam menghadapi segala macam jenis budaya buruk yang telah berurat akar dalam lembaga milik negara… korupsi, kolusi, dan nepotisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kang Sejo Menjadi Pejabat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Sejo sebenarnya adalah anak seorang petani desa, yang diiringi tangis ibunya, nekat mengembara ke Jakarta untuk mematangkan diri, memetik tiap pengalaman menjadi guru yang akan memberi makna hidup lebih dalam. Bukan untuk semata-mata mencari kemegahan dunia melalui harta dan tahta. Setelah sekian lama menetap di Jakarta Kang Sejo tetaplah seorang anak petani, yang terbiasa hidup sederhana selaras dengan alam, hidupnya dilalui dengan menggelinding tanpa banyak tuntutan. Prinsip2 hidup dari budaya Jawa dan tuntunan Islam Sufi menjadi pedomannya dalam melangkah setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan untuk memimpin sebuah lembaga ternama tentulah sangat mengejutkan Kang Sejo yang tidak ngoyo mengejar jabatan tersebut. Seorang sahabat yang telah menduduki posisi terhormat yang memintanya. Ini adalah permintaan ketiga darinya setelah dua jabatan yang lain pernah ditawarkan dan ditolak oleh Kang Sejo. Kang Sejo hampir menolak kembali tawaran tersebut, karena ia tidak mau terkekang birokrasi, merasa tidak bisa mengatur orang banyak, merasa kebebasannya sebagai peneliti yang bebas menulis akan tergadaikan, merasa ia dikorbankan untuk kepentingan sahabatnya tersebut. Tetapi akhirnya sebagai orang Jawa, Kang Sejo merasa tak enak untuk menolak ketiga kalinya. Ia pun menerima jabatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berhadapanlah Kang Sejo dengan segala kerumitan sebuah lembaga yang korup dengan produktivitas rendah. Hari kedua ia duduk di kantor baru, ia sudah diminta menandatangani surat pinjaman sekian puluh juta atas nama dirinya yang tidak pernah ia minta dan terima. Di hari kedua itu pula ia sudah harus marah2 kepada semua anak buah yang baru dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergulirlah kemudian cerita-cerita tentang bagaimana Kang Sejo dengan gayanya yang lembut layaknya orang Jawa tetapi tetap tegas berusaha merubah perlahan-lahan budaya kerja di lingkungan yang ia pimpin. Ia merubahnya dengan memberi keteladanan. Mobil dinas Mercedes ia tolak, diganti dengan mobil Kijang itupun bukan dari tahun terbaru. Pintu ruangannya selalu ia buka agar setiap pegawainya dari semua tingkatan tidak segan2 jika ingin melaporkan sesuatu, atau sekedar mengeluh tentang situasi kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diseling pula dengan cerita dari kehidupan sehari-harinya seputar keluarganya. Tentang sikapnya yang tetap berusaha menjejak tanah meskipun mendapat rumah dinas yang jauh lebih megah dibanding rumah sebelumnya. Ia pun tetap menunduk dalam2 di hadapan orang tua dan mertuanya, serta tetap berusaha menjaga keakraban dengan semua saudaranya meskipun waktunya kini semakin sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala segi dalam kehidupannya dituturkan di buku ini. Kadang kembali ke masa kecilnya di desa yang penuh dengan kesederhanaan tapi sarat keteladanan. Ada juga saat ia mengungkapkan kekagumannya kepada orang lain yang telah lebih mapan secara mental dan pemikiran. Ada pula penuturan menarik tentang petualangan rohaninya saat melakukan shalat malam di tengah taman di halaman rumahnya. Semua itu melingkupi rutinitas hidup utamanya yang harus menghadapi seabreg masalah di kantor yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bacaan yang Menyejukkan di Tengah Keruwetan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini terasa begitu tenang dan menyejukkan. Mohamad Sobary menuliskannya dengan penuturan yang sangat 'njawani'. Tenang, sopan, nyaris tanpa emosi jika memang tidak perlu. Serasa seperti sedang mendengarkan kisah dan petuah dari seorang bapak yang telah mencapai suatu taraf kebijaksanaan setelah merasakan sekian banyak asam garam kehidupan. Dan jika kita melihat foto diri Mohamad Sobary pada halaman belakang, semua itu memang sangat klop. Sosok penulis ini sangat tenang dan kebapakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit emosi saat Kang Sejo kesal dengan perilaku korup di kantor yang dipimpinnya, tapi semuanya tetap terkendali dengan baik. Emosi itu dikeluarkan secukupnya tidak asal tabrak sana sini. Lonjakan emosi karena kesedihan atau kegembiraan pun dituturkan dengan tenang tanpa banyak kejutan. Semuanya mengalir dengan tenang dan terjaga. Sungguh sangat 'njawani'. Dan memang disini banyak panutan hidup yang dituturkan disini yang berdasarkan budaya Jawa yang diajarkan oleh mendiang Ayah Kang Sejo yang seorang petani desa. Dipadu pula dengan tuntutan ajaran agama Islam yang dianut dengan taat oleh Kang Sejo, dengan kecenderungan ke arah sufisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Novel atau Memoar?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh sedikit bertanya, aku sedikit ingin mempertanyakan tentang katagori buku ini. Aku tidak tahu apa definisi dan batasan sebuah "novel". Buku ini menurutku adalah sebuah memoar non fiksi, meskipun aku juga tidak tahu apa definisi "memoar" :D Tidak ada alur cerita utama yang dituturkan secara runtut dari awal hingga akhir. Masing masing bagian bercerita sendiri-sendiri meskipun tetap diikat oleh tokoh dan setting yang sama. Tidak ada pula ending yang memberikan konklusi dari kisah perjalanan tokohnya. Tapi entah kenapa pada sampul bukunya jelas jelas tercetak "Sang Musafir, novel, Mohamad Sobary". Mungkin memang aku yang terlalu awam akan dunia sastra :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang pasti bacaan ini sangat cocok untuk menentramkan hati, menawarkan sebuah contoh sikap saat mencari kita cara untuk bisa tenang saat menghadapi keruwetan hidup.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-3608528097617763039?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/3608528097617763039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=3608528097617763039' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3608528097617763039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/3608528097617763039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/10/sang-musafir.html' title='Sang Musafir'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RxTcLw765KI/AAAAAAAAAJM/8lmwpR23eyk/s72-c/musafir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-9011616833912979052</id><published>2007-10-15T10:32:00.000+07:00</published><updated>2007-10-16T22:42:11.817+07:00</updated><title type='text'>Trilogi Bartimaeus #2: Mata Golem</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RxTbew765JI/AAAAAAAAAJE/HuX3rn66ed4/s400/golem.jpg" border="0" alt="Bartimaeus 2 : Mata Golem" /&gt;Sudah agak terlambat sebenarnya mereview buku ini, karena terjemahan buku ketiga dari trilogi ini juga sudah diterbitkan. Tapi sayang kalau tidak dibuat juga reviewnya. Buku pertama sudah direview, buku ketiga pun sudah ditangan. Sekalian saja, toh tidak ada keharusan bahwa yang direview di sini adalah buku2 paling gress :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama, tidak mau menunggu lama untuk menerbitkan buku kedua dari "The Bartimaeus Trilogy" karya Jonathan Stroud ini. Hanya berbilang beberapa bulan dari penerbitan terjemahan buku pertama, terjemahan dari buku kedua "The Golem's Eye" sudah menyusul beredar di pasar perbukuan Indonesia. Masih diterjemahkan dengan apik oleh Poppy Damayanti Chusfani, "Mata Golem" diterbitkan oleh GPU pada bulan Juli 2007 dalam 624 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;John Mandrake Kembali Bersama Bartimaeus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan judul utamanya "The Bartimaeus Trilogy", serial trilogi ini berputar pada petualangan jin bernama Bartimaeus. Bartimaeus adalah sesosok jin cerdas yang telah berusia ribuan tahun, mengalami sendiri berbagai peristiwa penting yang terjadi di dunia. Dalam trilogi ini lebih dipusatkan pada saat-saat Bartimaeus harus melayani seorang penyihir muda bernama John Mandrake alias Nathaniel, yang tengah meniti karier sebagai penyihir terkemuka dalam pemerintahan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir buku pertama "Amulet Samarkand", Nathaniel memang telah melepaskan Bartimaeus dan berjanji tidak akan pernah memanggilnya kembali. Namun tuntutan dari atasannya di Kementrian Departemen Urusan Dalam Negeri untuk segera mengungkap peristiwa pengrusakan di Piccadily, membuat Nathaniel tak punya pilihan lain kecuali memanggil kembali Bartimaeus. Sejumlah demon lain yang pernah ia panggil tidak ada yang kompetensi nya sebaik Bartimaeus. Meskipun bersama Bartimaeus, Nathaniel harus siap menebalkan telinga untuk menahan serbuan sindiran tajam dan sinis dari mulut Bartimaeus yang tidak pernah diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku kedua ini diungkap secara gamblang tentang asal mula dan sepak terjang kelompok Resistance. Kelompok orang-orang bukan penyihir (commoner) yang muak dengan arogansi para penyihir yang menguasai pemerintahan Inggris. Pada buku pertama, kelompok Resistance ini sudah dimunculkan beberapa kali membuat kerusuhan kecil. Dan di buku kedua ini, kelompok Resistance mengambil porsi cukup yang cukup besar, terutama seputar anggota Resistance yang bernama Kitty Jones.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keberhasilan Nathaniel menggagalkan rencana kudeta yang akan dilakukan oleh Simone Lovelace, yang dikisahkan di buku pertama, Nathaniel mendapat tempat terhormat dalam pemerintahan. Di usianya yang masih empat belas tahun ia sudah menjadi asisten Kepala Kementrian Departemen Urusan Dalam Negeri. Oleh atasannya ia ditugaskan membongkar dan menangkap para perusuh yang tergabung dalam kelompok Resistance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu malam menjelang perayaan Founders Day, terjadilah pengrusakan di sederet toko elit di kawasan Piccadily. Sejumlah korban polisi dan jin penjaga berjatuhan, tapi pelakunya sama sekali tidak terlacak. Tidak nampak adanya jejak sihir. Mr. Tallow menyimpulkan dari tidak adanya jejak sihir, maka itu adalah perbuatan kelompok Resistance. Dan iapun menuding Nathaniel telah kebobolan, karena tidak berhasil melacak Resistance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;London dinyatakan siaga satu. Jam malam diberlakukan. Sejumlah besar jin dikerahkan untuk ikut menjaga London. Nathaniel pun terpaksa melanggar janjinya dengan memanggil kembali Bartimaeus untuk melayaninya lagi kali ini. Meskipun sering bertengkar, tetapi kerjasama antara Nathaniel dan Bartimaeus banyak memberikan hasil. Bartimaeus akhirnya mengetahui bahwa pembuat kerusakan itu adalah mahluk jadi2an bernama Golem. Golem adalah mahluk tanah liat raksasa super kuat yang diperintah dari jauh oleh seorang penyihir. Golem pernah dipakai oleh penyihir Inggris saat menyerbu Praha beberapa ratus tahun sebelumnya. Setelah itu rahasia penciptaan Golem terkubur tak pernah diketahui lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Golem yang muncul bukanlah perbuatan kelompok Resistance. Kelompok Resistance sendiri sedang menyibukkan diri dengan sebuah rencana besar yang menurut mereka akan sanggup menggoyahkan pemerintahan Inggris dari kekuasaan para penyihir arogan. Mereka akan merampok makam Gladstone, pendiri kerajaan Inggris. Di dalam makamnya terdapat banyak sekali benda2 hebat berkekuatan sihir yang akan bisa membantu Resistance untuk mengalahkan para penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bartimaeus dan Nathaniel pun berhadapan dengan banyak pihak pada waktu yang bersamaan. Mereka harus menemukan rahasia Golem, kemudian juga harus tetap waspada terhadap aktivitas Resistance, tidak ketinggalan juga harus menghadapi pihak2 dari dalam pemerintahan sendiri yang cemburu atas karier Nathaniel dan berusaha menjegalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetap Seru!!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonathan Stroud berhasil dengan konsisten tetap berada dalam dunia yang ia bangun sendiri. Dunia fantasi tentang London yang diperintah oleh para penyihir yang dilayani oleh sejumlah jin dan sejenisnya yang berhasil diikat sebagai budak. Hirarki dunia jin dan juga karakter dan kemampuan masing-masing mahluk tetap terjaga konsisten sebagaimana ia tetapkan sejak di buku pertama. Arogansi para penyihir penguasa juga tetap ditampilkan sebagaimana dahulu. Sebuah dunia fantasi yang telah direncanakan dengan baik oleh Jonathan Stroud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja karakter tokoh2nya juga tetap terjaga dengan sangat baik. Mungkin hanya Nathaniel yang sedikit berubah. Itu pun bukan karena tidak konsisten, tapi karena memang karakter Nathaniel yang mulai berubah menjadi lebih arogan sebagaimana para pejabat pemerintah yang lain. Bartimaeus tetap menjadi karakter favorit tentunya, dengan sarkasme atau sinismenya kepada Nathaniel atau kepada jin-jin yang lain yang seringkali sangat menggelitik. Meskipun tampaknya akan lebih mengena kalau dibaca pada teks bahasa aslinya. Aksi para imp penakut dan kekonyolan afrit Honorius juga bisa mengundang senyum para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja di kisah ini, jalinan cerita masa lalu yang memang benar tertulis dalam sejarah dunia sedikit dijungkir balikkan. Semua sejarah dunia masa lalu dalam versi Bartimaeus selalu melibatkan penyihir dan jin dalam setiap peristiwanya. Nggak perlu protes untuk hal itu, karena ini memang dunia fantasi ciptaan Jonathan Stroud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadikah Difilmkan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pecinta cerita fantasi, kisah ini cukup memikat untuk diikuti. Tidak terlalu melambung ke alam lain yang benar-benar fantasi, karena tetap menggunakan tempat2 dan karakter yang real ada di dunia nyata. Ketegangan, keajaiban, kekonyolan, berpadu jadi satu membangun cerita yang lancar dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dunia fantasi ciptaan Jonathan Stroud ini perlu imajinasi ekstra bagi pembaca untuk menggambarkannya. Seperti apa itu imp, foliot, afrid, atau Golem. Bagaimana pula efek efek sihir yang muncul dari aksi para penyihir maupun para jin saat mengeluarkan kemampuannya. Jika rencana pembuatan filmnya dapat segera terealisasi, gambaran itu pun akan segera bisa kita lihat dengan lebih nyata. Tapi kok belum ada update lagi ya tentang progress pembuatannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ketiga sudah ditangan, tinggal menunggu giliran untuk dibaca :)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-9011616833912979052?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/9011616833912979052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=9011616833912979052' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/9011616833912979052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/9011616833912979052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/10/trilogi-bartimaeus-2-mata-golem.html' title='Trilogi Bartimaeus #2: Mata Golem'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RxTbew765JI/AAAAAAAAAJE/HuX3rn66ed4/s72-c/golem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-393722542207082889</id><published>2007-09-04T14:54:00.000+07:00</published><updated>2007-09-04T14:59:21.861+07:00</updated><title type='text'>Hubbu</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rt0QBxxSuXI/AAAAAAAAAI0/hEmqjh3KWdQ/s400/hubbu.jpg" border="0" alt="Hubbu, oleh Mashuri" /&gt;Setelah novel "Glonggong" yang menjadi juara harapan pertama dari Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 diterbitkan oleh Serambi, kini novel yang menjadi juara pertama dalam ajang yang sama diterbitkan oleh Gramedia. "Hubbu", yang berarti 'Cinta' dalam bahasa Arab, ditulis oleh Mashuri pendatang baru dalam dunia novel tapi telah cukup lama berkecimpung dalam puisi. Gramedia menerbitkannya pada Agustus 2007, dalam 237 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sampul yang cukup artistik menggambarkan dinding sebuah bangunan kuno dan sesosok tangan wanita tampak membuka satu sisi pintu. Tampak seolah ada seorang wanita sedang mengintip dan ragu-ragu untuk keluar, atau malah bisa juga ditafsirkan sedang mengajak kita untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menceritakan perjalanan hidup seorang keturunan kyai yang bimbang dan terombang-ambing dalam pilihan antara mengemban amanat meneruskan kepemimpinan pesantren ataukah menapaki kehidupan yang ia pilih sendiri. Novel ini unik dan kaya karena memadukan latar belakang pesantren, budaya jawa yang penuh mistik, serta kehidupan modern yang bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Santri dalam Kebingungan Budaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka dengan sebuah prolog, atau oleh penulis disebut sebagai prawayang, yang merupakan cuplikan dari sebuah kisah wayang. Sebuah lontar yang ditulis oleh Danareja untuk ayahnya Wisrawa raja Lokapala. Danareja merasa telah dipenggal kisah cintanya oleh ayahnya sendiri yang tega menyetubuhi Dewi Sukesi, calon istri Danareja. Itu terjadi karena Dewi Sukesi meminta Wisrawa membuka rahasia ilmu Sastra Gendra sebagai syarat ia mau menjadi menantu. Akibat dari diuarnya ilmu rahasia tersebut ternyata sangatlah fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah utama novel ini dimulai pada akhir tahun 1995 di Surabaya. Jarot alias Abdullah Sattar seorang mahasiswa Sastra Indonesia secara kebetulan mendapatkan sebuah buku yang didalamnya tertulis bait2 guritan (puisi berbahasa jawa) yang berjudul "Sastra Gendra". Munculnya guritan itu melayangkan pikiran Jarot ke perjalanan yang telah ia tapaki hingga saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarot adalah keturunan seorang kyai yang memiliki sebuah pondok pesantren di sebuah desa bernama Alas Abang. Sejak kecil Jarot telah digadang-gadang akan menjadi penerus Mbah Adnan, kakeknya, karena kakeknya dapat melihat keistimewaan dalam diri Jarot. Namun saat Mbah Adnan meninggal Jarot masih seorang anak kecil, maka sementara menunggu Jarot dewasa kepemimpinan pondok dipegang oleh paman Jarot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarot memang memiliki keistimewaan. Ia mampu menghafal dengan sekali baca. Tapi kecerdasannya itu membuatnya cepat bosan dan mencari hal2 baru untuk dipelajari. Diam2 ia belajar budaya jawa dan mistiknya kepada Wak Tomo. Ketika ketahuan keluarganya marah besar, dan ia dilarang bertemu Wak Tomo lagi. Namun Jarot tetaplah seorang pemberontak. Saat SMA ia keluar dari pesantren tempat ia belajar, dan memutuskan hanya sekolah di SMA umum. Dan setamat SMA ia memutuskan untuk kuliah di Surabaya, jauh dari Alas Abang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan kota besar, Jarot tetap berusaha menjaga akhlaqnya seperti yang ditanamkan kepadanya sejak kecil. Meskipun pada akhirnya perlahan seiring waktu, mulai terjadi kebocoran satu demi satu. Dan puncaknya adalah saat ia mendapati dirinya berada satu ranjang dengan seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bersalah Jarot akan tindakannya, membuat ia merasa tak punya muka di depan seluruh keluarganya di Alas Abang. Ia merasa tak layak untuk meneruskan kepemimpinan pondok, dan harus menghukum dirinya sendiri. Setelah lulus kuliah, ia pergi ke Ambon dan menikah disana tanpa pamit tanpa kabar ke Alas Abang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita novel ini kemudian melompat ke tahun 2040, dengan Aida sebagai tokoh utamanya. Aida adalah anak Jarot. Saat liburan semesternya ia memutuskan pergi ke Jawa untuk menelusuri masa lalu ayahnya yang tak pernah diungkapkan. Aida pergi ke Surabaya, menemui teman kuliah ayahnya, dan kemudian pergi ke Alas Abang tanah kelahiran ayahnya. Di Alas Abang Aida disambut dengan hangat, layaknya seorang anak hilang yang telah lama dinanti kedatangannya kembali. Dan disana Aida harus berhadapan dengan setumpuk kenyataan dari masa lalu ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penuh Eksperimen Penulisan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ini merupakan novel debutan dari penulisnya, tapi berbagai eksperimen cara bertutur telah dipamerkan disini. Pembaca yang terbiasa dengan novel yang beralur linear mungkin akan kebingungan mengikutinya. Sementara mereka yang suka bertualangan dalam plot cerita yang penuh eksperimen, mungkin bisa menikmati sebagai sebuah pengalaman membaca yang menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot cerita maju mundur mungkin sudah tidak terlalu aneh, karena sudah sering dipakai sebagai cara lain dalam menyusun cerita. Namun bukan itu yang membuat novel ini agak membingungkan. Penulis dalam novel ini dengan sangat bebas berganti-ganti penutur dan cara bertutur. Kadang ia menjadikan Jarot sebagai penutur pertama, kemudian pada sub bab berikutnya melompat dengan penutur orang ketiga, kemudian berganti tokoh Puteri yang menjadi 'aku'. Pembaca harus menebak-nebak sendiri setiap berganti bab, siapa sekarang yang menjadi 'aku'?. Dan puncak kebingungan akan terjadi pada bagian ketiga, ketika tiba-tiba saja penutur 'aku' adalah tokoh yang baru sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pergantian penutur, penulis juga bermain-main dengan cara berkisah. Pada satu saat, ia menggunakan buku harian untuk menceritakan kehidupan Jarot pada masa SMA. Pada bagian lain penulis menggunakan format wawancara resmi untuk sebuah tanya jawab. Dan karena hanya digunakan pada satu bagian saja maka tampak kalau pemakaian format bercerita itu hanya sebagai sebuah eksperimen untuk mewarnai karya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengalaman Pribadi Penulis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca profile penulisnya, sangat mungkin novel ini paling tidak terinspirasi oleh kisah hidup penulis sendiri. Penulis pernah menjadi santri di beberapa pesantren, pantaslah jika bisa menggambarkan kehidupan pesantren baik itu lingkungan maupun macam2 pelajarannya dengan cukup detail. Dan saat ini penulis banyak berkutat dalam dunia seni terutama dalam khasanah budaya Jawa, maka pantaslah juga jika cerita wayang dan segala macam pernik budaya jawa dapat disampaikan dengan fasih. Apakah segala pertentangan batin Jarot yang ia ciptakan sendiri akibat tarik menarik antara Islam - Jawa - Kebebasan Modern juga pengalaman pribadi penulis? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latarbelakang penulis yang lebih banyak berkecimpung dalam dunia puisi cukup terasa dalam penulisan novelnya. Meskipun tidak sampai menjadikan novel ini sebagai prosa liris, tapi pada beberapa bagian memang terasa puitis. Tidak terlalu banyak dialog, lebih banyak berkisah tentang pergulatan batin tokoh yang sedang menjadi 'aku' pada saat itu. Sehingga emosi novel ini terasa seperti terpendam dalam pikiran masing2 tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan demi Pertanyaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang dibiarkan menggantung tanpa penjelasan hingga akhir novel ini. Memang, perjalanan hidup Jarot akhirnya terungkap meskipun tidak cukup runtut, tapi tetap tidak jelas benar apa yang sebenarnya terjadi setelah Jarot pergi dari Surabaya. Dari sosok Aida, anaknya, tergambar bahwa Jarot tidak mengajarkan banyak kepada Aida tentang Islam maupun tentang budaya Jawa, dua hal yang sangat didalami oleh Jarot pada masa mudanya. Aida menjadi anak muda modern yang sama sekali awam terhadap akar budaya ayahnya. Agak mengherankan mengingat Jarot tadinya digambarkan sangat idealis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan judul "Hubbu" juga menjadi pertanyaan. Mengapa harus menggunakan bahasa Arab? Dalam novel ini memang tokohnya sedikit banyak mengerti bahasa arab, tapi kalimat berbahasa arab nyaris tidak pernah muncul kecuali satu dua saja dalam novel ini. Kedua kenapa harus berjudul "Hubbu" yang artinya "Cinta"? Padahal menurutku inti novel ini bukan tentang 'cinta', tapi tentang pergulatan Jarot dalam berbagai macam kutub budaya yang mempengaruhi dirinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat timbul pertanyaan lain tentang setting waktu. Terasa aneh mengapa Aida harus hidup pada tahun 2040? Itu terasa dipaksakan ketika ternyata penulis tidak berhasil atau memang tidak berusaha membangun setting masa depan yang jauh lebih maju. 30 tahun dari sekarang, teknologi entahlah sudah seperti apa majunya. Penulis tetap terpaku pada teknologi saat ini, telepon genggam belum menjadi video call, internet masih menggunakan situs2 saat ini dan belum ada perpustakaan online yang super lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dicermati lagi, terjawablah bahwa ada satu momen real yang ingin tetap dipertahankan oleh penulis. Momen nyata itu adalah pemuatan guritan "Sastra Gendra" karya Budi Palopo di majalah Jaya Baya pada tanggal 18 Oktober 1994. Tampaknya inilah batu pertama yang menjadi dasar penulisan novel ini untuk mundur ke masa silam maupun maju ke masa depan. Diskusi antara Jarot dan Budi Palopo tentang "Sastra Gendra" mestinya juga adalah sebuah wawancara nyata yang dilakukan oleh penulis. Pantaslah jika formatnya tetap dipertahankan dalam bentuk wawancara resmi agar seperti apa adanya, meskipun jadi terasa aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Unik tapi Tidak Tuntas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah cerita, novel ini berkisah tentang banyak hal yang diramu dalam sebuah perpaduan yang cukup unik. Hanya sayangnya tidak diselesaikan dengan tuntas. Novel ini ditutup agak mengejutkan tapi tanpa emosi dan kemudian menyisakan banyak pertanyaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas Ahmad Tohari, juri sayembara Novel DKJ 2006 menyatakan bahwa novel ini "sangat utuh dan padu ceritanya". Entahlah, aku bukan sastrawan kawakan yang bisa memahami novel ini hingga sederajad dengan pemahaman pak Ahmad Tohari :)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-393722542207082889?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/393722542207082889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=393722542207082889' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/393722542207082889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/393722542207082889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/09/hubbu.html' title='Hubbu'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rt0QBxxSuXI/AAAAAAAAAI0/hEmqjh3KWdQ/s72-c/hubbu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-7607643807099409659</id><published>2007-08-21T08:17:00.000+07:00</published><updated>2007-08-21T11:28:43.399+07:00</updated><title type='text'>Mahasati</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RsppwBxSuTI/AAAAAAAAAIY/t0FBPFr-XQQ/s400/mahasati.jpg" border="0" alt=""id="Mahasati, Qaris Tajudin" /&gt;Ini adalah karya novel debutan dari, sekali lagi, seorang jurnalis majalah Tempo, Qaris Tajudin. Bertajuk "Mahasati" yang diterbitkan oleh Akoer, Mei 2007, dalam 392 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat gambar sampul berupa sepasang tangan tergenggam yang terikat erat oleh sehelai kain merah, dan jika kemudian dilanjutkan dengan membaca sekilas sinopsis di sampul belakang yang diantaranya terangkai kata-kata "Guantanamo", "tawanan perang Afghanistan", lalu "pasukan Mujahidin", maka kemungkinan besar yang terbangun adalah prasangka awal bahwa ini adalah novel yang berkaitan erat dengan peperangan dan perjuangan di Afghanistan dan apa yang banyak disebut orang sebagai "terorisme".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi prasangka itu ternyata salah. Memang novel ini bersinggungan sangat dekat dengan pejuang kebebasan di Tunisia, dan kemudian derap peperangan tiada henti di Afghanistan pada masa kekuasaan Taliban. Namun itu hanyalah setting dan latarbelakang dari kisah inti novel ini. Novel ini adalah novel tentang cinta. Tentang perjalanan cinta yang tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tentang Cinta yang Kandas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tawanan tanpa identitas telah dua bulan diinterogasi dan disiksa di penjara Guantanamo, tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia ditangkap di Afghanistan saat sedang mengangkat senapan Kalashnikov AK-47 di tangannya. Seorang petugas interogator baru diturunkan untuk menanganinya. Lucia Wong yang berdarah asia, diharapkan bisa memberikan pendekatan baru untuk mengorek keterangan dari tawanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata metode tanpa tekanan yang dilakukan Lucia berhasil. Tawanan itu bersedia berbicara. Dia adalah Andi Jatmika, warga Indonesia yang mengembara ke Tunisia hingga Afghanistan bukan untuk ikut berperang demi ideologi tapi untuk mengubur kisah cintanya terhadap Sati. Kepada Lucia, Andi mengisahkan perjalanan hidupnya secara langsung dan melalui tulisan nya di sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi dan Sati telah berteman sejak kecil. Ketika remaja mereka kemudian menjadi sepasang merpati yang saling menyayangi, meskipun kemudian takdir mengharuskan mereka terpisah. Bertahun-tahun kemudian mereka bertemu kembali setelah dewasa. Kisah cinta pun berlanjut, meskipun Sati telah memiliki seorang anak tanpa ayah yang resmi. Namun kebahagiaan Andi dan Sati sekali lagi berakhir di tangan takdir, dan kali ini berakhir untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi yang merasa baru menemukan hidupnya kembali menjadi sangat terpukul, karena ia merasa menjadi orang lemah yang tak mampu melindungi dan memperjuangkan hak2 Sati sebelum Sati akhirnya meninggal. Untuk menenangkan batinnya dan menghapuskan bayangan sedih Sati, Andi memutuskan pergi jauh dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saran seorang teman, Andi pergi ke Tunisia dengan tujuan mempelajari agama agar ia bisa kembali dekat kepada Tuhan. Disana ia berkenalan dengan Ahmed, anak induk semangnya. Karena ajakan Ahmed, Andi pun terseret dalam pergerakan para mahasiswa yang memperjuangkan kebebasan melawan pemerintah. Hingga satu saat Andi pun tercantum dalam daftar hitam sebagai orang yang dicari setelah suatu peristiwa peledakan bom. Andi dan Ahmed atas bantuan seorang teman berhasil lari ke Sisilia, dan mendapat perlindungan dari bos mafia Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tak aman dalam lingkungan mafia, Andi dan Ahmed memutuskan pergi lagi. Kali ini ke Afghanistan, tempat yang sangat terbuka dan siap memberikan perlindungan bagi muslim yang sedang dalam pelarian. Tapi mereka tidak bergabung dengan pasukan Taliban ataupun sisa2 Mujahidin. Ahmed bekerja sukarela sebagai dokter di rumah sakit yang terbengkalai. Dan Andi sendiri kemudian diajak oleh seorang anak muda Afghanistan bernama Fairuz untuk menjadi pasukan pelindung suku nomaden dari serangan perampok mantan sisa-sisa mujahidin yang frustasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ritual Sati Demi Cinta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasati adalah nama sebuah patung di India yang dibangun untuk mengabadikan sebuah tradisi kuno tentang istri-istri yang begitu setianya kepada sang suami hingga pada saat suaminya meninggal dan jenazahnya dibakar untuk diperabukan mereka rela ikut mati dibakar. Tradisi itu dikenal dengan nama Sati, yang kebetulan sama dengan nama panggilan Larasati, salah satu tokoh dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi yang memutuskan berkelana setelah kematian Sati, dan harus mengalami banyak kepahitan hidup sepanjang pengembaraannya, merasakan dirinya juga sedang melakukan Sati untuk Larasati. Jiwanya ikut mati bersama Sati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhirnya, di ganasnya alam pegunungan berbatu Afghanistan, Andi menemukan lagi sebuah cinta. Sudah terkuburkah Sati di dalam diri Andi? Lalu bagaimana dengan gelang kaki dan saputangan milik Sati yang diamanatkan oleh Sati untuk diserahkan kepada anak perempuannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Plot Ganda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disajikan secara unik dengan dua plot berbeda waktu yang saling jalin-menjalin membangun cerita. Plot pertama dengan Lucia Wong sebagai narator yang bercerita tentang prosesnya menginterogasi Andi Jatmika di penjara Guantanamo. Plot kedua berasal dari buku yang ditulis Andi selama di sel tahanan untuk dibaca oleh Lucia, berkisah tentang perjalanan hidup Andi hingga ia tertangkap di Afghanistan. Kedua plot dengan narator yang berbeda itu bergantian mengisi bab-bab dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latarbelakang penulis yang seorang jurnalis tampaknya menjadi modal yang cukup kuat dalam novel ini. Ia dengan pengalamannya mampu berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Dan di setiap tempat ia memiliki data tentang sejarah setempat yang bisa ia alirkan untuk menjadi latarbelakang kisahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Andi Jatmika yang tanpa tujuan membuat pembaca akan serasa mengambang tak jelas hendak kemana saat masih berada di pertengahan cerita. Kadang terasa seperti halnya membaca sebuah jurnal perjalanan dari pengembaraan orang frustasi. Tapi untunglah ternyata endingnya berhasil dengan baik menutup kisah cinta yang tragis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Novel Cinta di Pinggiran Intrik Politik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kisah intinya adalah sebuah cerita tentang cinta, tapi Qaris Tajudin juga menyelipkan banyak hal dalam novel ini. Tidak melulu tentang romantis dan melankolisnya cinta. Ketika Andi ikut terlibat dalam pergerakan di Tunisia, sempat dijabarkan tentang bagaimana dan mengapa pergerakan bawah tanah yang berbasis Islam itu terjadi. Dipicu oleh kemuakan para pemuda terhadap pemerintah yang korup dan munafik. Begitu pula ketika Andi melarikan diri ke Afghanistan. Peliknya perseteruan perang saudara di Afghanistan ikut menghiasi novel ini. Dan Qaris Tajudin banyak tahu tentang semua hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia tidak membiarkan tokohnya ikut terbelit dalam semua masalah politik di negara-negara yang sedang rusuh tersebut. Ia meletakkan tokohnya hanya di pinggiran dari kekacauan tersebut. Saat di Tunisia, Andi hanyalah seorang peserta pengajian anak muda, yang tahu tentang pergerakan itu tapi tidak ikut aktif. Di Afghanistan, Andi tidak mengangkat senjata untuk ikut berperang, tapi untuk melindungi ternak dan harta benda kaum nomaden. Dengan posisi seperti ini penulis menjadi tetap bebas tidak terjebak dalam intrik-intrik politik yang rumit, sehingga ia bisa tetap menuturkan perjalanan cinta tokoh utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bertabur Puisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter tokoh-tokohnya cukup kuat. Andi yang tegar dan keras kepala. Sati yang mandiri. Lucia Wong yang dingin dan kaku. Ahmed dan Fairuz yang keras dan tegas selayaknya anak muda di daerah yang sedang bergejolak. Namun keteguhan sebagian dari mereka ternyata labil ketika digoncang oleh gelombang cinta yang pasang surut. Andi kehilangan semangat hidup, Sati berubah menjadi lembek, dan Lucia tersentak ketika sadar ia tidak memiliki cinta. Sayangnya kadang perubahan itu terasa begitu mendadak, sehingga terkesan karakter tokohnya tidak konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semakin menegaskan bahwa ini adalah novel tentang cinta, penulis banyak menaburkan puisi demi puisi untuk mengungkapkan perasaan hati sang tokoh. Hanya saja, kenapa harus mengutip puisi orang lain ya? Tokoh Andi menjadi seorang penggila puisi yang hafal banyak puisi terkenal, dan mengutipnya pada saat2 yang ia rasakan pas. Sah sah saja dan mungkin saja, tapi bukankah kalo seandainya si Andi adalah seorang yang memang romantis dan puitis, ia akan menggambarkan suasana hatinya dalam puisi yang ia cipta sendiri? bukan mentartil dan membuka memori hafalannya tentang sekian banyak puisi. Kurang percaya dirikah, sehingga sekian banyak puisi di novel ini harus meminjam karya orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengambang Kemudian Mengiris&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kejanggalan memang, seperti yang diungkap Perca dan Jody di reviewnya masing-masing, tentang Sati yang tiba-tiba mengidap kelainan jantung bawaan dan tentang valium 500 gram. Ada juga pertanyaan, mengapa Andi di penjara tidak menyisakan kenangan tentang cintanya pada Nafas? kenapa hanya gelang kaki dan saputangan milik Sati? Bukankah bertahannya Andi selama dua bulan dalam penyiksaan adalah ritual Sati yang dilakukan Andi untuk Nafas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun secara keseluruhan sebagai novel cinta yang berbumbu perjuangan di negara2 yang sedang bergolak, novel ini cukup berhasil memukau. Asalkan dibaca hingga selesai, karena hingga menjelang akhir novel ini masih terasa mengambang tanpa tujuan. Dan endingnya lah yang mungkin akan membuat pembaca tersedak dan teriris. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-7607643807099409659?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/7607643807099409659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=7607643807099409659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7607643807099409659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7607643807099409659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/08/mahasati.html' title='Mahasati'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RsppwBxSuTI/AAAAAAAAAIY/t0FBPFr-XQQ/s72-c/mahasati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-4092047007737829507</id><published>2007-08-05T11:54:00.000+07:00</published><updated>2007-08-05T11:56:57.813+07:00</updated><title type='text'>Glonggong</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RrVYWyTUOII/AAAAAAAAAIQ/PX9cvDMfuyQ/s400/glonggong.jpg" border="0" alt="Glonggong, Junaedi Setiyono" /&gt;Novel karya Junaedi Setiyono ini adalah satu diantara lima pemenang Sayembara Menulis Novel 2006 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. "Glonggong" judulnya, diterbitkan oleh Serambi, Juli 2007, 293 halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glonggong dalam bahasa jawa, selain berarti memberi minum sapi banyak2 sebelum disembelih untuk menaikkan bobot tubuh si sapi sehingga bisa dijual lebih mahal, di daerah tertentu Glonggong juga berarti batang daun pepaya. Pada novel ini yang digunakan adalah makna yang kedua. Bentuk batang daun pepaya yang panjang, lurus, meruncing di ujung dan lekukan di pangkalnya menjadikannya seperti pedang. Anak2 pun menggunakannya sebagai senjata dalam permainan perang2an. Kokoh tapi lentur, sehingga tidak akan sampai melukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glonggong di novel ini juga merupakan nama panggilan dari seorang anak, yang tinggal di daerah Tegalsari Jawa Tengah pada masa hidupnya Pangeran Diponegoro, yang kemahirannya memainkan glonggong di tangan hingga teman2nya memanggilnya sebagai Glonggong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari Masa Perang Diponegoro&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini bercerita tentang kehidupan Glonggong sejak kecil hingga meninggalnya Pangeran Diponegoro di pengasingan pada tahun 1855. Bukan, ini bukan novel tentang Pangeran Diponegoro, ini tentang Glonggong yang memang sempat menjadi salah satu pasukan Pangeran Diponegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memang menjadi salah satu kebiasaan anak2 setempat, sejak balita Glonggong telah mengayun-ayunkan batang daun pepaya. Ayah kandungnya entah dimana setelah terlibat dalam pemberontakan yang gagal. Ayah tirinya jarang di rumah. Dan ibunya sakit2an lebih sering mengurung diri di kamar. Glonggong pun semakin akrab dengan glonggongnya dan semakin mahir. Dengan keahliannya si bocah Glonggong pun disegani teman2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Glonggong mulai sengsara ketika ia dan ibunya dibuang ke sebuah gubuk karena gelagat ibu Glonggong yang semakin aneh. Glonggong remaja harus merawat ibunya sendirian. Hingga akhirnya sebuah tragedi menyurukkan Glonggong menjadi sebatang kara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Glonggong mengayunkan senjata berupa batang daun pepaya yang telah dikenal banyak orang, akhirnya menjadikan ia sebagai centeng muda di rumah salah seorang pangeran. Kekagumannya kepada Kanjeng Pangeran Aria Dipanegara yang tegas tidak mau tunduk kepada Belanda dan tidak terpikat pada iming2 duniawi, membulatkan tekat Glonggong untuk satu saat bergabung dengan pasukan Dipanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam langkah demi langkah perjalanan hidupnya Glonggong harus menghadapi betapa liciknya orang2 yang haus kekuasaan. Permainan dan intrik membuat tak jelas lagi siapa yang sebenarnya lawan atau kawan. Dan atas dasar kepentingan2 tertentu semua itu bisa berubah setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Si Pendekar Batang Daun Pepaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup Glonggong lumayan menarik untuk terus diikuti hingga selesai. Proses saat ia belajar memainkan glonggong hingga mampu mengalahkan lawan2 yang lebih tua serasa mengikuti proses seorang pendekar silat menguasai suatu jurus pamungkas. Intrik2 dan skandal di antara para bangsawan memperebutkan dunia mengungkapkan bahwa borok bangsa kita ini sudah ada sejak dahulu. Dengan selingan kilasan potongan sejarah sepak terjang Pangeran Diponegoro sebagai latar belakang membuat novel ini terasa lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dituturkan dengan cepat tanpa terlalu mendramatisir adegan demi adegan terlalu panjang. Pembaca tidak akan menjadi bosan karena terlalu lama di satu adegan. Baik itu perkelahian maupun adegan yang agak romantis semuanya berjalan cepat tanpa diberi detail yang berlebihan. Kadang jadinya terasa melompat-lompat dan harus menebak-nebak sendiri apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan seperti itu menimbulkan kesan si penutur adalah pria yang sangat cuek. Tidak peduli dengan detil2 yang tidak perlu. Yang penting adalah apa yang ia cari dan tuju. Tidak bersedia mendayu-dayu memikirkan segala kesengsaraan hidup. Biarlah dijalani saja, tak perlu didramatisir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kadang rada keterlaluan juga sih kesan tidak peduliannya. Glonggong tidak pernah bertanya2 tentang ayah kandungnya ke orang2 sekitar, ia baru bertanya setelah ada seseorang mengungkitnya saat ia remaja. Tidak bertanya apa yang terjadi sehingga ibunya sedih terus. Tidak memberontak ketika diusir dari rumahnya. Jikapun bertanya ia tidak pernah mencecar hingga tuntas semua masalah, kecuali saat bertemu dengan Kiai Ngali. Mungkinkah ia terlalu 'njawani' sehingga segan bertanya karena 'ewuh pakewuh'. Atau mungkinkah dia autis dan hidup hanya dengan glonggongnya saja :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang agak mengganggu, penulis kadang tersesat dalam pengaturan time frame. Saat Glonggong masih kecil dan sedang belajar menguasai permainan glonggong, plot waktunya maju mundur agak membingungkan. Ketika Glonggong remaja menemukan makam ibunya di suatu desa, waktu sudah berjalan sekian lama tapi makam ibunya masih terlihat sebagai gundukan tanah baru. Dan beberapa keganjilan lain dalam menentukan rentang waktu kejadian jika dibandingkan kejadian lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manusia dan Kekuasaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak meninggalkan kesan yang sangat mendalam, tapi novel ini memang layak menjadi salah satu pemenang lomba menulis novel. Kisahnya utuh dan lengkap, tidak ada bagian cerita yang mubazir tanpa tujuan. Cara bertuturnya lancar enak diikuti meskipun kadang mengabaikan detil. Karakter tokoh-tokohnya cukup matang, dari yang idealis hingga yang plin plan dan bermuka dua. Semua kisah dan intriknya masuk akal tidak mengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca cerita penuh intrik seperti ini membuat kita berpikir, bahwa dalam hal berebut kekuasaan atas harta, tahta dan wanita orang bisa menjadi sangat tamak. Dibalik topeng manis keseharian sebagai pangeran, bangsawan, kiai, atau bahkan sahabat bisa saja tersembunyi suatu kehidupan atau rencana untuk kepentingan mereka sendiri. Sulit mencari kesetiaan dan kesejatian, yang ada adalah kepentingan masing2 orang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-4092047007737829507?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/4092047007737829507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=4092047007737829507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4092047007737829507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/4092047007737829507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/08/glonggong.html' title='Glonggong'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RrVYWyTUOII/AAAAAAAAAIQ/PX9cvDMfuyQ/s72-c/glonggong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6296729892725498673</id><published>2007-07-30T07:18:00.000+07:00</published><updated>2007-07-30T07:21:11.109+07:00</updated><title type='text'>Pemakaman Langit</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rq0uziTUOHI/AAAAAAAAAII/BPkqa28vnF4/s400/skyburial.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092778216541927538" /&gt;Ini adalah novel dengan latar belakang negeri Tibet yang pertama kali aku baca. Membaca kisah yang memperkenalkan kita dengan detail dari kebudayaan lain yang masih asing buat kita sering kali menumbuhkan ketertarikan tersendiri sembari belajar dan menambah wawasan tentang budaya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sky Burial" atau "Pemakaman Langit" ini adalah novel karya Xinran, penulis wanita dari China yang pernah menjadi wartawan dan penyiar radio, dan sekarang menetap di London. Ditulis pada tahun 2004. Versi bahasa Indonesia-nya diterjemahkan oleh: Ken Nadya, diterbitkan oleh Serambi Agustus 2007 dalam 286 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan subjudul "Sebuah Kisah Cinta Heroik dari Tibet", novel ini memadukan kisah tentang perjalanan memperjuangkan cinta dengan latar belakang budaya masyarakat Tibet yang sangat unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pencarian Cinta di Dinginnya Tibet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil setting awal di negeri China pada tahun 1958, saat China dan Tibet masih berada dalam perseteruan panas. Di kota Shuzou, Kejun dan Shu Wen adalah sepasang suami istri berprofesi dokter yang baru saja menikah. Setelah menikah Kejun dikirim sebagai dokter militer ke daerah konflik di Tibet. Dan saat umur pernikahan mereka barulah 3 bulan, Shu Wen menerima surat pemberitahuan bahwa Kejun telah tewas dalam sebuah insiden di Tibet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shu Wen yang begitu dalam mencintai Kejun sangat terpukul dengan pemberitahuan itu. Tanpa berpikir terlalu lama, ia memutuskan untuk mencari Kejun di Tibet. Ia belum percaya bahwa Kejun telah tewas. Bisa saja berita itu salah. Kalaupun Kejun memang sudah tewas, ia ingin melihat kuburnya dan mengetahui kisah lengkapnya bagaimana suami tercintanya itu tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shu Wen pun mendaftarkan diri menjadi dokter militer, mendaftar pada unit yang sama dengan unit suaminya dulu, dan kemudian meminta dikirim ke lokasi yang sama dengan suaminya. Dan Shu Wen pun meninggalkan orang tua dan keluarganya di Shuzou menempuh ribuan kilometer untuk mencari Kejun di Tibet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konvoi besar truk militer, perjalanan Shuzou sudah terhambat ketika baru beberapa hari menelusuri Tibet. Pasukan Tibet yang bergerilya berhasil menguasai pasukan tentara Cina itu dan memaksa mereka kembali ke China. Shuzou memilih tinggal dan mengembara bersama Zhouma, seorang gadis Tibet yang ia selamatkan dari tentara cina yang ingin membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhouma kebetulan senasib dengan Shu Wen, ia terpisah dari Tiananmen, orang yang dicintainya setelah ia meninggalkan rumah dan harta bendanya. Berdua mereka mencari kekasih masing-masing tanpa tujuan yang pasti. Dalam pengembaraan itu mereka bergabung dengan satu keluarga nomaden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama keluarga Gela, Saiebao, Geer dan anak2 mereka Shu Wen meleburkan diri dalam kebudayaan nomaden orang Tibet, sembari ia pantang menyerah terus mencari petunjuk tentang keberadaan Kejun, cintanya yang terdalam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tibet dan Pemakaman Langit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dinyatakan secara tertulis, apakah ini kisah nyata atau bukan. Tapi sepertinya ini adalah kisah nyata. Dan jika memang benar begitu, perjalanan pencarian Shu Wen selama puluhan tahun hingga rambutnya beruban ini memang layak disebut 'heroik'. Yup, puluhan tahun. Shu Wen berangkat ke Tibet sekitar tahun 1958. Ia baru kembali ke Shuzou, dan bertemu dengan Xinrang penulis buku ini pada tahun 1994! Tiga puluh enam tahun ia menghabiskan usia mencari suaminya di Tibet, negeri di atap langit yang dingin dan sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran detil kehidupan keluarga nomaden Tibet di novel ini benar-benar membukakan mata. Sungguh tidak terbayangkan bagi orang2 yang sudah sangat terbiasa hidup bergantung pada teknologi modern untuk hidup mengikuti irama alam sebagaimana orang nomaden dari Tibet itu. Hidup di tenda, menggembalakan ternak, membuat mentega dan keju sendiri, mencari makan dengan berburu, dan berpindah tempat saat musim berganti. Dan itu dilakukan sepanjang hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan judul novel ini, adalah salah satu tata cara orang Tibet melakukan pemakaman keluarga mereka. Pemakaman Langit. Agak sedikit sadis dan mengerikan. Karena jenazah akan dipotong-potong, disayat-sayat untuk memisahkan tulang dari daging, lantas setiap tulang dimemarkan hingga hancur... kemudian diletakkan di sebuah lembah untuk menjadi santapan burung Nasar hingga tak bersisa... Menurut mereka itu bukanlah sesuatu yang kejam, tapi itu adalah salah satu cara untuk hidup dalam harmoni dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun novel ini bukan semata-mata tentang pemakaman langit tersebut, tapi pemakaman langit itu menjadi satu kejadian yang sangat menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Heroik Menggetarkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah perjalanan hidup yang.. ah.. tidak terbayangkan. Pengorbanan dan perjuangan demi mencari belahan jiwa yang bukan saja dramatis, tapi heroik. Puluhan tahun mengarungi sepinya dataran tinggi Tibet yang begitu luas, demi mencari secuil informasi tentang seseorang yang pernah menapakkan kaki disana. Bertahan dalam kesederhanaan hidup, yang bagi banyak orang mungkin terasa menyengsarakan, demi sepercik harapan. Karena dahsyatnya kekuatan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir novel ini, kegetiran akan terus melingkupi, bahkan mungkin sampai beberapa saat setelah selesai membacanya. Klimaksnya sangat menggetarkan, suatu pengorbanan yang sekali lagi tak terbayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terus terang saja, novel ini sebenarnya bisa jauh lebih menggetarkan jika ditulis dengan lebih dramatis. Dengan cara penuturan yang lebih mendalam tentu akan lebih bisa menggerus emosi pembacanya. Plot ceritanya sendiri sudah sangat menyentuh dan mengharubiru, cuman kurang sentuhan disana sini. Aku membayangkan kalau saja yang menulis ini adalah Khaled Hosseini... waaaa... bakal mampus gw.. :D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6296729892725498673?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6296729892725498673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6296729892725498673' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6296729892725498673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6296729892725498673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/07/pemakaman-langit.html' title='Pemakaman Langit'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rq0uziTUOHI/AAAAAAAAAII/BPkqa28vnF4/s72-c/skyburial.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-5717892146393064605</id><published>2007-07-24T07:38:00.001+07:00</published><updated>2007-07-24T07:41:02.429+07:00</updated><title type='text'>Janda dari Jirah</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RqVKZiTUOGI/AAAAAAAAAIA/bYNat-ll_SQ/s400/jandajirah.jpg" border="0" alt="Janda dari Jirah, Cok Sawitri" /&gt;Kembali sebuah novel berlatarbelakang sejarah muncul lagi di pasaran. "Janda dari Jirah" karya Cok Sawitri. Terbitan Gramedia, Juni 2007, 187 halaman. Kisah tentang seorang janda yang berilmu tinggi yang hidup di masa pemerintahan Airlangga di kerajaan Kahuripan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuliskan kembali sejarah dalam bentuk fiksi sepertinya gampang2 susah. Apalagi kalau itu dari jaman yang tidak terlalu banyak dokumentasi mendetail. Penulis harus mengira-ira sendiri apa yang sebenarnya terjadi, lalu mereka-reka adegan demi adegan. Apalagi jika cerita yang ingin dituturkan adalah cerita yang sama sekali berbeda dibandingkan penuturan sejarah yang selama ini diketahui banyak orang. Dan Novel "Janda dari Jirah" ini adalah salah satu contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Versi Lain dari Kisah Calon Arang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersetting di sekitar tahun 940-an tahun Saka. Saat Airlangga bersama Narotama kembali ke Medang untuk merebut kembali istana dan tahta kerajaan Medang yang sempat diporakporandakan oleh Sriwijaya yang dibantu oleh kerajaan tetangga mereka Wurawuri. Meskipun Airlangga hanyalah menantu dari Raja Medang terdahulu, dan bukan keturunan wangsa Isyana, Airlangga menduduki tahta Medang dan mengganti nama kerajaan menjadi Daha (sumber lain menyebutkan sebagai kerajaan Kahuripan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah kekuasaan Airlangga tersebutlah daerah yang bernama Kabikuan Jirah. Di kabikuan ini, tepatnya di Setra Gandamayu tinggallah seorang janda dengan putrinya bernama Ratna Manggali. Sang Ibu ini adalah penganut Budha Tantra yang sangat taat, dan ilmunya telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Semua orang dari rakyat jelata hingga para raja segan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Ratna Manggali dari tempatnya di Setra Gandamayu memiliki kekuasaannya tersendiri. Raja2 yang berkuasa di sekitarnya tidak pernah berani menyentuh tanah2 milik Kabikuan. Penduduk kabikuan adalah orang2 yang disegani karena ketaatannya dan kerendahhatiannya. Tanah kabikuan adalah tanah yang terlarang untuk dilewati oleh prajurit yang bertujuan berperang untuk membunuh musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat Daha akan menyerang balas ke kerajaan Wurawuri dan sedang mencoba meminta ijin kepada Ibu Ratna Manggali untuk melintasi tanah Kabikuan, beberapa panglima yang tidak sabaran melanggar aturan kabikuan. Mereka menerobos salah satu dusun yang dikuasai Kabikuan dan menumpahkan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan semakin rumit ketika Airlangga hendak menobatkan putrinya sebagai Putri Mahkota, dari Kabikuan muncul seorang pemuda yang diakui sebagai pewaris tahta yang sah dari keturunan Wangsa Isyana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Puitis dan Teatrikal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cok Sawitri adalah seorang penyair dan penulis naskah teater. Dan itu terasa sekali dalam novel karyanya ini. Novel ini mungkin bisa disebut sebagai prosa liris. Karena dituliskan seperti kalimat2 dalam puisi yang liris tetapi dalam bentuk prosa. Kalimat2 deskriptif nya indah layaknya puisi, dan dialog2nya teatrikal penuh perlambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling melambungkan imajinasi adalah pada bagian2 yang penuh fantasi. Saat pohon kepah dan kepuh di Setra Gandamayu berbicara dengan rerumputan, saat murid-murid utama Kabikuan Jirah menunjukkan kemampuan di atas normal mereka. Bagian2 itu disajikan dalam balutan kalimat2 indah yang mengajak pembaca membayangkan sebuah dunia yang penuh keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mungkin tidak semua orang menyukai gaya tulisan seperti itu, yang berbunga-bunga dengan simbolisme yang harus dicerna dan dicari maknanya sendiri. Tapi memang begitu kan yang namanya puisi dan teater...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Terlarang?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bersumber dari mana, Cok Sawitri menyatakan bahwa kisah yang dia tulis di novel ini adalah kisah yang merupakan bagian terlarang untuk diceritakan. Para empu penulis dan penyair di masa Kediri dilarang menuliskan kisah ini karena akan mencoreng kebesaran nama Raja Airlangga yang dianggap sebagai titisan dewa Wisnu itu. Alih-alih mereka malah membuat cerita fiktif tentang Calon Arang dari desa Girah yang menyebarkan penyakit di wilayah Kediri, karena anaknya Ratna Manggali tidak ada yang melamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cok Sawitri memutar balikkan posisi Ibu Ratna Manggali dari tukang tenung antagonis menjadi seorang wanita suci yang menjadi penyelamat Wangsa Isyana. Salah satu dalihnya adalah, tidak mungkin ia bisa menguasai kitab yang berisi ilmu2 tingkat tinggi - yang dalam kisah Calon Arang diperebutkan dengan Mpu Baradah - jika ia bukanlah wanita suci. Tidak ada sumber kitab lain yang ia acu untuk memperkuat teorinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja benar, bisa juga tidak... toh kedua cerita itu sama2 menarik, sama2 bisa ditarik hikmahnya, dan sama2 ajaib :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kebenaran Sejarah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gaya bercerita yang penuh bunga-bunga, Cok Sawitri agak mengorbankan penuturan detil latar belakang kisahnya. Kronologis sejarah kerajaan Medang hingga kemudian menjadi Daha tidak diuraikan dengan cukup lengkap. Agak susah mungkin menjabarkan kronologi sejarah masa lalu dalam bahasa puitis. &lt;br /&gt;Pembaca yang belum paham apa yang sebenarnya terjadi mungkin akan perlu referensi tambahan dari sumber sejarah yang lain untuk bisa mencerna cerita dengan lebih baik. Namun celakanya, saat membuka sumber yang lain, mereka akan menemukan cerita yang sama sekali berbeda tentang Janda dari Jirah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan cerita Calon Arang, jelas2 kisah ini jauh sangat berbeda. Dari sisi sejarah kerajaan Medang-Daha-Kadiri pun ada beberapa hal yang berbeda antara sumber sejarah yang tertulis di banyak tempat dengan data yang ditulis di novel ini. Di novel ini Airlangga mendirikan kerajaan Daha/Kadiri sebagai pengganti Medang, di banyak sumber lain disebutkan kerajaan yang didirikan adalah Kahuripan. Di novel ini pewaris tahta dari wangsa Isyana akhirnya menuntut haknya kepada Airlangga, di sumber lain sang pewaris tahta memilih menjadi pertapa hingga akhir hidupnya. Di novel ini Airlangga membagi Kediri menjadi dua untuk putrinya dan sang pewaris tahta wangsa Isyana, tapi di sumber lain Airlangga membagi kerajaannya untuk kedua putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah yang mana yang benar, bagi yang peduli dengan kebenaran sejarah silakan saja dilacak. Apakah Cok Sawitri membuat cerita fiktif yang mengada-ada ataukah memang benar ini adalah kisah sebenarnya yang telah sekian ratus tahun ditutup-tutupi. Tapi bagi yang hanya ingin menikmati sebuah kisah indah bernuansa sejarah jawa masa lalu, silakan dikecap saja cerita ini tanpa banyak bertanya-tanya dan menganggapnya sebagai layaknya sebuah fiksi... :)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-5717892146393064605?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/5717892146393064605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=5717892146393064605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5717892146393064605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5717892146393064605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/07/janda-dari-jirah.html' title='Janda dari Jirah'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RqVKZiTUOGI/AAAAAAAAAIA/bYNat-ll_SQ/s72-c/jandajirah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6531504767846236550</id><published>2007-07-18T21:38:00.000+07:00</published><updated>2007-07-18T21:42:52.502+07:00</updated><title type='text'>(Errr...) Selamanya</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rp4mc_fZ-CI/AAAAAAAAAH4/Dhonpcvvhqo/s400/selamanya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088546908496590882" /&gt;Hehehe.. jangan pada kaget gitu lah. Biasa aja kali. Memang sih, ini kayaknya keluar dari jalur genre buku yang biasanya aku baca dan review di blog ini. Novel romantis remaja.. huhuhu.. adaptasi dari filmnya Multivision pula :) Nggak "gue banget" dah :p Aku juga kaget kok :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua juga diawali oleh suatu kekagetan. Tiba-tiba saja ada yang kasih tahu kalau seorang temen blogger yang rajin mencela, telah menerbitkan novel perdananya. Wua!... Novel itu berjudul "Selamanya", dengan genre novel percintaan remaja. Whuaa!! .. Dan itu adalah novel adaptasi dari film berjudul sama yang diperankan Julie Estelle dan Dimas Seto, produksi Multivision.. Whuahahahaha!!! ;))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://guario.blogspot.com/2007/07/nba-nulis-by-accident.html"&gt;Rio Rinaldo&lt;/a&gt;, temen blogger yang emang jago nulis, adalah seorang pencela sejati :D Tapi setahuku selama ini nggak pernah ada tanda-tanda akan mengawali karir penulisan fiksi dari segmen cerita romantis.. Atau mungkin ini sebenarnya adalah hasrat terpendam yang tidak pernah tersalurkan? .. who knows ;))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, novel ini diterbitkan untuk mengawal peluncuran filmnya. "Selamanya", terbitan Gagas Media, 2007, 168 halaman. Disusun berdasarkan script film yang ditulis oleh Sekar Ayu Asmara. Dilengkapi dengan tagline 'true love lasts forever'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Cinta Pecandu Narkoba&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bara adalah mantan pecandu narkoba yang telah bersih. Sekarang dia selain sibuk dengan pekerjaan rutinnya, juga sering menjadi relawan membantu menyadarkan dan menyembuhkan para pecandu narkoba yang masih terjebak dalam lingkaran setan. Bara telah mampu bangkit dari keterpurukannya di masa lalu. Bahkan ia telah memutuskan untuk segera menikahi Nina pacarnya selama 4 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana jika pada malam saat Bara meminta Nina untuk menjadi istrinya dan menyematkan cincin pengikat, suatu kejadian malah mempertemukan Bara dengan Aristha. Cinta sejatinya yang hilang 6 tahun yang lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bara meninggalkan Aristha 6 tahun yang lalu tanpa pamit untuk menjalani rehabilitasi. Setelah sembuh, ganti Bara yang mencari Aristha dan tak pernah ketemu. 6 tahun kemudian Bara akhirnya bertemu lagi dengan Aristha, yang ternyata masih menjadi pemakai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang akan dipilih Bara? Nina yang telah banyak berkorban selama 4 tahun ini, ataukah Aristha cinta sejatinya yang telah lama menghilang? Kayaknya udah gampang ditebak dari taglinenya, pastilah cinta sejati yang menang ;) Apalagi Bara merasa berdosa kepada Aristha, karena dia lah dulu yang menjerumuskan Aristha hingga menjadi pemakai seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya Gitu Deh :)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya begitulah, as simple as that. Nggak terlalu neko-neko. Tidak ada jalinan cinta yang rumit dengan masalah yang aneh-aneh. Mungkin terasa seperti nonton sinetron, karena ceritanya ya biasa aja. Sebenernya sih nggak bisa dibilang biasa aja, tapi hampir semua konfliknya itu udah terasa klise gitu. Tidak ada yang baru. Apalagi ada satu momen tentang "hidupnya tinggal beberapa bulan lagi"... oh plisss! Untung nggak ada yang amnesia .. :D &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tema besar yang diusung adalah "Jauhi Narkoba". Pelaku utamanya adalah pemakai dan mantan pemakai. Selain bercerita tentang jaringan bandar yang telah menyebar dimana-mana, proses transaksi, hingga penggerebekan polisi, di dalamnya juga diceritakan perjuangan salah satu pelaku saat menjalani proses rehabilitasi yang menyengsarakan. Pada bagian itu lumayan menarik juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga-bunga cerita yang melengkapi kisah ini rasanya belum mampu menambah greget. Keberadaan Chacha, sahabat Aristha, yang berprofesi sebagai stripper terasa seperti tempelan biar ada bagian yang hot ;) Kemalangan beruntun yang dialami Aristha juga kayaknya terlalu dibuat2 demi mendramatisir jalannya cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keterbatasan Novel Adaptasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena novelnya tipis, kayaknya nggak mungkin menuntut pendalaman karakter dan penjabaran detail yang terlalu mendalam. Apa memang jumlah halamannya dibatasi? biar lebih terjangkau oleh pasar abege? Tapi ya jadinya gitu, cerita dan karakternya terasa dangkal hanya di permukaan saja. Ekspresinya nyaris datar-datar saja. Emosi karakternya juga kadang tidak konsisten terjaga, bisa tiba2 berubah tanpa proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu pertanyaan, apakah bikin novel adaptasi film itu harus terpaku dengan dialog yang telah tersusun dalam script film ya? Penulis hanya berkewajiban menjabarkan narasi, setting, dan merangkai dialog demi dialog tanpa boleh berimprovisasi? Dan kalau dialog yang dibikin pembikin script terasa 'garing' tanpa jiwa, apa nggak boleh diberi perubahan sedikit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, penulis novel dan sutradara filmnya ada kolaborasi nggak sih? Masing2 kan harus menginterpretasikan sendiri script film itu dalam medianya masing2. Sementara script film isinya cuma dialog dan setting, dan cara interpretasi tiap orang kan bisa beda-beda. Kalau bekerja sendiri-sendiri bisa-bisa film sama novelnya jadi beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selamat Rio.. :)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh Rio, selamat dan salut buat karya komersial perdana loe. Gw tau ini bukan hasil karyamu seutuhnya, lo harus mengembangkan cerita milik orang lain. Pasti susah dan mungkin nggak sesuai dengan jiwa dan karakter lu sendiri. Jadi gw nggak bisa nyalahin dan mencela2 elu seenaknya :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuman kalo sebenarnya tidak ada pembatasan halaman dan boleh bebas berimprovisasi, harusnya lu bisa berbuat lebih banyak deh, biar nggak hambar gitu :) Gw yakin lu mestinya punya sisi romantis yang bisa digali lebih dalam.. ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, gw pengen tahu banget gimana ekspresi lu waktu nulis kalimat ini.. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ada dua putih yang paling putih buatku... Cinta.. dan kamu" ... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lu nyengir, muntah2 atau malah berkaca-kaca?... Hihihi... &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6531504767846236550?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6531504767846236550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6531504767846236550' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6531504767846236550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6531504767846236550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/07/errr-selamanya.html' title='(Errr...) Selamanya'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/Rp4mc_fZ-CI/AAAAAAAAAH4/Dhonpcvvhqo/s72-c/selamanya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2291006016941372396</id><published>2007-07-09T06:51:00.000+07:00</published><updated>2007-07-09T07:02:57.166+07:00</updated><title type='text'>Middlesex</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RpF5BNDxQEI/AAAAAAAAAHo/02llxbebrug/s400/middlesex.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5084978515870302274" /&gt;Novel yang ditulis oleh Jeffrey Eugenides pada tahun 2002 ini adalah pemenang penghargaan Pulitzer 2003 untuk fiksi. Sebuah jaminan bahwa ini adalah karya yang bagus dan layak dinikmati. Dan sepanjang yang aku ikuti, novel pemenang Pulitzer itu lebih 'manusiawi' daripada novel2 pemenang nobel sastra :D Dalam arti tetap enak diikuti dan tidak terlalu 'nyastra' seperti pemenang nobel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan dalam bahasa Indonesia baru saja diterbitkan oleh Serambi, Juni 2007 ini dalam 812 halaman. Lumayan tebal dan berat. Diterjemahkan oleh teman kita Berliani Nugrahani (kita teman kan ya An?.. mintain buku gratis lagi yah.. :D).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Middlesex? apa maksudnya? Sub judul yang dicantumkan akan sedikit menjelaskan judul itu: "Pencarian jati diri seorang manusia berkelamin ganda". Yup tokoh sentral dalam novel ini adalah seorang hermaphrodite. Selain itu Middlesex kebetulan juga adalah nama salah satu tempat tinggal dari para tokoh utama di novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hermaphrodite&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calliope Stephanides, generasi ketiga dari imigran Yunani di Amerika, dilahirkan di Detroit sebagai anak perempuan dari pasangan Tessie dan Milton Stephanides. Atau lebih tepatnya divonis sebagai perempuan oleh dokter Philobosian yang sudah mulai rabun. Keluarga Stephanides pun merawat dan membesarkan Callie sebagai perempuan tanpa pernah memeriksa lebih lanjut, karena itu adalah hal yang tabu bagi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Callie pun tumbuh sebagai anak2 perempuan sebagaimana lazimnya. Tidak terdapat masalah atau kelainan. Masalah mulai timbul ketika Callie memasuki usia puber. Teman2nya di sekolah khusus perempuan telah mulai tumbuh sebagai wanita yang beranjak dewasa, tapi Callie tetap saja berdada rata dan tidak juga mendapatkan haid. Yang terjadi malah suara Callie mulai berubah lebih berat dan tumbuh kumis tipis di atas bibirnya. Berbagai usaha ia lakukan untuk menutupi kelainannya dengan menyumpal dadanya dengan tisu, pura2 mendapat haid, memanjangkan rambut untuk menutupi jakun, dan untungnya wanita berkumis tipis lazim adanya di antara wanita Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin runyam ketika Callie tertarik dengan sahabat wanitanya. Callie betah berlama-lama bersamanya. Puncaknya ketika Callie diajak berlibur bersama keluarga mereka. Dalam satu kejadian Callie terjatuh dan terluka. Dokter yang merawat lukanya, menemukan kelainan yang sangat aneh pada bagian genital Callie dan melaporkan pada orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milton dan Tessie, orang tua Callie, membawa Callie ke dokter Peter Luce di New York, dokter spesialis yang banyak menangani kasus kelamin ganda. Ketika membaca berkas milik dokter Luce tentang dirinya, diagnosa dan solusi yang akan diberikan, Callie malah memutuskan melarikan diri dari keluarganya. Callie lari ke barat, ke San Fransisco dengan merubah identitasnya sebagai laki-laki berjuluk Cal Stephanides.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Keluarga Imigran Yunani&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinopsis di atas sebenarnya hanya sepotong cerita dari keseluruhan cerita di novel ini. Ada lagi potongan2 lain yang melengkapi novel ini yang bukan hanya tentang Calliope, tapi lebih luas lagi sebagai kisah tentang keluarga imigran Yunani. Keluarga Stephanides.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari hubungan Lefty dan Desdemona, kakek dan nenek Calle, saat masih tinggal di Yunani. Desa mereka diserang dan dibakar orang Turki yang menyebabkan mereka mengungsi dan akhirnya mendapat tempat di kapal yang menuju Amerika. Di kapal mereka menikah, pernikahan yang kemudian dianggap sebagai penyebab kelainan Callie. Sampai di Detroit mereka tinggal bersama sepupu mereka Sourmelina. Proses asimilasi Lefty dan Desdemona dengan budaya Amerika dituturkan dengan cukup runtut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilanjutkan ke generasi kedua. Desdemona melahirkan 2 anak, Milton dan Zoe. Saat sudah remaja Milton jatuh hati pada Tessie anak Sourmelina yang masih sepupu keduanya. Meskipun sempat dihalangi karena masih sedarah, akhirnya mereka menikah juga. Dan kemudian Milton dan Tessie dikarunia Chapter Eleven dan Calliope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Melingkar-lingkar hingga Separuh Buku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah keluarga Stephanides ini dituturkan cukup panjang. Hingga di pertengahan buku, kisahnya masih melingkar-lingkar dalam beragam masalah2 keluarga Stephanides dan tidak juga masuk secara mendetil ke masalah kelainan seksual yang dialami Calliope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pernik2 kehidupan Stephanides sangat penuh warna dan menarik untuk diikuti. Apalagi Eugenides cukup piawai meramu cara berceritanya dengan menyisipkan humor atau sindiran, kadang juga menyisipkan data2 sejarah atau ilmu pengetahuan untuk menambah variasi. Dan tidak ketinggalan... adegan2 yang lumayan panas ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penuturannya sangat mendetil, bahkan kadang terasa terlalu mendetil untuk bagian yang sebenarnya tidak penting dan tidak punya peranan di cerita utama. Beberapa kali aku harus melompati halaman yang berisi detil nggak penting. Penguraian detilnya sebenarnya menarik, tapi kalo malah memperlambat plot dan bikin pembaca kehilangan fokus ya mending di-skip saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah di bagian III dan IV saat Callie mulai menghadapi masalah dengan identitas gendernya kisah menjadi jauh lebih menarik dan terfokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Uraian yang Lengkap Tentang Segala Hal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RpF5MNDxQFI/AAAAAAAAAHw/xIqTuRLRajM/s400/eugenides1.jpg" border="0" alt="Jeffrey Eugenides" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5084978704848863314" /&gt;Jeffrey Eugenides tampaknya telah melakukan pekerjaan rumahnya dengan sangat baik. Segala detail tentang kelainan interseksual atau kelamin ganda ini dipaparkan di novel ini, dari cerita dewa hermaphrodite, suku2 tertentu yang menganggap para hermaphrodite sebagai manusia pilihan, hingga berbagai bentuk kelainan kelamin ganda dan solusi operasi bedah medis untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eugenides juga menggelar pengetahuannya tentang berbagai budaya manusia. Bukan hanya tentang budaya Yunani yang masih dijaga oleh keluarga Stephanides, tapi juga sedikit menjangkau ke kehidupan sekelompok muslim, kelompok negro, dan kehidupan orang katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Eugenides juga bisa menyatu secara utuh dengan karakter2nya baik secara fisik, mental, hingga psikologis, dan kemudian menyajikannya secara dramatis kepada pembaca untuk bisa ikut menyelam dalam kondisi yang dihadapi setiap karakter. Misalnya saat menggambarkan betapa membosankan pekerjaan Lefty di pabrik mobil, saat Milton memainkan klarinetnya untuk setiap bagian tubuh Tessie, atau saat Callie terpikat pada sahabat wanitanya. Pembaca akan seperti ikut merasakan sendiri semua sensasinya...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, memang karya yang ambisius :D Pantaslah jika novel ini baru kelar setelah 9 tahun dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Panjang Tentang Minoritas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku novel ini adalah novel yang tidak untuk diselesaikan dalam sehari. Baca saja pelan-pelan untuk menyerap semua penuturan Eugenides tentang segala hal yang ia ketahui. Banyaknya detail dan cerita sampingan kadang bikin kehilangan fokus inti cerita. Kadang juga diperlukan wawasan yang cukup luas untuk mengetahui hubungan sepotong kalimat atau satu istilah dengan cerita yang dikisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitu sudah sampai dipertengahan, silakan saja langsung diselesaikan. Karena semuanya menjadi sangat menarik :) Meskipun mungkin kadang akan sedikit tersandung dengan salah ketik dan kerancuan kalimat terjemahan. Nggak pake editor sih ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas dari semua penjabaran Eugenides di novel ini, kita bisa belajar tentang adanya satu kelompok kecil manusia yang ditakdirkan dengan kondisi kelamin yang tidak sempurna. Dari adanya kelompok kecil itu dan fakta2 ilmiah di belakangnya, terungkaplah bahwa pada suatu tingkat tertentu perbedaan antara pria dan wanita itu sangatlah tipis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang kita tinggali ini memang terlalu kompleks dan rumit untuk hanya dipisahkan dalam hitam dan putih. Kita yang mungkin merasa lebih sempurna harusnya lebih arif dalam memahami kenyataan itu :)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2291006016941372396?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2291006016941372396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2291006016941372396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2291006016941372396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2291006016941372396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/07/middlesex.html' title='Middlesex'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RpF5BNDxQEI/AAAAAAAAAHo/02llxbebrug/s72-c/middlesex.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-301220673402353295</id><published>2007-06-17T20:14:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T10:27:19.696+07:00</updated><title type='text'>A Thousand Splendid Suns</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="A Thousand Splendid Suns"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/splendidsuns.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Novel pertamanya aku baca dua tahun yang lalu. Itupun sudah terbit dua tahun sebelumnya. "&lt;a href="http://qyu.blogspot.com/2005/05/pengejar-layang-layang.html"&gt;The Kite Runner&lt;/a&gt;" pertama terbit tahun 2003, dan aku baru membacanya di tahun 2005 dengan hati teriris-iris. Tahun 2006 kembali aku terpaku hening waktu membaca &lt;a href="http://qyu.blogspot.com/2006/04/kite-runner-extended.html"&gt;terjemahannya&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tahun ini, begitu aku mendapat info bahwa novel kedua Khaled Hosseini sudah diterbitkan, rasa penasaran ingin segera membaca langsung meruap-ruap. Apalagi ternyata setumpuk pujian telah menyambut kehadirannya. Dan saat melihat deretan novel ini di toko buku, meski sempat mikir sejenak mempertimbangkan harga, tak tahan lagi dengan godaan rasa penasaran untuk segera membelinya. Buku yang aku beli adalah terbitan Bloomsbury, 2007, 370 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A Thousand Splendid Suns", judul yang sangat puitis dilabelkan Khaled Hosseini untuk novel keduanya ini. Sejenak mengingatkan pada kalimat dramatis "For you, a thousand times over" yang selalu diucapkan Hassan sebagai gambaran pengabdian totalnya kepada Amir di novel pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mengambil setting latar belakang yang sama tentang Afghanistan dan bercerita tentang perjuangan penduduk kota Kabul untuk bertahan hidup selama perang. Khaled Hosseini tampaknya masih ingin menggali kekuatan dan kelebihan yang ia miliki dibanding penulis lain, yakni mengalami sendiri kesengsaraan selama masa perang di Afghanistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dua Wanita dalam Kecamuk Perang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan novel pertamanya yang tokoh utamanya adalah dua orang anak laki-laki yang berbeda kelas, di novel ini tokoh utamanya adalah dua orang wanita. Diawali sejak Mariam masih berusia lima tahun pada tahun 1964, dan berakhir dengan kehidupan keluarga Laila pada tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Mariam seringkali mendengar Nana, ibunya, jika sedang kesal menyebutnya sebagai &lt;em&gt;harami&lt;/em&gt;. Anak haram. Dan memang itulah status yang disandangnya. Mereka berdua dibuang tinggal di sebuah gubuk terpencil oleh keluarga ayah kandungnya. Jalil, ayah kandungnya yang merupakan orang terpandang di Herat, berkunjung seminggu sekali dan menjadi saat yang sangat dinantikan Mariam. Tapi Jalil yang telah mempunya tiga istri dan sepuluh anak itu tak punya hati untuk membawa Mariam ke rumahnya dan mengakuinya sebagai anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada saat Mariam berusia limabelas tahun, sebuah tragedi membawa Mariam tinggal di rumah ayahnya. Namun ketiga istrinya segera mengirim Mariam ke Kabul yang berjarak 650 km dari Herat untuk menikah dengan Rasheed yang tigapuluh tahun lebih tua. Mariam telah belajar dari ibunya, bagaimana bertahan dalam kehidupan yang sangat sulit dan menghadapi kenyataan bahwa kaum lelaki seringkali menyalahkan wanita dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita kemudian beralih ke tetangga Rasheed dan Mariam di Kabul. Laila gadis sembilan tahun yang cantik dan cerdas tinggal bersama kedua orang tuanya beberapa rumah dari tempat tinggal Mariam. Kedua kakak laki-lakinya pergi berperang bersama para Mujahidin untuk melawan Sovyet. Ibunya selalu dalam kesedihan karena cemas akan kedua anak kesayangannya. Sementara Laila menjalin hubungan yang akrab dengan Tariq, anak lelaki tetangga sebelah rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun kemudian, dalam kecamuk perang yang semakin mengganas, sebuah tragedi mendamparkan Laila ke rumah keluarga Rasheed dan Mariam. Keluarga yang tidak bahagia itu semakin runyam dengan kehadiran Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariam semula amat membenci Laila, tapi seiring waktu dan sederet penderitaan yang mereka alami, hubungan keduanya menjadi semakin erat dan saling menopang satu sama lain. Bukan hanya dalam menghadapi penderitaan akibat perang yang silih berganti tanpa akhir, tapi juga dalam menghadapi kekasaran dan kekejaman Rasheed yang temperamental. Bahkan Mariam rela mengorbankan segalanya demi Laila dan anak2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dramatis Sebagaimana Sebelumnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaled Hosseini memang ahlinya dalam hal menuturkan sebuah cerita dramatis yang menyentuh. Jalinan kalimat puitis yang indah menghiasi bagian2 saat ia menggambarkan setting lingkungan atau suasana hati para tokohnya. Adegan demi adegan, dan dialog demi dialog mengalir lancar secara realistis. Kejutan dan tikungan tajam ia bangun dengan logis dan tak terbayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan-adegan dramatis kadang hanya digambarkan dalam beberapa kalimat saja di akhir bab, dan dibiarkan menggantung sesaat sebelum dijelaskan di bab berikutnya pada paragraf kesekian. Tapi itu tidak menghilangkan kesan dramatis dari adegan tersebut. Kejutan dalam beberapa kalimat itu akan membuat pembaca terkesiap sesaat dan penasaran mencari penjelasan di bab berikutnya yang kadang tahu-tahu sudah meloncat beberapa waktu ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu bagian yang sangat menarik dan terasa sangat filmis, saat Khaled bermain-main dengan plot maju-mundur untuk mendramatisasi dua kejadian yang berbeda waktu. Agak membingungkan awalnya, tapi kemudian menjadi sangat menarik dan menjadi lebih dramatis daripada jika diceritakan berurutan. Dan memang ini adalah adegan puncak yang layak didramatisir karena kemudian memutarbalikkan segala keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan karakter utama dari Mariam ke Laila kemudian ke Mariam lagi dan seterusnya, mungkin memaksa pembaca untuk berkali-kali mengubah sudut pandang. Tapi dengan cara ini karakter Mariam dan Laila menjadi terasa lebih dalam tergali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perang adalah Kesengsaraan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menuturkan kisah utamanya, Khaled Hosseini menyisipkan perkembangan politik dan peperangan yang menjadi latar belakang kisahnya. Sejak berkuasanya Raja Zahir Syah di Afghanistan pada saat kelahiran Mariam, pendudukan Sovyet, hancurnya Sovyet, perang saudara antar faksi Mujahidin, berkuasanya Taliban, hingga runtuhnya menara kembar WTC di New York yang memicu Bush untuk menyatakan perang terhadap penguasa Taliban. Lebih lengkap dan lebih mendetail dari novel pertama. Semuanya runtut dan diikuti dengan cermat untuk membangun plot kisah utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kengerian dan kesengsaraan yang dialami penduduk Kabul selama perang tergambar cukup jelas disini. Hujan roket yang bisa menghunjam kapan saja dimana saja menghantui setiap orang. Bukan hanya anak laki-laki yang pergi ke medan perang yang bisa tewas kapan saja, tapi juga mereka yang tinggal di rumah harus waspada dengan roket yang tiba2 menghancurkan seisi rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tidak tahan dengan kecemasan berada di kota yang berada dalam fase penghancuran oleh pihak lawan, segera memutuskan untuk mengungsi pergi dari Kabul. Tapi mereka yang tidak punya kerabat sebagai tujuan pasti di luar Afghanistan harus rela hidup di tenda pengungsian dan siap menghadapi kesengsaraan dalam bentuk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya salah satu pesan utama Khaled Hosseini dalam novel ini adalah perang apapun alasannya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Ribuan manusia yang tidak memiliki kepentingan dalam perang itu hanya akan menjadi korban sia-sia demi ego beberapa gelintir penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bikin Merinding&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini dibagi dalam 4 bagian, dan 51 bab. Bagian pertama bercerita tentang Mariam. Bagian kedua tentang Laila. Bagian ketiga bertemunya Mariam dan Laila dalam satu cerita. Dan bagian keempat sebagai antiklimaks. Pada bagian pertama dan kedua alur cerita terasa agak lambat. Menarik dan beberapa kejadian terasa membuat miris tapi tidak ada yang sangat istimewa. Mungkin karena cerita tentang penderitaan wanita sudah begitu banyak dikisahkan, jadi tidak terasa terlalu istimewa lagi buat aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ketiga mulailah Khaled Hosseini menunjukkan taringnya, dan menancapkan kukunya dalam-dalam pada emosi pembaca. Kadang dalam bentuk uraian panjang, tapi yang seringkali bikin merinding malah yang hanya dituliskan dalam satu dua kalimat saja. Seperti "Cut me open!", atau "Kneel here, hamshira"... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku tidak sempat terharu sampai berkaca-kaca membaca novel ini sebagaimana saat membaca The Kite Runner. Tapi sejak akhir bagian kedua dan berlanjut ke bagian selanjutnya aku sering merasa merinding membayangkan dramatisasi beberapa adegan yang dikisahkan. Merinding karena tersentuh dan terharu, atau merinding karena ngeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin jika aku membacanya kembali, aku akan merinding sepanjang cerita karena sudah tahu bagaimana akhir segalanya. Bagaimana kedua wanita itu dengan tegarnya mampu bertahan menghadapi segala bentuk peristiwa dan penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seribu Matahari Sempurna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan "Seribu Matahari Sempurna"? Itu adalah cuplikan sebuah puisi dari abad 17 karya Saib-e-Tabrizi yang menggambarkan perpisahan dengan kota Kabul dan kerinduan akannya, yang dikutip oleh ayah Laila saat mereka berencana meninggalkan Kabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;em&gt;One could not count the moons that shimmer on her roofs&lt;br /&gt;Or the thousand splendid suns that hide behind her walls&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah sekali. Begitu pula novel ini :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sepertinya penerbit Qanita sudah nggak sabar untuk segera merilis terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Berliani "Antie" Nugrahani, yang pernah menterjemahkan Kite Runner dengan penuh perasaan, sudah selesai menterjemahkan novel ini... tinggal tunggu tanggal terbitnya saja :D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-301220673402353295?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/301220673402353295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=301220673402353295' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/301220673402353295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/301220673402353295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/06/thousand-splendid-suns.html' title='A Thousand Splendid Suns'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6335273765991911388</id><published>2007-06-05T17:01:00.001+07:00</published><updated>2007-06-05T17:01:56.799+07:00</updated><title type='text'>Edensor</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="Edensor"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/edensor.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Akhirnya keluar juga buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Konsisten pada jarak 10 bulan antar buku. "Edensor" itu judul yang diusung buku ketiga ini, setelah "Laskar Pelangi" dan "Sang Pemimpi". Masih diterbitkan oleh Bentang Pustaka, Mei 2007, dalam 290 halaman. Nyaris sama tebalnya dengan buku kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang sudah membaca buku pertama "Laskar Pelangi", tentu sudah tahu bahwa  Edensor adalah nama sebuah tempat yang menjadi setting dari sebuah novel yang diberikan oleh A Ling kepada Ikal. A Ling, gadis Hokian, tempat cinta pertama Ikal berlabuh, dan tetap terbayang-bayang hingga waktu yang lama. Dan di buku ketiga ini, sembari bercerita tentang pengalamannya selama di negeri orang, Ikal kembali mengungkit kenangannya bersama A Ling dan Edensor tempat indah impiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berangkat ke Negeri Orang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini tentu saja melanjutkan kisah perjalanan hidup Ikal yang terputus di "Sang Pemimpi". Ending "Sang Pemimpi" adalah saat Ikal dan Arai berhasil lolos dari semua test penyaringan untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan S2 di Eropa. Tapi sebelum melanjutkan kisah itu, Andrea memilih sedikit bercerita kembali tentang masa kecilnya yang belum terungkap di dua buku sebelumnya. Bukan potongan kisah asal comot yang ditampilkan sebagai pembuka, tapi kisah2 yang nanti akan terhubung secara mengejutkan pada bagian2 selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah kemudian Andrea berkisah bagaimana ia dan Arai berpamitan pada bapaknya untuk meraih mimpinya di negri orang. Sempat kebingungan dan terlunta-lunta di tanah yang sama sekali tidak mereka kenal. Hingga akhirnya mampu beradaptasi dan menjalani tugas-tugas perkuliahannya dengan tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan mereka dalam tumpukan tugas kuliah tidak terlalu banyak dijabarkan. Mungkin karena memang tumpukan tugas itu tidak menarik dikisahkan. Tapi Andrea yang suka mengamati karakter orang sempat bercerita lumayan panjang tentang karakter satu per satu dari teman kuliahnya berdasarkan latar belakang negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagian yang paling panjang diceritakan adalah, pertaruhan Ikal dengan teman2 kuliahnya untuk melakukan perjalanan keliling Eropa sebagai backpackers sembari menjadi pengamen jalanan. Biaya perjalanan hanya didapatkan dengan menjadi pengamen jalanan. Pada tanggal yang ditentukan mereka harus berkumpul kembali di satu tempat untuk menentukan siapa yang paling banyak jumlah negara yang dikunjunginya. Selama perjalanan masing2 harus mengabarkan posisi dan memuat foto mereka via internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertaruhan itu melibatkan 7 orang, masing2 mengemas sendiri pertunjukan apa yang akan mereka tampilkan di jalanan untuk mendapatkan biaya selama perjalanan keliling Eropa. Ikal dan Arai yang tidak memiliki keahlian seni, atas bantuan teman bisa juga membuat pertunjukan jalanan yang menghasilkan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ikal perjalanan itu sebenarnya adalah misinya mencari A Ling yang entah pergi kemana. Ia sudah mencari melalui internet dan menemukan sejumlah tempat dimana terdapat nama Njoo Xian Ling. Dan tempat di berbagai negara itu lah yang menjadi tempat persinggahan Ikal dan Arai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan nekat itu pun memberi berbagai pengalaman untuk mereka berdua. Dari yang menyenangkan, hingga yang menyengsarakan. Setelah salah satu mimpi terbesar mereka yaitu kuliah di Sorbonne University terwujud, ternyata masih ada lagi mimpi2 kecil mereka yang bisa teraih melalui perjalanan backpacker nekat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetap Seru, Indah, dan Kocak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garis besar cerita buku ketiga ini masih sejalur dengan buku kedua, yaitu tentang keberanian dan ketetapan hati untuk mewujudkan mimpi. Meski tidak semua harapan Ikal tercapai, tapi keteguhannya untuk tetap berjuang sungguh patut diacungin jempol. Memang beberapa kisah pencapaian mimpinya kadang terasa rada ajaib atau terlalu kebetulan, tapi yah masih mungkin terjadi dan tetap enak diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata masih tetap dengan gaya tulisannya yang kaya dan berwarna-warni. Kadang dia bisa sangat melankolis, di lain tempat jadi romantis, ada juga yang diwarnai kritik sosial, dan tentu saja yang paling banyak memikat dan mengikat pembaca untuk terus membaca adalah bagian cerita yang ditulis dengan kocak dan nakal. Keisengan Ikal dan Arai sungguh bisa bikin orang tertawa terpingkal-pingkal sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan kemudian jadi tulisan yang asal nglucu, yang penting konyol biarpun nggak ada isinya, tulisan Andrea Hirata tetap memiliki bobot dengan beberapa sindiran sosialnya, juga dengan filosofinya tentang kehidupan dan karakter manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mari Bermimpi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya buku ini dibuka dengan bab yang terlalu melankolis, tentang sosok Weh yang penuh kemalangan. Pembaca bisa jadi merasa ekspektasinya untuk mendapat kisah lanjutan yang seru langsung pupus begitu membaca bab pertama, selain juga akan kehilangan benang merah karena Weh adalah tokoh yang sama sekali asing. Untunglah kemudian disambung dengan cerita seru dan kocak tentang perubahan nama Ikal yang berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan cerita dalam buku ini kadang terasa melompat-lompat. Tampaknya memang Andrea hanya mengambil segmen2 tertentu dari kehidupannya yang sekiranya memiliki cerita yang menarik untuk ditampilkan, bukan ditujukan untuk menjadi sebuah memoar atau otobiografi lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin buku ketiga ini tidak serenyah buku kedua yang bisa membawa emosi pembaca naik turun dari sedih hingga tertawa keras sepanjang membacanya. Buku ketiga ini lebih banyak bagian cerita yang diceritakan dengan gaya serius. Bisa dimaklumi juga karena yang dituturkan bukan lagi potongan kisah masa remaja yang penuh keisengan, tapi kisah dari masa-masa kuliah S2 yang tentunya harus dihadapi dengan lebih banyak keseriusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini Andrea Hirata dengan bahasanya yang kadang indah, kadang menyentuh, kadang kocak, mengajak kita untuk berani bermimpi dan mengulurkan tangan kita setinggi-tingginya untuk bisa menyentuh mimpi-mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6335273765991911388?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6335273765991911388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6335273765991911388' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6335273765991911388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6335273765991911388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/06/edensor.html' title='Edensor'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6300725242044510914</id><published>2007-05-29T16:54:00.003+07:00</published><updated>2007-05-29T16:54:42.092+07:00</updated><title type='text'>The Amulet of Samarkand</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="The Attack"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/bartimaeus.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Sejenak beralih membaca novel fantasi sepertinya menyenangkan juga, meskipun itu sebenarnya bukan genre favoritku. Terbukti ketika seluruh dunia dilanda demam Harry Potter, aku tenang2 saja dan belum pernah membaca satu seri pun :) Tapi nonton filmnya sudah pernah sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa ketika "The Bartimaeus Trilogy" muncul terjemahannya, jadi tergoda ingin baca. Mungkin karena terpikat covernya yang keren, atau mungkin karena memang sedang jenuh dengan novel2 yang terlalu serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit Gramedia baru saja menerbitkan buku pertama dari Bartimaeus Trilogy karya Jonathan Stroud ini. Judulnya "The Amulet of Samarkand". Buku aslinya diterbitkan tahun 2003. Terjemahannya ini dirilis Mei 2007 dalam 512 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tentang Penyihir Cilik Juga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu masa yang fiktif, Parlemen Inggris di London dikuasai oleh para penyihir. Hanya para penyihir yang menjadi menteri dan anggota parlemen. Manusia biasa hanyalah para "commoner" yang terjebak dalam kehidupan yang biasa2 saja. Menjadi penyihir adalah status yang sangat tinggi, dan hanya orang2 terpilih dan terlatih yang dapat menapakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel adalah salah satu anak yang terpilih. Ia dipisahkan secara total dari kedua orangtuanya sejak usia 6 tahun untuk dididik oleh penyihir kawakan. Menteri Arthur Underwood ditugaskan menjadi Masternya yang akan membimbingnya hingga menjadi penyihir yang nantinya layak menjabat tugas kenegaraan. Pada usia 12 tahun Nathaniel akan resmi menjadi penyihir muda dan mendapat nama baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Underwood mendidiknya dengan disiplin namun minus kasih sayang. Dia mengajarkan apa yang ia ingin ajarkan, bukan apa yang dibutuhkan Nathaniel. Kemampuan Nathaniel menyerap pelajaran ternyata sangat hebat. Diam-diam dia sering membaca buku2 sihir tingkat yang lebih tinggi yang belum waktunya ia pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu waktu, Mr. Underwood kedatangan tiga orang tamu sesama penyihir. Mr. Underwood memperkenalkan Nathaniel kepada para tamunya. Simon Lovelace, salah satu tamu itu, menguji Nathaniel dengan beberapa pertanyaan. Ketika Nathaniel mampu menjawab semua pertanyaan bahkan yang belum diajarkan Masternya, Simon malah mengejeknya. Nathaniel sakit hati, ia masuk ke dalam dan mengeluarkan serangga untuk menyerang para tamu. Simon dan tamu lainnya marah besar, Nathaniel dihukum tanpa ampun. Mr. Underwood sama sekali tidak berusaha melindunginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Nathaniel memendam dendam terhadap Simon Lovelace. Menjelang usianya yang kedua belas saat ia boleh melakukan pemanggilan mahluk gaib pertamanya, Nathaniel telah memiliki ilmu yang jauh melebihi usianya. Sebelum masternya mengajak untuk melakukan ritual pemanggilan mahluk terlemah, Nathaniel telah berhasil melakukan ritual pemanggilan terhadap mahluk kelas menengah. Mahluk itu dari jenis Jin. Namanya adalah Bartimaeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bartimaeus sempat tidak percaya bahwa yang memanggilnya adalah seorang anak yang baru belajar sihir. Tapi ia melihat tidak ada kesalahan dalam ritual yang dilakukan anak itu, Bartimaeus tidak bisa berbuat apa2 selain patuh dan mengikuti perintah Master yang memanggilnya. Dan tugas Bartimaeus adalah membalas dendam Nathaniel. Ia diperintah memata2i Simon Lovelace dan mencuri salah satu benda sihir yang sangat dijaga Simon. Bartimaeus mengambil sebuah benda yang dikenal sebagai Amulet of Samarkand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencurian itu ternyata berbuntut heboh dan sangat panjang. Simon mengerahkan seluruh kemampuan dan tentara ghaibnya untuk mendapatkan kembali Amulet tersebut. Simon sangat membutuhkan Amulet itu untuk sebuah rencana besar yang segera ia laksanakan. Nathaniel dan Bartimaeus pun terjebak dalam sebuah konspirasi besar yang akan mengakibatkan banyak nyawa melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanpa Detail Mantra dan Ritual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya fiksi fantasi yang sangat imajinatif. Mungkin bakal dibanding-bandingkan dengan Harry Potter, tapi sayang aku tidak bisa komentar dari sisi itu karena belum pernah baca Harry Potter :). Yang jelas detil fantasi yang dirancang oleh Jonathan Stroud sangatlah lengkap dan juga konsisten sepanjang cerita. Dunia ghaib dan segala tatanannya telah disusun dengan baik sebelumnya untuk kemudian dijabarkan sebagai latar belakang cerita. Karena ini adalah dunia hasil fantasi, maka apapun tatanan yang dirancang oleh penulis adalah sah-sah saja, selama tetap dijaga konsistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detil setting dan elemen2 sihir tidak terlalu dijabarkan disini. Tidak ada contoh kata2 aneh yang menjadi rapal mantra2 tertentu, hanya diceritakan bahwa si pelaku sedang merapalkan mantra tertentu. Ritual2 pemanggilan atau aksi sihir lainnya juga tidak diurai satu demi satu, hanya sebatas menggambar pentacle dan memasang lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Plotnya Seru, Karakternya Hebat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tidak mengurangi keasyikan membaca kisah ini. Plot ceritanya menyajikan deretan kisah yang seru. Sebuah dunia baru dengan aturannya sendiri dimana penyihir menguasai dunia, dan para mahluk halus menjadi suruhan para penyihir untuk kepentingan pribadi masing-masing. Setiap penyihir menyimpan ambisinya masing2. Status sosial mereka yang di atas manusia biasa membuat kebanyakan dari mereka menjadi pongah. Gesekan dan persaingan antar penyihir inilah yang membangun cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia para mahluk gaibnya juga tidak kalah seru. Malah pada setengah bagian cerita Bartimaeus adalah penutur pertama. Berbagai kelas dan bentuk demon tersebar di seluruh cerita. Kita harus melambungkan sendiri imajinasi kita untuk menggambarkan setiap mahluk yang diceritakan disini dan juga untuk membayangkan unjuk kekuatan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter Bartimaeus dan Nathaniel cukup menarik. Bartimaeus yang sudah berusia ribuan tahun dan mengalami banyak hal kadang malah menjadi guru bagi Nathaniel dengan caranya sendiri. Dengan ejekan dan sikap sinisnya ia menuntun Nathaniel yang masih terbata2 di dunia penyihir. Bartimaeus yang sebenarnya merasa terhina karena diperintah oleh anak kecil, lama kelamaan bersimpati kepada keteguhan hati Nathaniel yang masih sangat muda. Sementara Nathaniel adalah tipe anak pemberontak yang pantang mundur ke belakang. Keras kepala dan independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, meskipun Nathaniel memiliki kecerdasan dan kemampuan yang di atas rata-rata, tapi dia tidak digambarkan sepenuhnya sebagai "good boy". Mungkin malah lebih wajar begitu. Keinginannya untuk membalas dendam lebih berat kepada orang yang pernah menyakitinya telah membawa kedalam sebuah kesulitan besar. Dan tampaknya memiliki bakat untuk menjadi orang yang ambisius untuk menjadi penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menuju Film?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti ini buku yang menyenangkan untuk dibaca sampai habis. Bikin penasaran bagaimana akhirnya Nathaniel berjuang untuk membalas dendamnya padahal harapan hidup sudah sangat tipis. Aksi sihir menyihir dan pergulatan antar jin yang penuh dengan ledakan dan efek yang tidak terbayangkan sepertinya menuntut untuk segera difilmkan :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6300725242044510914?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6300725242044510914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6300725242044510914' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6300725242044510914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6300725242044510914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/05/amulet-of-samarkand.html' title='The Amulet of Samarkand'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2258818860585293354</id><published>2007-05-14T12:06:00.000+07:00</published><updated>2007-05-14T12:51:17.172+07:00</updated><title type='text'>The Attack</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="The Attack"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/attack.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Diterjemahkan dari buku berbahasa Perancis "L'Attentat" terbitan tahun 2005, novel fiksi ini adalah karya dari Yasmina Khadra, yang nama aslinya adalah Mohamed Moulessehoul. Entah kenapa terjemahan dalam bahasa Indonesianya diterbitkan dengan judul bahasa Inggris "The Attack", padahal sumbernya berbahasa Perancis. Pustaka Alvabet menerbitkannya pada Januari 2007, dalam 304 halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema ceritanya sangat menarik perhatian. Sebuah fiksi tentang seorang suami yang berusaha mengorek informasi kesana kemari tentang istri yang dicintainya, yang tiba-tiba menjadi seorang martir yang melakukan bom bunuh diri di Tel Aviv. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bom Bunuh Diri Menghancurkan Segalanya&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ledakan terjadi di Tel Aviv, Israel, menewaskan belasan orang di sebuah restoran. Dr. Amin Jaafari seorang dokter bedah terkemuka pun segera disibukkan dengan tindakan penyelamatan bagi puluhan korban ledakan. Namun sebuah pukulan hebat menghantamnya ketika ia diberi tahu bahwa Sihem, istri yang sangat dicintainya, adalah salah satu korban tewas dalam peristiwa ledakan tersebut. Dan semakin meremukkan hati dan jiwa Amin, ketika para dokter yang lain dan polisi mengkonfirmasi bahwa dilihat dari kondisi tubuhnya Sihem ternyata adalah pelaku peledakan bunuh diri tersebut... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Amin Jaafari pun berubah total. Amin meratapi kematian istrinya, yang selama ini ia pikir telah berusaha sangat keras untuk ia bahagiakan. Amin tak habis pikir, bagaimana bisa istrinya menyembunyikan semua rencana itu dari dirinya, dan ia sendiri tak pernah melihat tanda-tanda bahwa istrinya bergabung dengan para fundamentalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin dan istrinya bukan orang Yahudi, dan bukan juga keturunan Israel. Mereka keturunan Arab dan masih berstatus Muslim meskipun tidak lagi taat menjalankan ibadah. Mereka berdua meninggalkan tanah kelahiran mereka dan bergabung menjadi warga naturalisasi di Israel. Amin berusaha keras menjaga reputasinya di kalangan orang2 Israel. Dan ia berhasil, karirnya sebagai dokter bedah melaju pesat dan ia disegani oleh banyak orang Israel. Tak lagi dianggap sebagai orang Arab yang musuh bebuyutan Israel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah peristiwa itu, ketika semua orang akhirnya tahu siapa tersangka utama pelaku peledakan itu, reputasi Amin langsung hancur berantakan. Polisi menggeladah habis rumahnya, meskipun tak bisa menemukan apa-apa. Tetangganya memintanya pergi dari kompleks mereka, dan rumahnya dirusak. Beberapa koleganya di rumah sakit yang menyimpan dengki karena keberhasilannya, membuat petisi yang meminta pihak rumah sakit mengeluarkan Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah ada Kim, sejawat dokter yang bersimpati dan bersedia menampung Amin di apartemennya. Ada juga Naved, petugas kepolisian yang tetap percaya akan integritas Amin dan tidak terlibat sama sekali dengan tindakan istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kehancuran hidupnya, Amin Jaafari berusaha menelusuri jejak istrinya. Mencari tahu siapa yang telah merubah Sihem menjadi seorang ekstremis tersembunyi. Amin pun berusaha masuk ke jantung persembunyian para mujahid Palestina, dan mendapati dirinya berada di lubang singa yang tidak menghendaki keberadaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tragisnya Hidup dalam Peperangan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian awal kisah ini sempat bikin bingung. Terjadi sebuah ledakan, si penutur menjadi korban. Entah siapa si penutur ini. Pada bab selanjutnya langsung melompat ke kesibukan rumah sakit yang dikejutkan oleh terjadinya bom bunuh diri di sebuah restoran, dengan Amin Jaafari menjadi penutur orang pertama. Pembaca pasti akan bingung karena penutur yang di bab pertama diceritakan terluka parah karena ledakan bom, tiba2 di bab kedua penuturnya menjadi seorang dokter di rumah sakit. Tapi ikuti saja terus ceritanya dan tinggalkan saja dulu kebingungan itu, karena nanti akan terjawab dalam ending yang mencekam tapi disajikan dengan indah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah fiksi ini tidak secara langsung bercerita tentang bagaimana seseorang bisa begitu nekat menjadi martir pengebom bunuh diri. Lebih banyak bercerita tentang Amin Jaafari yang kehidupannya jadi hancur lebur karena istrinya meledakkan diri. Melalui kenekatan Amin menelusuri jejak istrinya tanpa peduli ia harus memasuki daerah konflik dan juga tanpa peduli dia harus mengalami berbagai siksaan fisik dan mental, akhirnya sedikit demi sedikit terkuaklah semua jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputus-asaan Amin digambarkan dengan baik oleh penulis. Kehilangan Amin yang sangat dalam terhadap istrinya, runtuhnya karir Amin yang sekian lama telah diperjuangkan mati2-an, terpuruknya harga diri Amin ketika dilecehkan oleh para tetangga, oleh polisi yang menginterogasi, juga oleh para pejuang Palestina. Nyaris tiada henti hingga akhir cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak Memihak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tampaknya berusaha untuk bersikap netral dan tidak memihak siapapun. Pemilihan tokoh utamanya dari orang Arab yang berkebangsaan Israel, yang muslim tapi tidak taat, sudah menunjukkan penulis ingin berada di posisi tengah. Amin Jaafari sendiri diceritakan memiliki prinsip lebih memihak kepada hidup, tidak kepada fanatisme akan satu hal tertentu. Itulah kenapa dia begitu rajin menekuni pekerjaannya sebagai dokter yang berusaha menyelamatkan hidup orang lain, dan tidak peduli pada peperangan yang terus bergejolak. Dan itulah juga kenapa dia tampak begitu kehilangan pegangan ketika istrinya ternyata mengambil peranan dalam perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tampaknya sang penulis lebih memposisikan dirinya sebagai Amin Jaafari yang apapun alasannya tetap tidak setuju dengan adanya perang yang mengorbankan rakyat, Yasmina Khadra tetap bisa bercerita dengan lancar ketika harus menampilkan tokoh mujahid Palestina dengan segala argumennya. Mengesankan sekali debat antara Amin dan Komandan mujahid Palestina. Argumen yang disampaikan oleh keduanya sangat mendalam sesuai dengan prinsip yang dipegang masing2. Orang palestina yang berjuang karena merasa kehilangan tanah air, sementara Amin lebih ingin berjuang demi kehidupan semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya pembaca memang digiring untuk tidak menyetujui adanya perang. Perang hanya menimbulkan kerusakan, baik fisik maupun mental dari seluruh masyarakat yang terjebak di dalamnya. Tapi di sisi lain, penulis juga memberikan pandangan yang membuat kita mengerti bagaimana kondisi perang itu bisa melahirkan martir yang siap melakukan apapun bahkan menjemput ajal demi menjunjung tinggi kedaulatan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2258818860585293354?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2258818860585293354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2258818860585293354' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2258818860585293354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2258818860585293354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/05/attack.html' title='The Attack'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-1735059266483627556</id><published>2007-05-08T10:30:00.000+07:00</published><updated>2007-05-14T12:07:54.633+07:00</updated><title type='text'>Nagabonar Jadi 2</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="Nagabonar Jadi 2"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/nagabonar2.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Setelah filmnya dirilis akhir Maret kemarin, sebulan kemudian terbitlah novelnya. Nagabonar Jadi 2, ditulis oleh Akmal Nasery Basral, diterbitkan oleh Akoer, April 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel adaptasi dari film tampaknya menjadi trend tersendiri di Indonesia. Di toko2 buku akan bisa ditemukan banyak sekali buku yang diterbitkan untuk mengiringi peluncuran sebuah film. Entah itu novel adaptasinya, buku skenarionya, behind the scene, atau buku2 pendukung lainnya. Mungkin itu satu bentuk untuk memperluas pasar, yang kutu buku setelah baca bukunya mungkin akan tertarik nonton filmnya, yang movie freak setelah nonton filmnya mungkin ingin mendapatkan detail dengan membaca bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuman entah kenapa kok novel Nagabonar ini diterbitkan lebih lambat satu bulan dari pada filmnya. Padahal film2 yang lain kebanyakan mengeluarkan buku dan film secara hampir bersamaan. Lewat satu bulan, greget yang dirasakan setelah nonton filmnya kayaknya udah mulai luntur. Untungnya sih film Nagabonar Jadi 2 ternyata sangat perkasa, mampu bertahan lebih dari satu bulan di layar bioskop utama. Hebat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sepotong Ceritanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak perlu diceritakan secara lengkap lagilah ringkasan dari film dan novel ini, karena pasti sudah banyak yang tahu. Tentang Nagabonar yang setelah menjadi pejuang kemerdekaan sukses mengelola kebun kelapa sawitnya, hingga mampu menyekolahkan anak semata wayangnya, Bonaga, ke Inggris. Bonaga sendiri yang sekarang tinggal di Jakarta telah menjadi pengusaha properti yang sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah muncul ketika Bonaga mendapat tawaran proyek untuk membangun sebuah resort mewah di tanah perkebunan kelapa sawit milik Nagabonar. Padahal di perkebunan itu ada makam tiga orang yang paling disayangi Nagabonar, Emak Nagabonar, Kirana istri Nagabonar, dan Bujang sahabat Nagabonar. Inilah yang menjadi konflik utama dalam kisah Nagabonar jadi 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sampingan lain yang melengkapi cerita ini adalah tentang Bonaga yang tidak pernah bisa menyatakan cintanya kepada Monita. Padahal Monita jelas sangat menunggu kepastian dari harapan2 yang diberikan Bonaga kepadanya. Nagabonar ikut merasa bersalah dalam masalah ini, karena tanpa Kirana disisinya ia merasa tidak mampu mendidik Bonaga untuk memiliki kelembutan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Melengkapi Filmnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini bukan sekedar memindahkan isi skenario mentah2 menjadi novel. Memang cerita dan dialog intinya sama, tapi ada perbedaan sudut pandang dan penambahan beberapa detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutur dalam novel ini hanyalah Nagabonar, sebagai orang pertama, tidak ada penutur yang lain. Maka adegan2 di film dimana Nagabonar tidak terlibat, tidak akan diceritakan di novel ini. Seperti adegan saat Bonaga berdua dengan Monita, juga saat Bonaga dan ketiga temannya pergi ke Medan, tidak dituturkan disini kecuali secara tidak langsung diceritakan dalam dialog dengan Nagabonar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detail tambahan banyak diselipkan disana sini untuk melengkapi cerita. Di film sekuel ini banyak hal yang mengambil kembali kisah dari film pertamanya. Bagi yang sama sekali belum nonton film pertamanya, pasti akan kebingungan kenapa orang lain bisa tertawa. Nah, di novel ini potongan kisah dari film pertama dituturkan kembali untuk menjelaskan itu semua, meskipun tidak secara lengkap. Seperti bagaimana Nagabonar bisa berpangkat Jendral, juga siapa itu Maryam dan mengapa dia jadi pincang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada juga detail tambahan yang memang belum ada sama sekali di film. Ada sekilas tentang masa kecil Nagabonar, bagaimana dia bisa menjadi pencopet. Dialog di dalam bajaj antara Umar dan Nagabonar juga digarap lebih panjang. Beberapa adegan yang di film terasa melompat, dijelaskan lebih detil di novelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya ada yang sedikit meleset di novel ini. Dalam cerita flash back saat Naga dan Maryam beradu main catur untuk memperebutkan Kirana, disebutkan Kirana bersembunyi di belakang jendela. Padahal di film Nagabonar pertama, saat adu main catur itu Kirana diminta duduk di samping papan catur di antara Naga dan Maryam. Dan ketika terjadi tembak menembak, Kirana bersembunyi di balik kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kurang Ekspresif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel ini di halaman2 awal, aku sempat merasa kebingungan. Aku sudah nonton filmnya sebulan sebelumnya, dan semua karakter, adegan, serta suasana sudah terekam dalam otakku. Dari filmnya aku menangkap Nagabonar adalah orang yang spontan dan cenderung kasar. Kalaupun dia punya sisi romantis, itu hanya suasana hati sesaat, seperti saat menulis surat untuk Kirana istrinya. Tapi dalam novel ini, dimana Nagabonar menjadi penutur orang pertama, tiba-tiba Nagabonar menjadi puitis!.... aku bingung, karakter yang sudah terbangun itu tiba2 hancur dan aku nggak tahu bagaimana membangunnya kembali karena nggak ada yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kekasaran Naga bisa terasa dalam dialog, juga saat dia mengumpat. Tapi saat kemudian Nagabonar kembali jadi penutur yang lembut, lenyaplah lagi karakter kasarnya. Sementara sikap2 Nagabonar yang lain seperti menjadi lebih bijak terhadap anaknya, lalu nasionalisme yang tetap berkobar, bisa tersampaikan dengan baik di novel ini. Mungkin kalau Nagabonar tidak menjadi penutur, akan lebih mudah memunculkan sikap kasarnya melalui mata orang lain dan melalui dialog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain cara bertutur, ekspresi Nagabonar di novel ini juga terlalu lembut menurutku, jika dibandingkan ekspresi Deddy Mizwar yang memerankan Nagabonar di film dengan karakter dan ekspresi yang sangat kuat. Sebagai contoh waktu Naga menggebrak sopir mikrolet yang berhenti sembarangan, dalam novel 'cuma' dituliskan: "Kalau begitu aku hantunya!". Sementara di filmnya saat mengucapkan kalimat itu Naga berteriak kencang membahana dengan mata mendelik lebar melototin si sopir mikrolet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, novel ini bisa melengkapi filmnya dengan baik, karena banyak detail dan side-story yang tidak terungkap di filmnya. Disamping tentu saja kadang menonton film itu tidak semua elemen dalam satu adegan bisa tertangkap oleh indra, dengan membaca novelnya hal-hal itu akan bisa dilengkapi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-1735059266483627556?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/1735059266483627556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=1735059266483627556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1735059266483627556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/1735059266483627556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/05/nagabonar-jadi-2.html' title='Nagabonar Jadi 2'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2284530750671915213</id><published>2007-04-30T15:04:00.000+07:00</published><updated>2007-04-30T15:35:07.510+07:00</updated><title type='text'>Sintren</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RjWmibSD9mI/AAAAAAAAAGA/KQlORQdo2bw/s400/sintren.jpg" border="0" alt="Sintren"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059132866789897826" /&gt;Ini adalah novel lokal karya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dianing Widya Yudhistira&lt;/span&gt;. Pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Republika sejak September 2004 hingga Februari 2005. Dan pada tahun 2007 ini diterbitkan dalam bentuk buku novel oleh Grasindo, dalam 295 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintren adalah suatu pertunjukan tari tradisional di daerah Batang, Jawa Tengah. Penarinya seorang wanita cantik dengan lenggak lenggok gemulai yang akan banyak memikat kaum lelaki untuk menyaksikannya. Mau tidak mau langsung terbayang trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan membanding2kannya. Tapi ternyata cerita ini tidaklah mencontek karya besar Ahmad Tohari tersebut. Profesi Sintren dan Ronggeng memang nyaris mirip, tapi ide cerita yang diangkat dalam kedua karya ini berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Munculnya Seorang Sintren Muda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saraswati baru berusia 12 tahun, baru duduk di bangku kelas 6 SD. Dia murid yang cukup cerdas di sekolahnya. Sayangnya keluarganya miskin. Mak Saraswati tidak setuju Saraswati giat bersekolah, lebih baik Saraswati membantunya bekerja dan kemudian segera menikah. Keinginan Saraswati untuk terus sekolah kalau bisa sampai sarjana jelas ditolak mentah2 oleh Mak-nya karena tidak ada uang dan dianggap tidak ada gunanya. Hanya Bapaknya yang terus memberi semangat kepada Saras untuk tetap sekolah, dan dia yang akan terus berusaha membiayai semampunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saraswati juga seorang gadis jawa yang lumayan menarik. Kecantikannya memikat hati juragan Wargo tempat Mak Saraswati bekerja untuk menjadikannya menantu untuk anaknya Kirman. Mak Saras tentu saja menerima lamaran juragan Wargo, meskipun ditentang suaminya, sementara Saras sendiri masih ingin melanjutkan sekolah. Dan untunglah akhirnya pernikahan itu batal karena satu masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian datanglah seorang wanita bernama Larasati yang mencari sintren untuk pertunjukan tujuhbelasan. Saraswati diminta ikut dalam suatu proses pencarian Sintren baru yang dilakukan oleh Mbah Mo. Beberapa anak gadis seumuran Saras berkumpul, tapi hanya Saras yang berhasil melewati ujian. Saraswati pun diminta menjadi sintren baru. Ia mau asalkan uang hasil sintren digunakan untuk melanjutkan sekolah. Mak Saras gembira, karena berarti dia tidak perlu lagi bekerja terlalu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang Sintren harus siap mendapat pujian sekaligus cercaan. Pujian dari para lelaki yang terpesona oleh kecantikan dan gemulai tariannya. Cercaan karena dianggap sebagai wanita penggoda yang memikat hati banyak lelaki bahkan merusak rumah tangga mereka. Tapi Saraswati telah bulat tekadnya untuk menjadi sintren demi agar tetap bisa sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sintren ternyata bukan sekedar berdandan dan menari, di dalamnya banyak melibatkan dunia gaib. Saraswati mau tak mau ikut memasuki dunia itu. Seiring dengan itu, Saraswati secara fisik menjadi tampak lebih berkilau. Semua orang kaget dengan perubahan fisiknya dan terpesona dengan kecantikan yang memancar darinya. Dan saat Saraswati menari sebagai sintren, mata semua lelaki tidak bisa berkedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu demi satu lelaki terpikat pesona sintren Saraswati. Sementara satu demi satu wanita terbakar cemburu karena lelakinya berpaling kepada Saraswati. Dan korbanpun berjatuhan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sintren Bukan Sekedar Penari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses perubahan Saraswati dari seorang gadis lugu anak buruh menjadi sintren yang dikagumi dan disegani banyak orang cukup memikat untuk diikuti. Sebelumnya Saraswati adalah anak yang kurang percaya diri dan sering menjadi bulan2an Wati teman sekelasnya yang pongah. Setelah menjadi sintren dengan bantuan kekuatan gaib yang menguasainya pelan-pelan Saraswati menjadi lebih matang dan tumbuh rasa percaya dirinya hingga berani melawan bahkan mengalahkan Wati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Culasnya Wati dan Wastini ibunya, sempat bikin aku kehilangan mood karena seperti berasa sedang mengikuti sinetron kacangan yang tidak mengindahkan rasio. Untunglah bagian itu tidak dibuat berpanjang-panjang, meskipun Wati dan Wastini masih datang lagi dan datang lagi merusak suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur mistik yang cukup kental dalam dunia sintren tidak digambarkan dengan menyeramkan, malah memberikan suasana yang indah dan menyenangkan. Tidak ada mahluk hitam mengerikan, yang ada hanyalah mahluk halus berbentuk wanita cantik dan anak-anak kecil yang riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak muncul kesan tentang adanya pelecehan atau penindasan gender di cerita ini. Saraswati malah menjadi wanita yang sangat disegani setelah menjadi sintren. Laki-laki yang berani menyentuhnya secara sembarangan dijamin akan mendapat celaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menarik Tapi Terburu-buru&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai novel debutan, Dianing Widya Yudhistira berhasil mengangkat cerita yang menarik. Tentang fenomena kehidupan Sintren yang sekarang sudah lenyap sama sekali dari tanah jawa. Tentang wanita yang berhasil meningkatkan status sosialnya dengan menjadi sintren. Sintren yang bergelimang puja-puji, disanjung banyak orang, sekaligus menjadi sumber gunjingan, tapi juga harus menanggung suatu konsekuensi akan kehidupan yang berjalan tidak sebagaimana orang kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun manurutku pada beberapa bagian, cerita disajikan terlalu berlebihan. Seperti keculasan Wati dan Wastini yang sudah seperti cerita sinetron, sementara lawannya terlalu lemah dan tak bisa melawan. Lelaki2 yang terpikat setengah mati kepada Saraswati terlalu banyak hingga terasa tidak real. Juga orang-orang yang begitu mudah putus asa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian awal hingga pertengahan, cerita berjalan mengalir dengan mulus dengan detail yang secukupnya  tidak berlebihan. Tapi sayangnya di bagian pertengahan hingga akhir cerita berjalan terlalu cepat, melompat-lompat dari peristiwa satu ke yang lain hanya dalam sekilas. Penulis tampak tergesa-gesa ingin segera menamatkan cerita. Padahal potensi untuk memperdalam cerita masih sangat luas untuk digali. Ending yang seharusnya dramatis, berlangsung terlalu cepat sehingga tak mampu memberikan kesan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak seharusnya membandingkan novel Sintren ini dengan masterpiece Ahmad Tohari "Ronggeng Dukuh Paruk" yang sama2 mengangkat tokoh utama dengan profesi yang sangat mirip. "Ronggeng" memiliki latar belakang cerita yang dalam dan kuat seputar masa pemberontakan pki. Sementara "Sintren" ini sebatas bercerita tentang kehidupan seorang sintren dan liku-likunya. Yang jelas novel ini cukup berhasil mengangkat kembali sebuah fenomena tradisi jawa di masa lalu yang sekarang sudah terkubur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-2284530750671915213?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/2284530750671915213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=2284530750671915213' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2284530750671915213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/2284530750671915213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/04/sintren.html' title='Sintren'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_IgAENqp3xpg/RjWmibSD9mI/AAAAAAAAAGA/KQlORQdo2bw/s72-c/sintren.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-7474230460436333445</id><published>2007-04-22T19:20:00.000+07:00</published><updated>2007-04-22T19:21:35.707+07:00</updated><title type='text'>Bebas - Out</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="Bebas/Out"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/bebas.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Sebuah novel yang ditulis oleh penulis Jepang Natsuo Kirino pada tahun 1997 berjudul "Out", dialih bahasakan oleh penerbit Gramedia dengan judul "Bebas". Diterbitkan bulan April 2007 ini dalam 576 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambar sampulnya sedikit sudah tergambar isinya. Sebelah mata seorang wanita dengan pisau tajam mengkilat terhunus di dekatnya. Sebuah cerita gelap yang mengisahkan perjuangan beberapa orang wanita dalam menjalani kehidupannya yang berat hingga akhirnya terjebak dalam satu kondisi yang membuat mereka melanggar satu batasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah dengan label 'Novel Dewasa' di sampul belakangnya, cukuplah sebagai peringatan bagi yang iseng2 ingin tahu isinya. Ini adalah novel yang boleh dibaca hanya oleh mereka yang bisa memisahkan antara fiksi dan realita. Bertaburan adegan sadis yang sanggup membuat ngilu orang yang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita2 Putus Asa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang beberapa orang wanita yang putus asa akan hidupnya yang kemudian terperosok dalam satu peristiwa yang menjebak mereka satu demi satu dan tak mungkin lagi kembali ke belakang. Sebuah pembunuhan yang tak direncanakan merubah total jalan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat wanita bekerja shift malam di pabrik makanan kotak di pinggiran Tokyo. Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko. Masing-masing memiliki masalah pelik dalam kehidupan pribadinya. Masako tidak akur lagi dengan suami dan anaknya yang sudah remaja. Yoshie, janda miskin, yang harus merawat ibu mertuanya yang sekarat tapi sangat sinis. Kuniko menghadapi tumpukan utang karena gaya hidupnya yang sok kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Yayoi yang sangat baik dan setia kepada suaminya ternyata akhirnya dikhianati habis2an oleh suaminya. Hingga satu saat Yayoi tak tahan lagi. Ia membunuh Kenji suaminya. Dalam kebingungan Yayoi meminta bantuan Masako untuk menyingkirkan mayat suaminya. Masako bersama kedua temannya akhirnya membantu Yayoi dengan berbagai motivasi. Mayat Kenji dimutilasi dan dibuang ke berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa potongan tubuh ditemukan oleh polisi. Berita menggemparkan itu pun segera menyebar ke seluruh kota. Keempat wanita itu pun harus memainkan perannya masing2 agar tidak terbuka kedoknya. Polisi sempat salah duga dengan menahan seorang pemilik klub malam sebagai pelaku pembunuhan. Ketika akhirnya pemilik klub itu dilepaskan dengan bisnis yang terlanjur hancur karena reputasi buruknya, keempat wanita itu mendapat musuh baru yang lebih kejam. Si pemilik klub itu bertekad membalas dendam kepada pelaku pembunuhan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Banyak Detail dan Lambat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot cerita berjalan agak lambat, sebagaimana umumnya penulis Jepang Natsuo Kirino banyak memberikan gambaran mendetail dalam setiap adegan. Pembaca yang nggak sabaran mungkin bisa menyerah membaca novel ini. Perasaan dan pikiran setiap tokohnya dilukiskan dengan cukup detail, lengkap dengan latarbelakangnya. Penulis bahkan sering berbalik mengulang satu cerita yang sama tapi dengan menggunakan sudut pandang dari tokoh yang lain. Plot yang lambat itu terbayar dengan menyatunya pembaca dengan setiap tokoh utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan detail tersebut, karakter tokoh2nya terbangun cukup kuat. Masako yang dingin, Yoshie yang lelah, Kuniko yang tolol, dan Yayoi yang hilang kesabaran. Nyaris semua tokoh itu digambarkan dengan suasana kehidupan yang gelap. Dalam menjalani rutinitas hidupnya, mereka sebenarnya sedang berteriak putus asa akan beban hidup mereka masing2. Dan ini bisa membuat pembaca ikut merasa depresi saat mengikuti kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis berhasil menyusun cerita yang rumit dengan perencanaan yang cukup rapi. Setiap elemen yang akan menjadi bagian dari kisah berikutnya telah dipersiapkan dengan matang di bagian sebelumnya. Nyaris tidak ada potongan cerita yang sia-sia, karena semuanya ikut membangun dan melengkapi cerita inti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alur ceritanya kadang dapat segera ditebak, meskipun masih cukup banyak kejutan disana-sini. Tapi bagi yang menyukai detail dan proses cerita, tiap bagian cerita tetap mengasyikkan untuk dibaca. Dan untunglah endingnya ternyata tidak dibuat terlalu mudah ditebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Depressing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadis. Itulah yang harus diingatkan untuk setiap orang yang akan membaca buku ini. Proses mutilasi mayat yang berdarah-darah diuraikan cukup panjang sepertinya mampu bikin pembaca merasa mual. Dan masih ada lagi beberapa adegan penyiksaan yang tak kalah sadis dan penuh darah. Ini memang tentang orang2 berdarah dingin yang sudah mati rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi dengan suasana yang terbangun dari setiap karakternya memang sangatlah dingin dan gelap. Setiap tokoh memiliki sisi gelap yang kemudian mendorong mereka melampaui batas kemanusiaan. Nyaris tidak ada tokoh yang bahagia dengan hidupnya. Pembaca akan ikut merasa tertekan sepanjang jalannya cerita. Tapi bukankah kisah yang bagus itu memang yang mampu membawa pembacanya hanyut bersama cerita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jendela yang membuka pandangan ke suatu penggalan kehidupan dari orang2 rumahan yang terpaksa melakukan perbuatan kriminal yang kejam. Ketika motivasi dan kesempatan itu ada di depan mata dan tak sempat lagi menoleh ke belakang, semuanya pun terjadi begitu saja. Satu nasehat agar kita tetap menjaga akal sehat kita kapan saja dan dalam situasi apa pun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-7474230460436333445?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/7474230460436333445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=7474230460436333445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7474230460436333445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/7474230460436333445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/04/bebas-out.html' title='Bebas - Out'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-502872167256385245</id><published>2007-04-10T17:05:00.000+07:00</published><updated>2007-04-10T17:07:34.044+07:00</updated><title type='text'>Nefertiti</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="Nefertiti"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/nefertiti.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;"Nefertiti" karya Nick Drake ini memikatku karena cukup nyeleneh diantara novel-novel baru yang dipajang di toko buku. Memang ini termasuk di kategori fiksi sejarah, tapi bukan sejenis dengan novel-novel yang berusaha mengorek-ngorek cerita di balik vatikan seperti yang masih booming juga sampai saat ini. Sesuai judulnya, ini adalah fiksi sejarah dengan setting Mesir kuno. Dari settingnya saja sudah terbayang nuansa yang sangat eksotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel aslinya berjudul sama "Nefertiti, The Book of The Dead" diterbitkan oleh Bantam Press Mei 2006. Penerbit Dastan Books tampaknya cepat sekali mengambil kesempatan untuk mengalihbahasakan novel ini ke bahasa Indonesia. Maret 2007, versi terjemahannya telah dirilis oleh Dastan Books dalam 588 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nefertiti adalah Ratu Mesir yang saat ini patung dadanya direproduksi dan dipajang di banyak tempat. Ia adalah istri dari Pharaoh Amenhotep IV (atau Akhenaten). Ia juga ibu mertua sekaligus ibu tiri dari Pharaoh Mesir yang paling terkenal Tutankhamun. Meskipun patungnya banyak ditemukan di puing2 kota tua Amarna, tapi akhir kehidupan dari Nefertiti tidak pernah diketahui. Nefertiti menghilang begitu saja dari sejarah, tanpa catatan dan tanpa makam. Penggalan kisah itulah yang direka oleh Nick Drake dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hilangnya Nefertiti&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama novel ini adalah Rahotep seorang petugas Medjay, suatu lembaga yang mungkin setara dengan badan intelejen di masa sekarang. Rahotep awalnya bertugas di Thebes, namun secara mendadak ia dipanggil oleh Raja Akhenaten ke Akhetaten (yup, beda satu huruf dengan nama rajanya). Akhetaten adalah ibukota baru yang sedang dibangun oleh Raja, demi memenuhi ambisinya untuk membangun agama baru dengan Akhenaten dan Nefertiti sebagai dewa dan dewi tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahotep ditugaskan secara langsung oleh Akhenaten dalam satu misi rahasia yang tidak boleh masyarakat umum mengetahuinya. Ia diminta melacak satu kasus, kasus hilangnya Ratu Nefertiti! Hilangnya Nefertiti menjadi masalah yang sangat genting bagi kelangsungan kekuasaan Akhenaten. Karena dalam sepuluh hari lagi akan diadakan Festival besar untuk meresmikan ibukota dan agama baru yang dicanangkan oleh Akhenaten. Jika Nefertiti tidak mendampingi Akhenaten dalam perayaan itu, hilanglah muka Akhenaten di hadapan rakyatnya dan sekian banyak utusan negara tetangga yang telah diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas yang diemban Rahotep tidaklah ringan. Selain diancam oleh Raja bahwa jika sampai hari festival Nefertiti belum ditemukan maka Rahotep dan keluarganya akan dibinasakan, ia juga mendapat halangan dari sekian banyak pihak yang diam-diam menjadi musuh Raja dan Ratu. Musuh mereka antara lain datang dari pihak para pendeta agama lama yang merasa dibuang dan disingkirkan oleh agama baru ciptaan Akhenaten. Musuh yang lain datang dari para oportunis yang mencari2 celah untuk bisa menggulingkan kekuasaan Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk yang sangat sedikit, birokrasi yang ketat, dan adanya saling curiga-mencurigai di antar para petinggi kerajaan membuat kemajuan penyelidikan Rahotep berjalan lamban. Sementara waktu terus berjalan mendekati hari penyelenggaraan festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Setting Mesir Kuno yang Memikat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting Mesir Kuno di novel ini memang sangat memikat dan memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan. Meskipung penggambaran settingnya tidak terlalu detail, tapi cukup memberikan cerita yang menyegarkan dan berbeda dari yang lain. Terus terang saja, aku rada kebingungan menggambarkannya dalam imajinasiku, karena data2 bentuk bangunan Mesir kuno kurang lengkap di memoriku :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuman yang jadi catatanku, kenapa ya di lipatan cover depan di gambar reruntuhan kota tua Mesir kuno itu, kok ada mobil-mobil??? Kan jadinya aneh, novel bersetting tahun 1350-an Sebelum Masehi kok ada gambar mobilnya? Mestinya bisa diedit dulu kan, tidak dibiarkan mentah seperti itu. Padahal covernya keren, tapi mobil2 itu sangat mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intrik di dalam lingkaran kekuasaan kerajaan Mesir dituliskan begitu rumit. Begitu banyak pihak yang kita nggak tahu dia memihak siapa dan melawan siapa. Perseteruan itu dilengkapi juga dengan kekejaman para penguasa dalam melenyapkan rakyat jelata atau musuh politik yang dianggap menghalangi jalannya. Penyiksaan2 yang sadis dituturkan di beberapa bagian novel ini. Buat yang nggak sanggup bacanya, lewatin aja bagian itu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cerita Kriminal yang Kurang Menggigit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya sebagai cerita kriminal, novel ini menurutku kurang menggigit. Penyelidikan Rahotep berjalan lambat tanpa memberikan banyak petunjuk kasus yang berarti. Kemajuan demi kemajuan kebanyakan malah terjadi karena faktor kebetulan. Kadang juga Rahotep hanya untung2an asal tebak saja, siapa tahu benar. Untuk sebuah cerita penyidikan kasus kriminal, agak-agak mengecewakan kalau terkuaknya kasus dengan proses yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bagian juga tidak dikisahkan secara lengkap pada endingnya bagaimana kejadian sebenarnya, siapa pelakunya, dan mengapa. Dibiarkan menggantung tanpa penjelasan. Teka-teki yang disajikan yang seharusnya menjadi bagian memikat ternyata tidak digali secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nick Drake kurang bisa mendramatisasi adegan juga menurutku. Banyak bagian yang seharusnya bisa menjadi scene yang dramatis, malah disajikan datar-datar saja tanpa banyak eksploitasi emosi. Kadang itu bikin aku kehilangan arah dan bertanya-tanya, bagian ini sebenarnya penting nggak sih? kok nggak ada emosinya sama sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat, novel ini cukup eksotis dan menarik dengan latar belakang Mesir Kuno nya, tapi tidak cukup menawan sebagai cerita kriminal.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-502872167256385245?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/502872167256385245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=502872167256385245' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/502872167256385245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/502872167256385245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/04/nefertiti.html' title='Nefertiti'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-6229732723729735341</id><published>2007-04-05T16:20:00.001+07:00</published><updated>2007-04-07T19:25:40.695+07:00</updated><title type='text'>Memoar Chrisye</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="Memoar Chrisye"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/chrisye.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Semuanya sudah ditakdirkan sebagaimana adanya. Chrisye sang penyanyi dan pemusik yang telah berkiprah sejak tahun 70-an meninggalkan semua penggemarnya akhir minggu yang lalu. Semua orang tentu merasa kehilangan satu sosok yang prestasi dan konsistensinya telah sekian lama mewarnai dunia musik Indonesia. Dan buku Memoar Musikalnya yang baru saja diterbitkan sebelum ia dipanggil Illahi menjadi sebuah kenangan indah yang menutup perjalanan karir Chrisye dengan sangat manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Chrisye, Sebuah Memoar Musikal", ditulis oleh Alberthiene Endah dengan penuh perasaan. Diawali dari ide Yanti Noor, istri Chrisye, yang meminta tolong Alex Kumara agar Chrisye diberi kesibukan selama ia dalam penyembuhan, sebuah proyek biografi pun digarap oleh Alberthiene Endah sejak Mei 2006. Dan di awal tahun 2007, buku yang terdiri dari 373 halaman ini dirilis oleh Gramedia, dilengkapi dengan foto2 ekspresif hasil jepretan Dio Hilaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perjalanan Musikal Chrisye&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan sub-judul yang diambil, buku ini difokuskan pada perjalanan musikal seorang Chrismansyah Rahadi. Hanya sedikit bagian yang bercerita tentang hal lain diluar musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Rahadi sama sekali bukan keluarga seniman atau pemusik. Hanya saja ayah Chrisye menyukai musik dan memiliki koleksi piringan hitam dari para penyanyi luar yang kemudian memicu munculnya hasrat Chrisye remaja akan musik. Hasrat itu semakin tersalurkan ketika ia dan kakaknya mendapat hadiah gitar dari ayahnya. Musik mulai merasuki kehidupan Chrisye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keluarga mereka pindah ke Pegangsaan mereka bertetangga dengan keluarga Nasution. Keluarga Nasution adalah keluarga pemusik, mereka memiliki band keluarga dan sering berlatih di teras rumah. Kehebatan bermusik mereka sudah cukup dikenal, hingga setiap kali mereka berlatih banyak orang yang ikut menonton. Pertemanannya dengan anak2 keluarga Nasution lama2 menggeret Chrisye untuk ikut berlatih dan terlibat dalam band mereka. Bersama band Sabda Nada Chrisye memulai karir musiknya dari satu panggung ke panggung lain. Hingga akhirnya dia memutuskan berhenti kuliah demi ikut memenuhi kontrak nge-band selama setahun di New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari New York, Chrisye diajak bergabung dalam sebuah proyek idealis Guruh Soekarno Putra. Album Guruh Gipsy pun lahir sebagai album rekaman dimana Chrisye pertama kali terlibat. Selanjutnya ia diminta radio Prambors untuk menyanyikan satu lagu hasil Lomba Cipta Lagu Remaja. Lagu Lilin-lilin Kecil karya James F. Sundah menjadi single yang melejitkan Chrisye ke ketenaran. Semakin mantap lagi ketika Chrisye terlibat penuh dalam proyek fenomenal pembuatan soundtrack film "Badai Pasti Berlalu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejak itu bergulirlah album2 solo dari Chrisye. Album solo pertama "Sabda Alam" disambut sangat antusias oleh pasar. Selanjutnya Chrisye pun menjadi anak emas dari Musica Records yang sangat produktif mengeluarkan album. Sempat bekerja sama kembali dengan Guruh dalam album "Puspa Indah", kemudian berkolaborasi dengan Eros dan Yockie S dalam trilogi "Resesi", "Metropolitan", "Nona" yang mengangkat musik yang lebih menghentak. Chrisye sempat merubah image menjadi penyanyi lagu riang dan ringan saat bekerja sama dengan Ajie Sutama di album "Aku Cinta Dia", "Hip hip Hura", dan "Nona Lisa", dimana Chrisye terpaksa harus berkostum norak dan belajar disko. Album2 selanjutnya ia berganti lagi kerjasama dengan Addie MS, kemudian Younky Soewarno, dan di album2 terakhirnya dia lengket dengan Erwin Gutawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Roda Kehidupan Seorang Musikus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memoar ini dituliskan secara naratif melalui orang pertama. Chrisye seolah bercerita sendiri tentang kehidupannya dengan penuh perasaan. Pembaca akan seperti ikut merasakan gelombang emosi dari penuturan Chrisye. Ketakutan yang dipendamnya sejak kecil karena pernah ditimpuk batu hanya karena ia keturunan Cina. Antusiasme saat pertama kali bergelut dengan musik hingga kebanggaan saat berhasil mencapai prestasi demi prestasi. Kebingungan saat harus memutuskan terus kuliah atau ikut ngeband ke New York. Kegembiraannya saat mendengarkan suaranya sendiri diputar di radio. Kesedihannya saat kehilangan Vicky adik bungsunya. Semuanya melarutkan pembaca dalam perjalanan hidup seseorang yang banyak dielu-elukan sebagai Legenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chrisye juga secara terus terang bercerita, sebagai seorang musisi yang telah sekian banyak mengeluarkan album yang diterima hangat oleh pasar, dia tidak kemudian menjadi orang yang kaya dan berkecukupan dalam materi. Jarangnya kesempatan manggung pada masa itu, membuat para musisi hanya berharap pada royalti album yang tidak seberapa. Karena itulah kebanyakan musisi memiliki pekerjaan utama lain diluar musik. Hanya Chrisye satu dari sedikit orang yang konsisten dan berkomitmen penuh pada musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejenuhan juga sering menghinggapi dirinya dalam berkarya. Itulah kenapa ia lumayan sering berganti-ganti kerjasama dengan musisi yang akan memproduksi albumnya. Pergantian itu ternyata memang cukup ampuh untuk melahirkan ide2 baru dan menampilkan Chrisye dalam album baru yang lebih segar. Termasuk ide untuk mendaur-ulang lagu2 lama saat ia berada pada posisi tidak tahu harus mencoba apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Panutan yang Bersahaja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita2 di buku ini pembaca akan melebur dalam sosok Chrisye yang bersahaja. Chrisye yang pemalu, selalu nervous setiap kali akan manggung, dan selalu jatuh sakit saat sedang mengerjakan sebuah album. Tanpa ditutup2i ia juga bercerita tentang album2nya yang gagal, tidak mendapat sambutan dari pasar. Pembaca diajak untuk berkaca bahwa orang se-berhasil Chrisye juga tetap memiliki ketakutan dan tetap harus menghadapi kegagalan demi kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian "Seribu Hikmah di Balik Musik" Chrisye memberikan pelajaran2 singkat bagi para musisi muda bagaimana mereka seharusnya menghadapi kerasnya kehidupan dan persaingan di dunia musik, agar mereka mampu bertahan lebih lama. Hikmah2 yang bisa juga dipetik dan diterapkan dalam bidang kehidupan yang lain. Perjuangan Chrisye yang tetap konsisten di dunia musik hingga akhir hayatnya memang layak dijadikan panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chrisye tidak mau bercerita banyak tentang penyakit yang sedang dideritanya saat pembuatan buku ini. Penyakit itu hanya ia ceritakan dalam 3 halaman di bagian akhir buku ini. Begitulah janji Alberthiene Endah, sang penulis, kepada Chrisye bahwa buku ini tidak akan bercerita tentang penyakit itu, buku ini bercerita tentang harapan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Chrisye, semoga jalanmu menuju pangkuan Illahi seindah lagu-lagumu. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-6229732723729735341?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/6229732723729735341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=6229732723729735341' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6229732723729735341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/6229732723729735341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/04/memoar-chrisye_05.html' title='Memoar Chrisye'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-5845481524740814759</id><published>2007-03-26T14:10:00.000+07:00</published><updated>2007-03-26T14:50:32.862+07:00</updated><title type='text'>Mystic River</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="Mystic River"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/mysticriver.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Ini memang novel dari film berjudul sama yang membuahkan Oscar bagi Sean Penn sebagai Aktor pemeran utama terbaik di Academy Award 2003. Film yang disutradarai oleh Clint Eastwood itu didasarkan pada novel yang ditulis oleh Dennis Lehane pada tahun 2002 ini. Versi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Mita Yuniarti dan Mikaela Nadia, disunting oleh Anton Kurnia. Diterbitkan oleh Serambi dalam 640 halaman, Februari 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filmnya sendiri aku belum sempat nonton. Meskipun sebenarnya setelah membaca novel seorang gini aku sudah beli filmnya, karena pengen tahu juga bagaimana imaginasi Clint Eastwood memvisualisasikan cerita yang penuh konflik ini hingga menghasilkan sejumlah nominasi bergengsi di ajang Oscar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bayangan Masa Lalu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini terbagi dalam 2 setting waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama bersetting pada tahun 1975. Berkisah tentang masa kecil Jimmy Marcus, Sean Devine dan Dave Boyle sebagai teman sepermainan. Jimmy adalah anak bandel yang suka mencoba2 melakukan perbuatan yang dianggapnya keren meskipun sebenarnya melanggar hukum. Sementara Sean yang dididik dengan standar moral yang lebih baik sering menentang keinginan Jimmy. Dan Dave adalah anak yang lebih kecil yang lebih sering menjadi pengekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saat Sean dan Jimmy bertengkar di jalanan dekat rumah Sean, sepasang polisi bermobil melerai mereka. Dave yang mengaku tidak tinggal di sekitar situ disuruh naik ke mobil para polisi itu. Sean dan Jimmy disuruh segera pulang ke rumah masing2. Dan Dave baru kembali ke rumahnya empat hari kemudian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya waktu melompat ke dua puluh lima tahun kemudian pada tahun 2000. Sean telah menjadi seorang Polisi bagian pembunuhan. Satu saat dia mendapatkan kasus ditemukannya mobil penuh darah di sebuah taman kota. Di dalam mobil itu terdapat identitas bernama Katie Marcus, anak perempuan pertama kesayangan Jimmy Marcus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jimmy Marcus sendiri saat itu memiliki sebuah toko kelontong yang cukup ramai dikunjungi orang. Toko itu ia miliki setelah ia bebas dari hukuman penjara beberapa tahun karena merampok sebuah bank bersama gerombolannya. Meskipun sudah mengambil jalan hidup yang lebih baik, Jimmy tetap disegani banyak orang. Terutama karena sekeluarnya dari penjara ia menikahi anak perempuan dari keluarga Savage. Keluarga yang anak2nya sering berurusan dengan polisi dan keluar masuk penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dave Boyle pada malam pembunuhan Katie, didapati oleh istrinya pulang ke rumah pada pukul 3 pagi dengan luka dan baju penuh darah. Benarkah Dave masih menyimpan luka dan dendam kepada Jimmy karena dia dibiarkan sendiri masuk ke mobil polisi itu dan disekap empat hari pada dua puluh lima tahun yang lalu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Pembunuhan Rumit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah thriller memikat dengan cerita utama tentang pembunuhan misterius. Dengan petunjuk awal yang sangat minim dan samar, kasus itu ternyata sangat rumit untuk dipecahkan. Cukup rumit untuk mencari orang2 yang memiliki motivasi untuk membunuh Katie. Apakah mantan pacarnya? apakah musuh lama ayahnya? atau orang dari masa lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalin-jalin dengan kisah persahabatan dan trauma masa kecil dari para karakter utama membuat cerita ini sedikit gelap. Pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu, saat Dave hilang, masih menghantui pikiran Sean dan Jimmy. Sementara Dave sendiri menutup2inya dan berusaha melupakan peristiwa itu. Adakah kisah masa lalu itu terhubung dengan kematian Katie? Jawabannya baru diberikan di halaman2 terakhir novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ujung simpulnya, tampaknya pesan yang ingin disampaikan adalah jagalah pergaulan anak2 kita. Anak2 yang masih penuh rasa ingin tahu itu harus diberi batasan seberapa jauh mereka boleh bertualang. Karena pengalaman dan trauma buruk pada masa anak2 seringkali akan membekas hingga dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penulis Thriller yang Piawai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit spoiler di sampul belakang novel ini. Bahwa Dave akhirnya dicurigai sebagai pembunuh Katie. Padahal kecurigaan itu baru muncul di sekitar pertengahan cerita. Jadinya sedikit mengganggu proses membaca karena pembaca akan sudah men-set pikirannya sesuai spoiler tersebut. Tapi apakah endingnya juga seperti itu? baca aja sendiri ya :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang dirajut oleh Dennis Lehane ini lumayan cukup berliku dan penuh dengan 'twist' disana-sini yang tidak disangka-sangka. Petunjuk2 awal yang mulanya terlihat mengarah ke satu titik, ternyata dibelokkan lagi oleh Lehane ke arah yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter-karakternya terbangun cukup kuat dan konsisten. Detail cerita diperhatikan dengan cukup teliti selayaknya cerita2 misteri yang memerlukan banyak petunjuk dan penjelasan tentang kondisi dan kronologi setiap kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dennis Lehane cukup piawai merangkai cerita penuh misteri ini. Dengan penuh kesabaran dia tidak membuka semua petunjuk pada saat yang sama. Satu demi satu dikuak seiring berkembangnya cerita. Pembaca dibiarkan penasaran dengan bagian2 cerita yang menggantung sebagian tanpa penjelasan. Penjelasan kadang baru akan diberikan beberapa bab di depannya. Dan memang cerita ini baru akan terasa utuh dan lengkap setelah semua bab terbaca. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8454124-5845481524740814759?l=qyu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qyu.blogspot.com/feeds/5845481524740814759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8454124&amp;postID=5845481524740814759' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5845481524740814759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8454124/posts/default/5845481524740814759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qyu.blogspot.com/2007/03/mystic-river.html' title='Mystic River'/><author><name>Q</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08918378344974924860</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8454124.post-2270529374807214203</id><published>2007-03-20T06:46:00.000+07:00</published><updated>2007-03-20T06:48:49.810+07:00</updated><title type='text'>Kalatidha</title><content type='html'>&lt;span style="fp-main"&gt;&lt;div class="img-shadow" title="Kalatidha"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v489/qyu/07/kalatidha.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;Ditulis oleh sastrawan kawakan yang beberapa tahun terakhir berhasil memboyong anugerah paling bergengsi dalam Khatulistiwa Literary Award, ajang penghargaan sastra di Indonesia. Seno Gumira Ajidarma. Novel "Kalatidha", yang dalam bahasa jawa berarti "jaman rusak", diterbitkan oleh Gramedia pada Januari 2007 dalam 234 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, ini adalah buku pertama karya Seno Gumira Ajidarma yang sempat aku baca. Padahal kalau tidak salah hitung sudah ada 28 buku yang dihasilkannya. Yah, aku memang bukanlah penikmat sastra yang
